Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Memaafkan dan Permintaan Breena


__ADS_3

Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Daddy Martin, Breena hanya bisa terdiam. Ia tidak langsung menjawab apa yang disampaikan tadi kepadanya.


Breena menunduk. Ia tak ingin menatap kearah siapa pun, termasuk suaminya sendiri.


Brian yang menunggu jawaban dari Breena pun, akhirnya angkat bicara.


"Breena" panggil Brian pelan.


Breena hanya melihat sekilas kearah Brian. Ia juga tak berniat menjawab panggilan Brian.


"Aku tau aku salah Bee. Aku juga uda menyakiti hatimu. Perbuatanku mungkin sangat menyakitimu sehingga kamu susah untuk memaafkanku dan keluargaku" jeda Brian karena ia ingin melihat reaksi dari Breena.


"Aku memang laki laki pengecut. Laki laki yang tidak bisa mengungkapkan kesalahannya. Laki laki yang hanya bisa menyakiti hatimu. Aku memang salah karena aku hanya diam ketika para tamu menghinamu karena kamu membatalkan pertunangan kita tanpa mereka tau alasan sebenarnya. Bahkan sampai saat ini aku tetap menjadi lelaki pengecut yang masih saja tidak mau mengakui kesalahanku yang dulu dihadapan halayak" lanjut Brian yang sudah berkaca kaca.


Sedangkan Breena sudah mulai meneteskan air matanya ketika mengingat kejadian yang lalu. Dayyan yang melihat istri kesayangannya menangis dengan cepat menghapus air matanya.


"Jangan nangis lagi sayang. Sudah cukup air matamu keluar selama ini" ucap Dayyan sambil mengelus pipi Breena.


Breena hanya menanggapi ucapan Dayyan dengan tersenyum manis.


"Maafkan aku Breena. Maafkan semua kesalahan ku selama ini. Maafkan aku yang sudah menyakitimu. Maafkan aku. Maafkan semua kesalanku Breena. Maafkan lelaki pengecut ini. Aku sudah menuai karma ku Breena. Allah sudah membalas rasa sakitmu dulu kepadaku. Tolong maafkan aku Breena" ucap Brian yang tiba tiba saja sudah duduk dibawah kaki Breena dan mengatupkan kedua tangan nya.


Semua orang yang ada diruang tamu itu terkejut dengan yang dilakukan oleh Brian. Mereka tak menyangka Brian sampai melakukan hal itu.


"Setelah batalnya pertunangan kita. Aku menikahi Nova karena dia sudah hamil anak ku terlebih dahulu. Namun setelah melahirkan Quin, dia berselingkuh dan menceraikan aku demi selingkuhannya. Allah Maha Adil Breena. disaat aku yang telah menyakitimu. Allah membalaskan rasa sakitmu kepadaku dengan rasa sakit juga yang sangat terasa sakit. Sekali lagi maafkan aku Breena. Maafkan keluarga ku" ucap Brian lagi memohon agar Breena mau memaafkannya dan keluarganya.


"Mas" ucap Breena sambil menatap suaminya.


"Katakan apa yang ingin kamu katakan sayang. Jangan ada yang kamu sembunyikan lagi, agar hati kamu juga tenang dan lega. Mas tau selama ini dihati kamu masih ada yang mengganjal. Jadi sampai kan saat ini juga kepada mereka" ucap Dayyan menasehati istrinya sambil tersenyum.


Dayyan dapat melihat ada keraguan dan ketakuan didalam mata Breena. Ia pun menganggukkan kepala dan tersenyum manis kearah istrinya.


Mendapat dukungan dari suaminya, Breena manghela nafas. Ia menatap satu persatu keluarga Anderson. Tatapan nya berakhir di Brian. Lelaki yang dulunya sangat dicintainya. Namun cintanya harus tersakiti dan terkhianati.


"Sebelum nya duduk lah disofa mas. Briar lebih enak bicaranya" pinta Breena karena Brian masih aja duduk bersimpuh dibawah kakinya.


Brian pun menuruti apa yang diminta oleh Breena. Ia kembali duduk disofa.


"Sebenarnya Breena sangat sakit hati dengan apa yang kamu lakukan Mas. Tetapi Breena menahan nya seorang diri. Breena tidak mungkin menceritakan apa yang Breena rasakan sama orang lain. Breena berpura pura ceria pada hal hati Breena sangat sakit" jeda Breena dan menghela nafas kasar.


