
Di Bandung Dayyan dan yang lain nya baru saja selesai sholat jum'at di masjid utama dengan Dayyan yang bertugas menjadi khotib dan menjadi imam.Hal ini sudah lama Dayyan nanti nanti kan. Sebab ia sudah lama juga tidak kembali ke Bandung, setelah kehamilan istri nya membesar dan melahir kan.
Dayyan dan yang lain nya masih berada di masjid berbincang dengan para tetangga yang memang belum beranjak dari Masjid.
Begitu pun dengan Abah Arsya. Beliau juga masih berbincang dengan beberapa pengurus pesantren.
Tiba tiba suara desingan helikopter pun terdengar oleh telinga mereka. Suara yang awal nya sedikit jauh. Kini berubah menjadi dekat, dan semakin dekat. Bahkan suara desingan itu seperti berada tak jauh dari tempat mereka.
Beberapa santri yang berada di luar mencari tempat aman untuk melihat siapa yang kali ini datang menggunakan helikopter lagi. Setelah tadi pagi mereka juga di buat terkejut karena orang tua Ning mereka yang datang menggunakan helikopter.
Tak hanya para santri saja, tetapi beberapa orang yang masih berada di dalam masjid pun juga ikut kuar. Mereka ingin tau siapa yang datang dengan menggunakan helikopter.
Helikopter yang di kendarai oleh Thomas pun pelan pelan mulai mendarat sempurna di samping helikopter milik Papa Breena.
Daddy Steven yang melihat ada helikopter lain yang terparkir di halaman pondok pesantren pun melihat nya. Mata nya menatap lekat ke arah helikopter tersebut.
Terlebih lagi ketika ia melihat nama yang terukir cantik di body helikopter tersebut "ABREENA" dia sangat mengenali nama itu. Lalu seorang pria paruh baya pun menghampiri helikopter Daddy Steven. Dia membuka pintu dimana Daddy Steven duduk.
Dengan hormat Captein Vincent pun menunduk ke arah Daddy Steven.
"Vincent" ucap Daddy Steven yang tak menyangka kalau tebakan nya benar. Kalau helikopter itu milik sahabat nya.
"Iya Tuan. Silah kan turun Tuan Besar, Nyonya Besar dan Tuan Muda" ucap Vincent sopan.
"Terima kasih Vincent. Sejak kapan kamu ada disini?" tanya Mommy Rianti dengan senyum manis nya.
"Sejak pagi tadi Nyonya Besar"
"Doni dan Ratih kesini?" tanya Mommy Rianti.
"Benar Nyonya. Tuan dan Nyonya Abraham ada di dalam"
"Baik lah kalau begitu, saya kedalam dulu" ucap Mommy Rianti yang menggandeng langsung Daddy Steven.
Daddy Steven pun hanya menepuk bahu nya sekilas.
__ADS_1
"Uncle" panggil Thomas ketika ia sudah turun dari Helikopter nya.
"Tuan Muda" sapa Vincent hormat.
"Ck! Mulai kan. Thomas Uncle bukan Tuan Muda" ucap Thomas sebal.
Vincent memang selalu memanggil nya Tuan Muda. Hal itu membuat Thomas pun langsung sebal dengan nya.
"Iya Thomas. Kau sudah sangat besar ternyata. Bahkan kau sudha bisa membawa heli mu sendiri sekarang" ucap Vincent sambil menepuk bahu Thomas.
"Iya Uncle. Ayo masuk Uncle" ajak Thomas.
Vincent dan Thomas pun berjalan beriringan sambil membahas masalah helikopter.
Di masjid utama, Dion yang melihat mertua nya datang bersama adik ipar nya pun langaung berlari meninggal kan Dayyan dan yang lain nya.
Entah kenapa, perasaan Dion menjadi tidak enak. Apa yang membuat mertua nya datang menyusul mereka? Apa dia membuat kesalahan selagi bersama dengan Anggi? Dion pun semakin bertanya tanya.
"Dad. Mom" panggil Dion dengan nafas nya yang terengah engah.
