Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Cerita Cintya


__ADS_3

"Uda ah Umma, ayo masuk Mbak Cintya. Nanti koper nya biar di bawa masuk sama pelayan yang lain saja" ajak Breena.


Mereka semua pun masuk ke dalam rumah. Mereka membawa Cintya duduk di ruang tengah.


"Mbak tolong bawa triple K ke kamar nya iya. Sama ajak juga anak anak nya Mbak Cintya. Tolong jaga sebentar iya Mbak" ucap Breena lembut.


"Baik Mbak"


Ketiga pengasuh triple K membawa ketiga anak Breena dan kedua anak Cintya menuju ke kamar triple K di lantai dua, bersebelahan dengan kamar Breena dan Dayyan.


Selepas kepergian mereka, suasana menjadi hening. Cintya hanya bisa menunduk kan kepala nya.


"Abah dimana Umma?" tanya Cintya mengakhiri keheningan diantara mereka bertiga.


"Abah ke kantor nak. Selama Dayyan ke Jepang. Abah yang mengurus perusahaan yang disini" jawab Umma Hanum.


"Kamu ke Indonesia hanya dengan kedua anak mu?" tanya Umma Hanum memulai menyelidiki semua yang terjadi.


"Iya Umma" lirih Cintya.


"Kemana suami mu?"


"Kami sudah bercerai Umma" lirih Cintya dengan suara bergetar nya.


"Kenapa?"


"Cintya menggugat Mas Rendra Umma. Sebulan yang lalu Mas Dion memberikan bukti bukti perselingkuhan Mas Rendra dengan sahabat Cintya Umma" ucap Cintya yang kembali menumpah kan air mata nya.


"Astafirullah" ucap Umma Hanum dan Breena berbarengan.


Breena langsung memeluk tubuh Cintya yang bergetar karena isak tangis nya. Ia tau betul bagaimana sakit nya di selingkuhi apa lagi dengan sahabat sendiri.


"Gus Dayyan ke Jepang, untuk mengurus masalah yang ada di perusahaan yang disana Umma. Ternyata masalah nya tidak hanya ada di perselingkuhan saja. Tetapi Mas Rendra juga di manfaat kan dengan sahabat Cintya untuk mengambil alih perusahaan disana. Tetapi semua ide licik Mas Rendra dan Laura terlebih dahulu di ketahui oleh Mas Dion. Maka nya mereka berdua memanipulasi surat yang sudah di sedia kan oleh Mas Rendra dan Laura dengan membalik kan semua harta yang di miliki Mas Rendra untuk kedua putri kami Umma" jelas Cintya terisak.


Breena selalu mengelus punggung Cintya. Memberikan nya semangat.

__ADS_1


"Terus bagaimana bisa kamu mencerai kan nya Cintya? Bukan nya susah iya karena kalian sudha tinggal di Jepang" tanya Umma Hanum penasaran.


"Semua atas bantuan nya Guse Umma. Pengacara perusahaan yang mengurus semua nya" jelas Cintya.


"Terus kenapa kamu datang ke pondok Cintya?" tanya Breena angkat suara.


"Maaf Mbak. Guse meminta saya datang ke pondok setelah saya sampai di Indonesia. Tadi nya saya mau mencari kontrakan di dekat rumah lama kami. Tapi karena Gus meminta saya untuk datang ke pondok. Jadi saya langsung kesana" jelas Cintya merasa tak enak.


"Ooohh iya uda. Berhubung orang nya juga belum kembali dari Jepang. Jadi untuk sementara kamu dan anak kamu tinggal di sini aja dulu Cintya. Menunggu sampai Dayyan kembali. Kami juga belum tau kapan dia kembali nya" ucap Umma Hanum.


"Apa boleh seperti itu Umma? Cintya takut merepotkan Umma dan yang lain nya kalau tinggal disini" ucap Cintya merasa tak enak menerima usulan Umma Hanum.


"Nggak papa Mbak. Disini aja biar tambah ramai. Kasihan anak anak Mbak kalau di bawa untuk mencari tempat tinggal lagi. Mereka pasti sangat kelelahan" ucap Breena mengizin kan Cintya tinggal sementara di rumah nya menunggu kedatangan sang suami.


"Terima kasih Mbak. Terima kasih Umma" ucap Cintya yang kembali menangis.


Cintya tak menyangka. Dia yang sedang tertimpa masalah seperti ini, masih ada yang peduli dengan nya dan membantu nya.


Breena pun membawa Cintya menempati kamar tamu yang ada di lantai satu rumah nya.


