
Brian selalu menatap kearah putri nya dan Mbak Ani. Melihat putri nya yang selalu tersenyum bahkan manja kepada Mbak Ani membuat sebuah senyum tipis tersungging di bibir nya. Senyuman itu berhasil dilihat oleh Dayyan.
Iya sedari tadi Dayyan memang selalu memperhatikan ketiga orang itu. Dayyan pun mendekati Brian. Ia duduk tepat di samping kanan Brian. Sedangkan istrinya ia biarkan berbincang bersama Anggi dan istri nya Ibra.
"Jangan dilihatin terus Mas, dosa jatuh nya zina mata" ucapan Dayyan membuat Brian langsung menatap nya dengan senyuman canggung.
"Saya hanya memastikan kalau itu benaran putri saya Gus"
"Kenapa begitu?"
"Selama di Jerman, putri saya tidak pernah mau akrab dengan orang yang baru dikenal nya. Bahkan beberapa teman wanita saya, pernah mencoba mendekati nya. Namun tetap saja ia tak bisa menerima mereka. Berbeda sekali dengan yang saya lihat malam ini Gus. Quin begitu dekat dengan Mbak Ani. Bahkan dengan Mommy nya sendiri pun Quin menjaga jarak. Seolah ia tau atas permasalahan perpisahan saya dan Mommy nya" jelas Brian yang kembali menatap kearah dua orang wanita berbeda usia itu.
Dayyan pun hanya menganggukkan kepala nya. Ia juga ikut menatap kearah Mbak Ani yang sudah di anggap nya adik.
"Ani memang orang seperti itu. Ia bisa membuat seorang anak kecil yang susah untuk menerima orang baru menjadi dekat dengan nya. Sikap lembutnya dan ke Ibuan nya mampu membuat banyak anak kecil menyukai nya" puji Dayyan.
"Seorang anak bisa melihat mana yang tulus menerimanya dan mana yang hanya sekedar menerima keberadaan nya. Lihat lah Quin begitu bahagia bersama Ani. Senyum nya selalu tersungging di bibirnya"
"Saya rasa niat baik Breena tidak ada salah nya Mas. Dari apa yang kita lihat Quin sangat menerima keberadaan Ani. Tidak ada salah nya untuk dicoba Mas" lanjut Dayyan.
"Saya takut salah memilih pendamping lagi Gus. Saya tidak mau gagal untuk yang kedua kali nya. Saya ingin mencari yang bisa menerima saya, terutama menerima putri saya Gus. Bukan hanya satu kali saya berusaha mendekatkan Quin dengan wanita yang dekat dengan saya. Bahkan Mommy pun juga sering menjodohkan saya dengan anak sahabatnya. Namun tetap saja Quin sulit untuk didekati Gus" jelas Brian memandang sendu kearah putri nya.
"Mau saya kasih saran Mas?"
"Apa itu Gus?"
"Istikhorah Mas. Sholat istikhorah. Minta petunjuk kepada yang Maha Kuasa. Insya Allah pasti Allah akan menunjukkan nya lewat mimpi Mas" ucap Dayyan memberi saran kepada Brian.
Brian hanya diam. Tatapan nya beralih kearah Dayyan. Seolah ia meminta penjelasan yang lebih.
Dayyan yang mendapatkan tatapan itu pun hanya tersenyum menatap kearah istrinya yang sedang bercanda bersama para wanita.
"Mas percaya takdir?"
Brian hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Saya menunggu Breena selama 3 tahun Mas. Selama itu juga saya selalu melakukan sholat istikhorah. Saya berpikir kalau mimpi itu hanya lah bunga tidur saja. Namun selama itu juga Breena selalu hadir di mimpi saya ketika saya selesai menunaikan sholat istikhorah. Saya bertemu dengan Breena ketika saya mengisi pengajian rutinan di Masjid Al-Huda. Saya melihat Breena duduk dipojokan Masjid. Ia sesekali menyeka air matanya diwajah cantiknya. Saat itu juga saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Selesai mengisi pengajian saya meminta kepada Dion untuk mencari tau tentang Breena. Dan ketika saya mendapati fakta tentang Breena, saya meyakinkan hati saya untuk memilikinya. Iya saya sholat istikhorah Mas" jelas Dayyan dengan senyum yang tak pernah pudar setiap ia menceritakan Breena.
"Awal pernikahan kami memang sulit. Saya yang begitu mencintai nya. Dan dia yang masih dalam trauma nya. Saya berusaha meyakinkan nya kalau saya memang sangat mencintainya. Bahkan kami hampir berpisah kalau saja tidak ada Ani yang memberikan bukti kalau saya tidak mengkhianatinya. Waktu itu saya difitnah oleh salah satu Ustadzah yang mengajar di pesantren Abah. Breena yang percaya dengan apa yang dilihatnya dan apa yang di ucapkan oleh Ustadzah itu pun meminta Papa Doni dan Mama Ratih menjemputnya di Bandung. Ia juga meminta pengacara keluarga mereka untuk datang juga. Berkat Ani rumah tangga saya masih bisa bertahan"
"Takdir yang begitu indah, Breena akhirnya membalas cinta yang saya miliki. Jadi saya sarankan untuk Mas Brian juga melakukan sholat istokhorah. Insya Allah jawaban nya tidak akan mengecewakan Mas" saran Dayyan sambil menepuk bahu Brian.
"Akan saya pikirkan dulu Gus. Dan Insya Allah kalau memang sudah ada jawaban nya dan memang jodoh nya pasti akan saya pinang Gus" ucap Brian tegas.
Dayyan dan Brian pun kembali menatap kearah Mbak Ani dan Quin. Dapat mereka lihat kalau Mbak Ani sedang memangku Quin yang tertidur dipangkuan nya sambil memeluk nya. Hati Brian menghangat melihat betapa Mbak Ani memperlakukan putri nya seperti anak nya sendiri.
