
“Kamu pasti bohong, Ray. Kamu tidak akan pernah bias menggantikan posisiku dengan wanita kampung ini1” bantah Diana tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Raymond.
“Percaya, tak percaya inilah kenyataannya. Alita adal istriku,” ujar Raymond memperjelas statusnya dengan Alita di depan wanita yang ingin kembali bertahta di hati Raymond.
Jantung Alita berdetak dengan kencang hatinya berdesir mendengar ucapan sang suami, dia tak pernah menyangka Raymond akan mempertahankan dirinya di hadapan wanita lain.
Sedangkan saat ini, Alita belum bisa memberikan hatinya pada Raymond, dia belum bisa menjadi istri yang baik untuk sang suami yang sangat menjaga harga dirinya saat ini di hadapan wanita lain.
Raymond menarik tangan ALita untuk pergi dari kafe itu setelah dia melihat Alita sudah menyelesaikan kegiatan makannya. Tampaknya Alita semakin hilang nafsu makan setelah bertemu dnegan Diana.
“Maaf, Diana. Kami harus pulang, istriku pasti lelah,” ujar Raymond, lagi-lagi Raymond menunjukkan perhatiannya pada Alita di hadapan Diana.
Alita terdiam melihat sikap Raymond terhadap calon pelakor yang ingin menggoda suaminya. Alita mulai mengagumi sang suami. Raymond menarik tangannya dan menggenggam tangannya dengan erat seakan tak ingin melepaskan dirinya dari genggamannya selam ini.
Sesampai di parkiran kafe, Raymond membukakan pintu mobil untuk Alita, dia masuk ke dalam mobil dengan perasaan tersanjung yang kini menyelimuti hatinya.
“Kita langsung pulang saja, ya,” ujar Raymond pada istrinya.
Alita hanya mengangguk sambil menatap sang suami yang kini sudah mulai melajukan mobilnya meninggalkan kafe, membelah jalanan raya yang semakin sepi dari keramaian kendaraan karena malam mulai larut.
“Apakah sebesar itukah cintamu padaku, setulus itukah cintamu padaku? Sehingga kamu sanggup mengangkat harga diriku di hadapan wanita yang jelas-jelas ingin merebutmu dariku?” gumam Alita di dalam hati masih menatap dalam pada wajah tampan milik sang suami.
“Ada apa? Kenapa liatin aku seperti itu?” tanya Raymond saat menyadari sang istri sedari tadi menatap dirinya tanpa berkedip sedikitpun.
“Mhm,” gumam Alita gugup.
“Kalau kamu terus-tersuan menatapku seperti itu, nanti kamu naksir sama aku lho,” ujar Raymond menggoda Alita.
“Apa salah aku mulai naksir pada suamiku sendiri?” lirih Alita yang terdengar samar-samar di telinga Raymong.
“Hah? APa yang kamu bilang?” tanya Raymond meminta Alita mengulangi ucapannya.
“Mhm, enggak ada,” ujar Alita ketus.
Raymond tersenyum menyeringai, ada rasa bahagia saat dapat mendengar ucapan Alita yang jujur mengatakan dia mulai tertarik pada sosok suaminya.
__ADS_1
Alita memalingkan wajahnya ke luar jendela, dia malu mengakui bahwa dirinya mulai kagum terhadap sang suami. Entah mengapa, kini dia mulai merelakan kehormnatannya diambil oleh pria yang kini berada di sampingnya.
Meskipun Alita tak mengingat jelas malam itu, tapi dia yakin bahwa dia sudah tidak pera**n lagi. Dan hal itu dilakukan oleh pria yang kini sudah sah menjadi suaminya.
****
Hari-hari terus berlalu meninggalkan kenangan pada setiap insan yang menjalaninya, kenangan manis di saat berpacaran kini hanya tinggal kenangan saja. Alex kini duduk termangu di depan gazebo fakultasnya sambil menunggu waktu masuk kelas lagi.
Dia tengah memikirkan hubungan rumah tangganya dengan Irene yang setiap hari bertengkar, bahkan yang menjad penyebab pertengkaran di antara mereka hanya karena perbedaan pendapat saja.
Alex mengingat permasalahan tadi pagi, Irene kesal karena sarapan pagi hanya dengan sepiring nasi goreng dan sepotong telur ceplok.
Alex memberi alasan untuk berhemat, karena saat ini tabungan yang dimiliki Alex semakin menipis, untung saja keberadaan Mak Ijah di rumah yang membantu Irene dibayar oleh Ayah Hendra.
