Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Kepulangan Breena dan Baby Triplet


__ADS_3

Hari ini sudah hari ke empat Breena dan ketiga bayi nya berada di rumah sakit. Dan hari ini juga lah Dokter telah mengizin kan Breena pulang ke rumah nya.


Dengan hati hati Breena menggendong putri satu satu nya. Sedangkan Kadga dan Kalandra di gendong oleh kedua Nenek dan Oma nya.


Hari ini Mama Ratih dan Umma Hanum memutuskan untuk menjemput Breena di rumah sakit.


Sedangkan Dayyan saat ini sedang membereskan barang barang Breena dan Baby mereka.


"Nanti kalian akan tinggal dimana? Di rumah kalian apa di rumah Mama?" tanya Mama Ratih sambil menimang Kalandra.


"Di rumah kami aja Mah. Soal nya Mas Dayyan uda minta Umma Hanum untuk cari kan santri senior yang ada di pesantren untuk membantu Breena ngurus Baby triplet" jawab Breena sambil mengelus pipi merah putri nya.


"Iya uda nggak papa. Nanti Mama sama Papa akan sering sering main ke rumah kalian"


"Gimana sama acara aqiqah nya Ian?" tanya Umma Hanum.


"Rencana nya Ian mau ngadain nya di hari ke tujuh triplet Umma. Menurut Umma gimana?" tanya Dayyan balik.


"Bagus juga kalau di hari ke tujuh. Mumpung Umma sama Abah masih ada di Jakarta. Jadi nggak ada salah nya kalau sekalian kita ada kan acara aqiqah nya"


"Tapi apa kamu sudah membeli kambing nya Ian?" tanya Mama Ratih.


"Heheheh, belum Mah. Kan Ian di rumah sakit terus jagain Breena sama triplet. Rencana nya besok Ian baru cari kambing nya sama Dion"


"Dion pasti capek kerja Nang. Di kantor juga kan di yang hendel. Kalau bisa jangan sama Dion. Kasihan dia nya" ucap Umma Hanum.


"Kalau kata Mama , kamu lebih baik ajak aja Kakak mu itu. Dia kan lagi jadi pengangguran sekarang" ucap Mama Ratih memberikan saran sambil terkekeh.


"Bener Mas, ajak aja Kak Ansel. dia pasti mau itu" ucap Breena yang menyetujui usulan Mama nya.


"Oke nanti malam Mas telepon Kak Ansel nya"

__ADS_1


Perjalanan jauh antara rumah sakit Erlangga's dengan rumah Breena dan Dayyan pun akhir nya mereka sampai juga.


Di depan rumah sudah menunggu Papa Doni dan Abah Arsya.


Setelah Dayyan memarkirkan mobil nya. Papa Doni langsung membuka pintu penumpang di depan, ia langsung mengambil alih Kadeera dari tangan Breena.


"Utu utu cucu Kakek, cantik banget sih" ucap Papa Doni sambil menciumi pipi Deera.


"Pah jangan di ciumi kaya gitu kali iihhh. Nanti pipi nya memerah" omel Breena melihat tingkah Papa nya.


"Umi kamu ngomel sayang. Yuk kita masuk aja" ucap Papa Doni yang tak menggubris omelan Breena.


"Laahh uda punya cucu. Punya mainan baru. Anak nya di tinggal." gerutu Breena.


Setelah kepergian Papa Doni. Mama Ratih pun juga menyusul kedalam. Begitu pun pasangan Abah Arsya dan Umma Hanum. Mereka juga meninggalkan Breena dan Dayyan di luar rumah mereka.


"Mas ini gimana konsep nya coba Mas. Masa kita di tinggalin disini. Mana triplet dibawa lagi" keluh Breena


Di dalam rumah, Breena dan Dayyan melihat kedua orang tua mereka masing masing yang sedang sibuk menggendong ketiga cucu nya bergantian.


Breena bahkan harus menepuk jidat nya melihat Abah dan Papa nya yang berebut ingin menggendong Deera.


"Pak Doni gantian dong, saya juga mau gendong Deera juga" ucap Abah Arsya yang sudah sangat ingin menggendong cucu satu satu nya yang perempuan.


