Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Anggi Hamil


__ADS_3

Anggi yang mendengar suara yang tak asing di pendengaran nya itu pun menghentikan pergerakan nya. Itu seperti suara suami nya. Suami yang sudah seminggu ini tak di jumpai nya, karena ada pekerjaan yang lebih penting di perusahaan tempat mereka bekerja di Jepang.


Anggi yang sudah mulai jelas penglihatan nya pun, langsung memeluk suami nya. Ia menangis di pelukan suami nya itu. Sungguh saat ini ia sangat merindukan suami nya.


"Hei kenapa nangis sayang? Apa ada yang sakit?" tanya Dion khawatir, begitu pun dengan Mommy dan Daddy nya.


Anggi hanya menggeleng kan kepala nya. Dan itu semakin membuat suami dan kedua orang tua nya semakin khawatir.


"Sayang, bilang sama Daddy, mana yang sakit?" tanya Daddy Steven.


"Dad, apa perlu kita bawa ke rumah sakit saja?" tanya Mommy Rianti yang sudah kembali menangis melihat anak nya yang menangis di pelukan Dion.


Tanpa menunggu persetujuan Anggi, Dion langsung mengangkat istri nya dan membawa nya keluar, dia akan membawa Anggi ke rumah sakit.


Daddy Steven yang tau kemana tujuan Dion pun meminta supir nya segera menyiap kan mobil untuk mereka.


Dion memasuk kan Anggi di kursi belakang, di ikuti oleh Mommy Rianti. Sedangkan Daddy Steven sudah duduk di kursi kemudi. Alhasil Dion harus mengalah duduk di kursi samping kemudi.


Dengan kecepatan tinggi, Daddy Steven membawa Anggi ke rumah sakit milik sahabat nya.


Mommy Rianti segera menelpon Mama Ratih dan meminta nya untuk segera datang ke rumah sakit nya.


"Hallo Ri, ada apa?" tanya Mama Ratih yang masih berkumpul dengan besan nya.


"Hallo Ratih. Apa kamu bisa datang ke rumah sakit sekarang? Aku uda di jalan menuju ke rumah sakit kalian" tanya Mommy Rianti dengan suara panik nya.


Mama Ratih mengernyit kan alis nya. Dia mencerna apa yang terjadi dengan sahabat nya itu. Suara nya panik, juga ada suara tangisan.


"Baik lah aku akan kesana" jawab Mama Ratih.


"Mah ada apa?" tanya Papa Doni.


"Nggak tau Pah. Tapi Rianti meminta Mama ke rumah sakit sekarang. Tapi tadi Mama dengar suara nya dia panik gitu sama ada suara orang yang sedang menangis. Ada apa iya Pah?" tanya Mama Ratih yang mulai cemas.


"Ya uda, kita ke rumah sakit aja kalau gitu"


"Ayo Pah"

__ADS_1


"Maaf besan, kami pamit dulu untuk memastikan kondisi nya Rianti" pamit Papa Doni sambil menyalami Abah Arsya. Begitu pun dengan Mama Ratih, ia juga menyalami Umma Hanum.


"Kabarin kami kalau terjadi sesuatu sama mereka Mbak" ucap Umma Hanum.


"Pasti. Kami pasti kasih kabar sama kalian semua nya. Kalau gitu kami pamit dulu. Assalamualaikum"


"Wa'alaikum salam"


Mama Ratih dan Papa Doni pun segera keluar dari rumah Dayyan dan langsung meminta supir nya untuk mengantar kan mereka ke rumah sakit.


"Pak, ayo ke rumah sakit. Cepat iya Pak" pinta Papa Doni.


"Baik Tuan"


Supir Papa Doni pun melaju kn mobil nya cepat menuju rumah sakit.


Tak membutuh kan waktu yang lama, mobil Papa Doni sampai di rumah sakit nya bersamaan dengan mobil Daddy Steven.


Dion langsung membawa Anggi dalam gendongan nya menuju ruang UGD dengan langkah cepat nya.


"Ri, ada apa sama Anggi?" tanya Mama Ratih.


