Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Bertemu Pengkhianat


__ADS_3

Setelah selesai menelpon Breena, Dayyan langsung menelpon Brian via video call. Ia ingin melihat bagaimana wajah tampan anak nya Brian yang uda di rencana kan Ani menjadi menantu nya nanti.


Di dering ke dua telepon video call nya Dayyan di angkat oleh Brian.


"Hallo assalamualaikum Gus Dayyan Pratama. Calon besan nya Brian Anderson. Ada apa ini menelpon calon besan?" goda Brian dengan senyum jahil nya.


"Wa'alaikum salam. Aku mau lihat wajah anak mu yang di gadang gadang istri mu itu jadi menantu ku" ketus Dayyan.


Terdengar kekehan dari seberang sana, membuat Dayyan mendengus tak suka. Brian pun langsung menghampiri istri nya yang sedang menggendong putra nya.


"Bunda, ada calon besan ini mau lihat calon mantu nya" canda Brian sambil terkekeh.


Ani dengan semangat mengambil alih ponsel suami nya. Dengan senyum yang mengembang, Ani melihat wajah kecut kakak angkat nya itu.


"Assalamualaikum Mas. Sudah sampai Jepang?" tanya Ani basa basi.


"Wa'alaikum salam. Uda Dek. Mana anak mu? Tanpam nggak? Kalau tampan bisa jadi pertimbangan ku untuk jadi kan nya menantu" ucap Dayyan ketus.


Ani langsung mengalih kan kamera ponsel nya menghadap ke wajah tampan anak nya.


"Ganteng kan Mas? Bisa lah iya jadi calon mantu idaman" goda Ani.


Dayyan mendengus. Ia memang menyetujui ucap Ani dan Breena, kalau anak Brian yang satu ini sangat tampan. Wajah nya sangat mirip dengan Brian. Bak pinang di belah dua. Hanya yang membeda kan di bibir nya. Bibir anak nya Brian tipis seperti Bunda nya.


"Hmm. Ganteng aja nggak perlu kalau akhlak dan agama nya kurang Dek untuk jadi kriteria menantu ku"


"Ooohhh kalau soal itu tenang Mas. Nanti dia ku sekolah kan di pesantren. Tenang aja Mas, agama dan akhlak nya pasti bagus. Dia bakal jadi tahfiz dan penghapal al-qur'an" ucap Ani semangat.


"Baik lah, Mas tunggu pembuktian nya Dek. Selain dia harus berhadapan dengan ku, dia juga akan berhadapan dengan kedua kakek nya dan abang serta adik nya. Dan jangan lupa istikharoh Dek." ucap Dayyan yang mulai luluh dengan ucapan Adik angkat nya itu.

__ADS_1


"Siap Mas. Tunggu aja 20 tahun lagi" ucap Ani dengan senyum manis nya.


"Iya uda istirahat lah. Mas juga mau istirahat, besok Mas mau ke perusahaan juga mau membereskan para pengkhianat"


"Iya Mas. Mas jaga kesehatan disana. Jangan lupa iya oleh oleh untuk calon mantu. Assalamualaikum calon besan"


"Wa'alaikum salam" ketus Dayyan.


Selesai itu, Dayyan langsung membersih kan tubuh nya, dan langsung mengistirahat kan tubuh nya. Sebelum besok pagi dia akan memberes kan para pengkhianat di perusahaan nya.


...----------------...


Sama hal nya dengan Dayyan. Dion juga melakukan hal yang sama dengan istri nya. Sejujur nya Dion sangat ingin mengajak iatri nya honeymoon kedua ke Jepang.


Tapi karena sekarang ia ke Jepang untuk menuntas kan pekerjaan nya. Jadi ia pun mengurungkan niat nya.


Apa lagi setelah ia mengetahui kalau anak Brian dan Ani sudah lahir. Jujur dari dalam hati nya, ia sangat mengingkan seorang anak. Namun apa mau di kata kalau Tuhan masih belum mempercayai mereka untuk memiliki seorang anak.


