Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Kalap


__ADS_3

Mama Ratih dengan penuh semangat memilih baju baju untuk cucu nya yang laki laki. Mama Ratih bahkan sudah memenuhi dua troli besar. Dan ini adalah troli ke tiga nya. Mama Ratih sudah mengelilingi semua sudut toko pakaian khusus bayi. Tapi seperti nya dia masih merasa kurang membeli baju untuk cucu laki laki nya.


Sama hal nya dengan Umma Hanum. Umma Hanum pun sama kalap nya memilih baju untuk cucu perempuan nya.


Umma Hanum lebih banyak memilih baju seperti gaun dan baju yang berlengan panjang. Bahkan Umma Hanum juga membeli kan hijab anak anak untuk cucu perempuan nya.


Di sudut ruangan Breena dan Dayyan menatap tak percaya kearah dua Ibu mereka. Bagaimana bisa Mama Dan Umma mereka sama sama kalap memilih baju nya.


"Lihat lah Mama Ratih sayang. Dia begitu semangat dan antusias memilih baju untu baby boy. Lihat lah bahkan itu sudah troli ke tiga nya" ucap Dayyan tak percaya.


"Mas benar. Dari dulu Mama memang sangat ingin anak laki laki. Tapi sayang, Allah hanya memberikan Mama satu orang putri saja. Mungkin karena terlalu bahagia bisa memiliki cucu laki laki. Maka nya Mama sampai seperti itu berbelanja ny" jelas Breena.


"Umma pun juga sama sayang. Dia juga sama kalap nya dengan Mama. Entah itu uda ke troli yang keberapa, Mas juga nggak tau" ucap Dayyan sambil geleng kepala melihat Umma nya yang untuk pertama kali nya berbelanja seperti itu. Biasa nya Umma nya hanya akan membeli seperlu nya saja.


"Apa mungkin Umma juga sebenarnya menginginkan anak perempuan juga Mas?" tebak Breena.


"Hmm ya kamu benar sayang. Umma juga sama dengan Mama. Tapi sejak kehadiran Ani, Umma jadi punya teman untuk berbelanja dan untuk di dandani nya. Tapi kamu tau sendiri bagaimana Ani. Dia bahkan tidak pernah berbelanja" ucap Dayyan membenarkan tebakan istri nya.


"Jadi bisa dikatakan kalau mereka berdua sebenarnya sangat menanti kan kehadiran kedua bayi kita Mas?"


"Ya sayang. Terima kasih kamu sudah hadir di keluarga kami dan memberikan kebahagiaan untuk keluarga kami. Terlepas dari semua masalah yang kita hadapi. Semoga keluarga kita selalu bahagia iya Sayang" ucap Dayyan sambil memeluk istri nya dari samping.


"Terima kasih juga sudah hadir di hidup Breena juga Mas. Terima kasih untuk semua nya" Breena pun membalas pelukan suami nya walau harus terhalangi oleh perut buncit nya.


Mama Ratih yang melihat kemesraan anak dan menantu nya itu pun mendekat kearah mereka.


"Ekhem, disuruh milih keperluan anak anak nya malah asyik berpelukan. Uda kaya teletabis kalian" sindir Mama Ratih.


"Lah untuk apa kami capek capek milih Mah. Kalau Mama sama Umma aja belanjaan nya uda sebanyak itu" ucap Breena sambil menunjuk lima buah troli besar yang hanya berisikan pakaian saja.

__ADS_1


Mama Ratih pun melihat kearah yang di tunjuk Breena. Sontak saja ia memelotot kan kedua mata nya. Ia bahkan tak percaya kalau dia dan besan nya sudah memilih baju segitu banyak.


"Bree apa itu semua Mama dan Umma mu yang milih?" tanya Mama Ratih polos.


"Terus menurut Mama siapa lagi yang milih kalau bukan Mama dan Umma. Bahkan kami yang ingin memilih kan baju untuk kedua anak kami saja tidak jadi. Karena melihat nenek dan Oma nya sudah kalap terlebih dahulu" jawab Breena.


