Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 193


__ADS_3

Lisa tak percaya melihat sang pria mulai melangkah masuk ke dalam penginapan bersama Raffa dan yang lainnya.


"Ngapain Reza ada di sini?" tanya Lisa di dalam hati.


"Apa mungkin dia disuruh majikannya untuk mengantarkan Raffa dan yang lainnya ke sini," gumam Lisa lagi bertanya-tanya di dalam hati.


"Yuk, masuk!" ajak Raffa pada Reza.


"Kalian duluan, saja. Gue ada urusan sebentar," ujar Reza pada Raffa dan Satya.


Reza tak sengaja melihat Lisa tengah berdiri di taman depan penginapan, dia pun menghampiri Lisa.


"Hai, kamu di sini? sapa Reza saat sudah berada di samping Lisa.


"Hai, iya. Kamu ngapain ke sini?" tanya Lisa gugup.


Entah mengapa jantung Lisa tiba-tiba berdegup kencang tak keruan.


"Mhm,--"


"Oh, aku tahu kamu pasti di suruh majikanmu untuk mengantarkan Raffa ke sini," ujar Lisa memotong ucapan Reza.


Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Eh, iya," lirih Reza.


Reza memilih untuk diam, mungkin saat ini belum waktunya untuk mengatakan siapa dirinya.


Reza membiarkan Lisa mengenal dirinya hanya sebagai seorang petugas yang bekerja di penginapan tersebut.


"Sudah mau maghrib, kita masuk, yuk," ajak Lisa pada Reza.


Reza pun mengangguk lalu mereka melangkah masuk ke dalam penginapan.


Seperti biasa, semua yang ada di penginapan berkumpul di ruang tengah untuk melaksanakan shalat maghrib berjamaah.


Reza pun ikut dalam acara shalat maghrib berjama'ah tersebut, kali ini Raffa meminta Reza untuk menjadi imam.


Dengan pakaian santainya dan karung yang dikenakannya, dia berdiri dan mulai memimpin shalat magrib di penginapan itu.


Hati Lisa merasa tentram saat mendengar lantunan ayat yang keluar dari mulut Reza.


Bacaannya yang fashih serta iramanya yang merdu membuat para jama'ah mengikuti shalat maghrib dengan khusyuk.


"Ya Allah, walaupun dia hanya seorang pekerja biasa, tapi dia merupakan imam yang sempurna bagi setiap wanita. Hatiku merasa nyaman saat berada di sisinya," gumam Lisa setelah do'a bersama selesai.


Usai melaksanakan shalat, mereka berpindah ke ruang makan.


Raffa juga mengajak Reza untuk makan bersama dengan keluarga lainnya.

__ADS_1


"Gimana kabar lu, Za?" tanya Agung pada Reza saat mereka sudah duduk di meja makan besar yang tersedia di ruang makan tersebut.


"Baik, gue gak nyangka lu bisa ngedahuluin gue menikah, Gung. Padahal selama ini lu enggak kenal yang namanya wanita," ujar Reza.


"Sekali dapat jodoh cantik dan sholehah lagi," timpal Raffa menggoda teman sekaligus kakak iparnya.


"Hahaha," tawa yang hadir di meja itu pecah kecuali Alita.


Alita memang tidak suka melihat orang-orang disekitarnya bahagia.


Dian hanya menunduk malu mendapat pujian dari Raffa, dia tahu suami sahabatnya ini juga suka bercanda apalagi dengan teman lamanya.


"Trus lu kapan mau ikutin kita? Lihat nih, kita udah pada punya pasangan lho," ujar Raffa menyindir Reza untuk menikah.


Reza melirik ke arah Lisa saat mendapat pertanyaan itu. Entah mengapa dia merasa tertarik pada gadis yang menganggap dirinya hanya orang biasa.


"Jangan terlalu fokus bekerja, Bro. Nanti wanita Sholehah sold out semua, lu enggak kebagian lagi deh," ujar Agung.


Agung sempat melihat lirikan mata Reza yang mengarah pada Lisa, jadi Agung pun berusaha menggoda mereka.


"Hahaha, kalau jodoh enggak akan ke mana," ujar Reza tertawa.


Merekapun mulai menyantap sajian makan malam yang sudah tersedia.


Reza dan Lisa saling mencuri-curi pandang saat mereka menikmati makan malam bersama dengan seluruh keluarga besar.


Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Ingin dia langsung mempertanyakan hal ini langsung pada Reza tapi mungkin saat ini bukanlah waktunya.