Setelah pulang dari Jepang nanti, Dion akan mengajak istri nya untuk honeymoon kedua mereka ke suatu tempat. Yang pasti tempat itu adalah tempat yang sangat ingin di datangi oleh istri tercinta nya.


...----------------...


Pagi hari nya tepat nya pukul 07:30 waktu Jepang. Dayyan dan Dion sudah bersiap pergi ke perusahaan. Mereka sedang menunggu jemputan di lobby hotel.


"Apa kau sudah menyiapkan semua nya Dion?" tanya Dayyan sambil menyesap kopi milik nya.


"Sudah. Semua sudah ku beres kan. Semua bukti bukti nya sudah ku kumpul kan semua. Tinggal kita eksekusi saja" jelas Dion tanpa menatap Dayyan.


"Bagaimana dengan aset milik nya yang dia beli dari hasil mencuri nya itu?"

__ADS_1


"Semua aset sudah ku balik nama jadi nama Breena dan ketiga anak mu. Serta rekening tabungan mereka juga sudah ku beku kan" jelas Dion yang masih fokus dengan ipad nya.


"Tapi apa alasan nya jadi pengkhianat di perusahaan ku? Aku sudah mempercayakan semua nya sama dia, tapi tega tega nya dia mengkhianati ku dan mencuri uang ku" ucap Dayyan yang mulai emosi.


"Apa lagi kalau bukan soal wanita. Dia berselingkuh dengan sahabat istri nya. Dia juga di hasut oleh selingkuhan nya itu untuk menguasai perusahaan. Bahkan selingkuhan nya itu menyuruh nya untuk membalik nama kepemilikan perusahaan mu itu menjadi nama nya. Untuk aku cepat mengetahui rencana mereka. Kalau nggak aku tak tau bagaimana nasib perusahaan mu yang ada disini" jelas Dion dengan raut wajah serius nya.


"Iya kau benar. Bisa bisa aku kehilangan perusahaan ini karena pengkhianat itu" ucap Dayyan mengeram marah.


Tak berapa lama mobil jemputan mereka pun datang. Mereka berdua langsung beranjak dari sofa dan melangkah ke mobil jemputan.


Sepuluh menit berselang, Dayyan dan Dion telah sampai di perusahaan Dayyan. Kedatangan kedua nya membuat semua karyawan terkejut. Terutama Direktur Utama yang di utus oleh Dayyan. Orang kepercayaan Dayyan itu memucat ketika melihat Dayyan dan Dion telah berada di ruangan nya.


"Selamat Pagi Tuan Dayyan, Tuan Dion. Selamat datang" ucap nya sambil tersenyum palsu.


"Duduk Rendra" ucap Dayyan tegas.


Rendra pun duduk di kursi depan meja kerja nya. Karena kursi kebanggaan nya sudah di duduki terlebih dahulu oleh Dayyan.


"Bagaimana kabar mu Rendra. Sudah lama kita tak bertemu" ucap Dayyan berbasa basi.


"Alhamdulillah saya sehat Tuan" jawab nya setenang mungkin.


"Bagaimana kabar istri dan anak anak mu?"


"Mereka juga sehat Tuan"


"Baik lah. Silah kan lanjut kan pekerjaan mu."


Setelah mengatakan itu Dayyan dan Dion pun langsung keluar dari ruangan Rendra. Sebelum keluar, Dayyan sempat menempel kan alat penyadap di bawah meja Rendra.

__ADS_1


Saat menuju ruangan nya, Dayyan dan Dion berpapasan dengan seorang wanita cantik dan sexy. Wanita itu menggunakan baju kerja yang sangat sexy. Baju yang tidak cocok untuk di gunakan bekerja.


Wanita itu menatap Dayyan dan Dion tak berkedip. Ia pun berpikir siapa kedua lelaki itu. Namun ia yang sudah memiliki Rendra pun tak begitu mempedulikan kehadiran kedua lelaki penting di perusahaan itu.


__ADS_2