"Sabar Abah. Saya belum puas gendong nya" tolak Papa Doni yang tetap tak mau memberikan Deera oada yang lain nya.


"Iya kan Pak Doni uda dari tadi gendong nya. Gantian dong Pak"


Papa Doni tak menanggapi, membuat Abah Arsya memilih duduk di sofa sambil melipat kedua tangan nya di dada. Ia pun juga memasang wajah cemberut nya.


Sedangkan orang yang di cemberuti masih setia mengajak bayi Deera untuk berbicara dan bercanda.

__ADS_1


Memang kelakuan Papa Doni ia dibilang di luar nalar. Bagaimana bisa anak yang baru berumur empat hari bisa di ajak tertawa dan bercanda.


Berbeda dengan Papa Doni dan Abah Arsya. Mama Ratih dan Umma Hanum justru lagi bahagia. Karena tidak ada yang memperebut kan kedua bayi laki laki itu.


Dayyan lebih memilih membawa Breena ke dalam kamar nya. Ia tak mau istri nya itu ikutan stres melihat perebutan bayi mereka.


...----------------...


Malam hari di mansion Danuarta.


Saat ini Daddy Steven dan Mommy Rianti mendagadakan acara makan malam bersama dengan Bu Ayu dan kedua orang tua nya Dion.


Makan malam ini memang kerap kali di lakukan oleh mereka. Agar tali silaturahmi mereka dengan Bu Ayu tidak terputus. Namun di acara makan malam ini minus Thomas. Ya, saat ini Thomas sedang mengikuti acara kampus nya. Mereka mengadakan camping di gunung Bromo.


Selesai makan malam, mereka semua akan berkumpul di ruang keluarga. Seperti biasa kalau sudah ada Bu Ayu, Anggi pun akan bermanja manja dengan nya. Anggi tak akan melihat situasi dan kondisi. Mau dimana pun pasti ia akan tetap bermanja manja dengan Bu Ayu.


"Kamu sudah isi belum sayang." tanya Bu Ayu sambil mengelus kepala Anggi.


"Belum Bunda" jawab Anggi lesu.


Bu Ayu yang mendapati jawaban itu pun tersenyum. Apa lagi melihat wajah lesu nya Anggi.


"Sabar iya. Pasti Allah akan memberikan kalian kepercayaan untuk merawat bayi kalian sendiri. Mungkin Allah memang belum memberikan kalian anak karena ingin melihat kesabaran kalian dalam menanti kedatangan nya" ucap Bu Ayu memberikan nasehat.


"Iya Bunda. Anggi akan sabar kok. Apa lagi Mas Dion dan yang lain nya tidak mendesak Anggi untuk segera hamil. Kalau itu terjadi mungkin Anggi akan stres Bunda"


"Kamu tidak boleh banyak pikiran sayang. Apa lagi sampai setres. Pesan Bunda, jangan terlalu di pikir kan. Semua orang pasti memiliki kesempatan untuk hamil. Tinggal kita yang berusaha dan sabar menunggu saja"


"Benar kata Bunda Ayu mu itu nak. Kalian harus bersabar menunggu nya. Kamu ingat kan berapa lama Mommy menunggu kehadiran kamu di dalam rahim nya Mommy? Delapan tahun sayang. Bahkan Mommy juga harus menunggu kehadiran nya Thomas setelah 5 tahun kami kehilangan kamu. Jadi inti nya harus bersabar menunggu nya. Dan jangan sekali sekali kamu iri dengan orang lain yang begitu mudah mendapat kan kepercayaan dari Allah untuk memiliki anak" ucap Mommy Rianti yang juga ikut memberikan nasehat kepada anak nya.


"Iya Mom. Anggi ingat kok cerita Mommy yang lama menunggu kehadiran Anggi di keluarga Mommy dan Daddy. Anggi juga insya Allah nggak akan pernah iri dengan wanita wanita di luaran sana Mom. Karena rezeki kita dan takdir kita berbeda beda" ucap Anggi dengan senyum manis nya.

__ADS_1


"Yang penting Mommy, Daddy, Bunda Aisyah, Ayah Hermawan, dan Bunda Ayu tetap sabar menunggu kehadiran cucu kalian."


__ADS_2