
"Ciee, jadi kamu udah ketemu dengan jodohmu?" goda Gita setelah Lisa selesai menceritakan semuanya.
"Apaan sih, Git? Orang dia kerja di sini, dan aku juga enggak ada apa-apa sama dia. Cuma kenal dan kebetulan dia mau bantuin ngantar sampe sini," bantah Lisa.
"Kali aja jodoh," ledek Gita.
"Enak aja, mana mungkin bisa berjodoh," kilah Lisa.
Namun wajahnya terlihat bersemu merah menahan malu dari ledekan teman-temannya.
"Hahaha," tawa Kayla dan Dian pecah saat melihat ekspresi Lisa.
"Sayang, mau maghrib," ujar Raffa mengingatkan sang istri.
Pria tampan itu tiba-tiba datang menghampiri keempat wanita yang masih asyik mengobrol.
"Iya," sahut Kayla.
"Yuk, kita siap-siap buat shalat," ajak Kayla.
Keempat wanita itu pun bubar dan melangkah menuju kamar masing-masing untuk bersiap-siap melaksanakan kewajiban mereka sebagai seorang muslim.
Saat adzan maghrib berkumandang, semua penghuni penginapan keluar dari kamar masing-masing dan melangkah ke ruang tengah untuk melaksanakan salat magrib berjama'ah.
Shalat maghrib berjama'ah dipimpin oleh Raffa sebagai imamnya.
Usai shalat maghrib berjama'ah, semua orang beralih ke ruang makan untuk menikmati santapan makan malam.
"Sayang, kepalaku pusing,"lirih Rayna setelah membuka mukenanya.
Dia meletakkan begitu saja mukena yang baru saja dipakainya di atas tempat tidur.
Saat ini dia ingin berbaring dan memejamkan mata.
Satya melihat hal itu langsung melipat mukena sang istri dan meletakkan di tempatnya.
"Ya udah, kita makan malam di kamar saja," ujar Satya menanggapi ucapan sang istri.
Rayna mengangguk, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Aku mengambil makanan terlebih dahulu ke dapur, ya," ujar Satya pada sang istri sebelum dia keluar dari kamar.
"Iya," lirih Rayna mengangguk.
Saat ini Rayna tengah berada dalam kondisi kehamilan yang paling sulit karena sesekali rasa mual datang melanda dirinya.
__ADS_1
Satya mengecup puncak kepala sang istri lalu dia melangkah menuju ruang makan, di sana sudah berkumpul semua orang untuk bersantap makan malam.
"Rayna mana, Satya?" tanya Kayla saat melihat adik iparnya keluar kamar tanpa sang istri.
"Dia merasa pusing, jadi kami memilih untuk makan malam di kamar saja, kasihan dia," jawab Satya.
"Oh, begitu." Kayla mengangguk paham.
"Kak, kamu perhatian sekali sama Rayna. Sedangkan aku.adik kandungmu malah kamu abaikan begitu saja," ujar Alita yang duduk di samping Kayla.
Gadi itu merasa iri dengan perhatian sang kakak kandung pada adik angkatnya.
"Biasa aja, Dek. Aku hanya menanyakan keberadaan dia karena dia tidak ada di sini, sedangkan kamu kan sudah ada di sini. Lagian kayaknya sekarang ada yang lebih perhatian ke kamu, Dek," ujar Kayla sambil melirik ke arah Raymond yang tidak pernah ingin menjauh dari adiknya itu.
"Apaan sih, Kak. Kalau dia mah bukan perhatian, tapi ada maunya sama aku," ujar Alita ketus.
Raymond hanya terkekeh melihat ekspresi Alita yang cemberut.
"Semoga kalian berjodoh, Dek!" ujar Kayla lagi, yang berhasil membuat Alita semakin keki.
"Aamiin," sahut Alex dari seberang tempat duduk Alita.
Alita melemparkan tisu yang ada di depannya ke wajah Alex, dia kesal melihat tingkah Kayla dan Alex yang kompak ingin menjodohkan dirinya dengan mantan bosnya itu.
"Auuw," pekik Alex merasa kesakitan.
