
"Juan"
"Abang"
Panggil kedua nya kompak setelah melihat Juan yang sudah berada di toko perhiasan juga.
"Kamu suka itu sayang?" tanya Juan yang tak mempeduli kan raut terkejut kedua nya.
Selvi hanya mengangguk malu. Membuat Juan gemas melihat nya.
"Mbak kami ambil yang ini"
Ucap Juan setelah mencocok kan cicncin yang di pilih Selvi ke jari manis nya Selvi.
Mommy Aletha pun tersenyum melihat Juan yang berlaku manis terhadap Selvi. Dapat di lihat nya begitu besar cinta Juan kepada Selvi.
Setelah memilih cincin, Juan juga membeli kan Selvi satu set perhiasan. Awal nya Selvi menolak. Bukan karena ia tak mau, tapi karena Selvi merasa apa yang di berikan oleh Juan sudah lebih dari cukup.
Juan yang memang tidak suka penolakan tetap memaksa Selvi sampai akhir nya Selvi pun mau tidak mau menerima pemberian Juan.
Setelah selesai dari toko perhiasan, mereka pun kembali mencari seserahan yang lain nya.
Lebih dari tiga jam mereka habis kan untuk berbelanja seserahan. Bukan hanya seserahan saja yang di beli. Tapi barang pribadi ketiga Mommy, Breena, Ani dan Wilna.
Saat ini mereka semua berkumpul di restauran Italia. Karena kedua Ibu hamil sedang ingin makan pasta.
Saat sedang makan Dayyan dan Brian pun menghampiri meja mereka.
"Assalamualaikum" ucap Dayyan dan Brian.
"Wa'alaikum salam"
"Kalian disini?" tanya Mommy Aletha.
"Iya Mom. Kebetulan ada meeting sama rekan bisnis di restauran dekat Mall ini. Jadi Ian memilih menyusul kesini aja. Sekalian mau jemput Breena juga" ucap Dayyan setelah mencium kening Breena yang sedang makan.
"Kalau kamu ngapain kesini?" tanya Mommy Aletha menunjuk anak bungsu nya.
"Apa lagi kalau bukan nyusulin istri" jawab nya santai.
Mommy Aletha mendengus mendapati jawaban santai anak bungsu nya. Ia pun melanjut kan lagi makan nya tanpa menoleh kearah sang anak.
__ADS_1
"Sayang tumben makan pasta?"
"Lagi pengen Mas" jawab Ani disertai cengiran nya.
"Anak Daddy lagi pengen pasta ia. Kenapa nggak minta buat kan sama Daddy aja sih" protes Brian.
"Emang kamu bisa masak pasta Mas?" tanya Ani tak percaya.
"Bisa. Nanti di mansion Mas masakin kamu pasta. Biar kamu tau bagaimana enak nya pasta buatan Mas" ucap Brian membanggakan dirinya sendiri.
"Pede banget" ketus Breena.
"Uda uda ayo kalian sekalian pesan makan aja. Setelah itu baru kita pulang." lerai Mama Ratih.
Brian dan Dayyan pun hanya memesan minuman saja. Karena mereka masih merasa kenyang.
...----------------...
Di dalam mobil Dayyan saat ini Breena sedang bergelayut manja di lengan Dayyan. Sesekali Dayyan mengelus perut buncit nya Breena.
"Jadi kamu beli kan hadiah apa untuk Selvi sayang?" tanya Dayyan yang masih fokus ke jalanan.
"Iya nggak papa sayang. Yang penting tas nya berguna bagi Selvi"
Dayyan yang awal nya hendak kembali ke kantor pun akhir nya memilih pulang ke rumah mereka. Ia ingin menemani istri nya istirahat. Karena Breena mengeluh capek.
...----------------...
Keesokan hari nya. Sejak pagi Mommy Aletha sudah sibuk meminta para pelayan nya untuk menghias seserahan yang akan di bawa nya nanti malam ke rumah calon besan nya.
Ruang tengah mansion mewah itu tampak beberapa barang yang berserakan. Sebab begitu banyak barang seserahan yang di beli semalam. Belum lagi tadi pagi Juan kembali membeli beberapa barang lagi untuk Selvi yang memang belum sempat Juan beli.
"Mom, Ani bisa bantuin apa ini?" tanya Ani yang baru saja bergabung dengan Mommy Aletha dan Wilna.
"Tidak ada sayang. Kamu duduk manis aja di sofa. Bumil di larang kerja berat" ucap Mommy Aletha.
