
“Siapa bilang kalau aku mau marah?” tanya Alex balik dengan wajah bingung.
“ Ya kali aja kamu mau marah-marah lagi sama aku,” ujar Irene mulai merajuk.
“Jadi, kamu mau aku marah lagi sama kamu? Hah?” Alex masih membolak balikkan pertanyaan istrinya.
Ada rasa kasihan pada istrinya.
“Apakah seharian ini kamu merasa sedih karena sikapku tadi pagi?” gumam Alex di dalam hati.
Dia menatap dalam pada sang istri. Irene hanya menunduk mendapat tatapan dari sang suami.
“Aku belum shalat,” lirih Irene.
Dia memilih untuk mengalihkan pembicaraan daripada terus berdebat dengan suaminya.
Irene bangkit dari tempat tidur dia hendak melangkah menuju kamar mandi, tiba-tiba Alex menarik tangannya sehingga Irene pun menghentikan langkahnya.
Alex menarik tubuh sang istri hingga jatuh dalam dekapannya. Irene terdiam, dia mengira suaminya akan marah lagi, dia mendongakkan kepalanya menatap bola mata sang suami.
“Maafkan aku,” lirih Alex.
“Aku hanya kesal melihat sikapmu yang kembali tidur setelah shalat subuh, aku hanya ingin mengingatkanmu saat ini kamu sudah memiliki seorang suami yang perlu kamu urus sebelum dia berangkat bekerja,” ujar Alex menasehati istrinya atas kelakuan yang sudah dilakukan sang istri tadi pagi.
“Lagian, kamu marah-,marah enggak jelas sama aku,” protes Irened engan nada merajuk dan manja.
“Iya, aku minta maaf.”Alex mengacak-acak rambut Irene.
“Ish, suka sekali acak-acak kepalaku,” gerutu Irene sambil mengerucutkan bibirnya.
“Hehe, itu hobiku,” ujar Alex sambil terkekeh.
“Mhm, nanti malam kita pergi ke mall, ya. Sekalian makan malam,” ajak Alex pada istrinya.
“Iya.” Irene mengangguk setuju.
“Ya udah, kalau gitu kamu shalat dulu sana, aku juga mau shalat,” ujar Alex pada Irene.
Irene mengangguk pelan, lalu melepaskan pelukan dari sang suami. Setelah itu dia pun melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap shalat ashar.
Setelah maghrib, Alex dan Irene pun pamit pada Mak Ijah untuk keluar sebentar.
“Mak Ijah mau dibelikan apa?” tanya Irene ramah pada Mak Ijah.
“Enggak usah repot-repot, Nak. Kalian hati-hati aja,” ujar Mak Ijah senang melihat sepasang suami istri itu sudah mulai akur.
“Mhm, martabak bandung mau enggak, Mak?” tanya Alex.
“Martabak bandung yang kayak mana?” tanya Mak Ijah.
__ADS_1
Mak Ijah datang dari kampung jadi dia masih banyak yang tidak tahu dengan berbagai jenis makanan yang dijual oleh orang-orang di kota.
“Itu lho, Mak. Yang kita makan waktu Mak Ijah baru sampai di sini,” jawab Alex menjelaskan.
“Oh, yang pake coklat sama juju, ya?” tanya Mak Ijah memastikan.
“Juju?” lirih Irene bingung.
“Keju, Mak,” ujar Alex membenarkan ucapan Mak Ijah yang salah.
“Nah, itu,” ujar Mak Ijah mengangguk.
“Iya, Mak,” jawab Irene, “Mak Ijah mau?” tanya Irene menawarkan.
“Boleh,” jawab Mak Ijah.
“Oke, Mak. Hati-hati di rumah, ya,” ujar Alex.
“Oke,” sahut Mak Ijah senang karena dia juga suka dengan makanan yang bernama martabak bandung itu.
Alex dan Irene keluar dari rumah, Alex memilih menggunakan mobil karena sudah malam, dia takut istrinya masuk angina jika dia keluar membawa istrinya dengan sepeda motor.
“Kenapa kita enggak pakai motor aja, Sayang?” tanya Irene heran.
“Udah malam, nanti kamu masuk angina,” jawab Alex.
Bagi Irene dia lebih senang kemana-mana menggunakan sepeda motor karena beda sensasinya daripada pakai mobil.
“Itu kan waktu kamu jadi pacar aku,” jawab Alex asal.
