
Semua orang yang ada didalam sel itu pun terdiam mendengar satu kata yang di ucapkan oleh Wildan.
Dendam
Kata yang tak pernah disangka sangka oleh Anggi, keluar dari mulut Wildan. Lelaki lembut yang tak pernah sekali pun membentak nya. Bahkan ia selalu membela nya dulu.
"Apa maksud mu Wil? Dendam apa yang kau maksud?" tanya Anggi tak percaya.
"Iya aku dendam sama mu Anggi dan sama Bu Ayu" bentak Wildan.
"Jangan membentak putri ku" teriak Daddy Steven dengan tatapan tajam nya.
"Apa salah ku dan Bunda Wil? Kami menyayangimu. Bunda nggak pernah membedakan anak anak nya dalam hal apa pun" ucap Anggi yang sudah semakin terisak.
"Kau merebut perhatian Bu Ayu dari ku Anggi. Kau merebut kasih sayang nya untuk ku. Kau merebut kebahagiaan ku" ucap Wildan dengan nada yang masih meninggi.
BUG
"Sudah ku bilang jangan membentak putri ku" ucap Daddy Steven yang sudah memberikan satu bogeman mentah ke rahang Wildan.
"Aku tak pernah merebut semua yang kau kata kan Wildan. Bunda membagi nya dengan sama rata ke semua anak anak panti" bela Anggi.
"Itu menurut mu Anggi. Tapi tidak menurut ku. Semenjak kedatangan mu, Bu Ayu lebih mementingkan dirimu dari pada diriku. Bu Ayu lebih menyayangi mu dari ku. Bahkan kau juga menolak cinta ku Anggi"
"Aku menolak mu karena aku menganggap mu hanya sebagai kakak ku. Aku menyayangi mu seperti kakak ku sendiri. Tak lebih dari itu Wil. Seharus nya kau tau hal itu karena kita tumbuh dan besar bersama disatu tempat yang sama juga"
"Kau tega Wil. Bunda yang sudah membesarkan mu, kau tabrak hingga kehilangan banyak darah. Kau lupa kalau Bunda memiliki darah langka Wil? Kau tak ingat bagaimana susah nya dulu kita mencarikan donor darah untuk Bunda? Apa pengorbanan Bunda dulu tak berharga di mata mu Wil? Bunda rela terluka hanya untuk menolong mu. Ia bahkan membutuhkan donor darah yang sangat sulit dicari. Kau lupa hal itu Wil?" tanya Anggi dengan nada tinggi nya. Ia sudah tak tahan lagi berhadapan dengan lelaki didepan nya ini.
"Bunda sangat menyayangi mu Wildan, Bunda sendiri yang mengatakan nya pada ku. Bunda sudah menganggap mu seperti anak nya sendiri. Dari semua anak anak panti dia lebih menyayangi mu Wildan. Tapi kenapa kau tega menabrak nya? Kau tau Bunda lagi di operasi Wildan. Tulang kaki dan bahu nya retak. Dia sampai membutuhkan 3 kantung darah. Papa Doni berusaha keras mencari donor darah untuk Bunda. Bahkan operasi nya belum selesai uda 3 jam" lirih Anggi sambil memukulin dada Wildan.
Mendengar kabar Bu Ayu, seketika air mata Wildan menetes. Ia tak menyangka apa yang telah diperbuat nya telah mencelakai orang yang telah membesarkan nya.
Semua karena keegoisan nya sehingga ia nekat untuk membalas dendam kepada Bu Ayu.
"Nggi tapi Ibu selamat kan?" tanya Wildan khawatir. Terlihat jelas di wajah nya raut penyesalan.
__ADS_1
"Aku nggak tau. Belum ada kabar" ucap Anggi.
Dion yang sudah tidak tega melihat istri nya menangis sedari tadi langsung membawa Anggi ke dalam dekapan nya. Mata Anggi sudah sangat bengkak.
"Dad, Anggi serahkan semua nya sama Daddy. Anggi mau ke rumah sakit lagi. Mau memastikan keadaan Bunda Ayu" ucap Anggi. Kemudian ia langsung membalik kan badan nya dan mengajak Dion untuk kembali.
Sedangkan Wildan terus saja memanggil nama Anggi. Namun tak di hirau kan oleh Anggi. Ia seakan tuli tak mendengar suara Wildan yang menjerit memanggil nama nya. Anggi sungguh kecewa dengan apa yang dilakukan oleh Wildan.
