
Setelah di persilah kan oleh Daddy Steven, yang lain nya pun mulai menikmati salad buah buatan Mommy Rianti. Dan benar apa kata Daddy Steven, memang salad nya terasa berbeda dengan salad buatan orang lain. Bahkan salad yang ada di cafe atau restauran pun sedikit berbeda. Salad ini lebih enak dari yang di jual jual di luaran sana.
Mereka semua menikmati salad buah itu dengan lahap. Sama lahap nya dengan si Ibu hamil yang sedang mengidam itu.
"Mom, masih ada lagi nggak salad nya?" tanya Anggi ketika salad yang ada di mangkuk nya sudah habis.
"Mbak"
Bukan nya menjawab Mommy Rianti justru memanggil pelayan nya yang bergabung dengan pengasuh anak anak nya Breena dan Ani.
"Iya Nyonya"
"Salad nya masih ada?"
"Masih Nyonya"
"Bisa ambil kan lagi untuk Anggi Mbak?"
"Bisa Nyonya"
Setelah mengatakan itu, pelayan itu pun segera beranjak ke dapur. Ia kembali menaruh salad buah nya di dalam mangkuk.
"Ini Nona Muda" ucap si pelayan sambil menaruh mangkuk nya di depan Anggi.
"Terima kasih iya Mbak. Maaf sudah merepot kan"
"Tidak apa Nona. Ini sudah tugas saya"
Anggi kembali menikmati salad buah nya. Begitu pun dengan yang lain nya. Mereka menikmati salad buah itu sambil berbincang dan memperhatikan tingkah keempat bayi yang ada di dekat mereka.
Tingkah Deera dan Andra yang sangat lasak. Mereka yang tengkurep berusaha untuk merangkak. Tapi bukan nya merangkak, malah mereka mengangkat pantat nya tinggi.
Sedangkan Adga, dia justru sedang duduk di pangkuan pengasuh nya dengan wajah datar nya. Dia sama sekali tak memperdulikan orang orang di sekitar nya.
Berbeda dengan Keenan. Bayi sultan, cucu laki laki aatu satu nya keluarga Anderson itu, tengah terlelap di atas bouncer milik nya.
...----------------...
Di perjalanan menuju ke Bandung. Dua mobil mewah dan satu mobil biasa sedang melaju menuju ke pondok pesantren Al-Hidayah.
Setelah tadi mereka berhenti di masjid karena waktu sholat Jum'at. Kini mobil mewah itu kembali melaju dan menuju ke Bandung.
__ADS_1
Tapi di tengah perjalanan, Juan membelok kan mobil nya ke salah satu restauran mahal. Restauran bintang lima yang hanya di masuki oleh para kaum jet set.
Juan dan yang lain nya pun sudah turun dari mobil. Juan menatap penuh kagum restauran tersebut.
"Kenapa kita berhenti disini Juan?" tanya Ayah Hermansyah.
"Kita makan siang dulu Yah. Juan uda telepon manager nya tadi"
"Tapi kenapa makan di restauran ini? Ini restauran mahal Juan" ucap Bunda Aisyah.
"Bunda jangan takut. Kita makan gratis disini" ucap Juan dengan senyum manis nya.
"Makan gratis? Bagaimana bisa?" tanya kedua orang tua Dion yang tak paham maksud dari perkataan Juna.
"Hehehehe ini restauran milik Juan Yah Bun. Ini restauran peninggalan kedua orang tua Juan dulu. Dulu restauran ini berada di pengawasan Daddy Martin. Tapi karena Juan uda nikah, jadi semua peninggalan kedua orang tua Juan yang di titip kan ke Daddy, di serah kan sama Juan Yah Bun" jelas Juan yang membuat kedua orang tua Dion itu menatap tak percaya ke arah Juan.
Mereka tak menyangka kalau Juan ternyata anak orang kaya. Jadi hanya anak nya saja yang anak orang biasa dia antata mereka semua.
"Ayo Yah Bun, kita masuk" ajak Juan.
