
Para Bodyguard dan pelayan masing masing membawa koper milik Tuan dan Nona mereka. Mereka akan mengantar kan koper koper itu ke rumah yang sudah di sedia kan oleh Dayyan untuk tempat Tuan dan Nona mereka tinggali beberapa hari ini.
Mereka memasuk kan koper koper itu sesuai dengan nama yang sudah tertempel di dinding rumah tersebut. Sehingga koper itu tidak akan tertukar.
Setelah meletak kan koper milik Tuan dan Nona mereka. Kini mereka kembali ke rumah utama.
"Permisi Tuan. Kami sudah meletak kan koper Tuan dan Nona sesuai dengan nama yang tertera di dinding rumah tersebut." lapor salah satu bodyguard milik Brian.
"Terima kasih Pak"
"Sama sama Tuan. Emm maaf Tuan. Kalau saya boleh tertanya. Kami semua tidur nya dimana iya Tuan? Karena kami akan menyimpan barang bawaan kami juga." tanya bodyguard tersebut sambil menunduk.
"Maaf Pak, saya lupa ngasih tau nya. Kalian bisa menempati dua rumah untuk para bodyguard dan satu rumah untuk para pelayan. Rumah nya dekat sama rumah yang tadi Pak. Di dinding nya juga uda ada tulisan nya kok" jelas Dayyan.
"Terima kasih Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu" ucapny sambil membungkuk kan badan nya.
Setelah bodyguard itu pergi. Mereka semua pun melanjut kan obrolan mereka.
"Bah, tuh cucu uda ada empat di depan mata. Kenapa nggak di gendong juga? Kata nya tadi kangen sama cucu" ledek Ansel.
Abah Arsya masih diam tak bergeming. Dia masih menatap lekat ke arah keempat bayi yang sudah tertidur di atas karpet busa di ruang tengah.
Tatapan Abah Arsya terus melihat ke arah Deera. Dia tersenyum melihat betapa cantik nya cucu perempuan satu satu nya itu.
Lalu tatapan Abah Arsya beralih ke arah baby Keenan. Seketika kening Abah Arsya langsung berkerut.
"Wwaaahhh nggak bisa di biar kan ini. Nggak bisa ini mereka di satu kan" ucap Abah Arsya tiba tiba.
"Abah kenapa?" tanya Umma Hanum yang khawatir.
__ADS_1
"Dayyan jangan dekat kan putri mu dengan putra nya Brian" ucap Abah Arsya yang membuat semua orang terdiam.
Bahkan Ani yang memdengar ucapan Abah nya itu pun mata nya langsung berkaca kaca.
"Kenapa Bah?" tanya Breena yang penasaran.
"Percaya sama Abah. Kalau mereka uda lulus SD nanti. Jangan pernah kamu buat mereka bertemu. Masuk kan anak mu ke pesantren yang tidak ada orang yang tau. Kecuali istrimu sendiri" ucap Abah Arsya tegas.
"Kenapa begitu Bah?" tanya Brian yang merasa janggal dengan permintaan Abah Arsya.
"Dia berpotensi jadi menantu mu kalau mereka sudah besar nanti. Jadi turuti apa yang Abah minta. Jangan pernah satu kan mereka berdua. Kalau sama Adga dan Andra tak masalah." ucap Abah Arsya santai.
Brian yang langsung tanggap dengan ucapan Abah Arsya pun berteriak senang. Angan angan dan impian nya berbesanan dengan Dayyan pun akan tercapai.
"Siaaappp Bah. Nanti Bri akan sekolah kan putra Bri di pesantren. Agar dia bisa mendalami agama nya. Lalu nanti akan Bri kuliah kan dia di kairo. Putra Bri akan menjadi satu satu nya kandidat calon mantu yang hanya bisa di pilih sama Mas Dayyan." ucap Brian senang.
"Nggak ada itu anak gue masih kecil. Apaan lo bilang calon mantu segala. Baru juga lahir anak kok uda di jodoh jodoh kan." omel Dayyan tak terima.
