
Windy masih berada di pelukan tunangan nya. Ia masih menangis sesenggukan. Ibu dan tunangan nya pun berusaha membujuk nya agar berhenti menangis. Tanpa mereka sadari sedari tadi Ansel menatap kearah mereka. Senyum kecut terlihat di bibir nya. Ia sudah ikhlas untuk melepas cinta nya. Melepas orang yang begitu berarti didalam hidup nya. Ia tak akan merebut milik orang lain.
Anita sendiri sedang bergabung bersama dengan keluarga nya Breena. Mereka saling mengucap kan selamat atas wisuda mereka masing masing.
"Nit setelah ini kami akan makan makan merayakan wisuda ku. Apa kamu mau ikut bergabung?" tanya Breena ketika ia melepas pelukan sahabat nya itu.
"Sorry Bree bukan nya aku nggak mau. Tapi setelah ini aku akan langsung ke Bandara. Ayank beb minta di susulin kata nya" ucap Anita menolak ajakan Breena secara halus.
"Jangan terlalu dekat Nit. Dan jangan sampai kalian tidur satu kamar. Ingat kalian belum sah loh" nasehat Breena yang di tanggapi dengan senyum mengembang dari sahabat nya.
"Tenang aja Bree. Kami nggak satu kamar kok. Kamar kami terpisah. Lagian disana nanti juga kami tinggal di mansion mereka. Papa Mama nya juga ada disana kok. Sebenar nya...." Anita menggantung ucapan nya. Karena ia ragu untuk mengatakan nya pada Breena.
"Kenapa?"
"Emmhh janji iya jangan marah" ucap Anita ragu.
"Iya janji. Emang kenapa sih?" tanya Breena penasaran.
"Emmhh sebenar nya. Kami besok malam mau tunangan disana. Maka nya aku siang ini mau kesana. Mama Papa ku baru nyusul nanti malam. Soal nya mereka harus ke luar kota dulu ada masalah sedikit di kantor cabang disana. Maaf bukan nggak mau ngundang kamu Bree. Tapi karena kamu pun juga lagi sibuk, dan hamil muda. Jadi maksud nya nanti pas hari H nya baru aku mengundang kamu dan keluarga mu" jelas Anita menunduk.
Ia takut kalau Breena marah pada nya karena menyembunyi kan pertunangan nya seperti yang dilakukan oleh Windy.
"Aku nggak marah kok Nit. Selamat iya atas pertunangan mu besok. Dan maaf aku nggak bisa datang. Terima kasih sudah mengerti bagaimana kondisi ku" ucap Breena kembali memeluk Anita.
"Kamu nggak marah kan?" tanya Anita takut takut.
"Iya nggak lah. Lagian mana mungkin Aku marah Nit. Jadi jam berapa pesawat mu?"
"Jam 14:15 maka nya ini aku mau langsung pamit sekalian sama kamu dan keluarga mu"
"Iya uda kamu hati hati iya"
"Makasih iya Bree"
Setelah berpamitan sama Breena. Anita pun berpamitan sama semua keluarga Breena. Walau pun sebenar nya Mama Ratih memaksa nya untuk ikut ke restauran bersama mereka. Tapi karena alasan yang diberikan nya sangat masuk akal. Jadi Mama Ratih tidak lagi memaksa nya ikut. Bahkan Anita mendapatkan banyak kata selamat dan doa dari mereka semua.
Seusai kepergiam Anita. Keluarga Breena pun memutus kan untuk langsung ke restauran. Karena hari sudah semakin siang. Dan Quin pun juga sudah lapar kata nya.
__ADS_1
Sembilan mobil mewah yang terparkir di halaman parkir pun keluar secara beriringan. Banyak pasang mata yang menatap kearah iring iringan mobil mewah itu, termasuk Windy yang melihat mobil Ansel yang juga ikut di barisan mobil itu.
Hati nya kembali sedih ketika mengingat Ansel. Ia bisa melihat tatapan kosong Ansel dari balik kaca jendela mobil Ansel yang tembus ke luar.
Ansel memang datang bersama asisten nya. Tetapi sang asisten menunggu di dalam mobil saja.
"Wow sembilan mobil mewah. Kira kira mobil siapa itu?" tanya salah satu keluarga mahasiswa yang ikut di wisuda juga.
"Itu mobil milik keluarga nya Breena Mah. Bukan hanya keluarga inti nya saja yang datang. Tapi juga keluarga sahabat Papa nya juga ikut menghadiri acara wisuda nya dia"
"Apa mereka anak orang kaya?"
"Tenti saja, siapa yang tak kenal dengan Doni Abraham Mah. Dokter spesialis jantung sekaligus pemilik rumah sakit Abraham. Ia juga keluarga pengusaha Mah" jelas mahasiswa itu.
Ibu nya hanya mengangguk kan kepala nya. Ia tak lagi melanjutkan ucapan nya. Karena tau bagaimana kaya nya keluarga pengusaha itu.
...----------------...
Sesampai nya mereka di restauran yang uda di pesan oleh Dayyan. Mereka pun masuk ke dalam restauran itu.