"Sebenarnya Breena uda memaafkan kamu Mas. Uda sedari lama Breena sudah memafkanmu. Tetapi dengan ada nya berita itu. Itu seperti membuka luka lama lagi. Jujur sebenarnya Breena sudah tidak ingin lagi ada hubungannya dengan kamu dan keluargamu lagi Mas"


"Aku sudah memaafkan semua perlakuanmu dan keluargamu dulu. Tapi aku memiliki permintaan kepada kalian semua yang ada disini" ucap Breena menatap kesemua orang.


"Kata kan Breena apa yang akan kamu minta dari kami. Apa pun itu Mas dan keluarga Mas akan melakukannya" ucap Brian antusias.


"Ada beberapa yang akan Breena minta. Mas apa boleh Breena mengatakannya?" tanya Breena menatap kearah Dayyan.

__ADS_1


Dayyan pun tersenyum dan mengelus puncak kepala Breena yang tertutup hijab.


"Katakan lah sayang. Apa pun itu Mas akan meridhoinya" ucap Dayyan lembut.


"Yang pertama, Breena mau kalian mengadakan konfrensi pers, dan mengatakan yang sebenarnya terjadi. Breena sudah tidak mau dibawa bawa oleh media di masalah kalian" ucap Breena menatap kearah keluarga Anderson.


"Sejujurnya, kami memang akan melakukan itu. Bukan kami tak mengingat peringatan dan ancaman dari kamu Don dan menantumu. Tetapi kami memang sengaja mengundurnya. Karena dari rapat pemegang saham dengan acara ulang tahun perusahaan ku hanya berjarak beberapa hari. Kami disibukkan dengan acara itu. Maaf kalau kami tidak mengkonfirmasi terlebih dahulu dengan kamu" ucap Daddy Martin menjelaskan yang sebenarnya yang ingin mereka lakukan.


"Kenapa kau tak mengatakan nya terlebih dahulu kepadaku Martin?" tanya Papa Doni yang menatap dingin kearah sahabatnya.


"Karena yang aku pikir. Kamu bisa mengerti dengan keadaan ku Doni. Maaf kan aku" ucap Daddy Martin memandang sendu kearah sahabatnya.


"Lalu apa yang kedua Breena?" lanjut Daddy Martin.


"Yang kedua. Breena ingin hubungan keluarga ini menjadi seperti dulu lagi. Breena tau perselisihan dan kerenggangan yang terjadi diantara dua keluarga ini berdampak dengan hubungan persahabatan antara Papa dan Om Martin. Jadi Breena mau kita semua seperti dulu lagi. Persahabatan yang sudah seperti saudara" pinta Breena.


"Maaf kan Papa sayang. Papa terlalu sakit melihat kamu disakiti oleh mereka. Makanya Papa memilih tidak berhubungan dengan baik lagi kepada mereka" ucap Papa Doni.


"Maafkan aku Doni. Maaf sekali lagi karena pengkhianatan anakku yang menyakiti putrimu hubungan kita jadi seperti ini. Aku bukan tidak menghargai dirimu. Aku bahkan sangat menghargaimu. Aku sudah banyak berhutang budi dengan keluargamu" lirih Daddy Martin menatap sahabatnya dengan mata berkaca kaca. Sangat terlihat dari matanya bahwa ada kerinduan dimata Daddy Martin begitu pun dengan Papa Doni.


"Aku sudah memaafkanmu Martin" ucap Papa Doni yang kini sudah berdiri dan merentangkan tangan nya.


Melihat Papa Doni yang melakukan itu, Daddy Martin pun segera berdiri dan dengan cepat berjalan kearah Papa Doni dan memeluk Papa Doni.


Daddy Martin meneteskan air matanya. Ia sangat merindukan Papa Doni. Tiga tahun hubungan mereka merenggang, dan akhirnya hubungan mereka kembali membaik. Ia sangat merindukan pelukan hangat dari Papa Doni. Orang yang sudah dianggap nya sebagai kakak nya itu.


"Aku juga sudah memaafkan mu Martin. Kau uda ku anggap adik ku sendiri. Sampai kapan pun tidak mungkin aku akan menghidarimu. Mau sampai kapan pun kau akan tetap menjadi adikku" ucap Papa Doni sambil menepuk pahu Daddy Martin.


Semua orang yang ada disana meneteskan air matanya. Terutama keluarga Anderson. Mereka tak mengira kalau keluarga Doni Abraham begitu berbesar hatinya memaafkan kesalahan fatal mereka.


Mommy Aletha pun juga berhambur kepelukan Mama Ratih. Kedua paruh baya itu pun juga menangis.


