Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Rencana Menemui Keluarga Doni Abraham


__ADS_3

Di perusahaan AD Grup setelah melakukan rapat pemegang saham yang diadakan secara dadakan itu, Tuan Martin kembali keruangannya. Ia akan mencari cara untuk bisa mempertahankan perusahaannya kembali seperti semula.


Saat ini Tuan Martin, Brian serta Gabriel sedang berkumpul. Mereka membahas apa rencana mereka selanjutnya.


"Dad, bagaimana kalau kita meminta maaf kekeluarga Om Doni? Terlebih kita meminta maaf ke Breena Dad" usul Brian.


Tuan Martin yang dengar apa yang diucapkan anaknya pun ia tampak sedang berpikir.


"Benar apa kata Tuan Brian Tuan. Sebaiknya keluarga Tuan menemui keluarga Tuan Doni dan meminta maaf" ucap Gabriel yang menyetujui apa yang diucapkan Brian tadi.


"Maaf Tuan yang saya dengar tadi ketika kita melakukan rapat dadakan, Tuan Doni juga mengadakan rapat dadakan juga di rumah sakit. Ia sudah menarik saham nya dan dokter nya juga. Mulai hari ini para dokter bantuan dari rumah sakit Abraham sudah tidak bekerja disana lagi Tuan" lanjut Gabriel memberitahu Tuan nya.


"Jadi dia sudah melakukan itu? Bagaimana dengan Ibra?" tanya Tuan Martin yang khawatir dengan nasib anaknya.


"Tuan Ibra tidak bisa melakukan apa apa Tuan. Karena memang saham terbesar milik Tuan Doni"


"Ayo kita kembali Brian. Kita diskusikan ini dengan keluarga kita" ajak Tuan Martin yang langsung berdiri dari kursi kebesarannya.


Brian dan Gabriel pun mengikuti langkah kaki Tuan Martin. Mereka menaiki lift dan turun ke lobby.


Tetapi begitu sampai di lobby, mereka bertemu dengan Doni dan asistennya.


"Doni" lirih Tuan Martin yang kini sudah berpapasan dengan sahabatnya itu.


"Aku ingin berbicara denganmu" ucap Tuan Doni dengan raut wajah datarnya.


"Baiklah kita bicara diruangan ku saja" ajak Tuan Martin.


Mereka semua pun kembali menuju kerunagan Tuan Martin.


Sesampainya diruangan Tuan Martin, Doni tak mau berbasa basi lagi.


"Damian serahkan semua surat keputusan menarik saham saya di perusahaan ini" ucap Tuan Doni langsung memerintahkan asistennya untuk menyerahkan dokumen yang diminta Tuan Doni.


Damian pun segera menyerahkan dokumen itu. Ia meletakkan dokumennya dihadapan Tuan Martin.


"Don, apa ini akhir dari persahabatan kita? Apa tidak ada cara yang lain Don?" tanya Tuan Martin dengan tatapan nanarnya.


"Aku sudah memperingatimu Martin. Tapi kau seolah buta dengan ancaman ku. Kenapa disaat seperti ini kau seolah olah menjadi orang yang tersakiti?"

__ADS_1


"Aku tak masalah jika aku harus jatuh miskin Doni. Tapi aku memikirkan nasib cucu cucu ku. Masa depan mereka masih panjang. Apa kah tidak bisa jika kau tak menarik saham mu di perusahaan ku dan rumah sakit milik keluarga kami?"


"Aku hanya menarik saham ku Martin bukan membuatmu bangkrut"


"Karena urusan kita sudh selesai, jadi aku permisi dulu" ucap Tuan Doni kemudian ia berlalu dari ruangan Tuan Martin yang diikuti oleh asistennya.


"Dad" panggil Brian pelan.


"Ayo kembali Brian. Kita bahas dimansion saja" ajak Tuan Martin.


...----------------...


Dirumah Dayyan dan Breena saat ini mereka sedang bersantai didalam kamar mereka.


"Mas beneran tidak jadi kekantor?" tanya Breena yang melihat suaminya sangat santai.


"Iya sayang. Mas cuma ingin bersama denganmu saja hari ini"


"Bukannya Mas bilang kalau Mas hari ini sedikit sibuk iya"


"Itu tadi malam sayang. Hari ini waktunya Mas bersama denganmu" ucap Dayyan yang masih kekeh ingin bersama istrinya.


"Tidak masalah sayang. Mas akan tetap bersamamu. Nanti Mas yang akan mengantarkan kamu ke kampus" jawab Dayyan lagi.


Hhhuuufffttt


Breena hanya bisa menghela nafasnya. Suaminya ini begitu kekeh ingin bersamanya hati ini. Ia pun dibuat heran dengan tingkah suaminya.