"Hehehe kalau gitu ayo kita bayar sebelum Mama membeli semua isi toko ini" ajak Mama Ratih yang langsung berjalan ke arah kasir.


Dayyan dan Breena geleng geleng kepala melihat tingkah Mama Ratih. Dayyan pun menghampiri Umma nya dan mengajak nya ke kasir.


Umma Hanum yang awal nya protes pun karena acara belanja nya di ganggu, justru kini hanya bisa tersenyum malu karena ia sudah kalap berbelanja.


Ketika hendak membayar, terjadi drama di depan meja sang kasir. Mama Ratih, Dayyan dan Umma Hanum berebut ingin membayar semua belanjaan nya.


"Ini cucu Mama Ian, nggak ada salah nya kalau Mama yang bayarin semua nya" protes Mama Ratih.


"Tapi ini anak anak Dayyan Mah. Biar Ian aja yang bayar" ucap Dayyan tak terima.


Dayyan dengan cepat merebut kembali black card milik Umma nya. Dia juga mengembalikan black card Mama Ratih. Dayyan masih kekeh menolak Mama dan Umma nya yang membayari semua belanjaan nya.


Perdebatan mereka bertiga membuat sang kasir bingung. Bahkan sang kasir sampai menggaruk pelipis nya karena merasa kebingungan.


Breena maju ke depan kasir. Ia langsung menyodor kan black card milik nya.


"Pakai ini saja mbak. Jangan pedulikan mereka bertiga lagi" ucap Breena.


Snag kasir pun dengan cepat langsung memproses pembayaran nya.


"Terima kasih Nona sudah berbelanja disini" ucap sang kasir sambil menyodor kan kembali black card nya Breena.

__ADS_1


"Sama sama mbak. Nanti tolong antar kan ke alamat ini iya mbak" ucap Breena sopan.


"Baik Nona"


setelah selesai, Breena menatap ketiga orang kesayangan nya itu yang masih saja belum selesai berdebat nya.


"Mau sampai kapan berdebat nya Nenek, Oma, Abi. Dedek uda laper ini. Apa kalian tidak kasihan sama dedek?" tanya Breena menirukan suara anak kecil.


Mendengar ucapan Breena yang mengatakan nya lapar pun, Dayyan langsung menghampiri istri nya dengan raut khawatir.


"Sabar iya sayang, Abi selesai kan dulu pembayaran nya" ucap Dayyan sambil mengelus perut Breena.


"Nggak usah Abi. Uda Umi bayar. Sekarang ayo kita cari makan" ucap Breena lalu berjalan meninggal kan ketiga orang kesayangan nya itu.


Dayyan, Mama Ratih dan Umma Hanum pun tak percaya kalau akhir nya Breena lah yang membayar kan semua belanjaan mereka.


"Ayo cepat Mas, Mah, Umma. Anak anak Breena uda minta makan ini" ucap Breena yang terus berjalan meninggal kan mereka bertiga.


Dayyan dengan cepat mengejar istri nya. Sedang kan Mama Ratih dan Umma Hanum pun justru saling pandang. Setelah sadar kalau anak dan menantu mereka sudah tak ada lagi disana. Mereka berdua pun mengejar anak dan menantu nya.


Kejadian itu pun di lihat oleh beberapa karyawan toko itu dan pembeli lain nya. Mereka terkekeh melihat perdebatan yang terjadi tadi.


...----------------...


Di sebuah ruang kerja, saat ini Juan sedang menghadap ke Daddy Martin. Juan yang baru saja menyelesai kan flight nya dari London pun langsung menuju ke kantor Daddy Martin.


"Ada apa Juan? Tidak seperti biasa nya kamu mau datang ke kantor Daddy" tanya Daddy Martin yang sedari tadi memperhatikan Juan yang terus menunduk tak berani menatap nya.


Juan tak langsung menjawab, dia masih diam memikir kan apa yang akan ia katakan sama Daddy Martin.

__ADS_1


"Dad, apa Juan boleh minta tolong?" tanya Juan dengan sorot mata yang terlihat sedih.


__ADS_2