
Berbeda dengan Dayyan yang sudah sampai rumah dan bertemu dengan istri dan anak nya. Dion masih berada di perjalanan menuju ke mansion Danuarta.
Mansion Danuarta memang jauh dari Bandara. Jadi memerlukan waktu yang cukup lama untuk sampai kesana.
"Baru pulang liburan iya Mas?" tanya supir taksi tersebut.
"Tidak Pak. Saya abis pulang perjalanan dinas dari kantor" jawab Dion ramah.
"Saya pikir habis liburan Mas. Karena Mas nya bawa koper banyak sekali"
"Iya Pak. Satu koper pakaian saya. Selebih nya isi nya oleh oleh untuk keluarga"
Pembicaraan mereka pun terus berlanjut sampai akhir nya mobil yang taksi tersebut sampai di depan mansion mewah dengan gerbang yang menjulang tinggi.
Tin
Tin
Supir tersebut membunyikan klakson. Satpam yang berjaga pun membuka sedikit pintu gerbang tersebut dan menghampiri taksi itu.
Dion yang melihat salah seorang satpam keluar, ia membuka kaca jendela taksi tersebut.
"Pak tolong buka kan gerbang nya iya" ucap Dion sopan.
"Baik Tuan Muda. Maaf saya tidak tau kalau Tuan Muda akan kembali hari ini" ucap satpam tersebut sambil membungkuk kan tubuh nya.
Setelah itu satpam tersebut membuka lebar pintu gerbang dan mempersilahkan taksi itu masuk ke dalam.
"Mas Tuan Muda mansion ini?" tanya supir tersebut.
"Saya hanya menantu Pak di mansion ini"
Taksi tersebut pun berhenti tepat di depan pintu utama mansion Danuarta. Beberapa bodyguard yang melihat Dion turun dari taksi tersebut, menunduk hormat.
"Pak. Tolong bawa kan koper nya ke dalam iya" pinta Dion sopan.
"Baik Tuan Muda"
Kemudian Dion membayar taksi tersebut dan melebih kan uang nya.
__ADS_1
"Terima kasih Pak. Hati hati di jalan nanti" ucap Dion. Kemudian berjalan memasuki mansion tersebut.
Di dalam mansion terjadi keributan. Iya Anggi pingsan saat berjalan menuju ke kamar nya setelah mereka makan malam.
Daddy Steven langsung mengangkat putri nya itu menuju ke kamar nya. Sedang kan Mommy Rianti meminta bibi untuk menelpon dokter pribadi mereka.
Tak ada satu pun orang yang tau kedatangan Dion. Karena mereka semua terkejut melihat Anggi yang tak sadar kan diri.
Dion yang melihat sang Ayah mertua berjalan terburu buru sambil menggendong istri nya pun berlari menuju ke kamar nya.
Di dalam kamar Anggi, Daddy Steven meletak kan Anggi di atas kasur nya dengan hati hati. Ia begitu cemas dan khawatir melihat kondisi anak nya yang tak sadar kan diri.
BRRAAAKKK
Pintu kamar terbuka secara kasar. Dan pelaku nya adalah Dion. Dia langsung berlari menuju istri nya.
"Sayang. Hei sayang bangun sayang" ucap Dion sambil menepuk pipi Anggi pelan.
Tak ada reaksi apa pun. Anggi masih tak sadar kan diri.
"Dad, Mom. Apa yang terjadi sama Anggi?" tanya Dion khawatir.
"Iya Mom, Dion baru saja sampai. Apa yang terjadi sama Anggi Mom?" tanya Dion lagi.
"Anggi tadi saat makan malam kata nya tidak berselera makan Dion. Dia ingin makan masakan kamu. Terus saat dia mau ke kamar, baru beberapa langkah. Anggi jatuh dan tak sadar kan diri" jelas Mommy Rianti.
Wajah Dion semakin panik dan menyesal. Ia tak tau kalau istri nya itu sedang tak berselera makan.
"Sayang bangun yuk. Yuk buka mata nya. Mas ida pulang sayang. Bangun yuk. Kamu mau makan apa, biar Mas masakin. Tapi kamu bangun dulu yuk" ucap Dion berusaha membangun kan Anggi.
