
Pagi yang cerah, matahari menyinari bumi dengan cahayanya. Setiap makhluk mengawali hari dengan hati yang bahagia.
Begitu juga dengan Akifa, hari ini dengan semangat yang menggelora dia berangkat menuju rumah sakit Naik DBS dengan mobil Hon*a J*zz merah miliknya.
Rahman sengaja membelikan keponakan bungsunya sebuah mobil agar gadis itu tidak mengalami kesulitan dalam mencapai cita-citanya.
"Akifa bisa kok pakai sepeda motor," ujar Akifa saat dia menolak hadiah mobil dari pamannya.
"Sepeda motor itu bisa bikin kamu hitam karena kepanasan," bantah Om Rahman.
Hanya dengan alasan takut keponakannya kepanasan Rahman membelikan mobil untuk Akifa, mau tak mau Akifa menerima mobil tersebut.
Dengan gigih Akifa belajar mengendarai mobil hingga hanya butuh waktu satu bulan dia sudah bisa melajukan mobil dengan baik.
Hari ini adalah hari pertama Akifa menjalani praktek sebagai dokter muda di rumah sakit, dia sangat bersemangat dan antusias dalam melaksanakan tugasnya ini.
"Bismillah, semoga hari ini berjalan dengan lancar dan menyenangkan," lirih Akifa sebelum turun dari mobil merah miliknya yang kini sudah terparkir di parkiran rumah sakit Naik DBS.
Di hari pertama semua Dokter muda yang bertugas di rumah sakit itu dikumpulkan di aula rumah sakit untuk melakukan pengarahan serta pembagian tim dalam bertugas.
Usai pengarahan dari dokter pembimbing semua Dokter muda disuruh berkumpul dengan tim masing-masing sebagaimana yang telah dibagikan oleh dokter pembimbing.
Akifa duduk dengan 4 orang dokter muda 2 orang perempuan dan 2 orang laki-laki.
2 orang perempuan Dokter muda itu merupakan teman Akifa di Fakultas kedokteran Universitas Andalas.
sementara itu dua orang laki-laki dokter muda itu merupakan mahasiswa fakultas kedokteran di Universitas Baiturrahmah.
"Hai, kenalkan aku Tasya ini temanku Nuri dan Akifa," ujar Tasya memperkenalkan diri dan teman-temannya.
"Hai juga, kenalkan namaku Rudi dan ini Hansel panggilannya Hans," ujar Rudi ikut memperkenalkan diri.
Mata Akifa tertuju pada pria yang bernama Hansel, seketika Akifa teringat dengan nama yang tertulis di scraf miliknya.
"Apakah, pria ini yang pernah berjumpa denganku," gumam Akifa sesaat.
Mereka saling melempar senyuman sebagai tanda perkenalan.
Hans menatap dalam pada paras Akifa yang terlihat sangat anggun di matanya.
Dia mulai jatuh hati pada gadis anggun dengan hijab panjangnya. Penampilan dokter muda nan anggun itu menghipnotis jiwanya.
"Semoga tim kita bisa solid dan kita lulus praktek dengan hasil yang memuaskan," ujar Hansel.
"Aamiin," sahut mereka semua.
Mereka pun saling mengenal satu sama lain sebelum mereka melaksanakan tugas.
Hari-hari dilewati Akifa dengan penuh semangat setiap melaksanakan tugas prakteknya, dari kesehariannya Akifa dapat mengenali sifat dan karakter Hansel.
__ADS_1
Pria yang memiliki postur setinggi 180 cm, penampilan yang rapi, dengan kacamata yang melekat di matanya membuat Hansel berwibawa.
Akifa sering memperhatikan keseharian Hansel selama berada di rumah sakit. Selain dia pintar, Hansel juga taat beribadah karena Hansel sering melaksanakan shalat sunat Dhuha di sela-sela tugas mereka.
Setiap waktu kosong dipergunakannya dengan sebaik mungkin.
"Kamu mau pulang?" tanya Hansel saat Akifa sudah berada di depan rumah sakit usai praktek.
Akifa menoleh pada pria yang mengajaknya bicara.
"Iya," lirih Lisa.
"Mau aku antar?" tanya Hansel pada Akifa.
"Eh, tidak usah. Aku bawa kendaraan sendiri," ujar Akifa.
"Mhm, ya udah kalau begitu aku duluan," ujar Hansel.
