
Sudah dua kali Breena memanggil Windy. Namun Wi dy tetap tak juga mau menjawab nya. Dan di panggilan terakhir Breena memilih membentak Windy. Dan benar saja Windy langsung terkesiap mendengar suara tinggi Breena.
Selama ia bersahabat dengan Breena selama berkuliah, belum pernah ia jumpai atau dia dengar suara Breena meninggi kepada orang lain.
"Bree" lirih Windy sangat pelan.
"Apa susah nya menjawab panggilan Gue Windy?" tanya Breena yang mulai jengah.
"Maaf" gumam nya pelan.
"Maaf Lo yang mana? Yang cuekin panggilan Gue. Atau yang uda nyakitin hati Kakak Gue?" tanya Breena geram.
Semudah itu sahabatnya mengatakan kata maaf. Pada hal ia tak tau sakit nya hati seseorang dari perbuatan nya.
"Jawab Gue Windy? Apa Lo uda nggak anggap Gue sahabat Lo lagi?" desak Breena semakin membuat Windy bersalah.
"Maaf untuk semua nya Bree. Maaf" ucap Windy yang sukses membuat tangis nya pecah.
"Kenapa Lo lakukan itu sama Kakak Gue Win? Kenapa?" tanya Breena yang juga sudah meneteskan air matanya.
Ia ingat betul bagaimana Ansel menangis dipelukan nya karena patah hati yang disebab kan oleh salah satu sahabatnya.
"Maafin Gue Bree. Tapi Gue ngelakuin itu karena terpaksa" bela Windy.
"Terpaksa atau nggak, seenggak nya Lo bilang sama Kakak Gue. Bukan diam aja kaya gini. Lo mau buat Kakak Gue malu karena jalan sama tunangan pria lain? Lo mau buat Kakak Gue, seolah olah Dia selingkuhan Lo dan mengganggu hubungan kalian" tanya Breena beruntun.
Windy hanya bisa menggelengkan kepala nya. Ia tak pernah membayangkan hal yang seperti itu.
"Jahat Lo Win. Secara tak langsung Lo juga nyakitin Gue" ucap Breena pelan.
Setelah mengatakan itu Breena pun berencana untuk pergi dari sana. Ia masih memiliki kewarasan untuk tak menyakiti sahabat nya. Walau pun sahabatnya sendiri lah yang sudah membuat ia dan Kakak nya sakit hati.
"Dengerin Gue dulu Bree" pinta Windy ketika ia melihat Breena akan meninggalkan nya.
"Apa lagi yang mau Gue dengar dari Lo Win? Gue uda tau semua nya"
"Gue mohon Bree dengarin penjelasan Gue dulu" mohon Windy.
Breena pun akhirnya mengalah. Ia kembali duduk di gazebo tersebut. Namun dengan jarak satu meter dari Windy.
__ADS_1
"Waktu itu Ibu nelpon, dan minta Gue pulang. Gue pun menuruti permintaan Ibu. Ketika Gue sampai dirumah, Gue lihat ada mobil yang terparkir dihalaman rumah Gue. Gue yang nggak tau apa apa pun masuk aja dan menemui Ibu" jeda Windy sambil menghapus air mata nya.
"Ibu memperkenalkan Gue sama mereka. Dari yang Gue tau mereka itu adalah keluarga terpandang di kampung Gue. Mereka datang kerumah untuk memagih janji yang Ayah buat kepada mereka dulu" ucap Windy yang mulai sesegukan.
"Janji apa?" tanya Breena penasaran.
"Janji menjodohkan Gue dengan anak lelaki mereka setelah Gue uda besar. Selama ini Ibu dan Ayah selalu melarang Gue dekat sama laki laki. Namun mereka tidak pernah memberikan alasan yang pasti. Tapi ketika Kak Ansel mendekati ku dan memberikan cinta nya untuk ku. Aku merasa nyaman dan bahagia. Untuk pertama kali nya aku jatuh cinta pada lawan jenis" ucap Windy dengan senyum kecut nya.
"Gue berdebat sama Ibu ketika Ibu bilang mereka datang untuk melamar ku saat itu juga. Perbedatan kami tetap saja dimenangkan oleh Ibu. Dengan terpaksa Gue mau menerima lamaran mereka" ucap Windy semakin membuat tangis nya pecah.
"Lo tau apa kesalahan yang telah Lo buat Win?" tanya Breena yang dibalas gelengan kepala oleh Windy.
"Lo nggak jujur. Lo nggak jujur sama Kak Ansel. Lo tau bagaimana dia nangis dipelukan Gue? Nggak kan, Lo nggak tau Win bagaimana hati nya hancur karena ketidak jujuran Lo" ucap Breena geram.
"Gue tau Gue salah Bree. Maka nya Gue nggak berani dekatin Kak Ansel"
"Dan mungkin ini yang akan membuat Lo lebih tak tega lagi Win" ucap Breena menggantungkan apa yang akan ia ucap kan.
"Apa Bree?" tanya Windy gusar.
"Dihari laki laki itu menyematkan cincin pertunangan kalian. Di hari itu juga lah Kak Ansel ada di depan rumah mu. Ia menyaksi kan semua nya Windy. Semua yang terjadi di dalam rumah Lo dia tau" ucap Breena menatap tajam kearah sahabatnya itu.
"Lo tau apa yang membuat dia bisa ada di rumah Lo?" tanya Breena dan lagi lagi mendapatkan gelengan kepala Windy.
