Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
BONUS CHAPTER


__ADS_3

"Enggak usah, aku belum lapar," tolak Akifa, tapi tiba-tiba terdengar suara kriuk dari perutnya.


Farhan tersenyum, lalu dia pun menyuapi Akifa nasi goreng yang ada di piringnya.


“Sebagai seorang istri kamu tidak boleh menolak perintahku,” ujar Farhan dengan lembut.


Pelan-pelan Farhan menyuapi nasi goreng pada Akifa dengan penuh kasih sayang, wanita itu seakan terhipnotis dengan perlakuan Farhan yang penuh kasih sayang padanya. Dia menerima suapan demi suapan yang diberikan oleh sang suami hingga akhirnya nasi di piring itu habis dan perut Akifa pun kenyang.


Hari-hari mereka lalui bagaikan pasangan suami istri pada umumnya, hanya saja Farhan tetap menjaga janjinya tidak akan meminta haknya sebagai seorang suami atas diri Akifa.


Tahun ini Farhan meminta Akifa untuk pending kuliahnya dan disetujui oleh Alex karena Alex tidak ingin Akifa kembali menjalin komunikasi dengan Hansel. Semua keluarga setuju dengan permintaan Farhan membuat Akifa tak dapat berkutik, dia terpaksa mengikuti apa yang dikatakan oleh suami dan keluarganya.


“Fa, nanti pulang kerja. Aku mau ajakin kamu jalan, kamu mau?” tanya Farhan sebelum dia berangkat kerja.


“Ke mana?” tanya Akifa penasaran.


Hampir dua bulan mereka menikah, baru kali ini Farhan mengajak istrinya jalan, selama ini apabila mereka keluar rumah palin ke rumah bunda Hurry atau Om Rahman. Hari-hari dilewati Akifa dalam pengawasan ibu mertuanya.


Luna tidak mengekang Akifa, tapi dia selalu memantau apa saja yang dilakukan oleh menantunya itu bahkan semenjak mereka menikah hingga saat ini Akifa belum memiliki ponsel sendiri.


Akifa juga tidak berani meminta pada suaminya sehingga komunikasinya dnegan keluarganya melalui Mama Luna atau Farhan.


Perlakuan kedua orang tua Farhan pada AKifa sangatlah baik sehingga membuat Akifa nyaman dan lupa akan hal lainnya, mama Luna selalu mengajak Akifa memasak atau berkreasi hal-hal yang berhubungan dengan keterampilan.


Hingga Akifa pun sudah lupa dnegan keberadaan Hansel yang pernah mengisi relung hatinya.


“Lihat saja nanti, katakana pada mama kita akan pergi,” jawab Farhan.

__ADS_1


“Baiklah,” lirih Akifa.


Akifa meraih tangan suaminya lalu menciumi punggung tangan Farhan. Hal ini selalu dilakukannya agar kedua orang tua Farhan tidak curiga dengan kesepakatan mereka. Namun, semua itu sudah menjadi hal yang biasa bagi Akifa.


Farhan tersenyum melihat sikap Akifa yang semakin hari semakin kalem dan mudah diatur bahkan kini hubungan Akifa dan Farhan semakin membaik.


“Aku pamit dulu, ya,” ujar Farhan.


Farhan melangkah masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangannya sebelum dia melajukan mobil.


“Lihatlah Kifa, lambat laun kamu akan mencintaiku dan akan melupakan kesepakatan yang kamu inginkan,” lirih Farhan saat dia mulai melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumahnya.


Pada sore hari, setelah shalat ashar, Akifa sudah siap dnegan gamis dan hijab panjangnya. Penampilan santai dan anggun membuat gadis itu semakin menawan.


“Kamu sudah siap?” tanya Farhan saat melihat istrinya sudah duduk di sofa ruang keluarga sambil mengobrol dengan mamanya.


“Ya udah tunggu sebentar, aku siap-siap dulu,” ujar Farhan.


Dia melangkah menuju kamarnya dan bersiap-siap untuk mengajak sang istri jalan-jalan keliling kota Padang.


“Yuk,” ajak Farhan setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian kerjanya dnegan pakaian kasual yang membuat pria itu tampil santai tapi menawan.


Akifa menatap kagum pada sang suami yang semakin hari semakin mempesona di matanya.


“Ma, kami pamit dulu, ya,” ujar Akifa pamit pada Mama Luna.


“Iya, Sayang. Kalian hati-hati, ya,” ujar Luna penuh perhatian.

__ADS_1


Mereka pun melangkah keluar dari rumah, Farhan melajukan mobilnya menuju pantai Padang.


Pantai yang dulu tidak tertata dengan rapi dan sangat kotor kini telah disulap pemerintah dengan penampilan pantai yang indah dipandang.


Farhan mengajak Akifa turun dari mobil, dia meraih tangan istrinya lalu membawa Akifa menuju tumpukan batu yang menjorok ke laut. Di sana Farhan duduk di sebuah batu besar dan menatap jauh pada lautan lepas.


Dia mulai mengenang kejadian beberapa tahun lalu. Kejadian yang membuat jalan hidupnya berubah sehingga dia menjadi seorang pengacara hebat seperti sekarang.


“Fa,” lirih Farhan mulai membuka topik pembicaraan dnegan istrinya.


“Mhm,” gumam Akifa yang juga ikut memandang lautan lepas yang kini langit di penghujung laut mulai tampak kemerahan pertanda matahari hendak tenggelam.


“Kamu tahu, tempat ini adalah tempat yang sangat berarti bagiku,” ujar Farhan.


“Tempat yang berarti?” lirih Akifa penasaran.


“Iya, di tempat ini aku bertemu dengan seorang gadis belia yang sudah merubah jalan hidupku,” ujar Farhan mengungkap rasa cintanya yang mendalam terhadap gadis belia yang sudah membawanya ke jalan yang benar.


“Gadis belia?” tanya Akifa bingung dan penasaran.


“Iya, beberapa tahun yang lalu aku bertemu dengan seorang gadis belia yang memberi nasehat padaku untuk menuruti apa yang dikatakan oleh orang tuaku, kebencianku yang mendalam pada kedua orang tuaku berubah menjadi rasa hormat yang tak terkira sehingga aku bisa berhasil seperti saat ini,” ujar Farhan.


“Lalu apakah kamu sudah bertemu dengan gadis itu?” tanya Akifa polos.


“Sudah,” jawab Farhan.


“Siapa?” tanya Akifa lagi.

__ADS_1


“Gadis itu,--“ Farhan menggantung ucapannya.


__ADS_2