
"Dengar baik baik iya Syeril. Yang pertama Breena dia itu anak nya Dokter Doni Abraham, pemilik rumah sakit tempat kita KOAS. Rumah sakit mereka ada di setiap kota dan Provinsi. Dia juga istri dari pengusaha dan anak Kyai pemilik pondok pesantren Al-Hidayah. Suami nya CEO Pratama.Corp." ucap Anita sambil menatap Breena yang masih bersikukuh ia yang akan membayar nya.
"Yang ke dua yang jemput kita tadi. Dia adalah Ani Yulia Admaja. Cucu dari keluarga Admaja pemilik Admaja Corporation. Kalau kamu ada lihat berita, dialah pewaris sah Admaja Corporation. Dia istri dari Brian Anderson. CEO AD GRUP" ucap Anita sambil menunjuk ke arah Ani.
"Yang ketiga, dia Anggita Maharani Danuarta. Anak sulung Steven Danuarta. Pemilik DN GRUP. Dia dan suami nya bekerja di Pratama.Corp." ucap nya menunjuk Anggi.
"Dan yang terakhir Selvi. Dia memang anak dari keluarga sederhana. Dia juga seorang guru. Tetapi kekasih nya adalah pilot keluarga Anderson. Kekasih nya juga anak angkat keluarga Anderson. Setelah kedua orang tua nya yang merupakan tangan kanan Martin Anderson meninggal" tunjuk nya ke arah Selvi.
Anita menatap Syeril setelah ia menjelaskan siapa mereka semua.
"Jadi kamu paham kan kenapa mereka berebut ingin membayar makanan kita. Itu uda pasti karena mereka memiliki kartu sakti ini" ucap Anita sambil mengangkat black card milik nya.
"Kamu juga punya kartu sakti itu Nita?" tanya Syeril tak percaya.
"Hehehe ada dua. Yang ini dari Papa ku dan satu lagi dari tunangan ku" ucap Anita dengan senyum lebar nya.
"Oke guys karena kalian berebut dan nggak selesai selesai. Jadi aku putus kan aku yang akan bayar makanan kita hari ini" ucap Anita mengintrupsikan keempat wanita yang sedang berebut.
Kemudian Anita pun menyerahkan kartu nya ke pelayan. Dan langsung di proses oleh si pelayan. Membuat keempat nya mendengus kesal.
"Oke uda selesai. Ayo kita manja kan diri kita hati ini" ajak Anita yang langsung berlalu menggandeng lengan Syeril.
Dengan terpaksa ke empat wanita itu pun mengikuti mereka. Ani langsung menggendong Quin yang kata nya kekenyangan itu.
Anita yang tau dimana butik langganan nya Breena pun langsung menuju ke butik itu tanpa melihat ke arah belakang.
__ADS_1
"Nit, enak iya jadi anak orang kaya. Mau beli apa apa aja bisa langsung beli. Nggak nunggu besok besok" ucap Syeril dengan wajah sendu nya.
"Nggak semua nya enak Ril. Ada juga nggak enak nya. Memang Gue akui, terlahir dari keluarga pengusaha itu enak, apa apa pasti bisa di beli langsung. Tapi ada harga yang tak bisa di bayar dengan apa pun ril. Contoh nya, waktu Gue masih duduk di bangku sekolahan, orang tua Gue sibuk dengan urusan kantor. Mereka sering keluar kota bahkan keluar negeri. Dan Gue hanya bisa tinggal di rumah sama pelayan. Lo tau nggak apa yang buat Gue iri sama teman teman sekolah Gue?" tanya Anita yang mendapat gelengan kepala Syeril.
"Gue iri lihat teman teman Gue yang selalu di antar sama kedua orang tua nya. Sedang kan Gue hanya di antar sama pelayan dan supir. Tapi di balik itu semua, Gue cuma yakinin hati Gue kalau orang tua Gue sibuk kerja itu untuk kebahagiaan Gue nanti nya. Dan itu terkabul Ril. Sekarang setelah bisnis Papa Gue sukses. Mereka pun lebih banyak menghabiskan waktu nya sama Gue" ucap Anita dengan ekspresi yang berubah ubah.
