
Dian langsung menutup wajahnya malu, Agung pun menggaruk-garuk kepalanya gatal.
“Kalau kamu butuh, ini ambillah! Aku akan menunggu di sana,” ujar Agung malu.
Dian membuka wajahnya yang ditutupnya setelah Agung melangkah menjauh darinya, di hadapannya kini terpajang berbagai model pakaian dalam, dan lingerie seksi. Dian ragu antara mengambil barang-barang itu atau tidak.
Akhirnya Dian menggelengkan kepalanya, dia mengurungkan niatnya untuk mengambil pakaian dalam tersebut.
“Lebih baik, aku membelinya saat aku sendiri,” gumam Dian di dalam hati.
Dian pun melangkah menuju tempat Agung berdiri.
“Bang,” lirih Dian.
Agung membalikkan tubuhnya saat suara Dian terdengar di telinganya. Dia menatap Dian, dia tidak melihat calon istrinya itu membawa apa pun.
“Kamu tidak ingin membelinya?” tanya Agung heran.
“Tidak, saat ini aku sedang tidak membutuhkan,” jawab Dian malu.
“Ya sudah, kalau gitu kita bayar pakaian ini terlebih dahulu, setelah itu kita ikut gabung sama yang lainnya,” ajak Agung pada calon istrinya.
Dian mengangguk setuju. Dia mengikuti langkah Agung yang berjalan menuju kasir.
Setelah selesai membayar belanjaannya, Agung pun mengajak Dian melangkah menuju sebuah foodcourt tempat teman-teman mereka berada lalu bergabung dengan Raffa dan yang lainnya.
****
Di tempat lain, Alita tengah mengendap-endap bertemu dengan seseorang. Dia berhati-hati agar tak ada satu orang pun yang melihat apa yang dilakukannya saat ini.
“Mana?” tanya Alita pada seorang pemuda.
“Nih.” Seorang pemuda memberikan sebungkus plastik padanya.
“Thanks,” ujar Alita lalu dia pun memberikan 2 lembar uang ratusan ribu pada pemuda itu.
Alita pun meninggalkan tempat itu sebelum ada yang melihat dirinya dengan pria asing tadi. Namun, dari kejauhan ada seseorang yang selalu memantau pergerakan yang dilakukannya.
__ADS_1
Alita melangkah di trotoar, sambil menunggu ojek online yang sudah dipesannya tadi.
“Kamu dari mana?” tanya Alex mengagetkan Alita yang kini tengah berada di luar kawasan kampusnya,dan bukan daerah yang harus dilewatinya jika dia ingin pulang ke kontrakan Alex.
“Bang Alex, kamu bikin aku kaget saja,” gerutu Gita sambil memikirkan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan dari kakak sepupunya itu.
“Mhm, itu-itu, tadi aku pulang dari rumah teman,” jawab Alita gugup.
“Kamu yakin?” tanya Alex curiga.
“Lalu itu kantong apa yang sedang kau pegang?” tanya Alex menunjuk kantong yang sedang dipegang oleh Alita.
“Mhm, ini-ini,-- bukan apa-apa,” jawab Alita.
“Kamu mau pulang kan, Bang?” tanya Alita mengalihkan pembicaraan.
“Iya, kamu juga mau pulang?” tanya Alex balik.
“Iya, aku pulang sama kamu saja,” ujar Alita.
Alita langsung naik ke atas sepeda motor Alex tanpa menunggu jawaban dari Alex.
Alex masih heran dengan sikap Alita, tapi dia mencoba untuk berpikiran positif. Sejauh ini dia tidak pernah lagi mengganggu hubungan Kayla dan Raffa.
Alex pun melajukan sepeda motornya menuju rumah kontrakannya, sesampai di rumah Alita langsung masuk kamar, begitu juga dengan Alex. Mereka ingin beristirahat sejenak dari aktifitas hari ini.
Hari yang ditunggu-tunggu Agung dan Dian pun datang. Kayla dan Raffa mengajak Gita dan Lisa untuk ikut menghadiri acara akad nikah sang Kakak. Raffa juga sudah menyiapkan tiket pesawat untuk Gita dan Lisa agar mereka juga dapat ikut di acara pernikahan Agung dan Alex yang akan dilaksanakan secara bersama di kota Padang.
