
Wulan yang baru saja di peringati oleh Papa nya pun tak menggubris nya. Wulan masih menatap penuh minat pada Brian dan Dayyan. Dia pun semakin iri kepada Ani dan Breena ketika melihat Brian dan Dayyan memperlakukan istri istri mereka dengan sikap yang manis.
"Ingat Wulan jangan pernah main main sama mereka kalau kamu tidak ingin kita hidup miskin" ucap Pak Handoko memperingati kembali putri nya.
Wulan pun masih tak menanggapi ucapan Papa nya.
Sedang kan di posisi Brian dan kawan kawan saat ini mereka menikmati makanan mereka. Ralat bukan mereka tapi kedua ibu menyusui dan satu orang ibu hamil yang sedang menikmati makanan nya. Sedang kan para suami mereka sedang asik berbincang. Tapi di sela perbincangan mereka. Para suami masih sempat memberikan perhatian pada para istri yang sedang makan.
Brian pun berdiri. Dia menyerah kan baby Keen sama pengasuh nya yang duduk satu meja dengan pengasuh anak anak Breena.
"Bun, Daddy ke kamar mandi sebentar iya" pamit Brian pada Ani yang sedang memakan siomay nya.
"Jangan lama iya Dad"
"Iya cuma sebentar kok Bun. Atau apa Bunda mau ikut?" goda Brian yang langsung di jawab Ani dengan gelengan.
Brian pun mengecup kening Ani, setelah nya ia pun pergi ke kamar mandi.
Wulan yang melihat Brian pergi pun mengikuti kemana Brian pergi. Wulan melihat Brian masuk ke kamar mandi. Kemudia Wulan pun juga ikut masuk.
"Mas Brian" panggil Wulan sengaja dengan suara yang menggoda.
Brian hanya diam menatap datar Wulan yang berdiri dibelakang nya.
Wulan yang melihat tatapan Brian yang datar pun berjalan mendekat ke arah Brian.
Saat Brian melihat Wulan yang mendekat kearah nya. Dia pun segera membalik kan tubuh nya dan memberikan tatapan tajam ke arah nya.
"Selangkah saja kau maju maka perusahaan Papa mu akan berakhir." ucap Brian dengan tatapan tajam nya.
Wulan pun langsung menghentikan langkah kaki nya. Ia hanya memberikan senyuman menggoda kepada Brian.
__ADS_1
"Apa kau yakin Mas Brian?" tanya Wulan dengan suara menggoda nya.
"Kau perlu bukti?"
"Entah lah tapi aku yakin kalau kau tak akan melakukan itu" ucap Wulan percaya diri.
"Kau pikir aku tak tau apa yang ada di dalam otak mu itu. Jasi sebelum kau melancar kan aksi mu dan kau yang akan sengsara, jadi sebaik nya kau mundur saja. Karena aku tak pernah main main sama ucapan ku" ucap Brian memperingati Wulan.
"Aku yakin kau tak akan melakukan hal itu. Karena aku tau semua laki laki pasti akan tersiksa kalau istri nya baru melahir kan. Jadi aku siap untuk mengganti kan istri mu untuk sementara, atau bisa jadi untuk selama nya kalau kau mau" ucap Wulan yang terus berusaha menggoda Brian. Bahka Wulan mengelus dada Brian yang membuat Brian langsung menepis tangan nya.
"Dasar wanita gila" ucap Brian.
Setelah mengatakan itu Brian langsung keluar dari kamar mandi. Wulan melihat itu pun langsung menyungging kan senyum nya.
Setelah keluar, Brian langsung menelpon asisten nya Rangga, untuk mengambil kan baju ganti untuk nya yang ada di kamar pribadi nya.
Brian sudah sampai di tempat istri nya tadi dan bertepatan Rangga yang juga sampai yang membawakan setelan kemeja dan jas nya yang lain.