"Gue baru tau itu Nit." ucap Syeril sungkan.
"Nggak papa Ril. Itu juga uda berlalu. Oke kita uda sampai" ucap Anita ketika mereka tanpa terasa sudah berada di depan butik langganan nya Breena.
Tak lama Breena dan yang lain nya pun juga sampai. Mereka memasuki butik tersebut.
"Oke kita pencar iya cari baju nya" ucap Breena yang langsung menarik tangan Selvi.
Sedangkan Anggi bersama dengan Ani dan Quin. Dan Anita bersama Syeril.
Sedangkan Anggi membeli baju untuk nya dn suami nya. Tak lupa ia juga membeli untuk keluarga nya.
Ani sendiri hanya membeli beberapa gamis untuk keseharian nya. Dan membeli banyak baju untuk Quin. Ia yang gemas melihat model baju untuk anak anak yang lucu lucu pun membeli nya untuk Quin. Quin sendiri yang di pilih kan baju sama Bunda nya pun terlihat sangat bahagia.
Di tempat yang lain Anita yang sedang asyik memilih baju pun terpaksa harus berhenti karena melihat Syeril yang sedari tadi mengikuti nya dan tak memegang satu baju pun.
"Kamu kenapa Syeril?" tanya Anita heran dengan tingkah Syeril yang diam saja.
"Nggak kenapa kenapa Nita. Uda kamu lanjut aja milih nya"
__ADS_1
"Kamu nggak milih baju?" bukan melanjutkan sesuai permintaan Syeril. Tapi Nita justru bertanya.
"Nggak Nit. Kalian aja yang belanja. Aku nemenin kalian aja" ucap Syeril menunduk.
"Kenapa?" tanya Nita yang melihat wajah sedih Syeril yang menunduk.
"Aku nggak sanggup kalau beli baju disini Nit. Baju nya bagus bagus dan mahal mahal. Uang aku nggak cukup" lirih Syeril.
"Uda kamu pilih aja. Tenang ada 5 black card yang bisa bayarin belanjaan kamu. Apa kamu lupa kalau Papa Doni tadi uda ngasih black card nya untuk membayar belanjaan kita?" ucap Nita santai kemudian ia melanjut kan kegiatan nya.
Syeril masih diam saja. Anita yang geram pun langsung menarik tangan Syeril untuk memilih baju yang ia mau. Dengan terpaksa Syeril pun memilih nya juga.
Mereka semua larut dalam pilih memilih baju yang mereka ingin kan. Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang menatap gerak gerik mereka.
"Kamu terlihat bahagia banget sayang. Apa kamu sebahagia itu memiliki Bunda yang sangat menyayangi mu? Maaf kan Mommy sayng. Maafkan Mommy yang sudah meninggalkan mu bersama Daddy mu. Maafkan kebodohan Mommy Quin" ucap wanita itu dalam hati sambil melihat tawa canda anak nya Quin.
Tepukan di bahu nya mengalihkan perhatian Nova dari tubuh mungil anak nya itu.
"Jangan hanya di liatin saja. Di samperin kalau memang kamu merindukan nya. Aku yakin dia pasti senang melihat mu. Dia pasti juga merindukan dirimu" ucap sahabat nya Nova.
"Aku nggak berani" jawab nya lirih.
"Kenapa? Apa karena ada Breena? Atau karena Ibu sambung nya Quin?" tanya sahabat nya itu.
"Semua nya. Aku nggak mau buat Breena dan Ani merasa tidak nyaman dengan keberadaan ku. Walau pun Breena sudah memaaf kan ku, tapi aku masih takut untuk bertemu dengan nya. Apa lagi itu ada Anita. Aku yakin pasti Anita juga tak mau melihat ku mendekati mereka" ucap Nova berspekulasi sendiri.
__ADS_1
"Ck! Kita nggak akan tau kalau nggak di coba. Uda ayo kita samperin mereka. Quin pasti senang kalau kamu juga membeli kan nya baju" ucap sahabat nya itu sambil menarik tangan Nova, berjalan mendekati Quin dan Ani.
"Quiinn..."