"Masa Ani nggak ada bantu bantu sih Mom. Kan Ani nggak enak sama Abang nanti" ucap Ani lesu.
"Tidak masalah Bumil. Bumil memang dilarang kerja berat. Jadi turuti aja apa yang di bilang Mommy. Abang nggak mau iya karena kecapekan Bumil jadi nggak ikut ntar malam. Abang mau kita semua datang ke rumah Selvi" ucap Juan yang baru datang entah dari mana.
"Iya deh. Bumil ngalah" ucap Ani lesu. Membuat yang ada disana tertawa geli.
__ADS_1
Malam hari nya, semua nya sudah berkumpul di mansion mewah Anderson. Mereka sedang menunggu para pelayan memasuk kan seserahan ke dalam mobil. Tiga mobil di gunakan untuk membawa seserahan. Karena begitu banyak nya seserahan yang di belikan Juan untuk Selvi.
Setelah selesai semua nya di masuk kan, mereka pun segera berangkat ke rumah Selvi. Total ada lebih dari 10 mobil yang datang ke rumah Selvi.
Di dalam mobil, Juan sudah terlihat gugup. Brian yang satu mobil dengan nya pun terkekeh melihat kegugupan seorang Juan. Pilot profesional yang biasa nya membawa burung besi terbang di atas awan. Kini terlihat gugup hanya karena akan melamar anak gadis orang.
"Gugup Bro?" tanya Brian yang di balas anggukan oleh Juan.
" Baru juga ngelamar uda gugup aja. Belum lagi akad nikah. Uda pasti lebih gugup. Bawa pesawat terbang di atas awan biasa aja. Eehh malah ngelamar gugup gini" goda Brian sambil terkekeh.
"Bawa pesawat kan memang uda kerjaan Gue sehari hari. Ini kan beda lagi Bri. Ini penentuan masa depan Gue" sungut Juan kesal.
"Hahahahaha santai aja. Rileks. Tarik nafas, hembus kan. Yakin aja kalau lamaran Lo di terima"
"Itu uda Gue lakuin dari tadi. Tapi masih gugup juga"
"Banyakin zikir Bang. Biar hati nya tenang" ucap Ani memberi saran.
"Abang coba iya. Semoga aja hati Abang langsung tenang"
Hampir satu jam mereka menempuh jarak dari mansion Anderson ke rumah sederhana nya Selvi. Akhir nya mereka pun sampai juga.
Halaman rumah Selvi yang sempit pun membuat mobil mereka tidak dapat parkir di halaman rumah. Alhasil Ayah nya Selvi pun meminta bantuan sama Pak RT untuk membantu mereka memarkirkan mobil nya di bahu jalan saja.
"Ayo keluar. Jangan gugup terus. Kita uda sampai. Lihat lah mereka menyambut kedatangan kita dengan antusias" ajak Brian ketika akan turun dari mobil.
Juan melihat kehalaman rumah Selvi. Terlihat memang keluarga Selvi sudah berdiri siap menyambut kedatangan mereka.
"Bismillah. Ayah Bunda, do'ain Juan iya. Semoga lamaran Juan di terima oleh kedua orang Selvi. Juan yakin kalian sedang bahagia melihat Juan saat ini yang sudah siap memperistri anak gadis orang. Semoga kalian juga merestui Selvi jadi istri Juan" lirih Juan sebelum turun dari mobil.
Brian terharu mendengar ucapan Juan yang lirih. Ia juga merasakan kesedihan nya Juan. Brian pun hanya bisa menepuk bahu Juan memberinya semangat.
Setelah yakin, Juan pun turun dari mobil. Begitu pun dengan yang lain nya yang sudah menunggu nya di luar mobil. Juga para pelayan yang sengaja di bawa untuk membantu mereka membawa seserahan.
Mommy Aletha yang melihat Juan yang mendongak kan kepala nya keatas untuk menghalau air mata nya pun mendekati Juan. Ia langsung memeluk Juan.
"Jangan menangis sayang. Malam ini malam yang bahagia untuk mu. Karena kamu sudah berani maju ke tahap yang serius. Mommy yakin kedua orang tua mu pasti akan bangga. Ayo kita masuk. Jangan buat keluarga Selvi lama menunggu kita" ucap Mommy Aletha lembut.
Juan menatap Mommy Aletha. Ia tersenyum manis memandang wanita paruh baya yang sudah membesarkan nya.
"Ayo Mom. Terima kasih sudah menjadi Ibu untuk Juan" ucap nya tulus yang di balas kecupan singkat di pipi oleh Mommy Aletha.
__ADS_1