
Di rumah keluarga Dayyan dan Breena. Saat ini Abi dan Umi itu sedang berada di kamar ketiga putra dan putri nya. Dayyan dan Breena tak ada bosan bosan nya melihat wajah tampan dan cantik putra putri nya.
Apa lagi ketika melihat Kalandra dan Kadeera yang suka tersenyum. Berbeda dengan Kadga yang pendiam. Ia bahkan bisa di hitung dengan jari kalau tersenyum.
"Abi kenapa Adga susah sekali tersenyum nya iya?" tanya Breena yang penasaran.
"Iya ya Umi, kenapa Kadga susah sekali senyum nya iya. Berbeda dengan kedua adik nya yang suka tersenyum. Kenapa Kadga pendiam iya? Apa jangan jangan dia nanti kalau uda besar jadi pria dingin iya Umi, kaya Daddy nya" ucap Dayyan yang juga merasa heran dengan putra pertama nya.
"Mas Brian maksud Abi?"
"Iya siapa lagi Daddy nya kalau bukan Brian. Umi ingat aja, dari semua lelaki kan hanya Brian yang sikap nya dingin. Lihat lah Abang Juan, Kak Ansel, Dion, mereka selalu bisa buat kita tertawa. Sedang kan Brian? Ya Umi tau sendiri lah, senyum aja pelit" ucap Dayyan yang mengoreksi sifat keempat lelaki itu.
"Abi benar juga. Duuhh anak Umi nnati kalau uda besar pasti banyak iya yang suka. Kan sekarang cewek cewek lebih suka sama cowok yang dingin kaya kulkas" goda Breena yang hanya di tanggapi dengan wajah Adga yang tak mau senyum.
"Tuh lihat Bi, dia di goda Umi nya aja nggak mau senyum gitu.. Duuhhh gemes banget sih anak Umi yang satu ini" ucap Breena sambil mencium dada Kadga gemes.
"Uda malam ini Umi, ayo kita tidur kan mereka"
"Iya Bi"
Breena dan Dayyan bergantian memberikan ASI kepada ketiga anak anak nya. Deera yang lagi mode tak mau minum ASI nya dari dot pun memilih langsung dari sumber nya. Sedang kan Adga dan Andra meminum ASI nya dari dot.
Tiga puluh menit berselang. Ketiga anak nya sudah tertidur nyenyak. Breena dan Dayyan pun segera keluar dari dalam kamar anak anak nya. Dan bergantian ketiga pengasuh nya yang akan berjaga di kamar anak nya.
Tak berbeda jauh dengan Dayyan dan Breena. Ani dan Brian pun sedang menikmati masa masa mereka memiliki bayi lagi. Tepat nya Brian. Kali ini Brian begitu semangat mengasuh anak nya. Berbeda dulu nya ketika dengan Quin. Walau pun Brian dulu menyayangi Quin tapi Brian sepenuh nya memberikan Quin pada pengasuh nya. Terbesit di hati nya rasa sesal yang begitu dalam. Brian yang sejak Quin masih di dalam kandungan saja tidak terlalu peduli, berbeda dengan Keenan. Ia begitu antusias menyambut kehadiran baby Keenan.
Seperti saat ini Baby Keenan berada di gendongan nya. Dan dia membiar kan Quin bermain bersama dengan Istri dan pengasuh nya.
"Daddy kenapa Daddy tak mau menaruh adek Keen di bawah? Kenapa Daddy selalu memggendong adek Keen kalau lagi di rumah?" tanya Quin tiba tiba.
"Karena Daddy ingin menggendong adek Keen. Apa kakak Quin juga mau Daddy gendong?" tanya Brian.
Quin pun dengan semangat nya mengangguk kan kepala nya. Lalu dia mengangkat kedua tangan nya ke atas. Meminta gendong pada Daddy nya.
Brian yang melihat itu pun langsung menyerah kan Keen kepada Ani. Lalu ia menggendong Quin.
__ADS_1
"Dduuhh kakak Quin uda mulai berat iya" goda Brian yang berhasil membuat Quin mengerucut kan bibir nya.
"Daddy jahat. Masa kakak Quin di bilang berat. Berarti kakak gendut dong" protes Quin.
"Laah ini bukti nya apa. Daddy sampai keberatan menggendong kakak" ucap Brian yang berpura pura mau jatuh menggendong Quin.
Quin pun repleks langsung memeluk leher Daddy nya. Ia sangat takut kalau nanti jatuh.
"Daddy, awas jatuh iihhh" ucap Ani memperingati suami nya.
"Aaaaa Bunda, tolong kakak" teriak Quin yang sedang di gigit pipi nya oleh Brian.
"Dad, turun kan iihhh. Suka banget sih gigit pipi kakak Quin"
"Hahahhaaha Daddy gemes banget sama kakak Quin ini Bunda. Duuhhh jadi nggak rela kakak cepat besar. Daddy mau nya kakak jadi putri kecil Daddy terus"
"No Daddy. Quin mau besar. Karena Quin uda punya adek Keen. Jadi Quin mau di panggil Kakak. Biar Quin bisa jagain adek Keen nanti nya"
"Iya nanti kalau Kakak Quin uda besar. Harus bisa menjaga adek Keen dari orang orang yang jahat sama adek Keen iya. Kakak Quin juga harus menyayangi adek Keen"
Apa yang di lakukan Quin membuat Ani dan Brian tertawa.
"Uda malam, ayo kakak Quin tidur. Adek Keen pun juga mau tidur. Lihat adek nya bahkan uda tertidur" ucap Brian mengajak putri kecil nya itu tidur.
"Siap Daddy. Selamat malam Daddy, selamat malam Bunda. Quin sayang Daddy dan Bunda" ucap Quin sambil mencium pipi Brian dan Ani bergantian.
Lalu Quin pun berjalan ke arah kamar nya bersama dengan babysitter nya. Sesampai nya di kamar, Quin langsung menuju ke kamar mandi, ia akan menyikat gigi nya terlebih dahulu, dan mencuci wajah, tangan serta kaki nya. Setelah selesai Quin pun mengganti baju nya di bantu oleh babysitter nya.
Kemudian Quin naik ke atas tempat tidur quin size milik nya. Untuk malam ini Quin ingin tidur bersama dengan babysitter nya.
......................
Ke esokan hari nya, Brian yang sudah mulai masuk ke kantor pun membuat Ani membagi waktu nya dengan ketiga kesayangan nya itu.
"Mas bangun yuk. Uda subuh" ucap Ani membangun kan suami nya yang masih terlelap.
__ADS_1
"Daddy ayuk bangun" panggil Ani lagi bahkan dia membangun kan Brian dengan mengelus wajah tampan nya.
Brian yang merasa ada pergerakan di wajah nya pun langsung membuka mata nya.
"Emmm jam berapa Bunda?" tanya Brian dengan suara serak nya.
"Jam 4:45. Ayo bangun Daddy. Subuh dulu"
Akhir nya pun Brian bangun. Sebelum kekamar mandi, Brian menyempat kan mencuri ciuman di bibir Ani.
"Morning kiss Bunda" ucap Brian sambil berjalan ke kamar mandi.
Ani yang mendapati perlakuan manis suami nya pun tersenyum dengan pipi yang merona. Ini bukan kali pertama Brian seperti itu. Tapi apa pun hal romantis yang di lakukan Brian selalu berhasil membuat pipi Ani merona.
Kali ini Brian sholat subuh masih sendirian. Karena Ani yang masih dalam masa nifas nya.
Saat ini keluarga Anderson pun sudah berada di ruang makan minus Juan. Karena Juan masih berada di rumah mertua nya.
Disaat mereka sedang menikmati sarapan nya. Salah seorang pelayan datang ke ruang makan dan menghampiri kepala pelayan yang sedang berdiri di sudut ruangan. Pelayan itu pun membisik kan sesuatu yang membuat kepala pelayan tersebut mengangguk kan kepala nya.
Lalu Kepala pelayan itu menghampiri meja makan.
"Permisi Tuan Besar. Di depan ada tamu yang mencari Nyonya Muda" ucap kepala pelayan itu sambil menunduk.
Semua keluarga Anderson menatao ke arah kepala pelayan tersebut.
"Suruh tunggu sebentar iya Pak. Sebentar lagi saya ke depan" ucap Ani lembut.
"Baik Nyonya Muda"
Setelah mengatakan itu kepala pelayan tersebut pun menunduk hormat dan pergi meninggal kan ruang makan menuju ke ruang tamu.
Selesai sarapan, Ani bersama Brian lngsung menuju ke ruang tamu. Sesampai nya di ruang tamu Brian langsung menghentikan langkah nya. Sedang kan Ani tersenyum lembut kearah tamu tersebut.
"Mbak"
__ADS_1