Hansel pun melangkah menuju parkiran roda dua, di sana terparkir sebuah sepeda motor nm*x merah miliknya.
Sebelum dia benar-benar pergi dari rumah sakit, dia menghampiri Akifa yang masih berdiri di depan pintu masuk rumah sakit.
"Aku pulang duluan," ujar Hansel seolah dia enggan berpisah dengan Akifa.
"Iya," lirih Akifa dengan anggunnya.
Dengan berat hati, Hansel terpaksa meninggalkan rumah sakit, padahal pria itu ingin tetap berlama-lama mengobrol dengan Akifa agar dapat mengenalinya lebih dekat.
Dia sengaja melakukan hal itu agar, teman-temannya tidak mengetahui bahwa dia datang ke rumah sakit menggunakan mobil.
Jika pagi hari, dia selalu datang lebih awal dari pada temannya yang lain.
Setelah memastikan semua teman-temannya sudah pulang, akifah langsung melangkah menuju parkiran untuk mengambil mobilnya .
Dia melajukan mobilnya keluar dari rumah sakit menuju kediaman keluarga Hendra.
di perjalanan tiba-tiba mobil Akifa mengalami bocor ban.
"Eh, sepertinya ada yang aneh dengan mobilku," lirih agifa sembari memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
Akibat turun dari mobil dan melihat kondisi mobilnya saat ini.
"Aduh kenapa pakai acara bocor ban, sih?" gerutu Akifa seorang diri.
Dia sedang berada dikawasan yang lumayan sepi, tiba-tiba sebuah sepeda motor datang menghampirinya.
"Kenapa, Kak?" tanya pria itu pada Akifa.
"Bo-cor ban," jawab Akifa dengan rasa takut.
__ADS_1
"Tempel ban masih jauh dari sini, Kak. Ada ban serep?" tanya sang pria itu.
"Mhm, ada," jawab Akifa masih takut karena perawakan dua pria itu terlihat seperti preman.
"Biar kami bantu," ujar sang pria itu.
Akifa mengangguk, lalu dia membuka pintu mobil untuk membuka bagasi mobil, tiba-tiba salah satu dari pria itu menodongkan senjata tajam tepat di pinggang gadis itu.
"Serahkan semua barang-barangmu, atau nyawamu melayang!" ancam sang pria pada Akifa.
Akifa ketakutan, di ingin kabur tapi kondisi mobilnya tak memungkinkan untuk kabur, akhirnya karena takut dia pasrah dan memberikan barang-barang berharga miliknya.
"Cepat!" bentak sang pria sambil memperhatikan keadaan di sekelilingnya.
"I-iya," lirih Akifa semakin takut.
Dia mulai menyesal telah melintasi jalanan ini, dia tak menyangka akan dirampok.
"Hentikan!" teriak seseorang yang baru saja datang.
Dia menghentikan sepeda motornya, dan memarkirkan motornya tak jauh dari mobil Akifa.
"Apa yang kalian lakukan?" tanya pria itu pada kedua pria yang henda merampok Akifa.
Pria yang memegang pisa itu pun menarik tubuh Alita dan menjadikannya sebagai tawanan.
"Jangan macam-macam, atau tidak nyawa gadis ini melayang," ancam si pria menatap tajam pada pria yang Mbaru saja datang.
Akifa dapat melihat dengan jelas pria yang kini ingin menolongnya.
"Hansel," lirih Akifa saat melihat pria yang ingin menolongnya adalah teman prakteknya.
Akifa benar-benar takut dengan situasi yang kini dihadapinya.
"Jangan sentuh gadis itu!" ancam Hansel sembari melangkah mendekati posisi Akifa.
"Jangan mendekat!" ancam si pria pada Hansel.
"Lepaskan gadis itu!" Hansel juga mencoba mengancam balik sang pria dan terus mencoba mendekat pada Akifa.
"Selangkah lagi kamu mendekat!, kamu akan menyesal!" bentak sang pria lagi.
Dan akhirnya, si pria nekat melukai Akifa.
"Aauww," pekik Akifa kesakitan.
Bersambung...
Hai readers...author minta maaf ya, kemarin tidak update karena ada acara keluarga...
__ADS_1
Author sudah berusaha untuk update tapi tidak fokus karena sibuk dengan acara keluarga 🙏🙏🙏
Terima kasih masih tetap menunggu update karya Author...🙏🙏🙏