
Mama Ratih begitu senang saat memeriksa Ani yang ternyata memang sedang hamil. Begitu pun dengan Ani dan Brian mereka sampai menetes kan air mata nya. Tak menyangka kalau buah hati mereka sudah tumbuh di dalam rahim nya Ani.
"Sayang, terima kasih mau mengandung anak Mas" ucap Brian di sela tangis nya sambil menggenggam tangan Ani.
"Tidak perlu terima kasih Mas. Dia juga anak Ani" ucap Ani membalas genggaman tangan Brian lebih erat.
"Lihat lah. Dia sudah berusia 7 minggu" jelas Mama Ratih.
"Dia masih kecil sekali Mah"
"Iya, dia masih kecil sekali. Karena masih berusia 7 bulan. Oke sudah selesai" ucap Mama Ratih.
"Loh kok uda sih Mah? Apa segitu aja pemeriksaan nya?" tanya Brian dengan polos.
"Lah emang nya mau periksa apa lagi Bri? Kamu aneh iihhh. Kalau masih berusia muda dan masih trisemester pertama iya seperti ini. Emang mau begaimana lagi?" ucap Mama Ratih bingung dengan pertanyaan Brian.
"Apa nggak ada gitu lihat jenis kelamin nya Mah? Atau wajah nya Mah"
"Astaga Brian. Ini kehamilan anak kedua kamu loh. Masa kamu nggak tau bagaimana proses pembentukan janin setiap bulan nya" ucap Mama Ratih tak menyangka dengan pertanyaan yang terlontar dari mantan duda anak satu itu.
"Emang belum bisa iya Mah?" lirih Brian.
"Ckckck. Kamu memang ada ada aja Bri"
Mama Ratih menggelengkan kepala nya melihat tingkah nya Brian. Sedangkan perawat menahan tawa nya. Berbeda dengan Anita yang sudah tertawa. Ia tak sanggup melihat tingkah polos nya Brian.
"Ayo Nit, di bersihkan gel nya dulu" pinta Mama Ratih.
Anita pun mengerjakan apa yang di perintahkan oleh Mama Ratih.
Setelah selesai Ani bergabung bersama Mama Ratih dan Suami nya.
"Jadi kamu nggak ada ngalamin yang nama nya mual muntah dan ngidam Ani?"
"Nggak ada Mah. Malah Mas Brian yang ngalami itu semua. Permintaan nya juga aneh aneh Mah"
"Nasi goreng pete iya?" tanya Mama Ratih yang di angguki langsung oleh Ani.
__ADS_1
"Ya memang seperti itu kalau lagi ngidam. Apa yang tidak kita suka pasti kita ingin makan nya. Bahkan terkadang permintaan nya itu pun bisa di luar nalar kita. Ini Mama resep kan vitamin penguat sama obat anti mual iya"
"Obat Mah?" tanya Brian dengan wajah pucat nya yang sukses membuat Mama Ratih dan Anita tertawa.
"Ingat harus di habis kan" ucap Mama Ratih yang membuat wajah Brian lesu.
"Iya uda Mah kalau gitu kami permisi dulu iya Mah. Terima kasih Mah"
"Iya sama sama sayang. Di jaga iya calon cucu Mama. Mungkin nanti malam Mama sama Papa ke mansion Anderson"
"Kami tunggu iya Mah"
Ani dan Brian pun menyalami dan mencium tangan Mama Ratih. Kemudia mereka pun pergi dari ruangan itu.
"Ingat Bri harus habis iya obat nya. Jangan nggak diminum. Mbak Ani kalau dia nggak mau minum obat, jangan mau kalau disuruh masak kan nasi goreng pete lagi"
"Ck. Nyebelin kamu Nit"
Setelah mengatakan itu Brian langsung membawa Ani keluar. Anita pun tertawa lepas melihat wajah pucat Brian.
Sedangkan Mama Ratih mengambil ponsel dan mengirimi foto USG ke Grup mereka.
Itu lab yang di tulis Mama Ratih di grup. Seketika Grup mereka pun ramai karena kabar yang di bagikan oleh Mama Ratih. Mereka semua sepakat akan ke mansion Anderson nanti malam.
...****************...
