
Irene menatap dalam ke arah Alex, dia tengah menyelami suasana hati sang suami.
"Lex, tadi itu aku hanya jalan-jalan sama teman-teman. Mereka hanya ingin lebih dekat lagi dengan aku, enggak lebih dari itu." Irene berusaha meyakinkan Alex agar tidak berpikiran yang aneh-aneh terhadap dirinya.
"Oke, aku tahu mereka hanya ingin kenal dekat sama kamu, tapi aku harap setelah ini kamu bisa mengambil sikap," ujar Alex tegas.
"Mhm," gumam Irene mengiyakan perkataan Alex.
"Satu lagi, aku harap kamu bisa paham dengan situasi keuanganku saat ini. Aku belum bisa menghasilkan uang banyak untuk memenuhi kebutuhan kita. Aku harap kamu bisa mengerti kondisiku saat ini," pinta Alex pada sang istri.
"Iya, aku ngerti, kok," ujar Irene.
Saat ini Irene sedang malas berdebat dengan Alex, permasalahan yang akan dibahas selalu masalah keuangan.
Dulu di saat dia belum menikah dengan Alex, orang tuanya masih mampu memberikan uang saku padanya melebihi apa yang diberikan Alex padanya saat ini.
Ada sedikit penyesalan baginya memilih menikah muda bersama kekasih yang sudah bertahun-tahun bersamanya.
Di saat menjadi kekasih, Alex rela memberikan apa saja yang dia inginkan karena keuangan Alex berasal dari kedua orang tuanya yang mapan dan berkecukupan.
Tapi, kenapa setelah menikah justru dia tidak mau menerima uang dari kedua orangtuanya?
Begitulah pendapat Irene terhadap sang suami yang sok-sokan menafkahi istrinya dengan hasil keringatnya sendiri.
"Ya udah, yuk kita makan," ajak Alex.
"Aku enggak lapar, aku udah bosan makan telur dan ikan asin setiap hari," ujar Irene menggerutu membuat Alex merasa semakin bersalah.
"Tadi aku belikan pecel ayam buat kamu dan Mak Ijah," ujar Alex membujuk istrinya untuk makan.
"Hah? Pecel ayam, lumayan," lirih Irene.
"Yuk!" ajak Irene bersemangat.
Dia berdiri dari duduknya lalu menarik tangan Alex dan melangkah menuju ruang makan.
****
Di tempat lain, di sebuah restoran mewah, terlihat sepasang suami istri muda yang tengah bersemi.
Rasa cinta yang tumbuh setelah menikah, membuat hati mereka semakin tertaut dengan erat.
"Kamu harus makan ya banyak ya, Sayang," ujar Agung pada sang istri yang semakin hari tampak semakin cantik di matanya.
Dua minggu tak berjumpa membuat Agung sangat merindukan sang istri.
"Kamu juga, Bang. Biar tambah besar," ujar Dian menggoda suaminya.
"Besar? Apakah aku masih kurang besar?" tanya Agung.
__ADS_1
"Hehehe, kamu bisa aja." Dian tersipu.
"Aku benar-benar sangat merindukanmu, tapi aku harus bagaimana? Banyak pekerjaan yang menungguku di butik. Apalagi saat ini Bunda sibuk mengurusi anak-anak Raffa dan Kayla," ujar Agung merasa bersalah meninggalkan istrinya di asrama.
"Iya, Sayang. Aku ngerti, kok. Habis ini kita main ke rumah Kayla, yuk! Aku juga kangen sama dia, sudah lama enggak bertemu," ajak Dian tiba-tiba.
"Mhm," gumam Agung sambil menganggukkan kepalanya.
Agung selalu mengikuti apa yang diinginkan sang istri, apalagi mereka jarang-jarang berjumpa.
"Sayang," panggil Agung saat mereka sudah menghabiskan makanan mereka.
"Mhm," gumam Dian menoleh pada suaminya.
Dia menatap dalam ke arah suaminya yang juga menatap dirinya dengan penuh kasih sayang.
"Selama kamu di sini, tidak ada notifikasi kamu belanja atau menarik uang dari ATM yang sudah aku berikan, kamu hidup di sini pakai uang siapa?" tanya Agung.
Agung tiba-tiba teringat dengan ATM yang berisi nafkah untuk sang istri.
"Mhm, oh i-itu." Dian tampak bingung menjelaskannya.
Selama ini uang saku yang dikirim kedua orang tuanya tak pernah habis untuk kebutuhannya dan isi tabungannya masih banyak. Jadi dia belum berniat untuk memakai uang yang diberikan oleh sang suami.