Raffa juga ingin mengajak Lisa dan Gita hadir ke acara liburan yang sudah direncanakan Surya. Mereka akan berangkat ke Pulau Mandeh dan berlibur di sana selama beberapa hari. Surya sengaja menyediakan fasilitas liburan keluarga besar sebagai rasa syukur atas kebahagiaan yang mereka rasakan mendapatkan menantu terbaik dan rasa syukur atas kebahagiaan yang didapat oleh Kayla yang kini sudah mengetahui jati dirinya.
Raffa dan Kayla berangkat ke Bandung bersama Gita dan Lisa, di Bandung mereka langsung ke rumah kediaman Bramantyo. Di sana saat ini hanya ada Bi Narti dan suaminya.
Semenjak Rita pergi ke Padang, rumah itu kosong dan sepi. Rita saat ini sudah tinggal di kampung halamannya. Sesuai permintaannya, Satya sudah mendirikan sebuah rumah untuk Rita di kampung halamannya bersama keluarga dekatnya di sana.
Sementara itu Satya dan Rayna berada di mobil yang lain bersama Fitri. Mereka semua berangkat ke Bandung untuk menghadiri prosesi akad nikah Agung dan Dian yang akan dilaksanakan esok hari.
Sedangkan keluarga Hendra dari Padang juga berangkat hari ini, sesuai kesepakatan semua keluarga akan tinggal di rumah kediaman Bramantyo agar mereka bisa berangkat secara bersamaan dari rumah Bram menuju kediaman Hidayat.
__ADS_1
Pada malam hari semua keluarga besar Kayla sudah berada di rumah milik Almarhum Bram, setelah selesai makan malam mereka berkumpul dan bercengkrama di ruang keluarga sambil menonton TV.
Di saat semua orang berkumpul dan asyik mengobrol, Kayla menyendiri di ruang kerja sang Ayah sambil memegangi sebuah pigura photo yang di sana terlihat wajah tampan pria yang telah membawanya ke dalam kebahagiaan yang dirasakannya saat ini.
“Dalam ramai, aku merasakan sepi. Aku gadis kecilmu sangat merindukan dirimu, Yah. Hadirnya dirimu dalam hidupku sebagai pelita penerang dalam hidupku. Andai saat itu kau tidak membawaku ke rumah ini. Aku tidak tahu entah apa yang akan terjadi pada diriku. Ayah, Kayla sangat merindukan Ayah. Sampai kapan pun Ayah akan tetap menjadi pria terhebat di dalam hidup Kayla. Kenapa Ayah secepat ini meninggalkan Kayla, Yah. Saat ini Kayla ingin Ayah ikut merasakan kebahagiaan yang Kayla rasakan. Hiks … hiks …. “ Kayla menelungkupkan wajahnya di atas meja kerja yang biasa digunakan Bram untuk bekerja.
Kayla hanyut dalam duka dan sedih kehilangan sang Ayah.
“Mas, Raffa. Kak Kayla mana?” tanya Rayna berbisik pada kakak iparnya.
“Di dapur enggak ada?” tanya Raffa khawatir.
“Aku sudah mencarinya di dapur, dan di kamar pun juga udah, tapi aku tidak melihatnya,” ujar Rayna juga khawatir dengan keadaan sang kakak.
Seketika wajah Raffa panik, dia mulai mencemaskan keadaan sang istri.
“Ya udah, biar aku ikut mencarinya,” ujar Raffa.
Semua keluarga tidak menyadari kepanikan Raffa dan Rayna yang kehilangan sosok Kayla di tengah keramaian keluarga yang sedang bercengkrama bahagia menanti acara pernikahan esok hari.
Mereka juga menggoda Agung dan Alex yang akan melepas masa lajangnya.
Satya melihat istrinya yang sedari tadi mondar mandir lantai satu dan lantai dua, dia pun langsung menghampiri sang istri.
“Ada apa, Sayang?” tanya Satya pada istrinya.
“Kak Kayla, Mas. Sejak tadi aku belum melihatnya,” ujar Rayna mulai cemas.
“Di kamarnya sudah kamu cek?” tanya Satya.
“Udah, aku juga sudah minta Mas Raffa untuk mencarinya,” ujar Rayna.
“Ya udah, aku juga coba ikut mencarinya,” ujar Satya.
Satya berkeliling di rumah Bram yang lumayan besar itu, dia juga menaiki anak tangga berkali-kali mencari Kayla.
Saat Satya melintasi ruang kerja ayah mertuanya, diapun mencoba membuka pintu ruang kerja itu.
__ADS_1
“Kayla!” pekik Satya saat melihat Kayla tergeletak di lantai tak sadarkan diri.
Bersambung…