Ustadz Itu Imamku

Ustadz Itu Imamku
Malam Pertama Bersama Keluarga Selvi


__ADS_3

Malam hari nya, Juan sudah berkumpul dengan semua keluarga Selvi yang masih berada di rumah Selvi. Mereka akan makan malam bersama.


Biasa nya Juan akan makan malam duduk di atas meja makan mewah, lengkap dengam banyak nya menu masakan yang di masak langsung oleh koki khusus di mansion Anderson, atau masakan dari Nyonya Anderson sendiri. Makan dengan sendok dan garpu, atau bisa dengan pisau dan garpu untuk makam steak.


Tapi malam ini dia akan makan masakan sederhana dan duduk di lantai beralaskan karpet. Tidak ada sendok, garpu atau pun pisau. Mereka akan makan dengan tangan.


Juan yang tak pernah makan dengan tangan pun merasa kikuk sendiri. Dia masih berpikir bagaimana cara nya dia makan pakai tangan. Juan memperhatikan satu persatu anggota keluarga Selvi yang menikmati makan malam mereka dengan lahap makan dengan tangan langsung.


Devano yang melihat kekikukan teman lama nya ini pun terkekeh melihat wajah bingung nya Juan.


"Kenapa Bro? Nggak bisa makan pakai tangan iya?" tanya Devano yang membuat semua anggota keluar Selvi menatap tak percaya kearah nya.


Juan yang semakin kikuk pun menggaruk tengkuk nya yang tak gatal.


"Kamu nggak bisa makan pakai tangan Juan?" tanya Ayah Galih yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Juan dengan canggung.


"Juan memang nggak bisa makan langsung pakai tangan Om. Dulu aja waktu di sekolah penerbangan Juan selalu membawa sendok dan garpu di dalam tas nya. Jadi hanya dia lah di antara kami satu kelas yang tak bisa makan pakai tangan langsung Om" jelas Devano sambil terkekeh.


"Lo mah, buka aib aja Dev. Malu Gue"


"Maaf Abang. Selvi lupa" ucap Selvi yang langsung berdiri dan bersiap mau pergi ke dapur mengambil sendok dan garpu.


Dengan cepat Juan langsung melarang Selvi pergi. Juan menahan tangan Selvi dan tersenyum hangat.


"Nggak perlu sayang. Abang pakai tangan aja"


"Tapi..."


"Nggak papa sayang. Uda kamu duduk aja. Lanjutin makan kamu" pinta Juan dengan suara lembut nya.


Selvi menuruti ucapan Juan. Dengan inisiatif nya Selvi justru menyuapi Juan di depan keluarga nya.

__ADS_1


"Aaaaa"


Juan pun menerima suapan dari tangan Selvi dengan senyum yang tak luntur dari wajah tampan nya.


"Terima kasih sayang" ucap Juan setelah menelan nasi yang di suapi Selvi.


Makan malam pun kembali di lanjut kan. Dengan Juan yang selalu di suapi oleh Selvi. Kedua orang tua Selvi dan yang lain nya memaklumi apa yang di lakukan Selvi. Sebab mereka semua tau kalau Juan tidak bisa makan pakai tangan langsung.


Selesai makan malam, mereka semua berkumpul masih di ruang tamu, setelah semua piring di bersihkan dan di bawa ke dapur oleh para wanita.


"Ayah, maaf Juan mau izin, besok mau bawa Selvi ke mansion Anderson. Tadi Daddy meminta Juan dan Selvi kesana besok. Ada yang mau di bahas Daddy, kata nya ini penting. Apa boleh Yah?" tanya Juan meminta izin.


"Boleh Nak Juan. Apa kalian langsung pindah besok?"


"Belum tau Yah. Juan belum bicarakan hal ini lagi sama Selvi. Mungkin nanti Juan bahas sama Selvi Yah bagaimana baik nya"


"Apa kalian nanti akan tinggal di mansion Anderson?" tanya Devano.


"Loh kenapa gitu nak Juan?" tanya Ayah Galih tak mengerti.


"Kata Mommy, kasihan nanti Selvi tinggal sendirian di apartemen kalau Juan lagi terbang dan nggak pulang Yah. Jadi Mommy minta Selvi juga tinggal di mansion Anderson. Kalau menurut Ayah bagaimana?" tanya Juan meminta pendapat mertua nya.