Hendra sengaja meminta Mak Ijah tetap berada di Jakarta menemani Alex dan Irene agar mereka berdua bisa fokus kuliah.
“Aku capek, makanan kita itu-itu terus,” gerutu Irene meluapkan rasa bosannya.
Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Irene dan kini menjadi beban pikiran oleh Alex.
Bahkan Mak Ijah yang dikasih belanja bulanan oleh Alex harus menggunakan gaji yang dikirimkan Hendra untuknya agar mereka dapat mengganti menu agar tidak monoton. Walaupun Mak Ijah hanya sanggup mengganti ayam dengan ikan asin.
“Hai, Bro.” sapa Agung yang tiba-tiba datang menghampirinya.
Agung sedang berada di Jakarta untuk mengurus beberapa orderan pakaian dibutiknya, dia menyempatkan diri datang ke kampus Alex karena sejak tadi dia menghubungi Alex tidak pernagh dijawab sama sekali oleh adiknya.
“Bang Agung!” seru Alex kaget saat melihat Abang kandungnya tengah berada di kampusnya.
“Kenapa, lu? Kok cemberut gitu?” tanya Agung heran melihat wajah adiknya yang kusut tidak seperti biasanya.
“Mhm,” gumam Alex.
Dia tidak mungkin menceritakan maslah rumah tangga yang kini dihadapinya. Bisa jadi, nanti keluarganya akan turun tangan membantu ekonomi rumah tangganya. Alex tidak mau itu terjadi, karena dia ingin berjuang membahagiakan istrinya dengan tangannya sendiri agar ibu Irene dan tantenya tidak lagi menghinda dirinya.
“Lu, lagi ada masalah?” tanya Agung pada Alex.
__ADS_1
Dia semakin penasaran melihat ekspresi sang adding yang terlihat nelangsa dalam menjalani manisnya kehidupan.
“Enggak, Bro. Gue Cuma kecapekan, sejak menikah gue harus kuliah dan bekerja, jadi kurang istirahat saja,” jawab Alex.
“Mhm, bunda nanyain, lu,” ujar Agung.
“Iya, Bang. Kemarin, Raffa udah bilang kalau Bunda lagi di Jakarta, tapi gue belum smepat datang mengunjungi beliau. Mungkin minggu depan,” jawab Alex.
Alex sudah tahu bahwa Bundanya berada di Jakarta, tapi karena rumitnya kehidupan yang kini dijalaninya membuat dia tidak memiliki waktu untuk berkunjung sejenak ke rumah kakaknya.
“Sesibuk apa sih pekerjaan, Lu? Sampai-sampai sebentar saja melihat bunda lu enggak sempat,” tanya Agung menyudutkan Alex.
“Enggak terlalu sibuk juga, Bang. Tapi, gue juga harus kuliah karena jadwal kuliah gue kan masih padat.” Alex berusaha memberi alasan.
“Mhm, ya udah terserah, Lu. Udah makan belum?” tanya Agung.
Agung yakin adiknya belum makan siang, karena terlihat bahwa adiknya kini terlihat mulai kurus tidak seperti biasanya.
“Mhm, belum,” jawab Alex.
“Ya udah, kalau gitu, kita makan di kantin, yuk,” ajak Agung pada adiknya.
Alex mengangguk, mereka melangkah menuju kantin. Jadwal masuk kuliah satu jam lagi, jadi dia masih ada waktu untuk makan, sejak tadi Alex ingin pergi makan siang, tapi dia takut menghabiskan uangnya oleh sebab itu dia memilih duduk di Gazebo fakultasnya.
Mereka masuk kantin dan makan siang bersama, Agung heran melihat adiknya menikmati pecel ayam yang ada di dalam piringnya dengan lahap, terlihat seperti orang tidak makan enak telah beberapa hari.
“Enak?” tanya Agung pada Alex.
Alex mengangguk.
“Kalau enak, Lu bisa bungkus untuk pulang,” ujar Agung menawqarkan.
Mata Alex berbinar mendengar tawaran yang dilontarkan oleh Abang kandungnya itu.
“Aku boleh bungkus 2 enggak, Bang? Buat Irene dan Mak Ijah,” tanya Alex memohon.
__ADS_1
“Ya udah, Lu pesan aja, biar gue nanti yang bayar," ujar Agung seolah mengerti apa yang tengah di hadapi oleh adiknya.
Bersambung…