Kalau keluarga Anderson sedang dilimpahi kebahagiaan. Berbeda dengan keluarga Bagaskara. Di mansion Calvin Bagaskara. Mommy Gantari sedang menangis sambil memeluk tubuh tegap putra satu satu nya. Bagaimana tidak. Ansel besok harus pergi ke Belanda, dan entah kapan ia akan kembali ke Indonesia lagi.
Bukan hanya Mommy Gantari yang sedih. Tetapi Daddy Calvin bahkan Ansel sendiri pun juga sedih. Sebenarnya ia tak sanggup untuk meninggal kan kedua orang tua nya dan keluarga yang lain nya. Namun rasa sakit hati nya dan kekecewaan nya harus ia sembuh kan.
Ansel bertekad akan menyembuh kan hati nya di Belanda, di mansion GranfMa nya. Ia akan kembali nanti kalau sudah bisa menyembuh kan hati nya. Dan ia berharap semoga saja disana ia akan menemu kan jodoh nya.
Ansel tak banyak membawa baju baju nya. Ia hanya membawa satu koper kecil yang isi nya barang barang penting milik nya saja.
"Ini sudah malam Mom. Ayo kita kembali ke kamar kita dan tidur" ajak Daddy Calvin yang sedari tadi berdiri di ambang pintu kamar Ansel.
"Daddy aja yang tidur disana. Mommy mau tidur sama Ansel malam ini" tolak Mommy Gantari yang masih erat memeluk putra nya itu.
__ADS_1
"Huufffttt. Baik lah. Malam ini kita tidur bertiga disini"
Daddy calvin mengalah. Ia lalu mengambil posisi di samping kiri ranjang king size milik putra nya. Sedangkan Mommy Gantari berada di tengah. Dan ansel berada di sampaling kanan.
Kedua pria Bagaskara itu memeluk Mommy Gantari sambil dengan sayang. Akhir nya malam itu di habis kan mereka tidur bersama. Sebab besok Ansel sudah terbang ke Belanda.
Pagi hari nya tepat pukul 08:00 WIB. Ansel sudah berada di Bandaraa bersama dengan kedua orang tua nya. Mereka sedang menunggu keluarga Doni Abraham. Karena bumil mereka meminta bertemu sebelum Ansel meninggalkan tanah air.
Penerbangan Ansel memang masih ada satu jam lagi. Jadi mereka menunggu di cafe yang ada di bandara. Sepuluh menit menunggu, akhir nya yang di tunggu pun datang juga.
Breena berjalan cepat menghampiri Kakak nya itu. Ia langsung memeluk sang Kakak erat. Tak tahan Breena pun menetes kan air mata nya. Ia terisak di pelukan Ansel.
"Kakak jahat. Kakak tega ninggalin Breena" ucap Breena sambil memukul dada Ansel.
"Maafin Kakak princess. Tapi Kakak memang harus pergi. Selain untuk menenangkan hati Kakak. Disana Kakak juga di butuh kan. Perusahaan lagi butuh bantuan Kakak. Uda iya jangan sedih lagi" ucap Ansel lembut.
"Tapi Kakak akan sering pulang kan?"
"Iya sayang. Nanti kalau kamu lahiran Kakak akan pulang."
"Janji?" ucap Breena sambil menjulurkan jati kelingking nya.
"Janji princess" Ansel pun juga menjulur kan jati kelingking nya dan menautkan kedua jati mereka.
Lama mereka di cafe itu, Mereka pun segera menuju ke pintu keberangkatan. Ansel kembali berpamitan pada mereka semua. Breena dan Mommy Gantari, lagi dan lagi menangis di pelukan Ansel.
"Uda dong Mom. Ansel pergi ke tempat GrandMa bukan mau perang"
"Hiks hiks tetap saja Mommy pasti akan kesepian kalau kamu pergi"
"Iya uda kalau begitu buat kan Ansel adik lagi biar mansion tidak sepi" ucap Ansel santai dan langsung mendapat kan hadiah pukulan dari Mommy nya.
"Awww sakit Mom. Iihh anak mau pergi masih sempat sempat nya di aniaya"
"Nyebelin"
Setelah puas berpamitan Ansel berjalan meninggal kan keluarga nya menuju ke ruang tunggu.
__ADS_1
"Selamat tinggal kenangan. Semoga disana aku bisa melupakan kenangan kenangan itu bersama mu. Dan semoga aku segera menemukan yang baru" ucap Ansel dalam hati.