
"Ini mau kita bagi bukan untuk kita jual. Enak aja bilang nya mau di jual" ucap Dion sebal.
"Ooohhhh"
Tak lama Brian dan Ani pun datang menyusul ke bagian kasir juga. Mereka juga membawa lima keranjang. Tiga punya merek, dan dua punya pengasuh anak anak mereka.
Ansel dan Windy pun akhir nya menyusul mereka juga. Mereka hanya membawa dua keranjang saja.
Satu persatu keranjang milik mereka pun di timbang. Selesai di timbang Dion dan Dayyan meminta di bungkus kan masing masing enam keranjang besar. Kedua belas keranjang strawberry itu untuk sepuluh orang bodyguar dan dua orang pelayan yang ikut dengan mereka.
"Pak disini bisa bayar pakai kartu nggak iya? Atau harus cash iya Pak" tanya Brian ketika ia menambah pesanan nya tadi.
"Bisa Tuan" jawab penjaga kasir itu.
Brian pun kembali menghampiri yang lain nya.
"Gimana?" tanya Ansel.
"Bisa. Ayo kumpul kan kartu kalian" ucap Brian sambil meminta kartu para pengusaha itu.
Keenam pengusaha muda itu pun mengumpul kan kartu mereka. Tiba tiba Mama Ratih pun juga mengulur kan tangan nya memberikan kartu nya kepada Brian juga.
"Lohhh Mama mau apa?" tanya Brian yang tak paham.
"Iya mau ikut lah bayarin semua nya" jawab Mama Ratih santai.
"Noo. Mama dilarang ikutan" ucap Brian, Dion, Dayyan dan Ansel berbarengan.
Mama Ratih pun langsung mengerucut kan bibir nya. Karena niat baik nya di tolak oleh keempat pria itu.
"Kenapa?" ucap Mama Ratih sedih.
"Mah, disini banyak anak anak Mama. Jadi biar kami para anak laki laki Mama yang bayarin belanjaan Mama. Oke" ucap Ansel lembut.
__ADS_1
"Hmm iya uda deh" ucap Mama Ratih sambil mengambil kartu nya.
"Kamu aman sayang. Nggak berkurang isi nya. Pada hal kan Mama uda berbaik hati ingin membayari semua nya" lanjut Mama Ratih.
Kelakukan Mama Ratih pun mendapati gelengan kepala dari semua orang disana.
"Nit, kaya gini iya jadi orang kaya" bisik Syeril pada Anita.
"Kenapa?"
"Mau bayarin kaya gini aja harus berebut gitu. Enak banget yang punya uang banyak.
"Kelihatan nya aja enak Syer. Pada hal pun mereka mati matian juga mengumpul kan uang nya. Coba kamu bayang kan seorang pengusaha kalau dia tidak bisa mempertahan kan perusahaan nya, bukan hanya dia aja yang akan jatuh miskin dan susah. Tapi masih ada ratusan bahkan ribuan karyawan nya yang juga merasakan nya. Mereka juga harus kembali mencari pekerjaan di era yang susah ini. Jadi untuk menyenangkan hati mereka dari penat nya kerjaan mereka di kantor. Ini lah yang mereka lakukan. Selain menyenangkan diri mereka sendiri. Mereka juga menyenang kan diri orang lain juga." ucap Anita memberikan penjelasan.
Syeril terdiam memikir kan ucapan Anita. Ada benar nya juga semua yang di ucap kan oleh Anita. Semua pekerjaan pasti ada resiko nya. Apa lagi yang berhubungan dengan nyawa. Salah sedikit saja bisa membahayakan pasien nya. Begitu juga dengan pengusaha. Kalau dia tak berhati hati menjalan kan perusahaan nya. Suatu ketika ia bangkrut. Bukan hanya pengusaha itu saja yang susah. Tapi ada karyawan nya juga yang akan mengalami kesusahan.
"Ternyata semua nya ada resiko nya masing masing iya Nit" lirih Syeril.
