Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 99


__ADS_3

"Jangan-jangan kenapa, Ma?" tanya Raffa merasa khawatir dengan apa yang terjadi pada istrinya.


"Apa mungkin Kayla hamil?" lirih Arumi.


Kayla terdiam mendengar ucapan ibu mertuanya. Dia mencoba mengingat terakhir dia datang bulan.


"Mhm, jangan-jangan apa yang dibilang mama benar," gumam Kayla di dalam hati.


"Tapi, Ma. Aku tidak merasakan mual dan pusing seperti hamil sebelumnya," ujar Kayla menyangkal pendapat ibu mertuanya.


"Sayang, gejala kehamilan itu berbeda-beda. Tidak hanya mual dan pusing, terkadang nafsu makan ibu hamil bisa bertambah dari biasanya," ujar Arumi memberikan pencerahan.


"Begitu ya, Ma?" tanya Kayla memastikan.


"Iya, Nak." Arumi mengangguk.


"Ya udah, nanti sore kita langsung ke dokter," ajak Raffa.


Seketika wajah Raffa sumringah, dia bahagia saat mendengar pendapat mamanya.


"Enggak usah ke dokter, Bang." Kayla merasa malu untuk datang ke dokter.


"Sekarang tes kehamilan sudah bisa dilakukan di rumah, Fa. Jadi, menurut mama kamu beli aja alat tes kehamilan dulu. Kalau sudah pasti Kayla positif hamil, kamu bisa bawa Kayla ke dokter," nasehat Arumi.


"Semoga saja, kakak benar-benar hamil," seru Rayna ikut bahagia.


"Aamiin," sahut Arumi.


Raffa menatap bahagia ke arah Kayla.


Di sore hari, Kayla dan Raffa pergi keluar mencari alat tes kehamilan di apotik.


Sementara itu Satya dan Rayna bercengkrama dengan Arumi di ruang keluarga.


"Sayang, apakah kamu bahagia jika kamu benar-benar hamil?" tanya Raffa.


Kayla memegang perutnya yang masih rata.


"Impian seorang wanita yang sudah menikah adalah merasakan nikmatnya mengandung buah cintanya dengan pasangannya," jawab Kayla dengan bijaksana.


Raffa membelai lembut kepala istrinya, dia tersenyum menatap dalam pada sang istri.


Dia merasa bersyukur mendapatkan istri seperti Kayla yang sangat menyadari kodratnya sebagai seorang wanita.


Raffa menghentikan mobilnya di depan salah satu apotik.


"Kamu tunggu di sini saja, aku yang akan membelinya," ujar Raffa.


Dia pun keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam apotik untuk membeli alat tes kehamilan.


Tak berapa lama Raffa kembali masuk ke dalam mobil.


"Bang, kita beli martabak mesir, ya," rengek Kayla pada suaminya.


"Kamu lapar lagi?" tanya Raffa pada istrinya.


Kayla mengangguk.


Raffa pun tersenyum, sekarang sudah menjadi kebiasaan baginya untuk memenuhi permintaan istrinya yang selalu merasa lapar.


Raffa mulai melajukan mobilnya, dia pun mencari bofet martabak mesir terbesar di kota Padang.


"Kita makan di sini, atau di rumah?" tanya Raffa pada istrinya.


"Kita makan di sini dulu, nanti kalau aku masih berselera kita bawa pulang," jawab Kayla dengan wajah yang memelas.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Apa pun akan aku belikan untuk anak kita," sahut Raffa.


"Ih, Bang Raffa. Aku kan belum tentu hamil," sahut Kayla memanyunkan bibirnya.


"Sayang, jangan biasakan cemberut seperti itu di hadapanku," ujar Raffa memberi peringatan kepada istrinya.


"Memangnya kenapa?" tanya Kayla.


"Jika melihatmu cemberut seperti itu, aku jadi ingin ******* bibirmu," ujar Raffa dengan tatapan genit pada istrinya.


"Ish." Kayla mencubit pinggang suaminya.


"Auw," pekik Raffa.


Dia pun tersenyum bahagia.


"Semoga kamu benar-benar hamil, Sayang," lirih Raffa.


"Aamiin," gumam Kayla di dalam hati.


Mereka turun dari mobil setelah berada di bofet martabak mesir terbesar di kota Padang.