Malam hari nya Di mansion Danuarta, Anggi sudah beberapa hari ini merasa cepat lelah, kepala nya pun juga sering pusing. Ia juga tidak berselera makan.


Seperti saat ini ketika semua anggota keluarga nya sedang menikmati makan malam nya. Anggi justru hanya mengaduk aduk kan nasi nya saja. Ia sangat sangat tak berselera untuk makan.


"Kamu kenapa Anggi? Kenapa makanan nya hanya di aduk aduk seperti itu" tanya Mommy Rianti.


"Nggak selera Mom" jawab Anggi lesu.


"Jadi kamu mau makan apa?" tanya Daddy Danuarta.


"Nggak tau Dad. Anggi hanya ingin makan masakan nya Mas Dion saja. Tapi ntah kapan Mas Dion kembali nya"


"Kamu uda coba menghubungi suami kamu?" tanya Mommy Rianti memandang sedih putri nya. Sebab sudah beberapa hari ini anak nya memang jarang makan.


"Sudah Mom. Tapi nomor nya nggak aktif. Hiks hiks" jawab Anggi yang malah menangis.

__ADS_1


"Sssttt uda iya. Mungkin suami kamu lagi sibuk mengurus masalah disana. Besok coba kamu hubungi lagi iya" bujuk Mommy Rianti yang hanya di balas dengan anggukan.


Setelah makan malam. Semua anggota keluarga Danuarta berkumpul di ruang keluarga. Mereka menikmati cemilan yang di buat kan pelayan sambil menikmati siaran televisi.


Anggi yang memang sedang tidak mood. Memilih kembali ke kamar nya. Ia ingin beristirahat sambil memeluk baju kotor sang suami.


Sementara itu di Bandara Internasional Soekarna Hatta, dua orang pria tampan sedang berjalan sambil mendorong troli yang membawa koper dan kardus berisi mainan dan oleh oleh yang mereka beli sewaktu di Jepang.


"Kamu di jemput siapa Dion?" tanya Dayyan sambil berjalan menuju parkiran.


"Kaya nya naik taksi aja. Kalau meminta supir jemput, nanti bisa bisa ketahuan kalau aku pulang hari ini" jawab Dion yang di angguki oleh Dayyan.


"Bener juga iya. Tapi kan bisa minta jemput sama Thomas atau anak buah Daddy"


"Kau tau Ian. Aku tak mau terlalu bergantung sama keluarga istri ku. Mereka orang kaya, sedang kan aku dari keluarga sederhana. Mungkin bagi mereka tak masalah kalau aku bergantung dengan mereka. Karena sekarang aku sudah menjadi menantu mereka. Tapi bagi orang lain yang nggak suka sama ku. Mereka akan bilang kalau aku hanya memanfaat kan kekayaan keluarga Daddy saja. Aku tak mau di anggap seperti itu" jawab Dion sambil mata nya mencari keberadaan taksi.


"Kau bemar juga Dion. Bagi mereka tak masalah tapi bagi orang lain yang hanya bisa melihat dan mengkritik, itu sungguh sangat mengganggu kehidupan kita" ucap Dayyan sambil menepum bahu sahabat nya itu.


"Itu ada taksi. Naik lah duluan. Aku masih harus menunggu jemputan dari supir nya Papa Doni" ucap Dayyan menyuruh sahabat nya itu duluan pergi.


"Kau tak apa?"


"Iya. Uda pergi lah. Hari sudah semakin malam"


Setelah mendapat kan izin dari Dayyan, Dion pun memanggil taksi tersebut. Dan menaiki nya. Ia pulang terlebih dahulu.


Tak berselang lama jemputan Dayyan pun datang. Dayyan langsung masuk kedalam mobil. Sedang kan supir Papa Doni sedang menaikan barang barang bawaan Dayyan ke dalam bagasi mobil.


"Pak, apa Papa nginap di rumah saya?" tanya Dayyan ketika sang supir sudah melajukan mobil nya.


"Iya Mas. Tuan Doni dan Nyonya Ratih malam ini menginap di kediaman Mas Dayyan" jawab sang supir sopan.


"Tapi Papa nggak ada bilang sama Breena kan kalau saya hari ini pulang?"


"Tidak ada Mas"

__ADS_1


Setelah mendapat kan kepastian dari supir Papa mertua nya, Dayyan memilih memejam kan mata nya. Jujur saja Dayyan sangat lelah beberapa hari ini. Begitu banyak yang di urus nya selama di Jepang.


__ADS_2