
Ansel yang mendengar ucapan yang keluar dari mulut nya Dayyan pun menganga tak percaya. Dia merasa bingung. Suami adik nya ini memang kelebihan uang atau memang dia yang suka berbagi rezeki dengan orang lain.
"Lagi?" tanya Ansel sekali lagi yang masih tak percaya.
"Iya kak. Ini yang jualan Kang Imron. Salah satu kang santri senior di pondok Abah. Karena dia sudah menikah, jadi dia dan istri nya memutus kan mboyong dari pondok. Dan buka usaha jualan batagor disini. Jadi mumpung kita ketemu. Kan nggak ada salah nya aku berbagi rezeki sama dia kak. Selagi niat kita baik kan pahala yang kita dapatin kak. Yang penting kita ikhlas melakukan nya. Lagian yang kita beli juga kan nanti bukan untuk di buang kak. Tapi di bagi kan ke anak anak satri yang ada di pondok. Semoga aja cukup yang kita bawa untuk mereka" ucap Dayyan panjang lebar.
Ansel pun hanya bisa ngurut kening nya yang tiba tiba berdenyut nyeri. Ia baru tau kalau ternyata Dayyan, suami adik nya ini memang suka berbagi.
Tak lama Kang Imron pun menghampiri mereka.
"Maaf Gus. Ini batagor nya sudah siap." ucap Kang Imron sopan.
"Iya kang. Jadi ada berapa Kang batagor nya?"
"Ada 200 bungkus Gus"
"Yowes rapopo kang. Jadi berapa semua nya kang?"
"Nggak usah Gus. Anggap aja ini titipan dari saya untuk Umma dan Abah" tolak kang Imron ketika Dayyan menanyakan berapa harga batagor nya.
"Iya nggak bisa gitu dong Kang. Kan saya tadi bilang nya pesan. Berarti saya harus bayar dong"
"Nggak usah Gus. Saya ikhlas"
"Saya juga ikhlas Kang" ucap Dayyan yang langsung mengambil uang yang ada di tas nya.
"Ini kang. Semoga cukup iya" ucap Dayyan sambil memberikan uang nya kepada Kang Imron.
"Tapiii...."
"Jangan di tolak kang. Itu rezeki untuk kang Imron. Selamat untuk pernikahan nya iya Kang. Maaf kalau kami nggak bisa datang saat acara nya. Salam iya kang sama istri nya kang Imron" ucap Breena memotong ucapan Kang Imron yang kembali ingin menolak uang yang di berikan Dayyan.
"Alhamdulillah. Terima kang Gus , Ning. Semoga rezeki kalian lancar. Terima kasih Ning. Nanti saya sampai kan salam Ning Breena sama istri saya" ucap Kang Imron dengan mata yang berkaca kaca.
"Iya uda kalau gitu kita pergi dulu iya kang. Mau lanjutin perjalanan. Jangan lupa mampir kang ke pondok kalau lagi senggang" ucap Dayyan sambil menepuk bahu kang Imron.
__ADS_1
"Nggih Gus. Insya Allah besok saya akan main ke pondok Gus"
"Iya uda kalau gitu kita semua permisi iya kang"
Assalamualaikum
Ucap mereka semua nya lalu langsung meninggal kan warung batagor nya kang Imron. Sedangkan batagor yang sudah dibungkus pun sudah di bawa oleh bodyguard nya Dion tadi.
Sesampai nya di parkiran mobil, Dayyan sudah melihat semua orang sudah berkumpul dan sedang menunggu kedatangan mereka.
"Maaf lama iya nunggu nya" ucap Dayyan tak enak hati.
"Nggak papa. Darimana?" tanya Brian mewakili yang lain nya.
"Abis jalan sebentar. Ketemu tukang batagor. Iya uda kita singgah ke warung nya. Nggak tau yang jualan dulu nya kang santri senior di pondok Abah. Iya uda kita berbincang sebentar." jelas Dayyan.
