
Dion mengendarai mobilnya menuju ke Panti Asuhan milik Ibu Ayu. Dengan senyum yang mengembang diwajah tampannya, ia menatap kearah kekasihnya sejenak.
"Ada apa Mas? Kenapa Mas dari tadi tersenyum terus?" tanya Anggi heran.
"Mas senang sayang. Mas uda lama nggak ikut kamu ke pantin. Dduuhhh kangen banget Mas sama masakan Bunda Ayu"
"Laaahhh Mas ini aneh. Aku yang anak panti malah Mas yang rindu masakan Bunda Ayu. Seharusnyakan aku yang bilang gitu Mas" protes Anggi.
"Hehehehe oke kita berdua sama sama rindu masakan Bunda Ayu"
"Oiya Mas, kita singgah dulu iya ke toko roti. Aku mau belikan roti untuk adik adik panti sama untuk pengurus panti" pinta Anggi.
"Oke nanti kita singgah sebentar ke toko roti langganan kita" ujar Dion setuju.
Dia akan membeli banyak roti hari ini untuk dimakan bersama di panti nanti.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di toko roti langganan mereka. Toko roti yang cukup terkenal karena rotinya enak dan lembut. Bukan hanya itu tapi tampilannya juga unik unik.
Anggi banyak memilih cup cake dengan hiasan yang berbeda beda. Ada brownis, roti keju, red velvet, dan khusu untuk Bunda nya ia membelikan brownis pandan.
"Bayar pakai ini aja sayang" ucap Dion sambil menyerahkan black card nya.
"Tapi Mas" tolak Anggi.
"Uda bayar pakai ini aja. Mas nggak terima penolakan" paksa Dion.
"Terima kasih Mas" ucap Anggi tersenyum manis.
Selesai membayar dan roti juga sudah dimasukkan kedalam bagasi mobilnya. Doni pun segera melajukan mobilnya menuju ke panti asuhan.
...----------------...
Sedangkan di panti asuhan, Bu Ayu memberitahu kepada keluarga Danuarta kalau Anggi akan datang kesana.
"Sabar iya Nyonya. Anggi lagi dalam perjalanan kesini. Semoga Anggi bahagia karena bertemu dengan keluarga yang dinanti nya dari dulu" ucap Bu Ayu.
"Terima kasih Bu. Terima kasih. Saya tidak tau harus membalas kebaikan Ibu dengan apa. Jasa Ibu terlalu besar karena sudah menjaga dan membesarkan anak kami selama ini" ucap Mommy Rianti dengan tangisnya yang tak kunjung usai.
"Saya ikhlas Bu. Saya tidak butuh apa apa. Satu kebahagiaan saya bisa membesarkan anak anak disini sampai sukses. Walau pun dengan kesederhanaan" ucap Bu Ayu merendah.
"Daddy, Mommy mau jadi donatur di panti asuhan ini Dad. Hanya itu yang bisa Mommy lakukan untuk membalas jasa Bu Ayu Dad" pinta Mommy Rianti.
"As you wish Mom. Apa pun akan Daddy lakukan. Nanti Daddy minta tolong sama asisten Daddy untuk mengurusnya iya" ucap Daddy Steven lembut.
"Mom Dad kapan Kak Anggi tiba?" tanya Thomas tak sabaran.
"Waaahhh sepertinya bukan hanya Mommy saja yang tak sabaran iya, ternyata Thomas juga" goda Daddy Steven dengan kekehan kecilnya.
"Sabar boy sebentar lagi Kakak mu pasti datang" lanjut Daddy Steven.
Benar saja tak lama ada suara deru mobil berhenti dihalaman panti asuhan.
Anggi keluar dari dalam mobil dan berlari menuju keruangan Bu Ayu.
"Sayang jangan lari lari nanti jatuh" teriak Dion memperingati Anggi namun tak dihiraukan oleh Anggi.
"Hmm anak itu kalau uda kesini selalu saja seperti ini. Suka sekali dia berlari seperti itu. Ntah apa yang dikejarnya" omel Dion.
Kemudian Dion mengeluarkan semua yang dibeli khusus untuk Bu Ayu. Roti yang lain nanti dia akan minta tolong kepada pengurus yang lain untuk membawanya.
"Bundaaaaaaaa" teriak Anggi namun tak ada sahutan.