"Nggak ada. Kita lihat aja nanti. Semua itu sudah takdir Allah. Kita belum tau siapa jodoh anak anak kita"
"Bah mohon doa nya iya. Semoga nanti jodoh nya Deera beneran Keenan iya Bah" ucap Brian meminta doa kepada Abah Arsya.
"Pasti Abah doa kan. Asal kan kriteria mantu nya sesuai dengan keinginan nya Dayyan."
"Iya Bah pasti Brian akan membuat anak Brian menjadi kriteria nya Mas Dayyan.." ucap Brian dengan senyum kemenangan nya menatap ke arah Dayyan.
"Gue akan wujud kan apa yang ada di hati gue. Jodoh dari lahir. Amin" lanjut Brian.
Dayyan mendengus tak suka mendengar percakapan Abah nya dan Brian. Menurut Dayyan masih terlalu dini untuk membahas masalah jodoh. Karena anak anak mereka saja masih bayi.
__ADS_1
"Mas, gimana nasib bakso sama manisan kita Mas?" tanya Breena tiba tiba yang teringat dengan bakso dan manisan yang mereka beli tadi.
"Astafirullah lupa sayang" ucap Dayyan.
Dayyan pun langsung berdiri begitu pun dengan para pria lain nya. Mereka juga ikut berdiri dan berjalan menuju ke parkiran mobil mereka.
Di parkiran mobil, mereka dapat melihat semua bodyguard yang di bawa oleh Brian dan Dion sedang membantu beberapa Kang Santri untuk menurun kan makanan cepat saji dan roti yang mereka pesan tadi.
"Pak, bakso dan manisan kita bagaimana?" tanya Brian pada salah satu bodyguard nya.
"Masih di mobil Tuan. Belum di turunin. Kita masih bantuin menurun kan makanan ini dan roti Tuan." ucap salah satu bodyguard.
"Iya uda di bagi aja tugas nya Pak. Beberapa bodyguard mengurus masalah bakso. Nanti saya minta santri laki laki untuk membantu Bapak. Dan tolong bawa ke dapur umum iya Pak, biar di hangat kan kuah nya. Selesai sholat magrib kita akan makan bersama di aula" ucap Dayyan.
"Baik Tuan, kalau begitu saya akan panggil beberapa teman saya dulu untuk membantu saya"
Dayyan pun setelah itu langsung meminta Kang Amin dan Kang Yudi untuk memanggil dua puluh santri laki laki, untuk membantu mereka membereskan menu makan malam hari ini.
Tak mau hanya menonton dan terima bersih saja. Para CEO itu pun turut turun tangan membantu menyiap kan makan malam mereka nanti nya. Karena sati jam setengah lagi akan segera masuk waktu sholat magrib.
"Tidak apa Pak. Semakin banyak yang bantuin akan semakin cepat pula selesai nya." ucap Dion.
Akhir nya 30 menit kemudian selesai sudah semua pekerjaan mereka. Saat ini mereka sedang duduk di teras rumah Abah Arsya. Mereka menarik nafas mereka dalam dalam. Begitu pun juga dengan para bodyguard.
"Ayo siap siap. Nanti kita akan sholat magrib di masjid utama. Setelah selesai sholat magrib kita akan makan malam bersama para santri serta ustadz dan uatadzah di aula pesantren.
"Iya ayo kita semua siap siap. Sebentar lagi uda mau masuk adzan magrib. Jangan sampai ketinggalan. Malu kita sama santri santri kalau terlambat datang ke masjid" ucap Angga yang sudah berdiri.
"Iya benar itu, ayo kita siap siap"
__ADS_1
Satu persatu mereka semua meninggal kan teras rumah Abah Arsya kecuali Dayyan. Dayyan terlihat bahagia. Sabahat sahabat nya mau berbagi dengan para santri. Dan mau bergabung dengan santri yang bukan berasal dari status dan level orang kaya. Tak ada kecanggungan yang di rasakan para sahabat nya ketika membantu para santri, Kang santri senior dan bodyguard yang mereka gaji setiao bulan nya.