
Kelima keluarga itu pun berjalan menuju ruang makan. Tampak dimeja makan sudah banyak terhidang makanan. Dan yang paling menonjol adalah. Ayam bakar madu, capcai udang dan sop iga.
Seketika mata Brian langsung membulat. Ia menatap tak percaya ada makanan kesukaan nya diatas meja makan itu. Ia pun menatap kearah Breena dan Ani bergantian.
"Siapa yang memasak menu makanan itu? Apa Breena, tapi tidak mungkin. Sedangkan dia aja datang bareng sama kami. Tapi siapa? Apa mungkin Ani? Kalau memang Ani dari mana ia tau kalau aku suka ketiga makanan itu" batin Brian menduga duga.
"Ayo semua nya mari kita makan dulu" ucap Umma Hanum mempersilahkan para tamu nya untuk menyantap makanan yang sudah tersedia.
Dengan semangat Brian langsung mengambil nasi, ayam bakar madu serta capcai udang. Semua orang menatap kearah Brian dengan pandangan heran nya.
Terutama Breena menatap Brian dengan tatapan jahil nya.
"Enak Mas?" tanya Breena yang sedang menunggu untuk mengambil makanan untuk suaminya.
"Iya enak banget Bree. Apa kamu yang memasak ini Bree?" tanya Brian yang masih menikmati makanan nya.
"Tapi nggak mungkin, soalnya rasanya beda Bree. Nggak seperti masakan kamu" lanjutnya tanpa melihat situasi yang tiba tiba menjadi canggung.
"Tapi enak kan Mas masakannya?" tanya Breena lagi.
"Iya enak banget" puji Brian
"Iya lah jelas enak. Orang itu masakan nya Mbak Ani bukan masakan nya Breena" ucap Breena santai. Lalu ia mengambil makanan untuk suaminya.
Ukhuukk uukkhhuukk
Brian pun tersedak makanan nya ketika mendengar perkataan santai Breena.
"Minum dulu Mas" ucap Mbak Ani sambil menyodorkan segelas air putih kepada Brian.
"Terima kasih Dek" ucap nya dengan senyum yang canggung.
"Bree, kamu serius?" tanya Brian tak percaya.
"Iya lah serius. Kemarin itu Mbak Ani nanyak ke aku. Ning kalau boleh tau masakan kesukaan nya Mas Brian apa iya Ning?" ucap Breena menirukan nada biacara nya Mbak Ani.
"Iya aku kasih tau aja makanan kesukaan kamu. Lagian aku juga nggak salah kan. Toh kamu bilang masakannya enak" ucap Breena santai kemudian ia menerima suapan dari tangan suaminya.
Brian langsung menatap kearah Mbak Ani yang semakin menunduk. Ia merasa sangat lancang sudah bertanya seperti itu kepada Ning nya.
"Dek. Ini beneran kamu yang masak?" tanya Brian memastikan.
"Iya Mas. Maaf kalau rasa nya masih kurang dilidah Mas"
"Bukan itu masalah nya Dek. Tapi ini beneran enak banget. Mas boleh nambah nggak iya Dek?" puji Brian. Ia begitu suka dengam rasa ayam bakar buatan calon istrinya itu.
Dengan senyum yang mengembang Ani pun menganggukan kepala nya. Bahkan ia mengambilkan nasi beserta ayam bakar ke piring Brian.
"Berasa dunia milik berdua ia Mom. Kita mah nggak dianggap" goda Daddy Martin, yang sukses membuat pipi Ani merona.
"Uda uda, ayo kita nikmati makanan nya dulu" ajak Abah Arsya.
Mereka pun menikmati makanan yang dimasak oleh Ani. Dan bukan hanya Brian aja yang memuji masakan Ani. Tetapi yang lainnya pun juga memujinya.
Ditengah tengah makan mereka, tiba tiba saja Breena merajuk kepada suami nya itu. Dia tak mau makan lagi.
"Kau apakan menantu Umma Dayyan?" tanya Umma Hanum menatap anak nya dengan lekat.
__ADS_1
"Nggak Dayyan apa apakan Umma. Breena tadi bilang pengen omlet sosis sama sosis saus padang. Tapi Dayyan bilang nanti iya setelah makan. Terus Breena merajuk Umma" jelas Dayyan hati hati.
"Iya kenapa tidak kamu buatkan saja. Atau minta sama mbak di dapur" ucap Umma Hanum yang kesal sama anak nya.
"Tapi Umma"
"Tapi apa lagi?" tanya Umma Hanum yang tak sabaran dengan anak nya itu.
"Breena mau nya yang buat Brian Umma. Sedangkan Brian nya sedang makan. Dayyan tak enak kalau memintanya memasakan itu sekarang" ucap Dayyan menunduk.
Brian yang namanya disebut pun menghentikan makan nya. Ia menatap kearah Breena yang sudah mulai meneteskan air matanya.
"Kenapa Bree?" tanya Brian lembut.
"Mau omlet sosis sama sosis saus padang buatan Mas Brian. Tapi dilarang sama Mas Dayyan" ucap Breena terbata.
"Bukan nya kamu tidak terlalu suka sosis?" tanya Brian heran.
"Iya tapi pengen Mas. Mau iya Mas masakin untuk Breena?" mohon Breena dengan wajah sedihnya.