__ADS_1
"Bunda Anggi datang" teriak nya lagi yang membuat keempat orang yang ada diruang tamu itu menatap kearah nya.
"Bunda" teriak Anggi sambil memeluk Bu Ayu.
"Kamu ida datang sayang? Sama siapa kesini?" tanya Bu Ayu sambil membalas pelukan Anggi.
"Sama Mas Dion Bunda. Tadi Anggi lagi dirumah Mas Dion pas Bunda nelpon. Lagi bantu Bunda nya Mas Dion masak" jelas Anggi dengan senyum yang terus terkembang di bibirnya.
"Anggi" lirih Mommy Rianti yang sudah berkaca kaca melihat gadis cantik dihadapannya itu.
Anggi yang peka pun lantas menoleh dan mendapati tiga orang tamu Bunda Ayu nya berada diruangan itu juga.
Anggi tersenyum ramah. Ia merasa heran kenapa tamu Bunda nya ini menatapnya seperti itu. Dengan mata mereka yang berkaca kaca.
"Bunda ada tamu iya? Apa Anggi ganggu?"
"Tidak sayang. Kamu duduk disini aja iya. Kita tunggu Dion dulu"
"Sayang kenapa kamu selalu berlari setiap kali datang kesini. Kalau kamu jatuh gimana?" omel Dion yang baru saja masuk kedalam ruang tamu itu.
"Hehehehe maaf Mas. Abis kangen sama Bunda" ucap Anggi yang memamerkan giginya.
"Jangan diulangi sayang. Mas nggak mau kamu kenapa napa" ucap Dion dengan lembut.
Dion pun menyapa Bu Ayu, danBu Ayu memintanya untuk duduk juga disebelah Anggi.
Dion menatap para tamu. Dan ia terkejut ketika melihat Daddy Steven.
"Tuan Steven Danuarta senang bertemu dengan Anda" ucap Dion sambil mengulurkan tangannya kearah Daddy Steven.
"Kamu kenal saya?" tanya Daddy Steven bingung.
"Iya Tuan. Saya Dion Wijaya asistennya Tuan Dayyan Pratama. CEO Pratama. Corp" jelas Dion.
"Tidak masalah Tuan"
Dion tau apa tujuan Bu Ayu meminta Anggi segera datang. Pasti berhubungan dengan keluarga ini.
"Baiklah karena Anggi sudah datang mari kita mulai saja"
"Ada apa ini Bunda?" tanya Anggi bingung.
"Anggi apa kamu masih mencari keberadaan orang tua kandung mu?" tanya Bu Ayu.
"Masih Bunda. Karena Anggi ingin sekali bertemu dengan mereka. Selain itu Anggi juga butuh untuk wali nikah Anggi nanti Bunda" jawab Anggi sedih.
"Apa kamu tidak membenci mereka?" tanya Bu Ayu lagi.
"Tidak Bunda. Anggi tidak pernah membenci mereka. Mungkin mereka memiliki alasan khusus kenapa Anggi sampai tinggal disini bersama Bunda" jawab Anggi yang matanya mulai berkaca.
Dion segera menggenggam tangan Anggi. Ia yakin ini tidak akan semudah yang diharapkan.
"Apa kamu masih memakai kalung yang Bunda suruh sayang?"
"Masih Bunda. Anggi selalu memakainya" jawab Anggi sambil mengeluarkan kalungnya dari balik baju dress nya.
"Bis kamu lepas sebentar sayang" pinta Bu Ayu.
Tanpa menjawab Anggi melepaskan kalung itu. Ini untuk pertama kali nya Anggi melepaskan kalung itu.
Bu Ayu segera meletakkan kalung itu disebelah gaun bayi nya Anggi dulu.
__ADS_1
"Nyonya Rianti apakah benar itu kalungnya?" tanya Bu Ayu memastikan.
"Bisa saya memegangnya Bu?" pinta Mommy Rianti yang dibalas anggukan oleh Bu Ayu.
Mommy Rianti langsung mengambil kalung itu. Lalu ia melihat dibalik liontin nya. Ia akan memeriksa apakah dikalung itu masih tertera nama anaknya atau tidak. Dan ternyata ia melihat dengan jelas, itu memang kalung yang ia pesan khusus untuk anaknya.
