Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 247


__ADS_3

Raymond terdiam sejenak.


"Hingga saat ini polisi masih menyelidikinya," ujar Raymond.


Ada rasa khawatir yang sedang menyelimuti hatinya, walau bagaimanapun kecelakaan tersebut terjadi adalah karena perbuatannya.


"Kawali setiap penyelidikan polisi, ini yang penting," ujar Raffa tegas seolah Raffa mengerti situasi yang kini dihadapi oleh Raymond.


"Iya, aku sudah suruh orang untuk tetap memberitahukan padaku setiap hasil penyelidikan polisi," ujar Raymond.


"Bagus," seru Raffa.


Raffa menatap kosong ke depan, dia memikirkan sesuatu yang akan mereka hadapi setelah ini.


"Lalu, bagaimana keadaan kafe sekarang?" tanya Raffa pada Raymond.


"Kafe masih bisa di amankan, saya rasa tenaga Fitri sangat dibutuhkan saat ini untuk menghandle semua pekerjaan yang ditanggung oleh Alex," ujar Raymond berpendapat.


"Katakan pada Fitri untuk mengambil alih semua tanggung jawab Alex untuk sementara waktu, semoga Alex cepat sembuh," ujar Raffa tegas.


Saat ini Raffa memang tidak terjun langsung mengurus permasalahan kafe, begitu juga dengan Satya.


Mereka sudah mempercayakan semuanya pada Nick, Raymond dan Alex.


Mereka hanya menerima laporan setiap bulannya dari ketiga orang kepercayaan mereka.


Tak berapa lama Raja dan Raju beserta mama dan neneknya keluar diikuti oleh Ratu bersama aunty Alita keluar dari kamar.


Mereka merasa jenuh berada di kamar sehingga mereka memutuskan untuk bergabung dengan Raymond dan Raffa di ruang keluarga.


Raymond tersenyum melihat Alita yang tengah menggendong Ratu, dia membayangkan Alita tengah menggendong anak mereka.


Raymond mulai merindukan sosok bayi dalam rumah tangganya, tapi apa boleh buat hingga saat ini Raymond belum memiliki kesempatan untuk menyentuh sesuatu yang paling berharga pada diri istrinya.


Kayla tersenyum melihat Raymond yang menatap kagum pada adiknya yang tengah menggendong putrinya.


“Kenapa, Ray? Kamu juga pengen punya baby?” goda Kayla pada adik iparnya.


Raffa dan Mama Arumi menoleh ke arah Alita, mereka juga tersenyum melihat Alita.

__ADS_1


“Kamu sudah pantas jadi seorang ibu, Nak. Ayo buruan program hamil supaya keluarga kalian semakin berwarna,” ujar Arumi pada Alita.


Wajah Alita langsung berubah menjadi merah bagaikan tomat masak, dia tersipu menahan malu mendengar ocehan kakaknya dan Mama Arumi.


Raymond menatap istrinya dengan tatapan penuh makna.


“Bagaimana kami mau punya anak kalau istriku saja masih pe,--“ Raymond menggantung ucapannya.


Hampir saja Raymond keceplosan mengungkap kebenaran yang selama ini mereka sembunyikan. Raymond menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


“Masih apa, Ray?” tanya Kayla heran melihat Raymond gugup.


Raymond takut kebenaran alasan menikahi Alita terbongkar sebelum Alita benar-benar mencintainya. Raymond akan mengungkap semuanya di saat Alita benar-benar sudah menyerahkan cintanya pada dirinya.


“Masih kuliah,” jawab Raymond menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Jadi kalian berencana akan memiliki anak setelah Alita selesai kuliah?” tanya Arumi memastikan.


“Mhm, ren-rencananya begitu, Ma,” jawab Raymond terpaksa.


“Mhm, sebenarnya saat Alita kuliah pun jika kalian diberi rejeki anak tidak akan masalah. Untuk mengasuhnya nanti kita bisa cari pengasuh,” ujar Arumi memberi pendapat pada Raymond dan Alita.


“Iya, Ma. Kami akan memikirkan ulang keputusan kami,” ujar Raymond setuju dengan pendapat Arumi.


Raymond menatap dalam pada sang istri yang kii menundukkan kepalanya, Alita merasa sangat malu karena selama ini dia tak pernah melakukan hubungan badan dengan suaminya dalam keadaan sadar.


Dalam benaknya saat ini Alita sudah pernah melakukan hubungan dengan suaminya di saat dia tak sadarkan diri.


“Mama berharap semoga kalian diberikan buah hati secepatnya, aamiin,” ujar Arumi dengan senyuman khas di wajahnya.


Kayla dan Raffa saling melempar pandangan mereka tersenyum bahagia. Mereka sejenak mengingat masa-masa awal-awal mereka baru menikah.


“Oek, oek,” tangis Raju pecah tiba-tiba.


Perhatian semua orang berpindah pada baby Raju yang menangis. Raffa langsung berpindah ke samping ibunya yang sedang menggendong Raju.


“Eh, anak papa kenapa nangis?” tanya Raffa mengajak Raju berbicara seolah bayi Raju mengerti dengan apa yang diucapkannya.


Raffa meraih baby Raju dan menggendongnya, kini Raju sudah berpindah ke pangkuan sang papa.

__ADS_1


Mereka pun mulai bercengkrama dengan ditemani sosok 3R yang lucu, sesekali terlihat Raymond dan Alita saling mencuri pandang, kini benih-benih cinta telah tumbuh di hati Alita.


Pada sore harinya Alita dan Raymond pun pamit pulang, awalnya Alita ingin menginap di rumah Kayla untuk membantu kakaknya mengurusi 3R, tapi mama Arumi mencegahnya karena Arumi tidak ingin Alita mengabaikan Raymond karena mereka masih terbilang pengantin baru.


Sepasang suami istri itupun melangkah keluar dari rumah Raffa, Raymond membukakan pintu mobil untuk istrinya, dia kembali memperlakukan istrinya bagaikan ratu setelah beberapa hari terakhir bersikap cuek pada sang istri.


Alita merasa tersanjung dengan perlakuan Raymond yang kembali bersikap manis padanya, kali ini jantung Alita berdegup dengan kencang karena dia sudah merasakan cinta untuk pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu.


Alita memberikan senyuman yang menawan pada suaminya yang selama ini belum pernah dilihat oleh Raymond. Pria tampan itu merasa sangat bahagia, dia yakin rumah tangganya dengan Alita akan menjadi keluarga yang bahagia.


Setelah memastikan istrinya masuk ke dalam mobil, Raymond mengitari mobilnya dan masuk ke dalam mobil melalui pintu kemudi. Raymond menoleh ke arah sang istri sebelum dia melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Raffa.


Raymond fokus melajukan mobilnya membelah jalan raya yang mulai dipadati kendaraan karena sudah mulai petang. Sedangkan Alita menatap ke depan memperhatikan kendaraan yang ada di hadapan mereka sesekali dia menoleh ke arah Raymond, tiba-tiba Alita merebahkan kepalanya di lengan kekar sang suami, dia melingkarkan tangannya di lengan kekar itu.


Alita bergelayut manja di saat Raymond masih fokus mengendarai mobilnya.


“Kita makan di mana, Sayang?” tanya Raymond pada Alita mulai membuka pembicaraan di sepanjang perjalanan mereka.


Raymond mulai memberanikan diri untuk memanggil istrinya dengan sebutan ‘sayang’ agar hati mereka semakin terpaut.


"Terserah kamu saja," jawab Alita.


"Ya sudah, kita berhenti di kafe aja, ya. Takutnya di rumah juga enggak ada makanan," ujar Raymond.


"Aku ikut kata kamu aja, deh, ujar Alita.


Raymond yang sudah terbiasa dengan masakan kafe SatRa memilih makan di kafe tempat dia bekerja.


Cita Rasa makanan yang ada di kafe SatRa sudah menyatu di lidahnya.


Tak berapa lama mereka menempuh perjalanan, Raymond menghentikan mobilnya tepat di depan kafe.


Mereka keluar dari mobil lalu melangkah masuk ke dalam kafe.


Pelayan kafe yang berjumpa dengan Raymond memberi hormat padanya, setelah itu Raymond memilih tempat duduk dan mengajak istrinya duduk di kursi privasi.


Saat mereka ingin duduk di kursi, seorang wanita mendorong Alita hingga Alita terjatuh.


Bersambung...

__ADS_1


.


__ADS_2