Juan pun berjalan di depan sambil menggandeng tangan Selvi. Di ikuti Ayah dan Bunda nya Dion, lalu di belakang mereka ada Devano dan Nindy.
"Maaf Pak, Anda di larang masuk" ucap salah satu satpam menghentikan langkah kaki mereka.
"Disini hanya boleh orang yang berdasi yang masuk Pak"
Ya, Juan dan yang lain nya di larang masuk karena mereka memakai baju santai bukan berdasi.
"Silah kan pergi Pak" usir si satpam.
Juan yang sudah di penuhi amarah pun langsung memberikan bogeman di rahang kanan si satpam.
Keributan pun tak terelak kan, sampai satpam satu lagi memanggil manager restauran itu.
"Ada apa ini?" bentak si manager.
Juan yang masih terus memukul si satpam itu pun berhenti mendengar bentakan dari arah belakang nya. Juan membalik kan badan nya dan menatap tajam penuh amarah ke si manager.
"Tu–tuan" ucap manager terbata.
Juan tersenyum menyeringai kearah si manager. Senyuman yang mengerikan yang baru pertama kali di lihat oleh Selvi.
__ADS_1
Selvi pun langsung memeluk tubuh kakak sepupu nya takut.
"Cepat minta maaf" ucap sang manager ke si satpam.
"Tapi Pak. Kami hanya menjalan kan tugas kami" bela si satpam yang tak mau meminta maaf.
"MINTA MAAF SEKARANG! ATAU KAU AKAN MENDAPAT KAN MASALAH!" bentak si manager.
"Tak perlu! Kumpul kan semua karyawan sekarang!" bentak Juan.
Setelah memberikan perintah, Juan langsung masuk ke dalam restauran milik nya. Di ikuti dengan yang lain nya.
Mereka yang baru pertama kali melihat kemarahan Juan pun hanya bisa diam saja. Bahkan Selvi pun takut takut untuk berdekatan dengan suami nya.
Juan yang menyadari ketakutan Selvi pun langsung memeluk tubuh istri nya. Bisa Juan rasakan tubuh istri nya menegang ketika di bawanya ke dalam pelukan nya.
"Maaf sudah buat kamu takut sayang. Maaf. Jangan takut lagi." lirih Juan.
Selvi pin perlahan lahan membalas pelukan suami nya. Bahkan kini tangan Selvi sudah mengelus punggung Juan, untuk meredakan amarah nya.
"Jangan seperti itu lagi. Aku takut"
"Ini yang pertama dan terakhir kali nya yank"
Setelah merasa sudah mulai redah amarah nya. Juan membawa istri nya dan yang lain nya menuju ke ruangan khusus di restauran tersebut.
"Abang pergi dulu. Abang mau memberes kan masalah yang tadi. Kamu tunggu disini aja iya. Nanti makanan nya langsung di antar kan sama koki nya" ucap Juan lembut.
"Jangan marah marah lagi Bang"
"Iya tapi abang nggak janji. Karena ini tidak bisa di biar kan gitu aja sayang. Mereka uda salah buat peraturan seperti itu." ucap Juan memberi pengertian ke Selvi.
Selvi pun hanya bisa mengangguk kan kepala nya. Setelah berpamitan dengan Selvi dan yang lain nya. Juan meninggal kan mereka di dalam ruangan khusus itu.
Tujuan Juan sekarang adalah dapur.
"Selamat siang. Siapa Cheft disini?" tanya Juan saat ia memasuki dapur di temani sang manager.
"Saya Tuan" ucap Cheft yang bernama Rudi.
"Saya minta tolong buat kan menu spesial di restauran ini dan antar kan ke ruangan khusus. Buat untuk enam orang" perintah Juan.
__ADS_1
"Siap Tuan"
Walau pun si cheft tidak mengetahui siapa Juan sebenar nya tapi dia tetap akan membuat kan pesanan Juan tadi. Apa lagi Juan di temani oleh manager disana. Uda pasti Juan bukan orang sembarangan di restauran ini.