Brian yang tak tahan melihat wajah sedih Breena pun menatap kearah Dayyan meminta persetujuan suami dari mantan nya itu.
Dayyan pun hanya bisa pasrah dan menganggukan kepala nya.
"Umma boleh Brian pinjam dapur Umma dulu?" tanya Brian segan.
"Boleh Mas. Nduk apa dikulkas masih ada stok sosis?"
"Masih Umma. Ani baru membelinya tadi pagi"
"Iya uda kamu temani Brian iya"
Diruang makan yang lain masih melanjutkan makan nya. Sedangkan Breena dan Dayyan pun berhenti makan. Sebab masih menunggu makanan permintaan Breena.
Berbeda dengan Mama Ratih. Iya yang seorang dokter kandungan pun mengerti dengan sikap Breena itu. Ia menatap lekat putri satu satunya itu.
"Kamu sudah datang bulan, bulan ini sayang?" tanya Mama Ratih tiba tiba.
"Belum Mah" jawab Breena santai sambil menggelayut dilengan suaminya.
"Kapan terakhir datang bulan nya sayang?" tanya Mama Ratih memastikan.
"Sebelum Breena nikah sama Mas Dayyan Mah"
Kenapa Mah?" tanya Dayyan yang bingung kenapa mertua nya itu menanyakan hal itu didepan semua orang.
"Nggak papa Dayyan. Besok kalian datang ke rumah sakit iya. Mama tunggu di ruangan Mama" pesan Mama Ratih.
Dayyan dan Breena pun saling memandang. Kemudian mereka menganggukan kepalanya.
"Kenapa Mah?" tanya Papa Doni berbisik ditelinga Mama Ratih.
"Sepertinya kita akan menjadi kakek dan nenek Pah" ucap Mama Ratih pelan.
"Beneran?" tanya Papa Doni antusias.
"Sepertinya iya Pah. Makanya besok mau Mama pastikan lagi"
__ADS_1
"Besok Papa juga mau lihat ah Mah" ucap Papa Doni dengan binar bahagia nya.
"Kita berdoa aja iya Pah. Semoga tebakan Mama benar"
"Amiinn. Insya Allah benar Mah"
Sementara itu didapur telah terjadi perang dunia. Brian yang tak pernah memasak pun membuat seisi dapur Umma Hanum berantakan.
Dengan sabar Ani membantu calon suaminya itu memasak untuk menantu Umma Hanum itu.
"Dek ini uda masak belum?" tanya Brian ketika ia memasak omlet sosis nya.
Ani pun melihat masakan nya, lalu memastikan kematangan nya.
"Sudah Mas" ucap Ani lalu ia mengangkat omlet nya.
"Terus sekarang apa Dek?" tanya Brian yang kebingungan.
"Tumis bumbunya dulu mas. Kalau sudah harum masukan sosis yang tadi uda di goreng"
Brian pun mengikuti apa yang diarahkan oleh calon istrinya itu.
"Jangan lupa garam ny Mas" pesan Ani.
"Dek rasain dulu, uda belum rasa nya" pinta Brian.
"Sudah kok Mas. Masakan Mas enak" puji Ani dengan malu malu.
"Mas baru kali ini masak Dek. Ini pun karena permintaan Breena yang sudah nangis itu. Kalau nggak pun Mas nggak pernah masuk kedapur" jelas Brian sambil menatap lekat Ani.
"Itu berarti Mas masih sayang sama Ning Breena" goda Ani yang membuat Brian gelagapan.
"Nggak mungkin Dek. Mas uda nggak ada perasaan lagi sama Breena. Mas beneran Dek. Mas sayang sama kamu Dek." ucap Brian.
"Ani percaya sama Mas. Jangan takut gitu Mas"
"Terima kasih Dek. Iya uda ayo kita kedepan. Takut nya Breena sudah menunggunya" ajak Brian.
Ani dan Brian pun berjalan bersisian menuju ruang makan sambil membawa nampan berisi omlet sosis dan sosis saus padang.
"Silahkan dinikmati Nona. Ini pesanan anda omlet sosis dan sosis saus padang" ucap Brian seolah olah dia adalah pelayan cafe.
"Terima kasih Mas" ucap Breena dengan mata yang berbinar menatap makanan dihadapan nya.
Breena pun langsung memakan nya dengan lahap. Bahkan ia melupakan keanggunan nya ketika memakan itu.
Semua orang menatap Breena dengan mukut terbuka. Tidak biasanya Breena makan seperti itu.
"Dek hati hati makan nya. Nggak ada yang minta kok" tegur Dayyan. Ia khawatir istrinya tersedak.
Breena hanya menganggukan kepala nya tanpa menghiraukan ucapan sang suami.
Mama Ratih semakin yakin dengan dugaan nya. Ia pun tersenyum menatap Umma Hanum.
Seperti mendapatkan telepati yang sangat akurat. Umma Hanum pun tiba tiba tersenyum.
"Umma abis ini kita rujakan iya. Kan tadi Umma uda janji sama Breena" ucap Breena disela sela makan nya
__ADS_1
"Baiklah mantunya Umma. Umma akan siapkan semua nya khusus untuk menantu Umma ini"
"Terima kasih Umma" ucap Breena tersenyum bahagia.