Raffa dan Kayla memilih tempat duduk lesehan yang terdapat di bagian belakang yang di sana terdapat taman yang indah.


Raffa dan Kayla pun asyik mengobrol sambil menunggu martabak mesir yang mereka pesan datang.


"Kayla," panggil Hurry yang melihat Kayla berada di tempat yang sama dengannya.


Hurry datang ke tempat itu karena ingin berjumpa dengan temannya.


"Bunda," lirih Kayla.


Kayla pun berdiri dan menghampiri Bunda Hurry. Dia menyalami wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibunya.


"Sejak kapan kamu berada di Padang?" tanya Hurry.


"Kami baru saja sampai di Padang tadi siang, Bunda," jawab Kayla.


"Mhm, kamu pasti masih sangat lelah," ujar Hurry.


"Lumayan, Bunda. Kami jalan-jalan sore dan mampir di sini karena aku merasa lapar," ujar Kayla.


"Oh begitu, kalian lanjutkanlah makannya," ujar Hurry.


"Iya, Bunda," lirih Kayla.


"Raffa, jika kalian ada waktu. Datanglah ke rumah, kalau bisa menginap," pinta Hurry pada teman putranya.


"Iya, Bun. Aku akan menyempatkan datang ke rumah Bunda. Kami ada waktu dua minggu liburan di sini," ujar Raffa.


"Terima kasih ya, Nak." Hurry tersenyum pada pasangan suami istri itu.


"Teman Bunda sudah datang, bunda ke sana dulu, ya," ujar Hurry pamit meninggalkan mereka.


"Iya, Bun," sahut Raffa dan Kayla serentak.


"Sayang, Bunda Hurry terlihat sangat menyayangimu, bagaimana dengan perasaanmu saat berada di dekatnya?" tanya Raffa pada istrinya.


"Bang, setiap aku berada di dekat Bunda Hurry, aku merasa sangat dekat dengannya, seolah ada ikatan bathin di antara kami, tapi kita semua sudah membuktikan bahwa bunda Hurry bukan ibu kandungku," jawab Kayla jujur dengan apa yang selama ini dia rasakan saat berada di dekat wanita yang seumuran dengan ibu mertuanya.


"Aku merasakan, Bunda Hurry yakin bahwa kamu adalah putrinya yang bernama Ara," ujar Raffa menyampaikan pendapatnya.


"Entahlah, Bang. Aku hanya berharap, semoga suatu hari nanti aku dapat berjumpa dengan ibu kandungku atau dapat mengetahui jati diriku yang sesungguhnya," ujar Kayla penuh harap.


"Aamiin, semoga saja do'a kamu terjawab ya, Sayang," ujar Raffa.

__ADS_1


Tak berapa lama, martabak mesir yang mereka pesan pun datang dan terhidang di hadapan mereka.


Kayla menyantap martabak mesir itu dengan lahapnya. Raffa juga ikut makan menu yang dipesannya.


Setelah selesai menghabiskan makanannya, Kayla memperhatikan Raffa yang masih belum menghabiskan martabak mesir yang ada di piringnya.


"Kenapa?" tanya Raffa heran melihat istrinya yang menatap dirinya.


"Mhm," gumam Kayla sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu mau?" tanya Raffa pada istrinya yang menatap aneh pada makanannya.


Kayla mengangguk pelan.


Akhirnya Raffa mengalah dan memberikan makanannya pada sang istri.


Dengan senang hati Kayla menyantap makanan Raffa dengan lahap.


Raffa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat selera makan sang istri yang memang di luar batas normal.


Setelah selesai makan, Kayla dan Raffa keluar daro bofet martabak itu dan pulang.


Sesampai rumah, mereka langsung ikut bergabung dengan keluarganya yang tengah berkumpul di ruang keluarga menunggu waktu maghrib datang.


Raffa dan Kayla sepakat akan mencoba alat tes kehamilan itu besok pagi saat Kayla bangun tidur.


****


Keesokkan harinya, pada pukul 04.00 Raffa terbangun dari tidurnya.


Pria itu menatap wajah anggun sang istri, lalu mengecup lembut puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Bang, kamu sudah bangun?" lirih Kayla yang terbangun karena Raffa mengecupnya.


Raffa mengangguk.


"Ayo, kita ke kamar mandi," ajak Raffa.


Dia sudah tidak sabar untuk mencoba alat tes kehamilan yang mereka beli kemarin sore.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2