Mereka terlihat sangat akrab, seperti sudah kenal lama sebelumnya.


Setelah usai makan malam, Raffa membawa tamunya duduk santai di taman depan penginapan. Sementara itu para wanita juga ikut bergabung dengan para lelaki.


Sang istri duduk di samping sang suami, dan para gadis duduk di bangku panjang yang juga masih bergabung dengan yang lainnya.


Hanya Alita yang memilih untuk mengurung diri di kamarnya. Dia masih saja belum menerima keputusan yang sudah diambil oleh Ayah Hendra.


"Al, kamu tidak ikut bergabung dengan yang lainnya?" tanya Raymond pada Alita sebelum Alita membuka pintu kamarnya.


"Itu bukan urusanmu," ujar Alita ketus pada pria yang kini sudah berstatus sebagai calon suaminya.


"Sebentar lagi apa pun yang terjadi pada dirimu akan menjadi urusanku, Al." Raymond menegaskan.


"Terserah apa yang ingin kau katakan, aku tak peduli," ujar Alita.


Gadis itu pun langsung menutup pintu kamarnya dengan kencang.


Raymond hanya tersenyum, lalu dia pun ikut bergabung dengan teman-temannya yang lain.

__ADS_1


"Sayang, Reza ini teman SMA kami, sekarang dia bekerja di resort ini dan penginapan ini adalah,--"


"Juga tempat aku bekerja," potong Reza.


Reza sengaja melakukan hal itu karena dia belum ingin Lisa tahu siapa dirinya.


Raffa mengernyitkan dahinya dengan ucapan Reza, tapi dia mengerti ada sesuatu yang ingin ditutupi temannya itu.


"Oh gitu, sejak tadi aku sudah bertanya-tanya tapi belum bisa bertanya karena kalian sangat asyik bercerita," ujar Raffa.


"Kami satu kelas sejak kelas 1 SMA hingga kelas 3, setelah tamat kami melanjutkan di Universitas yang berbeda dan setelah sekian lama kami baru berjumpa kembali," ujar Agung menambah penjelasan Raffa.


Semua wanita di sana pun mulai paham hubungan yang Agung dan Raffa dengan Reza.


Dengan mudah mereka saling menyatu, sikap ramah dan supel Reza membuat mereka menikmati bercengkrama dengan hangat di malam yang dingin itu.


"Sayang, aku ngantuk," lirih Kayla sambil menutup mulutnya yang menguap.


Melihat istrinya sudah kelelahan, Raffa pun merasa kasihan. Akhirnya Raffa pamit terlebih dahulu untuk masuk kamar.


"Za, lain kali kita sambung ngobrolnya, ya! Istri gue udah ngantuk berat," ujar Raffa.


"Gimana kalau besok kita ketemu lagi, rencananya besok kami mau ke Puncak Mandeh," usul Agung.


"Ya udah, enggak apa-apa. Gue masih mau santai di sini, kalian beristirahatlah. Supaya besok bisa menikmati keindahan Puncak Mandeh," ujar Reza.


Agung juga sudah kasihan melihat istrinya. Dia pun ikut masuk ke dalam kamar.


Begitu juga dengan pasangan lainnya, mereka memilih untuk masuk kamar. Reza masih enggan untuk pamit karena dia masih ingin mengobrol dengan Lisa.


Satu per satu orang sudah masuk ke dalam penginapan.


"Gue duluan ya, Lis. Udah ngantuk berat, nih," ujar Gita sebelum meninggalkan sahabatnya.


"Iya," lirih Lisa.


Setelah semua orang masuk ke penginapan, tinggallah Lisa dan Reza di sana.


Lisa melangkah ke sebuah gazebo yang terletak di pinggir taman. Dari sana mereka dapat melihat cahaya lampu yang berkilauan dari pinggir Pantai Carocok.


"Kamu belum mengantuk?" tanya Reza yang mengikuti langkah Lisa.


"Mhm, belum," lirih Lisa.


"Aku tidak menyangka kita bisa berjumpa lagi," ujar Reza memulai pembicaraan.


Lisa menoleh ke arah Reza, jantungnya berdegup dengan kencang. Begitu juga dengan Reza.


"Kamu enggak takut dimarahin majikan kamu bawa mobilnya lama-lama?" tanya Lisa tiba-tiba.

__ADS_1


Dia tak sengaja melihat mobil Pajero yang terparkir di depan penginapan.


Bersambung...


__ADS_2