"Kalau menurut Ayah. Ketika seorang anak perempuan sudah menikah. Dia bharus ikut kemana pun suami nya membawa nya untuk tinggal bersama. Mau bersama kedua orang tua nya, atau rumah sendiri. Itu semua pilihan kalian berdua. Kalian harus berembuk terlebih dahulu, untuk memastikan kalian akan tinggal dimana. Coba nanti kamu bahas sama Selvi. Kira kira dia mau atau tidak tinggal di mansion Anderson" ucap Ayah Galih menasehati Juan.


"Ayah benar. Nanti Juan akan bahas lagi sama Selvi. Lagian Juan lusa mau bawa Selvi honemoon Yah" ucap Juan malu malu.


"Lah pake malu malu segala" cibir Devano.


"Emang mau di bawa kemana Selvi nya nak Juan?" tanya Ayah nya Nindi.


"Emmm yang dekat dekat aja Pakde. Maksud nya mau bawa Selvi ke Aceh. Mau ke Sabang. Terus nanti mau ke Danau Toba juga"

__ADS_1


"Waduuhh mau kesana rupa nya. Boleh ikut?" tanya Ayah nya Nindi.


Devano dan Ayah Galih tertawa mendengar pertanyaan yang di lontar kan oleh Kakak nya dan mertua nya itu.


"Pah, orang mau honeymoon kok malah mau ikut sih. Duuhhh si Papa aneh aneh" ucap Devano yang tertawa lepas.


"Bener Devano Mas. Mana mungkin Mas bisa ikut. Orang mereka mau honeymoon. Nanti gagal Mas calon cucu ku kalau Mas ikut sama mereka" ucap Ayah Galih yang membuat Juan semakin kikuk.


"Iya juga iya. Duuhh Dev kamu sama Nindi ikut aja sana. Mana tau kan kalian bisa nambah anak lagi" ucap Ayah Nindi memberi ide.


"Itu ide bagus Pah. Tapi kaya nya nggak mungkin bisa deh kami cuti dalam waktu dekat ini Pah. Jadwal penerbangan Dev lagi padat padat nya. Mungkin bisa di atur ulang untuk honeymoon kedua nya mereka biar bisa barengan sama kami Pah" ucap Devano memberi ide untuk honeymoon bareng sama Juan dan Selvi.


"Kalau mau honeymoon baren itu nanti Dev, sama para pengusaha. Tinggal pilih mau ke pulau mana, karena di circle kita punya 3 pulau pribadi"


"Pulau Pribadi" ucap Ayah Galih dan Ayah Nindi berbarengan karena terkejut mendengar pulau pribadi.


"Iya Yah, Pakde. Breena dan Dayyan punya dua pulau pribadi, hadiah dari Brian atas kehamilan bayi kembar nya. Dulu kami pikir anak mereka twins. Nggak tau nya yang lahir triplet. Dan ada satu pulau pribadi milik Brian dan Ani hadiah atas kehamilan Ani dulu dari Breena dan Dayyan" jelas Juan yang semakin membuat Ayah Galih dan Ayah Nindi ternganga tak percaya.


"Bahkan Selvi juga pernah kesana loh Yah, kepulau pribadi Breena dan Dayyan yang di kepulauan Berau" ucap Juan lagi.


"Wwaaahhh sekaya apa iya mereka Mas. Punya pulau pribadi. Semahal apa iya pulau itu mereka beli?" tanya Ayah Galih.


"Jangan di bayang kan Galih. Nnati kamu pusing sendiri" ucap Ayah Nindi yang tau kalau adik nya itu sedang membayang kan berapa banyak uang yang mereka pakai untuk membeli pulau pribadi itu.


"Emang boleh gitu orang luar ikut Ju?" tanya Devano.


"Boleh lah. Yang penting kan masih ada hubungan nya sama kita kita. Lagian mereka itu bukan orang yang sombong kok. Walau pun mereka kaya tapi mereka orang nya baik dan rendah hati. Mereka nggak mau pas lagi ngumpul yang di anggar kan itu kekayaan mereka. Lo pasti senang gabung sama mereka nanti nya" ucap Juan membangga kan bagaimana baik nya keluarga mereka.


"Boleh deh. Nanti kalau kalian mau liburan bareng. Ingat ajak ajak Gue sama Nindi. Gue jadi pengen tau bagaimana gaya liburan nya para pengusaha itu"


"Aman nanti Gue ajak Lo" ucap Juan.

__ADS_1


__ADS_2