Anita tersenyum menanggapi nya. Ia paham apa yang ada di pikiran sahabat baru nya ini. Mungkin Syeril baru mengalami ini. Karen baru berteman dengan para pengusaha. Tapi dia juga harus tau seperti apa kehidupan pengusaha itu. Jangan di pandang dari enak nya mereka mengeluar kan uang banyak untuk berpoya poya. Tapi lihat juga bagaimana cara mereka mencari nya.
Brian kembali mendekati si penjaga kasir sambil membayar enam buah kartu kredit di tangan nya.
"Berapa Pak semua nya?" tanya Brian.
"Total semua nya 262 kg iya Tuan. Sekilo nya Rp. 40.000. Jadi semua Rp. 10.440.000 Tuan" ucap si Bapak Kasir.
"Oke Pak. Kalau gitu silah kan Bapak pilih salah satu kartu nya untuk membayar nya" ucap Brian sambil mengulur kan keenam kartu kredit yang ada di tangan nya.
Si Bapak kasir pun merasa heran dengan tingkah nya Brian. Untuk membayar saja. Kenapa dia harus memilih kartu mana yang mau di gunakan.
"Ayo Pak pilih saja salah satu nya." ucap Brian lagi.
Si Bapak pun memilih katu yang ada di barisan dua sebelah kanan. Lalu menunjuk kan kearah Brian.
__ADS_1
"Saya pilih yang ini tak apa Tuan?"
"Tak apa Pak. Tapi saya panggil dulu yang punya kartu ini." ucap Brian sambil mengambil kartu tadi.
"Guys ini punya siapa?" tanya Brian kepada para pria yang sedang berbincang tak jauh dari nya.
Kelima pria itu pun mendatangi Brian. Ansel pun maju, ternyata kartu berwarna hitam itu milik nya.
"Ini punya Gue" ucap Ansel santai sambil mengambil kartu milik nya.
"Pak lakukan pembayaran nya" ucap Ansel sambil memberikan kembali kartu kepada si Bapak kasir.
"Baik Tuan"
Bapak kasir itu pun menyelesaikan proses pembayaran nya. Lalu ia meminta pin untuk menyelesai kan pembayaran. Ansel pun kembudian memasuk kan pin kartu nya.
"Ini kartu nya Tuan. Terima kasih sudah berkunjung kesini" ucap si Bapak kasir sambil menyerahkan kembali kartu Ansel dan struk pembayaran nya.
"Sama sama Pak. Maaf kalau kebun strawberry Bapak jadi habis kami borong semua" canda Ansel yang di sambut kekehan oleh si Bapak kasir.
"Tak apa Tuan. Nanti juga berbuah lagi. Terima kasih sudah memborong buah kami Tuan"
"Sama sama Pak"
Setelah mengatakan itu Ansel pun menghampiri yang lain nya. Ternyata strawberry mereka sudah di masuk kan kedalam mobil masing masing.
"Ayo kita kembali. Sebentar lagi uda mau masuk jam sholet jum'at" ajak Ansel ketika dia sudah berada bersama yang lain nya.
Para pria pun langsung melihat ke arah jam tangan mereka. Dan memang benar, sekarnag sudah hampir masuk jam sholat jum'at.
Mereka semua pun memutus kan kembali ke pondok pesantren.
Beberapa menit kemudian, akhir nya mereka sampai di pondok. Ternyata Abah Arsya dan Papa Doni sudah menunggu kedatangan mereka sambil menggendong Deera dan Andra. Lalu dimana Adga dan Keenan?
__ADS_1
Adga berada di dalam stoller nya. Dia duduk dengan tenang di temani oleh Quin. Lalu dimana Keenan? Bayi satu itu berada di dalam kamar nya. Dia sedang tertidur di temani oleh pengasuh nya.
Deera dan Andra yang melihat kedua orang tua nya turun dari mobil pun kegirangan. Mereka memain kan kaki dan tangan nya. Meminta segera di angkat oleh kedua orang tua nya. Berbeda dengan Adga. Bayi itu hanya tersenyum ketika ia melihat Breena.