Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 101


__ADS_3

"Coba anda lihat ke monitor, Tuan!" Dokter menyuruh Raffa uuntuk mencermati monitor yang menunjukkan hasil pemeriksaan.


Raffa pun mulai mencermati layar monitor tersebut, tapi dia tidak mengerti dengan apa yang terlihat di sana.


"Calon bayi yang di kandung oleh istri anda ada 3, itu artinya istri anda sedang mengandung anak kembar 3," ujar sang Dokter menjelaskan apa yang terlihat di layar monitor sambil menunjukkan 3 embrio yang terlihat di rahim pasiennya.


Raffa menoleh ke arah Kayla, dia merasa kasihan pada istrinya. Raffa menggenggam erat tangan wanita yang dicintainya itu.


"Sayang, kamu kuat, kan?" tanya Raffa pada sang istri.


Kayla mengangguk bahagia, Alla sempat mengambil satu calon bayinya dan kini diganti dengan 3 calon bayi.


Terpancar bahagia di wajah wanita sholehah yang telah menjadi istrinya hampir satu tahun ini.


"Apakah hal itu tidak akan mengganggu kesehatan istri saya nanti, Dok?" tanya Raffa mengkhawatirkan Kayla.


"Tidak apa-apa, Tuan. Kembar 3 masih biasa terjadi, dan ibunya baik-baik saja."Dokter memberi pengertian kepada pasiennya.


"Dokter, saat ini istri saya masih kuliah, apakah itu tidak akan membuat dirinya lelah?" tanya Raffa lagi.


Raffa ingin lebih dalam mengetahui kondisi istrinya agar dia bisa melakukan yang terbaik untuk istrinya.


"Ibu Kayla masih bisa beraktifitas seperti biasa, hanya saja jika dia merasa lelah. Utamakan untuk beristirahat," jelas Dokter lagi.


"Apa itu artinya Kayla masih bisa kuliah, Dok?" tanya Raffa memastikan.


"Iya, Nona Kayla masih bisa kuliah, tapi dia harus memperhatikan kesehatan dan istirahat yang cukup," nasehat Dokter.


"Kamu dengar apa yang dibilang Dokter, Sayang? Kamu harus memperhatikan kesehatan dan istirahat yang cukup. Kali ini kita akan sama-sama menjaga calon buah hati kita," ujar Raffa pada sang istri.


Kayla terharu mendengar ucapan Raffa, dia masih teringat saat dirinya berjuang sendiri menjalani kehamilan trisemester pertama beberapa bulan yang lalu.


Buliran bening mulai membasahi pipi sang istri.


"Ada apa, Sayang?" tanya Raffa panik.


Kayla menggeleng. "Aku hanya bahagia, Sayang,"


Dokter tersenyum melihat sepasang suami istri yang berada di dalam ruangannya.


"Nona, sudah bisa duduk," ujar Dokter.


Kayla pun bangkit dari posisi berbaring. Raffa membantu sang istri untuk turun dari tempat tidur pemeriksaan.


Mereka kini duduk tepat di depan Dokter.


"Saya akan memberikan beberapa vitamin untuk Nona Kayla, saya harap Nona Kayla rutin meminumnya untuk menjaga stamina dan tumbuh kembang sang bayi." Dokter memberikan secarik kertas yang berisi resep obat yang harus diambil di apotik nanti.


"Terima kasih, Dok," ucap Raffa dan Kayla bersamaan.


"Sama-sama, selamat ya, Nona,"ucap Dokter lalu mereka pun keluar dari ruangan pemeriksaa dokter kandungan.


Sebelum pulang Raffa mengambil obat untuk istrinya. Mereka melangkah keluar dari rumah sakit menuju parkiran mobil.


Raffa membukakan pintu mobil untuk Kayla.


"Hati-hati, Sayang," ujar Raffa penuh perhatian.


Kayla tersenyum lalu masuk ke dalam mobil.


Setelah itu Raffa pun masuk ke dalam mobil melalu pintu kemudi, sebelum dia melajukan mobil seperti biasa Raffa akan memastikan Kayla memasang sabuk pengaman atau tidak.

__ADS_1


Raffa menggelengkan kepalanya.


"Istriku ini, mungkin sudah menjadi kebiasaannya menunggu sang suami untuk memasangkan sabuk pengaman," ujar Raffa menggelengkan kepala.


kayla hanya tersenyum malu, dia sadar atas kesalahannya.


"Bang, aku lapar," lirih Kayla sebelum Raffa melajukan mobilnya.


"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Raffa pada istrinya.