Satya mengabaikan perdebatan yang terjadi di antara kakak beradik itu.
Dia melangkah kembali menuju kamarnya setelah mengambil dua porsi makan malam untuk dirinya dan istri.
Setelah selesai makan malam, semua orang berkumpul di taman depan penginapan, dari sana terlihat pemandangan malam pantai Carocok nan indah.
Angin malam membuat mereka semakin menikmati suasana malam sambil bercengkrama.
Alita teringat sesuatu, dia merasa mendapat kesempatan untuk menjalankan misinya.
"Ada yang mau kopi atau teh?" tanya Alita menawarkan diri.
"Wah ide bagus, Dek. Aku mau teh," sahut Kayla menanggapi tawaran sang adik.
"Kamu mau apa, Sayang?" tanya Kayla pada sang suami.
"Aku mau kopi susu jahe," jawab Raffa.
"Yang lain mau request apa?" tanya Alita dengan baik hati.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana pun memesan apa yang mereka mau.
"Siap!" seru Alita bersemangat.
Dia pun melangkah ke dapur untuk menyiapkan berbagai minuman yang diminta oleh semua orang yang ada di taman itu.
Alita pun menjalankan misinya, dia memasukkan obat perangsang pada minuman Raffa, dia berencana akan mengunci Raffa di kamarnya semalam suntuk agar Raffa memangsa dirinya.
Dia tersenyum licik setelah semua minuman sudah selesai di siapkan ya.
Alita hendak melangkah keluar dari dapur, dia tak sengaja menjatuhkan satu gelas yang tersisa.
Prank, terdengar suara pecahan gelas.
"Ya ampun, betapa cerobohnya aku. Dia pun mulai membersihkan pecahan kaca lalu membuang pecahan kaca itu ke tong sampah yang ada di belakang penginapan.
Setelah itu dengan hati yang berdebar-debar, dia pun membawakan minuman untuk semua yang ada di taman depan penginapan.
Alita sudah membayangkan malam panas yang akan terjadi malam nanti bersama pria yang sangat dicintainya.
"Minumannya datang," seru Alita.
Dia pun memberikan minuman kepada semua orang, minuman Raffa yang berbeda dari yang lain membuat Alita dengan mudah memberikan senjata yang sudah disiapkannya untuk sang mangsa.
"Makasih, Dek," ucap Kayla.
Dia merasa senang melihat Alita yang mulai berbaur dengan semua keluarga dan teman-temannya. Memang saat ini, gadis itu belum bisa berbaik hati dengan Rayna. Mungkin Alita bisa ramah karena Rayna tidak ikut dalam acar obrolan malam yang mereka lakukan saat ini.
Mereka pun kembali mengobrol ngalor-ngidul membahas berbagai hal tanpa terasa malam semakin larut.
"Bang, aku ngantuk. Aku ke kamar duluan, ya," ujar Kayla izin masuk kamar terlebih dahulu.
Raffa yang masih asyik mengobrol mengangguk, lalu membiarkan Kayla melangkah menuju kamarnya seorang diri.
Satu per satu para wanita mulai beranjak dari taman. Namun, para pria masih asyik mengobrol membahas berbagi bisnis dan usaha yang mereka tekuni saat ini.
Apalagi Raymond, Nick dan Alex kini sudah bergabung di kafe yang didirikan Satya dan Raffa, hanya Agung yang berbeda, pria pemilik brewok tipis itu lebih paham dengan usaha konveksi yang dijalaninya saat ini.
Pukul 23.00 semua orang mulai merasa lelah dan mereka melangkah menuju kamar masing-masing.
Raffa melangkah seorang diri di lorong menuju kamarnya.
"Kenapa lampunya mati?" gumam Raffa di dalam hati.
Dia heran melihat lorong menuju kamarnya gelap hanya sedikit cahaya remang-remang yang membantunya melangkah menuju kamarnya.
__ADS_1
Saat Raffa belum sampai di kamarnya, seseorang menarik tangan Raffa dan membawa pria itu masuk ke dalam sebuah kamar.
Bersambung...