Brian tanpa memikir kan tindakan nya di depan umum atau tidak pun tidak peduli. Dia langsung membuka jas dan kemeja nya disana. Lalu membiar kan setela. Jas dan kemeja nya jatuh ke lantai.
Brian langsung mengambil kemeja nya lalu menyerahkan nya pada Ani. Ani yang tau maksud suami nya pun langsung memakai kan kemeja nya.
"Kenapa Daddy?" tanya Ani yang langsung mengancing kan kancing kemeja sang suami.
"Daddy nggak mau ada bekas wanita penggoda di baju Daddy Bunda" ucap Brian sengaja mengencang kan suara nya.
"Siapa Daddy?" tanya Ani lagi dengan suara lembut nya.
"Biasa Bunda. Wanita murahan yang menggoda pria pria kaya. Apa lagi pria itu pengusaha sukses. Baru kenal aja uda langsung menggoda" ucap Brian yang masih dengan suara lantang nya.
"Sabar Daddy. Perbanyak istighfar nya" ucap Ani lembut dengan tangan yang mengelus dada Brian agar tidak emosi lagi.
__ADS_1
"astafirullah astafirullah. Sumpah Daddy tak suka dengan wanita seperti itu Bunda" ucap Brian dengan suara manja nya.
Ani yang mendengar itu pun tersenyum lembut. Dia terus mengusap dada Brian sampai Brian tenang.
Wulan yang melihat dan mendengar semua yang dikatakan Brian pun merasa tersinggung. Apa lagi melihat bagaimana cara Ani yang menenang kan Brian dengan suara lembut nya. Membuat Wulan semakin ingin merebut Brian dari tangan Ani.
"Kalau kau di goda nya, kau akuisisi aja perusahaan nya Bri. Buat dia miskin langsung tanpa sisa sedikit pun" ucap Dayyan santai yang di setujui oleh yang lain nya.
"Aku sudah mengancam nya, tapi memang dasar dia perempuan tak tau malu. Dia justru semakin menggoda ku. Ciihh sungguh menjijik kan" sindir Brian yang kembali kesal dengan kelakuan Wulan tadi.
"Kalau begitu juga, iya satu satu nya cara iya dengan cara mafia" ucap Dayyan santai dengan sesekali mengesap kopi nya.
"Iya kau benar, cara mafia memang pantas untuk nya" ucap Brian dengan senyum menyeringai nya dan menatap kearah Wulan yang sedari tari menatap nya.
Wulan sampai bergidik ngeri melihat senyuman nya Brian. Ia langsung pergi menjauh dari perkumpulan orang Brian.
Ketika melihat Wulan yang sudah pergi pun, Brian langsung mengalih kan tatapan nya kearah Ani lagi yang sedang menggendong Baby Keenan.
"Hai sayang. Anak Daddy kenapa nggak tidur?" tanya Brian yang sambil menoel pipi Baby Keenan.
"Kebangun tadi Daddy" jawab Ani menirukan suara anak kecil.
Brian yang gemas pun menciumi pipi Baby Keen sampai Baby Keen menangis. Ani langsung memberikan tatapan maut nya kearah suami nya.
Brian yang mendapat kan tatapan itu pun hanya tersenyum tanpa dosa. Lalu Ani langsung memberikan baby Keenan ke suami nya.
"Diam kan" perintah Ani dengan tatapan tajam nya.
Brian yang mendapat kan titah itu pun langsung menenang kan baby Keenan. Dia langsung membawa baby Keenan ke dekat Deera.
"Hei Keen lihat lah Deera saja tidak menangis. Kenapa kau menangis hemm?"
__ADS_1
Baby Keenan yang mendengar nama Deera di sebut kan pun langsung terdiam. Bayi yang batu berusia empat puluh hari itu seakan tau kalau Deera nggak akan suka sama lelaki yang cengeng.
Semua yang ada disana tertawa melihat itu. Bagaimana mungkin baby Keenan yang baru berusia empat puluh hari tau cara seperti itu