Seberapa keras usaha Dion membangun kan Anggi, tapi tetap saja Anggi tak bangun juga. Hingga dokter pribadi mereka datang pun Anggi juga tak sadar sadar.
"Dokter tolong bangun kan istri saya" ucap Dion yang sudah menetes kan air mata nya.
"Sabar Dion. Biar dokter periksa Anggi dulu iya" ucap Mommy Rianti sambil mengelus punggung Dion.
"Tapi Mom"
"Sabar Dion. Kita lihat dulu keadaan Anggi. Kalau berbahaya kita langsung bawa ke rumah sakit" ucap tegas Daddy Steven.
__ADS_1
Dion pasrah. Ia menunggu hingga dokter selesai memeriksa keadaan Anggi.
Hampir dua puluh menit, akhir nya dokter tersebut berbalik menatap satu persatu keluarga Danuarta itu. Senyum sang dokter pun terkembang melihat wajah panik, dan khawatir nya seorang Dion Wijaya.
"Bagaimana Dokter?" tanya Dion tak sabaran.
"Tak ada yang serius Tuan Muda. Nona Muda hanya kelelahan dan kurang nutrisi saja" jawab nya masih dengan senyum yang tak surut dari wajah nya.
"Tapi kenapa istri saya sampai tak sadar kan diri seperti itu dok?"
"Selamat Tuan Muda. Nona Muda Breena sedang mengandung anak kalian. Mungkin ini bawaan bayi nya, agar dia di ketahui keberadaan nya" ucap dokter tersebut.
"Mengandung?" tanya Dion memastikan.
"Benar Tuan Muda. Nona Muda sedang mengandung. Untuk usia kehamilan nya saya saran kan untuk segera di periksa kan ke dokter kandungan besok"
"Mom, Dad. Anggi hamil Mom" ucap Dion bahagia.
Tangis nya yang tadi tangis kekhawatiran pun berganti menjadi tangis kebahagiaan nya. Niat awal ia dan Anggi yang akan memeriksa kan kesehatan mereka besok untuk memastikan apakah mereka bisa program hamil pun, tak jadi dilakukan. Karena Anggi sudah hamil terlebih dahulu.
Dion langsung menghampiri istri nya yang masih tak sadar kan diri. Ia memeluk tubuh sang istri. Sambil menciumi seluruh wajah Anggi. Lalu ia berhenti dan menatap perut sang istri yang ternyata memang sudah sedikit menonjol.
Dion mengelus lembut perut tersebut. Ia lalu memberikan ciuman lembut nya di perut Anggi.
"Assalamualaikum sayang. Selamat datang nak. Terima kasih sudah tumbuh di dalam rahim nya Mommy. Maaf kalau Mommy dan Daddy tidak tau keberadaan mu" ucap Dion yang kembali meneteskan air mata nya.
Sedang kan Mommy Rianti sudah berada di pelukan Daddy Steven. Ia begitu bahagia melihat anak nya yang sudah hamil. Mommy Rianti yang takut kalau Anggi akan seperti nya yang susah untuk hamil pun, akhir nya menghilang kan pemikiran negatif nya tersebut.
"Mommy bahagia Dad" lirih Mommy Rianti.
"Ya. Daddy juga sangat bahagia. Akhir nya kita akan memiliki cucu" balas Daddy Steven.
Dokter pribadi mereka pun tersenyum melihat kebahagiaan keluarga Danuarta tersebut.
"Kalau begitu saya permisi dulu Tuan Nyonya. Sekali lagi selamat atas kehamilan nya Nona Muda Anggi" ucap dokter tersebut sambil membungkuk kan tubuh nya.
Daddy Steven pun mengantar kan Dokter tersebut sampai di depan pintu kamar Anggi. Kemudian meminta pelayan nya untuk mengantar dokter itu ke depan.
Anggi yang terusik merasa geli karena di ciumin oleh Dion pun membuka mata nya. Pandangan nya masih buram. Ia masih mengerjap ngerjap kan mata nya.
__ADS_1
"Sayang kamu uda sadar" empat kata itu membuat Anggi menghentikan pergerakan nya.