“Trus?” Irene menautkan dua alisnya.
Irene merasa aneh mendengar jawaban sang suami yang asal.
“Ya waktu itu kan kamu masih pacar aku, jadi aku enggak terlalu wajib buat ngejagain kamu. Sekarang kamu udah istriku, nanti kalau kamu sakit kan,--“ Alex bingung melanjutkan ucapannya karena Irene sudah menatap kesal ke arah dirinya.
“Jadi kalau aku sakit kamu enggak mau repot-repot jagain aku? Hah?” tanya Irene cemberut.
“Bukan gitu juga sih, ah udah. Yuk berangkat!” ajak Alex pada Irene yang masih saja berdiri di teras rumah dengahn aksi protesnya.
Alex membukakan pintu mobil untuk istrinya, Irene pun masuk masih dengan wajah cemberut. Alex menghela napas panjang. Dia mengitari mobil untuk masuk ke dalam mobil setelah memastikan Irene duduk di atas mobil dnegan nyaman.
Alex mulai melajukan mobil meninggalkan rumah kontrakannya menuju sebuah mall terbesar di Jakarta. Sepanjang perjalanan Alex fokus mengendarai mobil sesekali dia menoleh ke arah sang istri yang memandang ke luar jendela mobil mencermati keramain kota Jakarta di malam hari.
“Bagaimana kota Jakarta?” tanya Alex pada Irene.
“Tidak terlalu jauh berbeda dengan kota Padang sekarang, paling bedanya gedung-gedung di sini benar-benar menjulang tinggi mencakar langit,” ujar Irene memberi pendapat tentang Kota Jakarta yang setelah sekian lama dia tak berkunjung ke Ibu kota.
“Mulai sekarang, kita akan mecoba memulai menjalani hidup di ibu kota ini,” ujar Alex.
__ADS_1
“Mhm,” gumam Irene.
“Kamu siap, kan?” tanya Alex.
“
Selagi aku ada di samping kamu, tapi,--“ Irene menggantung ucapannya.
“Tapia pa?” tanya Alex penasaran.
“Tapi jangan sering marah-marah sama aku,” ujar Irene jujur.
Irene merasa hidupnya sangat menyedihkan di saat Alex bersikap dingin padanya, ditambah dengan amarah Alex setelah pulang dari rumah kedua orang tua Irene.
“Kalau kamu enggak marah, kamu jangan bikin ulah yang aneh-aneh, dong,” ujar Alex sambil tersenyum.
“Mhm.” Irene setuju dnegan ucapan alex.
Setelah menempuh lebih kurang 30 menit, mereka sampai di mall, Alex memarkirkan mobilnya di parkiran mall. Lalu mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam mall.
Irene sedikit takjub dengan kemegahan mall yang dimasukinya, walaupun di Padang terdapat transmart dan Plasa Andalas, tapi mall yang dikunjunginya saat ini jauh lebih besar dari yang ada di kota Padang.
Mereka terus melangkah mengelilingi mall, masuk ke satu toko dan berpindah ke toko lainnya.
“Kamu mau ngapain ngajakin aku ke sini?” tanya Irene bingung,
“Aku mau carikan kamu beberapa pakaian untuk di rumah dan beberapa lagi untuk pergi ke kampus,” jawab Alex santai.
“Hah? Buat aku?” tanya Irene tak yakin.
“Iya, tadi aku lihat pakaian kamu di lemari sedikit, jadi aku memutuskan untuk membelikan pakaian untukmu,” ujar Alex.
“Hah? Serius?" tanya Irene senang.
"Iya, selagi tabungan aku masih ada. Semoga saja bulan depan aku sudah bisa terima gaji dari kerja di kafe," ujar Alex.
"Aamiin, makasih ya, Sayang," ucap Irene.
Irene tahu, Alex akan melakukan apa saja untuk dirinya, tapi walaupun begitu Irene juga tidak bisa meminta sesuka hatinya karena Alex baru saja bekerja.
Mereka pun terus melangkah ke beberapa toko baju dan terus berkeliling.
Di saat mereka melewati toko perhiasan, Irene melihat sosok yang sangat dikenalnya di sana.
Irene menghentikan langkahnya dan memperhatikan orang yang ada di toko perhiasan tersebut.
"Ada apa, Ren?" tanya Alex.
Bersambung...
__ADS_1