"Terus itu apa?" tanya Dion menunjuk ke arah bodyguard nya yang sedang memasuk kan batagor ke dalam mobil mereka.
"Batagor lah. Ini anak borong lagi. Mana tadi pakai acara drama nggak mau di bayar lagi" keluh Ansel.
"Tapi tadi jadi di bayar juga kan Mas?" tanya Angga yang penasaran.
"Iya Ngga. Iya walau pun dia sempat menolak juga sih sebenar nya. Iya yuk kita lanjut kan perjalanan nya. Sebentar lagi juga kita sampai kok" ajak Dayyan yang langsung di balas anggukan sama mereka semua.
Satu persatu mereka memasuki mobil masing masing. Seperti tadi saat berangkat, kini Dayyan pun kembali melajukan mobil nya terlebih dahulu untuk memimpin jalan menuju ke pondok pesantren milik Abah nya.
Perjalanan yang mereka tempuh tinggal 40 menit lagi. Perkiraan Dayyan mereka akan sampai sebelum adzan Magrib berkumandang.
Di sepanjang jalan menuju ke pondok pesantren Al-Hidayah. Semua mata di manja kan dengan hamparan sawah yang terbentang luas. Serta ada kebun strawberry juga yang buah nya tampak memerah di lihat dari jauh.
Breena sudah seperti ingin ngences melihat hamparan kebun strawberry itu. Dia menatap ke arah suami nya yang sedabg fokus menyetir.
"Mas, besok kita ke kebun itu iya" ucap Breena sambil menunjuk ke arah kebun strawberry tadi.
"Ia sayang. Mau jam berapa kesana nya?" tanya Dayyan tanpa melihat ke arah Breena karena dia masih fokus dengan jalanan.
__ADS_1
"Emmm gimana kalau jam sepuluh Mas. Atau jam empat sore aja sekalian biar nggak panas" tawar Breena.
"Boleh sayang. Kita sore aja kesana nya."
"Makasih Abi" ucap Breena dengan senyum tulus nya.
"Sama sama Umi" balas Dayyan sambil mengacak hijab Breena.
Tak berbeda jauh dengan Dayyan dan Breena. Di mobil yang lain nya pun oara wanita juga mengajak para pria untuk ke kebun strawberry besok hari nya.
Tak terasa saat inu mobil yang mereka kendarai sudah memasuki gerbang pondok pesantren Al-Hidayah.
Para santri pun menatap takjub ke arah mobil mobil yang melaju menuju ke rumah Kyai mereka.
Satu persatu mobil itu pun berhenti dan mensejajar kan mobil nya dengan mobil Dayyan.
Dayyan yang biasa nya memarkir kan mobil nya ke bagasi setiap dia datang. Tapi untuk hari ini dia memarkir kan mobil nya di halaman ndalem.
Umma Hanum yang mendengar suara ribut di halaman rumah nya pun berjalan tergopoh gopoh. Ia ingin melihat ada apa di halaman rumah nya.
Langkah nya terhenti ketika ia melihar anak, menantu beserta cucu cucu nya keluar dari dalam mobil.
"ABAAAAHHHH" teriak Umma Hanum yang kegirangan.
Abah Arsya yang sedang berada di dalam perpustakaan nya pun terperanjat mendengar teriakan Umma Hanum. Abah Arsya gegas keluar dari ruangan perpustakaan. Dan langsung menuju ke arah istri nya.
"Ada ap...."
"Assalamualaikum Kakek Nenek" ucap salam Dayyan dan Breena dari arah pintu masuk yang audah terbuka.
"Wa'alaikum salam" lirih Abah Arsya menatap ke arah Dayyan tak percaya.
"Lah si Abah malah bengong" celetuk Ansel yang menyadar kan Abah.
"Kalian datang" ucap Abah dengan mata yang sudah berembun.
__ADS_1