"Maafkan aku Ratih. Maafkan aku. Karena kesalahan ku yang gagal mendidik anakku. Sehingga ia dengan tega menyakiti putrimu. Sungguh sangat beruntung suaminya mendapatkan dia Ratih. Breena sangat baik hati. Ia sangat pantas mendapatkan suami yang baik juga" ucap Mommy Aletha didalam pelukan Mama Ratih.


"Aku juga sudah memaafkan kamu Letha. Mari kita lupakan semuanya" ucap Mama Ratih.


Setelah puas menumpahkan semua air mata. Mereka semua merasa lega karena hubungan mereka sudah kembali membaik seperti dahulu lagi.


"Lalu apakah masih ada lagi sayang yang menjadi permintaan kamu?" tanya Dayyan lembut menatap Breena yang berada didalam pelukannya.


"Iya Mas masih ada" ucap Breena kemudian ia membenarkan posisi duduknya.


"Katakan sayang. Apa yang akan kamu minta lagi" ucap Papa Doni.


"Benar Breena. Katakan lagi apa permintaan kamu" ucap Daddy Martin.


Breena kembali menatap semua orang terutama menatap kearah suami nya cukup lama.

__ADS_1


"Ini permintaan terakhir Breena. Breena harap Papa dan Mas Dayyan mau mengabulkannya" ucap Breena ragu.


"Hmm kata kan sayang" ucap Dayyan.


"Mas bisakah kamu tidak menarik saham kamu di perusahaan Om Martin?" tanya Breena lirih.


Breena menatap suaminya dengan tatapan permohonan.


"Apa alasan kamu meminta hal itu sayang?" tanya Dayyan menatap lembut kearah istrinya.


"Breena tidak ingin menghancurkan masa depan semua orang Mas. Bukan karena Breena masih menaruh hati dengan Mas Brian. Bukan karena itu Mas. Yang Breen pikirkan bagaimana nasib seluruh karyawan di perusahaan itu, kalau sampai perusahaan itu bangkrut. Banyak kepala keluarga yang harus kehilangan pekerjaan mereka. Bagaimana dengan keluarga mereka nantinya Mas. Apa lagi sekarang itu sangat sulit mendapatkan pekerjaan" jelas Breena.


Dayyan yang mendengar penjelasan Breena tersenyum bangga. Ia tidak hanya memikirkan nasib keluarga Anderson. Tetapi ia juga memikirkan nasib keluarga karyawan yang bekerja diperusahaan itu. Ada beratus karyawan. Bahkan beribu karyawan dari semua perusahaan Anderson baim dari pusat dan cabang. Mereka pasti akan kesulihat untu mendapatkan pekerjaan yang baru. Dan bisa jadi masa depan anak anak dari para karyawan itu yang menjadi taruhannya.


"Baik lah sesuai permintaan istri cantiknya Mas ini. Mas tidak akan menarik saham kita di perusahaan mereka" ucap Dayyan lembut.


"Mas serius?" tanya Breena dengan mata berbinar.


"Serius sayang"


"Terima kasih Mas"


Breena pun reflek memeluk suaminya didepan semua orang. Ia sangat bahagia suaminya bisa mengerti apa yang ia ingin kan.


Ekhem


Deheman dari para lelaki memutuskan acara pelukan pasangan pengantin baru yang dimabuk cinta itu.


Hehehehe


Breena hanya bisa tertawa malu. Dan semua orang menggelengkan kepala mereka.


"Lanjutkan dulu apa permintaan kamu sayang. Jangan langsung mengumbar kemesraan kalian" tegur Papa Doni yang hanya dibalas oleh cengiran Breena.


"Na, jangan pelukan disini. Kasihan duda anak satu itu. Tidak bisa memeluk pasangannya. Dia hanya bisa memeluk gulingnya saja nanti" ejek Ibra pada adik nya. Yang langsung mendapat lemparan bantal dari sang adik.


"Maaf" ucap Breena pelan. Ia sangat malu saat ini.


"Papa"


"Iya sayang"


"Apa Breen juga boleh meminta hal yang sama kepada Papa?" tanya Breena penuh harap.


"Boleh sayang. Papa akan kembali mananamkan modal saham kita di perusahaan dan rumah sakit milik keluarga Anderson" ucap Papa Doni yang menatap anaknya dengan senyum.


"Terima kasih Papa"

__ADS_1


Breena sangat bahagia malam ini. Akhirnya persahabatan dua keluarga itu bisa terjalin dengan baik lagi.


__ADS_2