Mama Ratih yang mendengar kan itu semua pun tersenyum. Dia merangkul sahabat nya itu menuju ke ruang UGD.


"Tunggu sebentar iya, biar aku periksa Anak mu dulu" ucap Mama Ratih begitu sampai di depan ruang UGD.


Papa Doni hanya menepuk pundak sahabat nya. Ia paham bagaimana khawatir nya sahabat nya itu. Sedang kan Dion dia sudah terduduk di lantai depan pintu UGD. Ia sangat takut istri nya kenapa kenapa.


"Bangun Dion. Istri mu pasti baik baik saja" ucap Papa Doni sambil membawa tubuh lemas Dion untuk berdiri.


"Pah. Anggi nggak akan kenapa kenapa kan?"


"Nggak. Kamu percaya kan saja sama Mama Mu. Mungkin Anggi seperti itu karena hormon nya. Dan bisa jadi karena merindukan mu"


Dion pun menurut. Ia duduk di samping Ayah mertua nya. Berkali kali Dion melihat pintu UGD berharap Mama Ratih cepat keluar dan memberikan mereka kabar kalau Anggi baik baik saja.


Di dalam ruang UGD, Mama Ratih melihat Anggi yang masih menangis. Dokter pun bingung harus melakukan apa. Melihat kedatangan Mama Ratih, dokter yang bertugas pun meminta Mama Ratih yang memeriksa Anggi.

__ADS_1


"Anggi"


"Mah"


Anggi kembali menangis dan memeluk Mama Ratih.


"Kenapa sayang? Ada yang sakit?" tanya Mama Ratih lembut.


"Nggak ada Mah. Tapi nggak tau kenapa, begitu melihat wajah Mas Dion, Anggi bawaan nya mau nangis aja. Anggi juga rindu sama Mas Dion Mah" rengek Anggi seperti anak kecil.


Mama Ratih tersenyum melihat tingkah Anggi. Ia tau ini karena hormon kehamilan Anggi. Mama Anggi mengelus perut Anggi yang sudah sedikit menonjol.


"Itu semua karena bawaan bayi kamu sayang. Kamu pasti rindu sama suami kamu karena bawaan si dedek" ucap Mama Ratih yang masih mengelus perut Anggi.


Anggi langsung berhenti menangis. Dia memperhatikan gerak tangan Mama Ratih di perut nya. Ia merasa kalau dia tidak hamil. Tapi kenapa Mama Ratih bilang seperti itu.


"Maksud Mama apa? Anggi nggak hamil Mah. Malah Anggi sama Mas Dion mau program hamil kalau Mas Dion kembali Mah" jelas Anggi merasa heran.


"Tadi kamu dimansion, kata Mommy mu pingsan, terus di periksa sama Dokter kalian. Dokter bilang kalau kamu hamil" ucap Mama Ratih menjawab keheranan Anggi.


Anggi terdiam. Dia merasa tak percaya kalau dia sudah hamil.


"Ayo kita pindah ke ruangan Mama. Kita lihat dia uda tumbuh sebesar apa di rahim kamu" ajak Mama Ratih yang kemudian meminta perawat membantu Anggi duduk di kursi roda.


Mama Ratih keluar dari ruang UGD dengan Anggi yang duduk di kursi roda yang di dorong oleh seorang perawat.


"Sayang. Kamu nggak papa kan?" tanya Dion ynag sudah berjongkok di depan Anggi.


"Mas, apa bener Anggi hamil?" tanya Anggi yang masih tak percaya.


"Benar sayang" jawab Dion dengan senyum merekah nya.


Anggi kembali memeluk Dion. Dan dia juga kembali menangis.


"Mas serius? Mas nggak bohong kan?" tanya Anggi sesenggukan.


"Mas nggak bohong sayang. Tadi dokter pribadi Daddy bilang seperti itu"

__ADS_1


"Ayo kita lihat dedek nya" ajak Mama Ratih sambil menggandeng tangan sahabat nya.


Semua orang pun mengikuti langkah Mama Ratih menuju ke ruangan nya. Kursi roda Anggi sudah di ambil alih oleh Dion.


__ADS_2