"Uda sayang jangan nangis terus. Lihat lah mata kamu sudah sangat bengkak. Nanti gimana sama Bunda kalau lihat mata kamu. Pasti Bunda akan sedih sayang" ucap Dion ketika mereka sudah didalam mobil.
"Tapi Bunda Mas. Anggi nggak mau kehilangan Bunda" ucap Anggi yang semakin deras air mata nya.
"Iya Mas tau. Tapi Bunda paling nggak suka lihat mata kamu bengkak sayang. Uda iya nangis nya" mohon Dion yang hanya di jawab anggukan oleh Anggi
...----------------...
Sementara itu di rumah sakit, operasi Bu Ayu telah selesai. Saat ini kondisi Bu Ayu masih kritis karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Transfusi darah pun masih berlanjut. Dari yang perkiraan Dokter hanya membutuhkan 3 kantung darah, saat ini Bu Ayu sudah melakukan transfusi darah yang ke 4. Arti nya sudah 4 kantung darah yang di masukan kedalam tubuh Bu Ayu.
Keluarga Anggi dan yang lain nya masih setia menunggu di depan ruangan Bu Ayu. Mommy Rianti meminta kamar VVIP di rumah sakit itu, agar mereka mudah ketika menjenguk dan menjaga Bu Ayu.
Sedangkan di kamar inap di lantai 5, Dayyan sudah mulai segar kembali tubuh nya. Ia senang bisa menyumbangkan 2 kantung darah nya untuk Bu Ayu.
"Sudah sayang baru aja. Kamu abis ngapain?" tanya Dayyan sambil mengernyitkan alis nya.
"Hehehe abis mandi Mas. Breena gerah"
"Mandi? Yakin kamu abis mandi?" tanya Dayyan tak percaya.
"Ya—yakin Mas" jawab Breena ragu.
"Ayo ngaku kamu abis ngapain?" desak Dayyan.
"Hehehe abis makan ayam geprek level 10 Mas" ucap Breena pelan namun masih bisa di dengar oleh Dayyan.
"Level 10? Astafirullah sayang. Itu pasti pedas banget sambal nya" omel Dayyan.
__ADS_1
"Dedek yang pingin Mas" ucap Breena takut. Walau bagaimana pun ia sangat takut kalau suami nya sudah mulai menunjukkan tatapan tajam dan datar nya.
"Iya tapi kenapa harus level 10 sayang? Itu kan pasti pedas banget. Gimana nanti kalau kamu sakit perut nya? Kan kasihan dedek juga sayang kalau sayang makan makanan yang pedas pedas gitu" ucap Dayyan lembut namun begitu menyusuk di hati Breena.
"Maaf" ucap Breena yang sudah sesenggukan menahan tangis nya.
"Sini" pinta Dayyan.
Breena pun memdekati suami nya masih dengan kepala yang menunduk dan sesenggukan.
"Jangan di ulangi lagi iya"
"Iya Mas"
"Mas bukan melarang sayang makan itu, nggak. Mas cuma takut kamu dan dedek akan sakit. Itu aja sayang" ucap Dayyan lembut dan membawa Breena kedalam pelukan nya.
"Iya Mas, janji nggak lagi" janji Breena.
"Bener nggak gitu lagi?" tanya Dayyan memastikan.
"Iya janji Mas nggak lagi. Lagian Breena juga uda minum susu biar nggak sakit perut nya"
"Iya uda. Sini naik"
Breena dengan senang hati naik ke atas tempat tidur Dayyan, dan berbaring di samping Dayyan.
Dayyan membawa nya kedalam pelukan nya. Ia pun mengelus perut istri nya yang menonjol.
"Assalamualaikum anak anak Abi. Lagi apa disana nak?" Tanya Dayyan lembut sambil mengelus perut Breena.
"Wa'alaikum salam Abi. Kami lagi tiduran Abi" balas Breena sambil menirukan suara anak anak.
"Abi, kami mau dengar suara Abi ngaji boleh?" tanya Breena yang masih menirukan suara anak kecil.
"Boleh sayang"
__ADS_1
Dayyan pun langsung membacakan surat Yusuf dan surat Maryam untuk kedua anak nya yang masih didalam kandungan sambil mengelus nya.
Breena memdengar nya sambil tersenyum. Ia bahagia bisa mendengar suara merdu suami nya.