
Setelah ke pergian Pak Hasan yang di bawa oleh Polisi dengan tangan yang terborgol. Di dalam ruangan rapat itu masih hening. Tak ada yang bersuara satu pun kecuali suara isakan yang terdengar dari Breena.
Dayyan terus memeluk dan mengelus punggung Breena memberikan Breena ketenangan. Ia tau kalau istri tercinta nya itu pasti syok karena di todong pisau tadi di perut nya.
"Uda iya sayang. Jangan nangis lagi iya. Pak Hasan uda di bawa sama polisi" ucap Dayyan lembut. Namun tetap saja Breena masih menangis terisak.
Cukup lama Dayyan menenang kan istri nya. Hingga 30 menit kemudian Breena pun mulai tenang. Bukan hanya tenang, Breena bahkan sampai tertidur dipelukan Dayyan karena kelelahan menangis.
"Kalian semua jangan ada yang keluar dari ruangan ini. Saya akan membawa istri saya ke ruangan saya terlebih dahulu. Setelah itu kita mulai lagi rapat nya" ucap Dayyan tegas.
Lalu iaenggendong Breena dan membawa Breena ke ruangan nya. Setelah meletak kan Breena.
"Mas tinggal dulu iya sayang. Kamu istirahat aja disini. Mas mau menyelesai kan tugas Mas dulu. Setelah itu kita pulang iya" ucap Dayyan lembut sambil mengelus kepala dan perut Breena. Tak lupa ciuman hangat di kening Breena"
Dayyan berjalan dengan tegas menuju ke ruang rapat kembali. Semua yang masih berada di ruang rapat pun menunduk melihat kedatangan Dayyan.
"Anggi, terima kasih karena sudah menyelamat kan istri dan calon anak anak saya" ucap Dayyan tulus menatap ke arah sekretaris nya.
"Sama sama Pak"
Sementara Rion masih menatap tak percaya ke arah istri nya yang sedari tadi menunduk. Anggi tak berani menatap mata sang suami. Ia tau pasti suami nya itu memiliki banyak pertanyaan.
"Baik lah Pak Zainal. Ada yang mau kamu sampai kan sama Saya?" tanya Dayyan dengan aura dingin nya.
"Saya minta maaf Pak Dayyan. Saya melakukan itu karena saya juga membutuh kan biaya yang besar untuk mengobati Ibu saya yang terkena sakit kanker rahim. Maaf kan saya Pak. Saya terpaksa melakukan nya" ucap Pak Zainal menyesal.
"Apa gaji yang saya berikan masih kurang Pak Zainal? Sehingga kamu membutuh kan biaya tambahan"
"Maaf Pak Dayyan. Kalau boleh jujur sebenar nya gaji saya kurang untuk kebutuhan kami Pak" ucap Pak Zainal menunduk.
"Kurang? Setau saya, gaji di posisi kamu itu 25 juta sebulan. Apa itu kurang untuk menghidupi kamu dan Ibu mu?" tanya Dayyan heran.
"25 juta?" ucap Pak Zainal yang syok mendengar gaji nya.
"Tapi Pak. Maaf kalau saya lancang. Saya setiap bulan hanya mendapatkan gaji 5 juta pak. Bukan 25 juta. Karena itu lah saya dengan terpaksa menuruti perintah nya Pak Hasan." jelas Pak Zainal.
"Anda jangan bercanda Pak Zainal. Tidak mungkin kamu hanya mendapat kan gaji 5 juta. Sedangkan gaji pokok kamu saja itu 25 juta, belum termasuk uang lemburan dan makan kamu" bentak Dayyan.
__ADS_1
"Saya tidak bercanda Pak. Saya memiliki bukti kalau setiap bulan gaji saya hanya di transfer 5 juta"
Pak Zainal pun maju kedepan. Ia membawa ponsel nya dan menunjuk kan berapa gaji nya yang masuk. Dan benar saja, Dayyan dapat melihat jumlah transferan setiap tanggal 28 itu selalu masuk 5 juta.
"Berapa lama Pak Zainal bergabung di perusahaan saya?"
"Sudah 6 bulan ini Pak. Dan setiap bulan nya saya memang mendapat gaji 5 juta" ucap Pak Zainal yang masih menunjuk kan bukti transferan nya.
"Dion. Selidiki semua nya. Bagaimana bisa karyawan saya yang seharus nya mendapat kam gaji diatas UMR, justru hanya mendapat kan 5 juta perbulan" teriak Dayyan.
BRRAAKKK!!
Suara dobrakan pintu ruang rapat pun terbuka. Terlihat di ambang pintu itu Papa Doni, Mama Ratih dan Asisten Papa Doni berdiri disana.
"Dayyan, apa yang terjadi dengan putri Papa? Kenapa Papa mendapat kabar kalau Breena tadi di todong dengan pisau?" tanya Papa Doni tanpa basa basi.
Melihat kedatangan kedua mertua nya, Dayyan pun beranjak dari kursi nya. Ia menghampiri kedua mertua nya. Kemudian menyalami dan mencium kedua tangan mertua nya.
"Maafin Dayyan Pah. Tadi ada rapat, tujuan di adakan nya rapat untuk mengungkap kan kejahatan yang di lakukan oleh karyawan Dayyan Pah. Tapi begitu ia mendengar kalau Polisi sudah berada di lobby, ia langsung menodongkan Breena dengan pisau tepat di perut nya Pah. Tapi Alhamdulillah, Anggi menyelamat kan Breena dan Anak anak Dayyan Pah. Anggi menembak tangan dan kaki karyawan Dayyan" jelas Dayyan menceritakan yang terjadi.
"Tapi Breena nggak papa kan Ian?" tanya Mama Ratih khawatir.
"Alhamdulillah" ucap kedua mertua nya lega. Putri satu satu nya mereka selamat dari bahaya.
"Lalu dimana Anggi?" tanya Mama Ratih.
"Mah" panggil Anggi dengan mata yang sudah berkaca kaca.
Mama Ratih langsung berlari menghampiri anak sahabat nya itu. Ia lalu memeluk Anggi.
"Terima kasih sayang, kamu sudah menyelamat kan anak dan cucu cucu Mama. Terima kasih" ucap Mama Ratih tulus.
"Sama sama Mah. Untung Anggi membawa pistol yang di berikan Daddy. Jadi Anggi bisa menyelamatkan Breena Mah"
"Sekali lagi terima kasih sayang"
"Iya uda kamu lanjut kan saja lagi Meeting nya. Papa akan tunggu kamu di ruangan kamu saja"
__ADS_1
"Iya Pah. Sebentar lagi rapat nya selesai kok. Nggi tolong antar kan Papa dan Mama ke ruangan saya"
"Siap Pak. Ayo Mah Pah kita ke ruangan Mas Dayyan dulu" ajak Anggi.
Baru dua langkah, Dayyan memanggil Papa mertua nya.
"Pah"
"Iya. Kenapa?"
"Bisa kah Ibu karyawan Dayyan pindah ke rumah sakit Papa?" tanya Dayyan ragu ragu.
"Kenapa?"
"Ibu nya terkena sakit kanker rahim Pah. Dan membutuhkan pengobatan yang bagus"
"Kamu tinggal suruh karyawan kamu itu untuk mengurus kepindahan Ibu nya ke rumah sakit Papa. Bilang saja kalau dia mendapat rujukan khusus dari Dokter Doni. Papa tunggu sampai besok pagi. Biar Papa minta nanti Dokter Via untuk menangani nya" ucap Papa Doni.
"Baik Pah. Terima kasih" ucap Dayyan dengan senyum cerah nya.
Papa Doni, Mama Ratih dan asisten nya di antar langsung oleh Anggi ke ruangan Dayyan. Sedangkan Dayyan masih harus meneruskan rapat nya.
Pak Zainal menatap bos nya dengan mata yang berkaca kaca. Ia terharu dengan yang dilakukam oleh Dayyan. Ia tak menyangka, orang yang telah di khianati nya, malah menolong nya.
"Terima kasih Pak" ucap Pak Zainal ketika Dayyan membalik kan badan nya.
"Sama sama. Segera urus kepindahan Ibu kamu. Dan untuk masalah gaji kamu. Mulai bulan depan kamu akan mendapat kan hak kamu sebagai karyawan di perusahaan saya"
"Terima kasih Pak. Terima kasih" ucap nya dengan suara bergetar.
Setelah itu rapat pun di bubar kan. Dayyan kembali ke ruangan nya, begitu pun dengan peserta yang lain nya.
Kabar Breena yang di todong dengan pisau pun menyebar luas di perusahaan suami nya itu. Tak hanya itu, Kabar tentang ditangkap nya Pak Hasan karena korupsi. Anggi yang memiliki senjata api pun juga tersebar luas. Bahkan yang membuat semua nya syok. Kabar tentang gaji yang di terima oleh Pak Zainal. Itu lah yang membuat mereka sangat syok. Bagaimana bisa gaji yang seharus nya 25 juta bersih belum di tambah uang lembur dan makan. Hanya mendapat kan 5 juta perbulan.
Bahkan pihak HRD pun langsung di introgasi secara langsung oleh pihak audit yang di awasi langsung oleh Dion.
Setelah 3 jam memeriksa semua nya, di temukan sebuah fakta. Bahwa surat kontrak yang di tanda tangani oleh Pak Zainal itu di palsu kan. Sehingga yang terlihat jelas disana bahwa Pak Zainal hanya mendapatkan gaji 5 juta tanpa ada nya lemburan dan uang makan. Tetapi yang di lapor kan ke atasan mereka justru yang 25 juta di tambah uang makan dan lemburan.
__ADS_1
Dion pun langsung menahan Manager HRD itu dan segera membawa nya ke ruangan Dayyan.