Para pelayan langsung menyajikan menu menu yang sudah di pesan langsung oleh Dayyan. Dayyan meminta semua menu di hidang kan agar mereka tak lagi memesan makanan dan menunggu hingga makanan nya siap di masak.
Breena dengan semangat nya memakan semua olahan seafood. Bukan tanpa alasan. Breena memakan semua nya karena ia sednag ngidam makan seafood.
Selesai dengan acara makan makan itu, mereka semua pun membubar kan diri. Mereka berpisah di parkiran. Karena tujuan mereka berbeda beda. Sedangkan Dayyan dan Breena, menuju ke rumah kedua orang tua Breena. Termasuk juga Abah Arsya dan Umma Hanum yang ikut juga ke rumah besan nya.
...----------------...
Malam hari nya, Windy, Ibu nya serta tunangan nya Windy pun telah bersiap menuju ke mansion Bagaskara.
Disepanjang perjalanan Windy hanya terdiam dan memikir kan bagaimana nanti reaksi mereka ketika ia datang ke mansion itu lagi.
"Dek, apa kamu tidak ingin membawa kan sesuatu untuk mereka nanti?" tanya tunangan nya membuyarkan lamunan Windy.
"Kita bawa kan cake kesukaan Mommy aja Bang. Mommy sangat suka cake red velvet sama coklat lumer. Di depan sana ada toko kue langganan nya Mommy. Kita nanti berhenti disana aja" jawab Windy.
Tunangan nya pun menghenti kan mobil nya di depan toko roti langganan nya keluarga Ansel. Ia membeli sesuai yang di bilang Windy tadi. Setelah mendapat kan nya, ia kembali melajukan mobil nya menuju ke mansion Bagaskara.
__ADS_1
Sesampai nya disana, Ibu nya Windy di buat terkejut oleh penampakan mansion yang sangat besar dan mewah. Ia sampai tak berkedip melihat mansion Bagaskara itu.
"Ini rumah atau apa Win? Kenapa besar sekali? Pada hal mereka hanya memiliki satu anak saja. Tapi rumah nya besar dan mewah begini" ucap Ibu Windy kagum.
"Ini nama nya mansion Bu. Mansion itu sama seperti rumah biasa juga. Tapi mansion lebih besar dan lebih mewah. Semua nya ada di mansion. Setau Windy di mansion milik Daddy Calvin ada ruang Gym tersendiri. Di belakang mansion ini ada lapangan basket dan golf nya. Kamar nya juga banyak Bu" jelas Windy.
"Kalau tumah sebesar ini bagaimana membersihkan nya Win? Apa mereka tidak capek?" tanya Ibu nya yang penasaran.
"Mereka memiliki 20 pelayan Bu untuk membersihkan mansion ini. Itu uda termasuk sama tukang kebun yang ada 3 orang. Itu belum termasuk chef sama Satpam Bu. Setau Windy chef di mansion ini ada 2. Satpam nya 3. Belum lagi para pengawal yang ntah berapa jumlah nya yang berjaga setiap hari di mansion ini Bu"
"Terus yang kerja disini tinggal dimana Win?"
"Mereka tinggal di paviliun belakang Bu. Tidak bergabung sama mansion utama. Jadi di mansion hanya ada Mommy Gantari, Daddy Calvin dan Kak Ansel. Jadi kalau mereka semua ada perjalanan bisnis, mansion ini kosong Bu" jelas Windy lagi.
"Sayang banget kaya nya iya mansion sebagus, sebesar dan semewah ini kalau di biar kan kosong"
"Iya mau bagaimana lagi Bu. Mereka semua memiliki pekerjaan nya masing masing" jawab Windy singkat.
Tunangan Windy hanya tersenyum melihat calon Ibu mertua nya terkagum kagum melihat mansion mewah milik keluarga Bagaskara. Ia pun sebenar nya juga mengagumi mansion mewah ini. Namun tidak ia perlihat kan.
Tin Tin
Tunangan Windy membunyikan klakson. Salah satu pengawal yang sedang berjaga bersama satpam pun keluar dari gerbang tinggi mansion itu.
Windy menurunkam kaca jendela disamping nya.
"Mas Andre apa kabar?" tanya Windy basa basi melihat Andre berdiri di samping mobil nya.
"Sehat Nona Windy. Apa Nona mau bertemu Tuan Muda?" tanya pengawal itu sopan.
"Iya Mas. Kak Ansel ada kan? Mommy sama Daddy juga ada kan?" tanya Windy memastikan.
"Ada Nona. Nona silahkan masuk" Mas Andre pun memberikan izin kepada Windy untuk masuk. Kemudian ia meminta sama teman nya untuk membuka kan pintu gerbang.
Pintu gerbang itu terbuka secara otomatis. Membuat Ibu nya Windy melongo melihat nya. Sedangkan Windy terkekeh melihat Ibu nya.
Mobil pun kembali melaju menuju ke pintu utama mansion yang berjarak sekitar 150 meter dari gerbang.
__ADS_1