"Kamu dapat belanja dari mana? Apa ibu atau ayahmu masih mengirimkan uang untuk belanja?" tanya Agung curiga.
"Mhm, enggak. Sejak kita menikah, Ayah dan ibu tidak pernah lagi mengirimkan uang untukku. Tapi, selama ini uang saku yang beliau berikan masih ada di tabunganku. Jadi, aku berpikir untuk menghabiskan uang itu terlebih dahulu," jawab Dian.
Pendapatan Agung bekerja di butik memang lumayan besar, berapa pun penghasilan butik setelah dikeluarkan gaji karyawan maka hasilnya dibagi dua dengan Bunda Hurry.
Usaha butik yang dirintis Hurry tak jauh dari usaha dan kerja keras Agung sehingga butiknya semakin besar dan maju.
"Iya, Sayang. Mulai besok, aku akan pakai uang kamu," lirih Dian menunduk.
Dia merasa bersalah tidak menggunakan nafkah yang diberikan oleh sang suami.
"Nanti, aku akan mengganti uang tabungan kamu yang sudah terpakai," ujar Agung.
"Terserah kamu aja," lirih Dian.
Dian merasa beruntung mendapatkan pria tampan, sukses dan bertanggung jawab. Dia sangat bersyukur dipertemukan dengan pria sebaik Agung.
"Ya udah, yuk kita berangkat ke rumah Kayla, nanti keburu malam," ajak Agung.
"Yuk." Dian mengangguk.
Agung berdiri diikuti oleh Dian yang menggandeng lengan kekar sang suami.
Wajah tampan Agung yang memiliki brewok tipis di wajahnya membuatnya semakin serasi bergandengan dengan wanita berhijab besar di sampingnya.
__ADS_1
Mereka keluar dari resto setelah Agung membayar tagihan pesanan mereka, dia langsung menuju mobil Alex yang selalu dipakainya di saat dia berada di Jakarta.
Agung melajukan mobil menuju kediaman Raffa, dia sangat merindukan sang Bunda dan ketiga bayi kecil yang sangat imut.
"Aku kangen sama 3R, Bang. Pasti mereka sudah besar sekarang," ujar Dian di sela-sela perjalanan mereka menuju kediaman Raffa.
"Iya, aku juga kangen sama mereka." Agung tersenyum sambil mengelus lembut pipi sang istri.
"Sayang, kita beli sesuatu dulu buat oleh-oleh, ya," ujar Agung menghentikan mobilnya saat berada di sebuah bofet martabak.
Agung teringat bahwa bundanya sangat menyukai martabak mesir.
"Oh, iya," Dian mengangguk.
Agung keluar dari mobil dan membeli martabak Mesir dan martabak Bandung untuk Bundanya dan mama Arumi, Agung sempat dengar kalau mama Arumi suka martabak Bandung.
Dia kembali masuk ke dalam mobil setelah pesanannya selesai dan melanjutkan perjalanan mereka.
Selang waktu beberapa menit, mereka sampai di depan rumah milik Raffa.
Rumah sederhana yang memiliki pekarangan yang luas.
"Assalamu'alaikum," ucap Agung saat telah berada di teras rumah.
"Wa'alaikummussalam," jawab Bunda Hurry dari dalam rumah.
Bunda Hurry sudah tahu bahwa putra sulungnya akan datang, dia bergegas ke depan rumah untuk membukakan pintu.
"Bunda kangen," lirih Hurry sambil memeluk tubuh sang putra saat dia sudah membuka pintu.
"Agung juga kangen sama bunda," ujar Agung membalas pelukan sang Bunda.
Setelah itu Bunda Hurry beralih memeluk menantunya yang berdiri di samping putra sulungnya.
"Kamu sehat, Nak?" tanya Hurry penuh perhatian.
"Sehat, Bunda," jawab Dian dengan senyuman ramahnya.
"Ayo masuk!" ajak Hurry.
Belum sempat mereka masuk terdengar sebuah motor masuk ke dalam pekarangan rumah Raffa.
Mata Hurry berbinar melihat siapa yang datang.
"Assalamu'alaikum, Bunda," ucap putra bungsunya sambil meraih tangan sang Bunda.
"Alex, bunda kangen sekali sama kamu. Kenapa enggak datang mengunjungi bunda," keluh bunda sambil memeluk tubuh putra bungsunya yang terlihat semakin kurus.
"Kamu kenapa kurus seperti ini, Nak? Penampilan kamu acak-acakan seperti ini. Biasanya pria yang sudah menikah itu akan lebih terurus ketimbang,---" Bunda Hurry terdiam saat melihat Irene menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung...