
Setelah menempuh perjalanan satu jam, mereka sampai di sebuah taman bunga nan indah. Taman labirin yang di sana terdapat berbagai jenis bunga nan indah yang ditata dengan apik, membuat mata terasa nyaman melihatnya.
Raffa, mengajak Kayla masuk ke dalam kawasan taman nusantara itu, dia membawa Kayla melangkah menyusuri taman menikmati keindahan bunga sambil menghirup udara Bogor yang sejuk.
Mereka melangkah dengan berbimbingan tangan, sebagaimana layaknya sepasang kekasih yang tengah dilanda asmara.
“Bagaimana, kamu suka?” tanya Raffa di sela-sela langkah mereka.
Kayla mengangguk, rasa nyaman berada dengan suaminya membuat hati Kayla berbunga-bunga. Raffa tersenyum melihat wajah malu-malu istrinya.
Raffa merangkul pundak Kayla. “Aku senang, kalau kamu suka.”
Sepasang suami istri itu pun mengambil beberapa photo untuk kenang-kenangan bagi mereka. Keduanya terlihat bahagia dalam cinta yang sudah menyatu.
Setelah lelah melangkah, Raffa mengajak Kayla berhenti di sebuah bangku panjang di bawah pohon yang rindang untuk beristirahat.
“Aku biasa pergi sendiri ke tempat ini, sesekali aku membawa Nick ke sini di saat kami mulai bosan dengan kehidupan perkuliahan,” ujar Raffa memulai ceritanya.
Raffa mengenang masa-masa indahnya saat masih berumur 8 tahun, sebelum dia berpisah dengan Zahra.
“Bang Raffa!” teriak Zahra kecil memanggil Raffa yang asik memandang danau buatan yang di sana terdapat sepeda air yang berjejeran.
Raffa menoleh, dia tersenyum melihat gadis kecil yang selalu bermain dengannya.
“Ada apa?” tanya Raffa.
“Kita beli layangan, yuk!” ajak Zahra sambil menarik tangan Raffa mendekati seorang penjual layangan tak jauh dari tempat mereka berada.
Dengan senang hati Raffa melangkah mengikuti langkah kecil gadis itu.
“Pak, saya mau beli layangannya satu, ya.” Pinta Kayla pada si penjual layangan.
“Berapa, Pak?” tanya Raffa pada si penjual.
“Dua puluh ribu, Nak.” Jawab si penjual layangan.
“Ini uangnya, Bang. Tadi Ibu kasih aku uang,” celetuk Zahra sambil mengulurkan uang sepuluh ribu.
Raffa tersenyum. “Uang ini enggak cukup, Dek.”
Raffa mengeluarkan uang sepuluh ribu yang ada di saku bajunya.
“Abang tambahin uang kamu, ya,” ujar Raffa.
Raffa memberikan dua lembar uang sepuluh ribu itu pada si penjual. Setelah itu mereka pun melangkah meninggalkan si penjual layangan.
“Nanti, uang Bang Raffa aku ganti, ya,” ujar Zahra dengan suara imutnya.
“Nggak usah diganti, Dek. Ayo, main!” ajak Raffa.
Raffa pun menuntun Zahra untuk memainkan layangannya, keceriaan terpancar di wajah gadis kecil itu. Kedua orang tua Raffa dan Zahra sudah lama bersahabat, mereka sering membawa anak-anak mereka bermain di taman Belibis yang nyaman untuk sekadar bercengkrama. Dua keluarga yang sangat harmonis.
“Apakah Zahra itu wanita yang pernah mengisi hati Bang Raffa?” tanya Kayla ragu-ragu.
__ADS_1
Hatinya merasa sedih saat mengetahui sang suami pernah mencintai wanita lain. Ada rasa sesak di dadanya saat mendengar sang suami menceritakan cinta masa kecilnya.
“Iya, tapi saat ini aku mulai menyayangi kamu,” ujar Raffa membuat Kayla merasa terharu mendengar penuturan dari sang suami.
Raffa menarik tubuh sang istri ke dalam dekapannya.
“Kamu istriku, aku akan berusaha mencintaimu sepenuhnya,” ujar Raffa.
Kayla membalas pelukan dari sang suami, kehangatan kasih sayang yang diberikan Raffa membuat Kayla tak ingin melepaskan pelukannya.
Tak berapa lama, terdengar suara adzan dzuhur.
“Udah dzuhur, kita shalat dulu!” ajak Raffa.
Mereka pun melangkah menuju masjid yang tersedia di taman bunga itu untuk melaksanakan kewajiban mereka sebagai hamba Allah.
****
Setelah selesai melaksanakan shalat duhur, mereka pun beranjak menuju parkiran. Mereka akan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Jakarta, tetapi sebelum itu Raffa mengajak Kayla untuk makan siang di sebuah restoran yang tidak jauh dari Taman Bunga Nusantara.
“Kamu pasti lapar, ayo kita makan!” ajak Raffa setelah memarkirkan mobilnya di depan restoran mewah di kota Bogor.
“Iya, Bang. Aku udah lapar,” ujar Kayla menanggapi sambil mengelus perutnya yang sudah mulai keroncongan.
Mereka turun dari mobil, dan masuk ke dalam restoran itu. Mereka memilih tempat duduk bagian pojok belakang yang menghadap pada sebuah televisi besar yang tergantung di dinding restoran.
“Mau makan apa?” tanya Raffa pada Kayla.
“Chicken teriyaki dan jus buah naga,” ujar Kayla setelah menemukan makanan yang disukainya.
“Chicken teriyakinya 2 porsi, minumannya lemon tea satu dan jus buah naga,” ujar Raffa pada seorang pelayan yang sudah berdiri di samping meja.
Si pelayan menulis pesanan Kayla dan Raffa, “Ada tambahan?” tanya si pelayan sebelum dia mengambilkan menu yang sudah dipesan sepasang suami istri itu.
“Fried potatoes 2,” tambah Raffa.
“Kama apa lagi?” tanya Raffa pada istrinya.
“Udah, cukup.” Kayla tidak terlalu berselera dengan makanan lainnya.
“Kay,” lirih Raffa memanggil istrinya.
Kayla mengangkat wajahnya lalu menatap sang suami, “Ada apa, Bang?” tanya Kayla.
Raffa mengeluarkan dompet dari saku celananya. Dia mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari dompet itu lalu memberikan kartu itu padanya.
“Apa ini?” tanya Kayla bingung.
Kayla masih enggan mengambil kartu yang diserahkan Raffa padanya. Kayla sangat mengenal kartu yang akan diberikan Raffa untuknya
“Di dalam kartu ini berisi semua penghasilan yang aku dapatkan selama menjadi motivator baik secara during maupun luring. Aku sengaja menabungkan penghasilanku untuk kehidupanku nanti jika sudah berumah tangga.” Raffa menjelaskan perihal kartu yang hendak diberikannya pada sang istri.
“Tapi, Bang.” Kayla bingung mau mengambil kartu itu atau tidak.
__ADS_1
“Saat ini kamu adalah istriku, maka semua hal yang kamu butuhkan adalah tanggung jawabku. Di saat kamu berada di asrama nanti aku tidak bisa memberimu uang. Jadi gunakanlah uang yang ada di kartu ini,” ujar Raffa memberi alasan agar Kayla mau menerima kartu itu.
“Tapi, Bang. Aku….” Kayla masih mencoba untuk menolak.
“Tidak ada alasanmu untuk menolak, ambillah dan gunakan uang itu!” perintah Raffa dengan tegas.
Akhirnya Kayla menerima kartu itu, dia tidak berdaya untuk menolak perintah sang suami.
“Pinnya, tanggal pernikahan kita,” ujar Raffa.
Kayla hanya mengangguk, lalu dia menyimpan kartu itu di dalam dompetnya.
Tak berapa lama, seorang pelayan datang menghampiri mereka dengan membawakan pesanan mereka. Si pelayan meletakkan makanan yang di bawanya di atas meja.
“Silakan, Tuan, Nona,” ujar si pelayan dengan ramah.
“Terima kasih,” ucap Raffa dan Kayla serentak.
Mereka pun menikmati makanan yang telah terhidang di atas meja. Kayla memakan makanannya dengan lahap karena memang sedari tadi dia sudah merasa sangat lapar.
Raffa terus memperhatikan Kayla yang makan dengan lahap, dia mengambil tisu lalu mendekatkan tangannya ke bibir Kayla membuat Kayla menghentikan kegiatannya.
“Dasar ceroboh,” lirih Raffa menggelengkan kepalanya.
Raffa menghapus sisa makanan yang menempel di pinggir bibir Kayla.
“Aku saja.” Kayla berusaha mengambil tisu lalu mengelap mulutnya yang berlepotan. Ada rasa bahagia yang menyelinap di hati Raffa saat memperhatikan sikap Kayla yang ceroboh di depannya.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Author🙏🙏🙏
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
-Vote
Terima kasih atas dukungannya 🙏🙏🙏
__ADS_1