Lagi dan lagi Mommy Rianti kembali menangis. Ia menatap Anggi dengan sorot kerinduan.
Sebenarnya sekali lihat saja orang sudah bisa menebaknya, kalau Anggi memang anak mereka. Wajah yang perpaduan antara Mommy Rianti dan Daddy Steven. Bola mata berwarna biru mengikuti Daddy nya.
"Bagaimana Nyonya?" tanya Bu Ayu untuk memastikan kembali.
"Benar Bu. Ini kalung yang saya pesan khusus untuk putri saya ketika iya baru lahir" jelas Mommy Rianti yang terus menatap kearah Anggi.
Anggi yang bingung dengan situasi yang ada segera memanggil Bu Ayu.
"Bunda ini ada apa?"
"Anggi ini kalungnya pakai lagi" ucap Bu Ayu memberikan kembali kalung Anggi.
Anggi pun segera memakainya.
"Anggi perkenalkan mereka Nyonya Rianti, ini suaminya Tuan Steven Danuarta, dan itu anaknya Thomas. Mereka datang kesini mencari anaknya yang telah hilang 26 tahun yang lalu. Coba kamu lihat ini sayang" ucap Bu Ayu sambil menunjukkan foto yang diberikan oleh Mommy Rianti tadi.
"Ini bukannya Anggi iya Bunda? Kok fotonya ada 2? Tapi yang ini terlihat lebih bersih dan yang ini seperti Anggi yang sudah tidak terawat. Tapi siapa foto yang terlihat lebih bersih ini Bunda?" tanya Anggi.
"Itu anak mereka yang hilang sayang"
"Tapi bagaimana mungkin wajah anak mereka mirip dengan Anggi Bunda?"
"Kare-"
Belum selesai Bu Ayu menjelaskan tapi suara dari Mommy Rianti sudah terdengar lebih dulu.
"Anggita Maharani Danuarta. Lahir di Jakarta tanggal 1 februari 1997, golongan darah Rh-Null. Kamu memiliki tanda lahir dipunggung sebelah kanan, dibahu sebelah kiri dan yang terakhir dipaha sebelah kanan. Kamu juga tidak bisa memakan buah anggur. Kamu alergi susu sapi. Apakah itu semua benar Sayang?" tanya Mommy Rianti yang berbicara dengan suara bergetar.
"Bagaimana Nyonya bisa tahu?" tanya Anggi pelan.
"Dad, dia benar Anggi kita Dad. Dia putri kita Dad" ucap Mommy Rianti yang kini terisak.
"Bunda apa maksud Nyonya itu?" tanya Anggi dengan mata yang sudah berembun.
Ia berharap kalau mereka benar keluarga yang selama ini dicarinya.
"Mereka orang tua kandung kamu sayang. Mereka datang mencari kamu" jelas Bu Ayu.
"Ibu" ucap Anggi pelan.
Ia menunduk. Air matanya tanpa terasa sudah menetes. Dion yang melihatnya semakin mengeratkan genggamannya.
Anggi pun menatap kearah kekasihnya. Ia melihat Dion mengembangkan senyumnya.
"Tunggu apa lagi sayang? Apa kamu tak ingin memeluknya? Memeluk Ibu kandung kamu yang selama ini kamu cari?" tanya Dion yang mengerti perasaan Anggi.
"Mas" panggil Anggi meminta persetujuan.
Dion hanya menanggapinya dengan anggukan kepala. Seketika Anggi melepas tangannya dari genggaman Dion. Dan berjalan cepat kearah Mommy Rianti yang sudah terisak didalam pelukan suaminya.
"Ibu" panggil Anggi pelan.
Tanpa menjawab Mommy Rianti langsung memeluk tubuh putrinya. Putri yang dirindukannya selama ini. Ia terisak didalam pelukan putrinya untuk pertama kali.
__ADS_1
"Putri Mommy. Anggi nya Mommy. Akhirnya Mommy bertemu dengan kamu sayang. Maafkan Mommy yang dulu teledor menjagamu sayang" ucap Mommy Rianti yang terisak didalam pelukan Anggi.
Kedua anak dan Ibu itu pun berpekukan saling terisak. Saling melepas rindu. Rindu yang selama ini selalu membuat dada mereka begitu sesak.