Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Rencana Perjodohan


__ADS_3

Mbak Ani yang sedang berada di dapur membantu para pelayan menyiapkan makan malam pun berhenti ketika mendengar suara Breena.


"Mbak, saya tinggal nggak papa kan?" tanya Mbak Ani ragu.


"Nggak papa Nona. Terima kasih sudah mau membantu kami" ucap para pelayan sambil membungkukkan setengah badannya.


Mbak Ani yang diperlakukan seperti itu pun merasa tidak pantas. Ia hanya seorang khadamah dirumah Kyai nya. Namun dirumah Ning nya, dia dihargai seperti Nona rumah.


Mbak Ani pun dengan senyum meninggalkan area dapur menuju ruang keluarga. Senyumnya semakin mengembang ketika melihat Ning nya itu duduk diantara Mama nya dan Umma Nya.


"Ning" panggil Mbak Ani pelan ketika ia sudah dekat dengan ruang keluarga itu.


"Mbak Ani" ucap Breena antusias. Ia sampai berlari mendatangi Mbak Ani yang hanya diam terpaku.


Dan terjadilah pelukan diantara dua wanita itu. Antara Ning dan Mbak Khadamah.


"Breena rindu Mbak. Pada hal baru beberapa hari kita tidak bertemu" ucap Breena manja.


"Mbak juga rindu Ning. Rindu sama manja nya Ning Breena sama Mbak" ucap Mbak Ani dengam senyum nya.


"Mbak tinggal disini aja. Sama Breena di Jakarta aja iya. Nggak usah balik lagi ke Bandung" pinta Breena dengan wajah memohon.


Mbak Ani langsung menatap kearah Bu Nyai dan Pak Kyai nya. Ia meminta bantuan untuk menjawab pertanyaan Breena.


Breena yang paham sama lirikan Mbak Ani pun membalikkan tubuhnya. Menatap pada Ibu mertuanya.


"Umma" panggil Breena manja.


"Iya kenapa Nduk?"


"Boleh iya?" ucap Breena sambil mengedip ngedipkan matanya seimut mungkin.


"Tanya sama Abah mu sayang. Umma tidak bisa memutuskan" ucap Umma Hanum menatap kearah suaminya.


Kenapa Umma Hanum memilih menyerahkan jawaban itu ke suami nya? Karena hanya Abah Arsya lah yang bisa memutuskan nasib Mbak Ani. Selama ini Abah Arsya lah yang berusaha mati matian menyembunyikan Mbak Ani, seperti permintaan kedua orang tuanya.


"Ada apa Nduk?"


"Abah, boleh nggak Mbak Ani tinggal sama Breena di Jakarta aja?" tanya Breena ragu ragu.


Abah Arsya hanya terdiam. Ia tak langsung menjawab permintaan menantunya itu. Abah Arsya berpikir apakah nanti keselamatan Mbak Ani terjamin. Karena tanggung jawab Mbak Ani sudah berada di tangannya selama beberapa tahun ini.


"Apa Abah boleh memikirkan ini terlebih dahulu Nduk? Apa tidak bisa menjawab permintaanmu sekarang Nduk" ucap Abah Arsya lembut.


"Kenapa Abah?" tanya Breena dengan wajah sedihnya.

__ADS_1


Sungguh sebenarnya Abah Arsya tak tega melihat wajah menantunya itu. Tetapi ia harus memikirkan segala hal.


"Sini duduk lah dulu Nduk. Bawa Mbak Ani juga" pinta Abah Arsya.


Breena pun membawa Mbak Ani duduk di sofa. Sebelum berhasil mendudukan Mbak Ani. Justru Mbak Ani duluan duduk bersimpuh diatas karpet, seperti yang dilakukannya di rumah Kyai nya.


Melihat Mbak Ani yang duduk dibawah, Breena pun juga ikut duduk dibawah.


"Ning, kenapa Ning juga duduk dibawah?" ucap Mbak Ani tak enak hati.


"Iya ngikut Mbak Ani duduk lah. Kenapa Mbak Ani duduk dibawah coba" protes Breena.


"Kan saya memang seperti ini kalau di ndalem Ning. Ndak sopan kalau saya duduk bersama dengan Kyai di sofa juga"


"Itu di ndalem Mbak. Ini sekarang bukan di ndalem. Tapi dirumah Papa Doni. Jadi kalau Mbak Ani mau Breena duduk diatas. Ayo Mbak Ani juga sama duduk diatas juga" ajak Breena yang langsung membangunkan Mbak Ani dari duduk bersimpuhnya.


"Tapi Ning"


"Nggak ada penolakan Mbak" tegas Breena.


Mau tak mau Mbak Ani pun juga duduk diatas bersama dengan yang lainnya.


"Nduk, apa alasan kamu ingin Mbak Ani tinggal bersama dengan kalian?" tanya Abah Arsya.


"Breena ingin menjodohkan Mbak Ani dengan anak sahabat Papa, Bah" jeda Breena.


"Nama nya Brian Anderson, Bah. Dia duda anak satu. Sebenarnya dia adalah mantan calon tunangannya Breena dulu. Kemarin keluarga mereka datang bersilaturahmi kesini dan meminta maaf kepada kami semua. Setelah hubungan kedua keluarga membaik, Breena ingin mencarikan jodoh untuknya Bah. Karena Breena merasa Mbak Ani cocok untuk menjadi istrinya dan Ibu sambung untuk putrinya. Makanya kami mengundang Abah, Umma dan Mbak Ani kesini untuk makan malam itu nanti bersama mereka juga Bah" jelas Breena sambil menundukkan kepalanya.