"Dek bawa ke kamar tamu, diluar dingin. Kasihan Quin kalau tidurnya diluar" perinta Dayyan ketika ia melihat Ani dengan sayang memangku Quin yang tidur.
"Nggih Mas" jawab Mbak Ani. Lalu ia langsung berdiri dan membawa Quin kedalam kamar yang ditempatinya.
Iya Mbak Ani memang seperti itu, kalau di pesantren ia akan memanggil keluarga Abah Arsya sesuai panggilan disana. Namun kalau sudah berada diluar pesantren panggilan itu pun berubah. Ia akan memanggil kedua orang tua Dayyan, dengan Abah dan Umma. Juga kepada Dayyan ia akan memanggil nya dengan sebutan Mas.
Hari semakin larut. Semua tamu sudah bersiap untuk kembali kekediaman mereka masing masing.
Keluarga Dion dan Danuarta pun pamit duluan, begitu pun dengan Ibra dan keluarga nya. Karena anak anak mereka sudah mulai mengantuk.
"Maaf Pak Kyai. Apa saya boleh menyampaikan sesuatu?" tanya Brian ragu.
"Panggil Abah saja. Kamu mau menyampaikan apa Mas Brian?"
"Tentang ucapan Breena yang ingin menjodohkan saya dengan Mbak Ani Abah"
"Apa kamu sudah memikirkan nya Mas?"
Brian pun menganggukkan kepalanya. Ia menatap kearah Daddy nya seolah meminta dukungan.
Daddy Martin tersenyum dan ia menganggukkan kepala nya juga. Mempersilahkan Brian menyampaikan apa yang akan ia katakan.
"Kemarin saya sudah memikirkan nya Bah. Dan malam ini saya melihat betapa tulusnya Ani mengasuh putri saya. Ia bahkan mampu membuat Quin cepat akrab dengan nya dan bermanja dengan nya. Padahal Quin bukan tipe anak yang mudah dekat dengan orang lain. Saya juga melihat sosok ke Ibuan di dalam diri Mbak Ani" jelas Brian dengan senyum tipis nya mengingat kedekatan putrinya dengan wanita berhijab tadi.
"Ani memang seperti itu Mas. Dia orang yang tulus dan ke Ibuan. Dipesantren banyak yang suka dengan nya. Karena sikap tulus nya itu. Lalu apa keputusan kamu Mas?" tanya Abah Arsya langsung.
__ADS_1
"Saya ada rencana untu mengajaknya ta'aruf Abah. Tapi Gus Dayyan meminta saya untuk sholat istikhorah dulu sebelum melakukan ta'aruf" ucap Brian yang kini menundukkan kepalanya.
"Alhamdulillah kalau kamu sudah berniat untuk mengajaknya ta'aruf Mas. Niat baik akan mendapatkan yang baik juga" ucap Abah Arsya dengan senyum yang mengembang dibibirnya.
Ia berharap kalau keluarga mereka bisa menjaganya dengan baik. Seperti ia yang menjaga Ani dengan baik dari ia masuk kedalam pesantren merek.
"Tapi satu pinta saya Mas. Kalau memang kalian berjodoh. Tolong jaga dia sebaik mungkin. Dan jangan biar kan dia pergi sendirian. Saya selama ini melarangnya untuk bepergian seorang diri. Karena saya masih mengkhawatirkan nyawa nya Mas. Keluarga tiri Ayah nya masih mengincar nyawa nya sampai sekarang" pinta Abah Arsya.
"Insya Allah Abah, kalau memang jodoh, saya akan menjaga nya dengan sebaik mungkin"
"Saya tunggu 2 minggu lagi keluarga kamu di Bandung Mas untuk menyampaikan niat baik kalian kepada Ani. Karena kami akan menginap dirumah Dayyan selama seminggu ini sesuai permintaan Breena"
"Insya Allah Abah. Doa kan saya agar segera mendapat jawaban dari istikhorah saya Abah"
"Itu pasti Mas"
Semua yang ada disana pun menghembuskan nafas nya. Mereka lega karena Brian sudah menyampaikan niat baik nya. Tinggal tunggu hasilnya saja.
Karena malam yang semakin larut. Akhirnya keluarga Martin pun berpamitan pulang. Brian yang ingin membawa anak nya pulang juga pun dilarang oleh Ani.
"Maaf Mas, saran saya biarkan Quin tidur disini malam ini. Karena Quin sudah terlalu nyenyak tidur nya. Takut nya bila di angkat akan mengganggu tidurnya" ucap Ani sambil menundukkan kepalanya.
"Benar kata Ani, Brian. Biar kan Quin tidur disini malam ini" ucap Mama Ratih.
"Apa tidak merepotkan Mbak?" tanya Brian yang tak enak hati harus meninggalkan putrinya.
"Tidak Mas"
"Iya sudah kami titip Quin iya Mbak Ani. Maaf kalau merepotkan Mbak Ani malam ini harus menjaga Quin" ucap Mommy Aletha.
"Tidak apa apa Nyonya. Saya tidak merasa direpotkan"
"Iya sudah kami pamit iya Tih, uda malam banget ini. Besok pagi aku datang lagi" ucap Mommy Aletha kepada Mama Ratih.
"Iya hati hati dijalan. Jangan terburu buru menjemput Quin. Dia disini tidak merepotkan sama sekali kok"
__ADS_1
Kemudian keluarga Anderson pun menuju mobilnya dan mereka meninggalkan rumah mewah milik Doni Abraham. Dan juga meninggalkan anak dan cucu mereka yang sudah tertidur didalam kamar yang ditempati oleh Mbak Ani.