"Aku bingung, Bang. Gimana kalau kita makan pecel ayam di tempat waktu itu," ajak Kayla.


Raffa mengangguk lalu dia pun melajukan mobilnya menuju pondok pecel lele yang pernah dikunjungi Raffa dan Kayla saat mereka baru saja menikah.


Raffa sekarang mulai paham alasan istrinya yang selalu saja merasakan lapar, karena sang istri harus memberi makan 3 calon buah hatinya yang kini tumbuh di dalam rahim sang istri.


****


"Sayang, habis ini kita mau ke mana?" tanya Kayla pada sang suami setelah dia menghabiskan 3 porsi pecel lele.


"Kamu mau ke mana?" tanya Raffa lagi pada istrinya.


"Sayang, aku pengen main ke rumah Bunda Hurry," jawab Kayla jujur.


Dia merasa tidak enak hati pada Hurry, dia juga tidak bisa melihat wanita paruh baya itu terlihat sedih.


"Oh, ya udah. Aku coba telpon Agung dulu, untuk memastikan Bunda Hurry di rumah atau tidak," ujar Raffa.


Raffa pun langsung menghubungi Agung.


"Gung, Bunda di mana?" tanya Raffa saat panggilan sudah tersambung.


"Ada apa, Fa?" tanya Agung penasaran.


"Enggak apa-apa, Kayla mau main ke rumah. Katanya dia kangen sama Bunda," jawab Raffa jujur.


"Oh gitu, datang saja ke rumah. Nanti aku hubungi Bunda supaya Bunda tidak pergi ke mana-mana," ujar Agung.


"Iya, habis ini kami langsung ke sana," ujar Raffa.


Raffa memutuskan panggilan setelah itu dia memberitahu Arumi, mereka akan pergi ke rumah Bunda Hurry sebentar.


Setelah itu, Raffa dan Kayla pun kembali masuk mobil lalu mulai berangkat menuju rumah Hurry.


"Assalamu'alaikum," ucap Kayla saat mereka sudah berada di teras rumah keluarga Hendra.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bunda Hurry dari dalam rumah.


Dia melangkah keluar untuk membukakan pintu.


Hurry senang saat melihat Kayla dan Raffa sedang berdiri di depan rumahnya.


"Kayla, Raffa," ujarnya.


Kayla tersenyum, lalu dia menyalami dan menciumi punggung tangan wanita itu.


Hati mereka bergetar merasa ada sesuatu yang terjad.idi hati mereka. Dua wanita beda usia itu merasa memiliki ikatan bathin satu sama lainnya.


"Ayo masuk! Bunda senang sekali kamu mau datang ke rumah Bunda," ajak Hurry.


Hurry langsung membawa Kayla dan Raffa ke ruangan keluarga.

__ADS_1


Dia ingin mengobrol santai dengan wanita yang diyakininya adalah putrinya yang pernah hilang.


"Bi, tolong bawakan minuman dan makanan, ya," pinta Hurry pada pembantu rumah tangganya yang sedang merapikan beberapa barang yang ada di ruang keluarga.


"Baik, Nyonya," ujar PRT di rumah Hurry.


Dia melangkah menuju dapur untuk menyiapkan minuman dan makanan yang diminta oleh majikannya.


"Makasih ya, Nak. Kamu sudah mau datang ke sini," ujar Hurry senang.


"Aku kangen sama Bunda," ujar Kayla jujur.


Bunda senang mendengar Kayla merindukannya. Dia tersenyum bahagia.


"Kalau kamu mau ke sini langsung saja datang, Nak. Pintu rumah ini terbuka untuk kalian," ujar Bunda.


Ponsel Raffa berdering.


"Sayang, aku keluar sebentar angkat telpon," ujar Raffa berlalu meninggalkan Hurry dan Kayla.


Hurry dan Kayla pun asyik bercerita tentang masa lalu, hingga Hurry teringat suatu hal.


"Tunggu sebentar, ada yang ingin bunda tunjukkan sama kamu," ujar Hurry.


Hurry berdiri lalu melangkah menuju lemari pajang di ruangan keluarga itu.


Dia mengambil sebuah album kenangannya saat masih bersama putri kecilnya yang hilang.


"Lihatlah, ini foto Ara sewaktu dia masih bersama kami," ujar Hurry menunjukkan sebuah foto yang ada di dalam album tersebut.


Kayla menatap foto dua anak kecil, yang sedang berdiri di sebuah taman.


"Ini Agung, dan ini Ara," ujar Hurry memberitahu Kayla.


"Aku merasa pernah melihat foto gadis kecil ini, tapi di mana?" gumam Kayla di dalam hati.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2