"Daddy sama Mommy kenapa datang kesini? Apa Dion buat kesalahan Dad?" tanya Dion hati hati.
Kedua orang tua Anggi itu pun tersenyum melihat sikap menantu nya. Mereka berdua tau kalau menantu nya itu sednag dilanda ketakutan.
"Tidak. Kau tidak membuat kesalahan Dion. Tapi kesini karena kami merindukan putri kecil kami" jawab Mommy Rianti.
Dion pun seketika menghela nafas nya lega. Ia sudah takut kalau kedua mertua nya ini sampai marah karena dia membuat kesalahan.
"Tapi Dion. Kenapa tadi kamu membiar kan Anggi memetik buah strawberry nya sendiri?" tanya Daddy Steven.
"Maaf Dad. Bukan nya Dion nggak mau bantuin. Tapi memang Anggi nya yang nggak mau di bantu. Kata nya dia mau menikmati waktu nya sendirian sambil memetik buah strawberry itu. Maka nya Dion nggak berani mengganggu Anggi, Dad" ucap Dion sambil menunduk.
"Maaf, kalau Dion membuat kesalahan Dad" lanjut nya lesu bahkan dia sudah menunduk sedari tadi.
Daddy Steven berusaha mati matian menahan tawa nya agar tak pecah. Ia tak menyangka kalau menantu nya ini sangat takut kepada nya.
__ADS_1
"Aku tak akan memarahi mu Dion. Daddy hanya merasa heran saja. Kenapa Anggi bisa sendirian tadi di kebun strawberry itu saja. Malahan Daddy mau mengucap kan terima kasih" ucap Daddy Steven.
"Maksudnya Da?" tanya Dion yang tak paham.
"Daddy mau mengucap kan terima kasih, karena kamu sudha memberika. Waktu sebentar untuk Anggi menikmati kebahagiaan nya di kebun strawberry. Terima kasih sudah selalu menampilkan senyum manis nya Anggi di sudut bibir nya" ucap Daddy Steven tulus.
"Tak perlu berterima kasih Dad. Karena itu memang tugas ku sebagai suami nya. Yang wajib memberikan kebahagiaan di wajah nya yang cantik itu"
"Uda ayo masuk. Lihat tuh kita uda jadi pusat perhatian yang lain nya" ajak Mommy Rianti.
Kompak Daddy Steven dan Dion pun menatap ke sekeliling nya. Dan ternyata benar kalau mereka saat ini sudah menjadi bahan ghibah mereka nnati nya.
Dion pun membawa kedua mertuanya menuju ke ndalem. Di teras ndalem, terlihat Umma Hanum, dan yang lain nya Pun berdiri menunggu kedatangan tamu nya itu.
Anggi langsung berlari dan memeluk tubuh Mommy nya
"Anggi rindu Mom." ucap Anggi di sela pelukan nya.
"Mommy juga rindu sayang. Maka nya kami menyusul kamu kesini" ucap Mommy Rianti dengan suara lembut nya.
"Apa dia menyusah kan mu sayang?" tanya Mommy Rianti sambil mengelus perut Anggi.
"Nggak Mom. Dedek happy disini" ucap Anggi bahagia..
"Alhamdulillah. Syukur lah kalau dedek happy sayang. Jangan capek capek iya. Mommy nggak mau cucu Mommy kenapa kenapa" pinta Mommy Rianti.
"Tenang aja Oma, dedek nggak akan kenapa kenapa. Kan ada Daddy yanh jagain, sama Uncle Uncle bodyguard" ucap Anggi menirukan suara anak kecil.
Semua orang tertawa mendengar ucapan Anggi.
"Apa Daddy tak dapat pelukan juga?" ucap Daddy Steven merajuk.
Dengan cepat Anggi pun memeluk Daddy nya. Dia bahkan mencium kedua pipi sang Daddy yang di balas dengan ciuman di puncak kepala sang anak.
Saat Anggi dan Daddy Steven sedang berpelukan, Thomas dan Vincent pun datang.
__ADS_1
"Apa kalian melupakan ku? Kenapa kalian berpelukan terus" ucap Thomas yang juga ikut merajuk.