Dari bangun tidur yang ingin sarapan buatannya. Bahkan siang nanti waktu makan siang, Dayyan juga meminta ia yang memasak.


Breena hanya bisa menatap suaminya.


"Tumben sekali Mas Dayyan bertingkah seperti ini. Biasanya ia selalu melarangku memasak. Tapi hari ini ia sangat manja. Hanya ingin bersama ku saja dan ingin makan masakan ku. Ada apa dengan nya?" tanya Breena dalam hati.


...----------------...


Tuan Martin, Brian dan Gabriel sudah sampai dimansion Anderson.


Mereka berkumpul diruang keluarga bersama anggota keluarga yang lainnya.

__ADS_1


"Dad, Om Doni sudah menarik saham nya dan dokter nya juga. Aku yakin sebentar lagi rumah sakit itu akan tutup Dad. Selain kekurangan dokter, kita juga kekurangan dana. Apa yang akan kita lakukan sekarang Dad?" ucap Ibra dengan wajah sedihnya.


Ibra sangat sedih karena harus kehilangan rumah sakit itu. Bukan takut karena kehilangan harta. Tetapi ia takut kehilangan impiannya. Impian nya yang menjadi dokter dan memiliki rumah sakit sendiri. Ia ingin mengobati banyak orang yang sakit, yang membutuhkan tenaganya.


"Daddy juga sama. Doni dan menantunya sudah menarik semua saham mereka. Sekarang AD Grup diambang kehancuran"


"Dad, saran Mommy lebih baik kita datang ke kediaman mereka dan meminta maaf kepada mereka. Mommy tau ini memang sudah sangat terlambat. Tapi tidak ada salahnya kan kalau kita melakukan itu" ucap Mommy Aletha memberi saran.


"Mommy hanya ingin persahabatan kita kembali seperti dulu Dad. Tidak seperti sekarang ini. Kita sudah terlalu egois untuk masalah yang ditimbulkan oleh Brian. Mereka tidak salah apa apa Dad. Terutama Breena. Disini Breena lah yang paling terluka Dad" lanjut Mommy Aletha yang sudah menahan tangisnya.


"Maafkan Brian Mom. Karena kesalahan Brian keluarga kita jadi seperti ini" ucap Brian sambil memeluk Mommy nya.


" Benar yang Mommy bilang Dad, kita seharusnya sedari dulu meminta maaf kepada mereka" lanjut Brian.


"Bagaimana denganmu Ibra?" tanya Daddy Martin.


"Ibra setuju sama Mommy dan Brian Dad. Kita harus meminta maaf kepada mereka dan melakukan konfrensi pers untuk membersihkan nama baik Breena" ucap Ibra yanh setuju dengan usulan Mommy dan adiknya.


Daddy Martin terdiam sejenak. Ia pun memikirkan usulan istri dan kedua anaknya.


"Iya mungkin dengan jalan ini hubungan kita membaik Doni. Aku merindukan hubungan kita yang dulu. Kau bukan hanya sahabat bagiku Don. Tapi kau juga uda menjadi saudara untuk ku. Maafkan sifat egoisku selama ini Don. Semoga kamu masih berbesar hati memaafkan kesalahan keluargaku" batin Daddy Martin.


"Baiklah kita akan kesana nanti malam untuk meminta maaf. Semoga mereka mau berbesar hati memaafkan kesalahn kita selama ini" ucap Daddy Martin.


Ia berharap dengan keputusan ini sahabatnya mau memaafkannya. Dan tidak jadi menarik semua sahamnya.


"Gabriel tolong buat janji temu dengan keluarga Doni Abraham nanti malam. Kita akan ke kediaman mereka jam 19:30 malam" perintah Daddy Martin pada asistennya.


"Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu"


Setelah mengatakan itu Gabriel pun pergi meninggalkan keluarga Tuan nya. Ia pun segera menghubungi Damian asisten Tuan Doni untuk membuat janji temu.


Walau pun harus sedikit memaksa tetapi akhirnya Damian mengiyakan janji temu itu setelah mendapat izin dari Tuan nya.


"Mommy akan ke mall dulu untuk membeli bingkisan untuk Ratih"


"Sekalian belikan hadiah juga untuk Breena Mom. Hadiah sebagai permintaan maaf kita dan pernikahan mereka" saran Brian.


"Iya nanti Mommy belikan juga. Ayo Wil temani Mommy ke mall" ajak Mommy Aletha pada menantunya.

__ADS_1


Mommy Aletha beserta Wilna pun akhirnya pergi ke mall. Mereka akan membeli beberap perhiasan untuk Breena dan Mama Ratih. Semoga saja mereka suka dengan hadiah yang diberikan oleh Mommy Aletha.


__ADS_2