Abah Arsya hanya manggut manggut mendengar penjelasan dari menantunya itu.


Sedangkan Mbak Ani menatap kearah Ning nya. Ia tak menyangka kalau Ning nya sampai mencarikan nya jodoh. Apa lagi jodohnya itu seorang duda. Dan mantan calon tunangannya sendiri.


"Apa kamu sudah diceritakan tentang Mbak Ani oleh suamimu Nduk?"


"Sudah Abah. Kemarin Mas Dayyan sudah menceritakan semuanya kepada kami"


"Lalu apa tanggapan dari mereka Nduk?" tanya Abah Arsya yang ingin tau tanggapan dari sahabat besannya itu.


"Kedua orang tuanya setuju Abah. Namun Mas Brian belum memberikan jawaban. Sepertinya ia masih berpikir Abah. Ia takut kalau calon istrinya tidak bisa menerima keberadaan putrinya. Tapi Breena sudah meyakinkan mereka Abah, kalau Mbak Ani ini pasti akan menerima putrinya"


"Mbak Ani"


"Nggih Bah" jawab Mbak Ani yang masih menunduk.


"Bisa lihat Abah dulu Nduk" ucap Abah Arsya lembut.

__ADS_1


Perlakuan ini selalu Mbak Ani dapatkan ketika hanya bertiga dengan keluarga Abah Arsya. Karena bagi keluarga Abah Arsya, Mbak Ani ini sudah seperti putrinya sendiri.


Mbak Ani pun langsung menatap kearah Abah Arsya.


"Abah sudah pernah menceritakan tentang hidupmu dulu kan Nduk. Kamu juga tau sendiri sampai saat ini keluarga tiri Ayah mu masih terus mencarimu. Dan berusaha ingin membunuhmu. Karena mereka ingin menguasai semua harta peninggalan kakek mu yang jatuh ketangan mu semuanya"


Mendengar apa yang dikatakan Abah Arsya, wajah Mbak Ani pun seketika berubah menjadi pucat, matanya pu. Berkaca kaca. Ia ingat betul bagaimana kedua orang tua nya dibunuh oleh saudara tiri Ayah nya. Kejadian itu masih membekas di ingatannya.


Mbak Ani tak mampu menjawab pertanyaan Abah Arsya. Ia hanya menganggukan kepalanya pelan.


"Dan kamu juga tau kan karena alasan itu Abah melarang mu untuk keluar dari area pesantren?" tanya Abah Arsya lagi.


"Nggih Bah" jawab Mbak Ani pelan.


"Apa kamu ingin tinggal di Jakarta kembali Nduk bersama Breena dan Dayyan?"


Mbak Ani hanya bisa diam menunduk. Sebenarnya ia sangat ingin tinggal di Jakarta lagi. Ia ingin mengunjungi makan kedua orang tuanya. Namun ia masih takut dengan saudara tiri Ayah nya.


Lama terdiam akhirnya Mbak Ani pun menggelengkan kepala nya.


"Kata kan yang sejujurnya Nduk" pinta Umma Hanum.


"Umma, sebenarnya Ani ingin sekali tinggal di Jakarta lagi. Ani ingin ke makam orang tua Ani. Tapi Ani takut Umma. Ani takut sama saudara Ayah itu Umma" jelas Mbak Ani dengan air mata yang sudah menetes.


"Mbak percaya lah dengan Breena. Kalau kami pasti akan menjaga Mbak dengan baik. Apa lagi keluarga yang ingin Breena jodohkan dengan Mbak. Mereka keluarga terpandang. Pasti mereka akan menjaga Mbak dengan baik juga" jelas Breena yang masih ingin Mbak Ani tinggal bersama nya.


"Nduk. Abah sama Umma menunggu keputusan mu. Abah akan menyetujui nya jika kamu juga mau tinggal disini. Jadi pikirkan terlebih dahulu" pinta Abah Arsya.


"Dek. Kamu percaya sama Mas kan? Dari kamu sampai di pesantren, Mas selalu menjaga mu Dek. Jadi percaya lah sama istri Mas. Kami akan selalu menjaga keselamatan kamu Dek" ucap Dayyan lembut kepada Mbak Ani.


"Baik Mas, Ani akan pikirkan terlebih dahulu. Tapi soal perjodohan itu. Apa mereka mau menerima Ani, Mas?" tanya Mbak Ani gelisah.


"Tenang aja Mbak, Breena akan pastikan mereka akan menerima Mbak. Tapi jangan lupa Mbak juga harus istikhorah" ucap Breena antusias.


"Baik lah Ning, besok saya akan kasih keputusannya. Saya akan pikirkan malam ini" putus Mbak Ani.


"Sayang Mbak Ani" ucap Breena sambil memeluk Mbak Ani.


"Saya juga sayang sama kamu Ning" ucap Mbak Ani yang juga membalas pelukan Breena.


Dayyan yang melihat kedekatan antara istri dan adik angkatnya itu pun tersenyum bahagia. Ia tak menyangka, adik angkatnya yang susah menerima orang baru akhirnya mau sedekat ini sama istrinya.


"Permisi Tuan Nyonya. Makan malam nya sudah siap" ucap salah satu pelayan menghampiri Papa Doni.


"Terima kasih Mbak"

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu kita makan malam dulu. Setelah itu kita lanjut lagi acara mengorolnya" ajak Papa Doni.


__ADS_2