"Dia mau melamar Lo di depan Ibu Lo Win. Dia bela belain ke rumah Lo untuk melamar Lo dan meninggalkan semua pekerjaan penting nya hanya untuk Lo. Tapi apa yang dia dapatkan Win? Dia justru melihat orang yang paling dicintai nya bertunangan dengan lelaki lain" ucap Breena dengan menaikkan satu oktaf suara nya.
"Sakit Win, Kakak Gue hancur. Dunia nya runtuh. Impian nya pun gagal ia raih. Lo lihat dia sekarang. Kakak Gue yang ceria dan periang, jadi pendiam tak banyak bicara" ucap Breena yang semakin tak bisa menahan amarah nya.
Windy semakin pecah tangis nya. Ia menyesali semua yang terjadi. Namun apa pun yang disesalinya tidak mungkin akan kembali seperti semula. Ada janji almarhum Ayah nya disitu.
"Maafin Gue Bree, maafin Gue yang uda buat Kakak Lo hancur" ucap Windy menghadap Breena menyatukan kedua tangan nya.
"Gue akan berikan 2 fakta untuk Lo Win tentang Kakak Gue"
"Yang pertama, dia mau melamar Lo di hari Lo wisuda Windy. Dia uda minta izin sama Mommy Daddy nya. Dan ia mendapatkan izin itu. Lo tau bagaimana bahagia nya Mommy Gantari dengar anak tunggal nya mau melamar Lo. Dia bahkan uda menyiapkan cincin turun temurun dari keluarga Daddy Calvin. Cincin yang hanya ada satu di dunia ini Win. Dan Lo bukan hanya mematahkan hati Kakak Gue aja. Tapi Lo juga mematahkan hati dan harapan dari Mommy Gantari" jelas Breena.
Ia sengaja berhenti untuk mencari tau tanggapan apa yang akan diberikan sahabat nya itu. Namun yang ia dapat lihat hanya tatapan bersalah nya.
"Dan yang kedua, Kakak Gue memilih untuk terbang di Belanda Windy. Dia milih tinggal sama Grandma disana" bentak Breena.
__ADS_1
Windy terdiam. Dia terlalu syok mendapati dua tiga kebenaran dari Ansel.
"Lo bisa bayangin bagaimana hancur nya hati Kakak Gue saat ini Win. Lo lebih memilih menyembunyikan semua nya dari pada Lo harus jujur sama Kakak Gue. Sumoah Win, Gue sangat kecewa sama Lo" ucap Breena dengan tatapan kekecewaan yang tak bisa dihilangkan dari wajah nya.
Setelah mengatakan itu, tanpa menunggu Windy membuka suara. Breena langsung meninggalkan Windy yang masih syok di gazebo sendirian.
Breena memberikan kesempatan untuk Windy. Untuk dia berpikir kembali tentang kejujuran yang diminta Breena tadi.
Tangis Windy semakin pecah. Ia tak menyangka semua nya akan menjadi seperti ini.
"Apa yang harus Windy lakukan Ayah? Windy sudah membuat hati banyak orang terluka karena memenuhi janji Ayah" ucap Windy lirih sambil memukul dada nya yang sesak.
Ia mengingat kembali bagaimana sikap Ansek kepada nya setelah ia menerima lamaran dari lelaki itu. Dan dia pun membenarkan ucapa Breena tadi. Ansel yang ceria berubah menjadi pendiam.
Hari semakin sore namun Windy masih betah duduk seorang diri di gazebo itu. Bahkan tangis nya sesekali masih terdengar lirih.
Tanpa Windy ketahui Ansel sedari tadi berdiri tak jauh dari gazebo yang dipakai Windy dan Breena tadi. Ia memandang lekat wanita pujaan nya itu yang sebentar lagi menikah dengan pilihan orang tua nya.
Ansel mendengar semua yang dikatakan antara Windy dan Breena. Hati nya sakit menerima kenyataan itu. Ia telah kalah.
Iya Ansel telah kalah. Kalah sebelum ia memperjuangkan cinta nya di depan Ibu kekasihnya.
Ia bertekat akan melupakan gadis nya itu. Dan menghapus nama dan cinta gadis itu di hatinya.
Setelah lama merenung. Windy pun memilih masuk kedalam Villa. Ia mencari keberadaan Breena.
Ketika ia melihat Breena dan Ansel sedang bercanda pun senyum nya terbit. Ia pun menghampiri Breena.
"Bree" panggil nya pelan.
"Hmm ada apa?" tanya Breena sekenan nya.
Bukan ia tak menghargai sahabatnya. Namun sakit yang diberikan sahabatnya ini sungguh sangat sakit. Ia terlalu kecewa dengan sikap tidak jujur nya sang sahabat.
"Gue mau pamit. Besok Gue akan balik ke Jakarta duluan. Ibu minta Gue balik" ucap Windy.
"Ohh oke. Nanti Gue info kan sama Abang. yang Gue dengar besok dia memang mau balik. Antar Mbak Selvi. Lo bareng aja sama dia besok" ucap Breena tanpa menatap sahabat nya itu.
"Makasih Bree. Gue ke kamar dulu mau packing" pamit Windy yang hanya dibalas anggukan oleh Breena.
__ADS_1
Windy kembali menangis mendapati sikap cuek nya Breena. Jangan salahkan Breena dia bersikap seperti itu. Dia hanya belum bisa bersikap baik kepada sahabat nya itu. Karena rasa sakit yang teramat sakit yang di berikan oleh Windy.