
"Apa maksudmu?" tanya Raffa bingung.
"Bang Raffa, aku Zahra teman bermain Bang Raffa waktu kecil," jawab Zahra.
"Selama ini aku mencari-cari sosok Bang Raffa yang selalu menjaga dan menyayangiku di waktu kecil, dan ternyata orang itu kamu," tutur Zahra berhasil membuat Raffa terdiam.
"Apa buktinya kalau kamu adalah Zahra teman kecilku," tanya Raffa masih tak percaya.
"Aku seorang yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuaku di saat aku masih berumur 6 tahun, aku memiliki dua orang adik perempuan. Kami saat ini tinggal bersama paman di Padang," jelas Zahra panjang lebar.
Raffa terdiam mendengarkan penjelasan Zahra.
"Aku memiliki sebuah kalung yang di sana terdapat inisial ZR yaitu Zahra dan Raffa, tapi sayang kalung itu hilang, dan aku tidak tahu ada di mana saat ini." Lagi-lagi pernyataan dari Zahra membuat Raffa yakin bahwa wanita yang berada di hadapannya saat ini adalah gadis kecilnya.
"Zahra, maafkan aku. Aku sudah mencintai istriku. Saat ini aku tidak bisa menepati janjiku padamu," lirih Raffa meneteskan air matanya.
Dia bersedih karena dia berjumpa dengan gadis kecilnya di saat hatinya telah dipenuhi oleh cinta pada Kayla.
Dia juga menyesal tak dapat membagi cintanya pada Zahra, karena dia tidak ingin menyakiti wanita yang telah menggantikan posisi Zahra dihatinya.
"Apa? Apakah benar kamu Zahra gadis kecil yang dicari Bang Raffa?" tanya Kayla yang baru saja datang dari toilet.
Dia sempat mendengarkan ucapan Zahra.
"Maaf," lirih Zahra menundukkan kepalanya.
Wanita itu sengaja berpura-pura berubah agar Kayla dan Raffa bersimpati padanya.
"Kamu tidak perlu minta maaf," ujar Kayla.
Raffa hanya diam, dia bingung saat ini harus bersikap bagaimana. Yang jelas Raffa tidak ingin menyakiti hati istrinya.
Sejenak suasana menjadi hening, tak seorang pun berbicara hingga akhirnya Raffa memutuskan untuk meninggalkan kafe.
"Zahra, aku senang bisa berjumpa kembali denganmu," ujar Raffa.
"Mungkin saat ini kami harus pergi," ujar Raffa meminta izin Zahra untuk pergi.
"Baiklah," lirih Zahra.
"Kayla, aku minta maaf atas sikapku selama ini yang sudah mengganggu hubunganmu dengan Bang Raffa," ujar Zahra lalu dia memeluk tubuh istri pria yang dicintainya.
"Aku sudah memaafkanmu," ujar Kayla dengan lapang dada.
Kayla bukanlah seorang wanita yang pendendam. Sudah lama dia memaafkan sikap Zahra, apalagi saat ini Raffa sudah mencintai dirinya seutuhnya.
Raffa berdiri dari duduknya, dia menggandeng tangan Kayla lalu membawa istrinya keluar dari kafe itu.
Mereka masuk ke dalam mobil, Raffa pun melajukan mobilnya meninggalkan kafe.
Sepanjang perjalanan mereka hanya diam sibuk dengan pikiran masing-masing.
Di benak Raffa kembali terlintas kenangan demi kenangan yang telah dilewatinya bersama Zahra sewaktu kecil.
Sedangkan Kayla merasa kasihan dengan nasib Zahra, Kayla sempat mendengarkan kedua orang tuanya sudah meninggal semenjak dia berumur 5 tahun itu artinya dia masih kecil dan dia sudah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya.
Kayla juga teringat pada nasibnya. Walaupun dia tidak tahu siapa orang tua kandungnya, dia masih memiliki kasih sayang dari seorang ayah.
Raffa menghentikan mobilnya saat mobil mewah miliknya berada tepat di depan asrama putri Universitas Al-azhar.
__ADS_1
"Sayang, lusa kita berangkat ke Bandung. Kamu siap-siap, ya," ujar Raffa sebelum Kayla turun dari mobil.
"Iya, Bang," ujar Kayla menanggapi ucapan Raffa.
Kayla tidak ingin banyak bicara, dia langsung meraih tangan Kayla.
Dia menyalami dan menciumi punggung tangan suaminya. Raffa pun mengecup puncak kepala istrinya.
Walaupun pikirannya penuh tentang Zahra, dia masih tetap melakukan kebiasaan yang selalu dilakukannya terhadap sang istri.
Setelah mengantarkan Kayla, Raffa langsung kembali ke asrama.
Sesampai di asrama, Raffa langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Lu kenapa, Bro?" tanya Nick heran melihat sahabatnya yang uring-uringan.
"Pusing, Bro," jawab Raffa jujur.
"Kenapa?" tanya Nick mulai penasaran.
"Aku sudah menemukan Zahra, Bro," tutur Raffa jujur pada sahabatnya.
"Lalu?" tanya Nick santai.
"Huhft, lu enggak seru," keluh Raffa kesal sambil melemparkan bantal ke wajah sahabatnya itu.
"Aneh," gerutu Nick kesal.
Akhirnya Nick pun mengabaikan sahabatnya yang sedang galau.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan? Berikan aku petunjuk untuk melangkah," gumam Raffa meminta pertolongan pada sang Pencipta.
Waktu liburan semester pun tiba. Raffa dan Kayla sudah siap untuk berangkat ke Bandung.
Kayla sengaja tidak membahas masalah Zahra, dia ingin melihat tindakan apa yang dilakukan Raffa setelah mengetahui bahwa wanita yang sempat mengganggu rumah tangganya adalah gadis kecil, cinta pertamanya.
****
Rayna baru saja melewati berbagai Ujian Akhir Sekolah. Sehingga saat ini hari-harinya tak lagi dipenuhi dengan belajar dan belajar.
"Mas, aku bosan di rumah," rengek Rayna pada Satya.
Dia ingin pergi ke luar jalan-jalan bersama sang suami.
"Kamu mau ke mana?" tanya Satya.
"Terserah ke mana saja," jawab Rayna santai.
"Tapi, Sayang. Hari ini Raffa dan Kayla akan datang," ujar Satya merasa tidak enak pada istrinya untuk menolak permintaan Rayna.
"Kak Kayla datang?" tanya Rayna memastikan.
"Iya," jawab Satya mengangguk.
"Ya udah kalau gitu kita jalan bareng mereka aja biar seru," ujar Rayna.
"Assalamu'alaikum," ucap Kayla saat dia sudah berada di teras rumah orang tua yang sudah membesarkannya.
"Itu kak Kayla datang," sahut Rayna senang.
__ADS_1
"Wa'alaikummussalam," jawab Rayna lalu dia bergegas melangkah membukakan pintu untuk kakaknya.
"Kakak, aku kangen," pekik Rayna langsung berhambur di pelukan sang kakak
"Aku juga kangen," lirih Kayla membalas pelukan adiknya.
"Ayah sama Ibu mana?" tanya Kayla saat mendapati rumah terlihat sepi.
"Ayah sama Ibu pergi keluar, Kak," jawab Kayla.
Rayna dan Kayla pun melangkah menuju kamar. Mereka lupa dengan suaminya karena saking saling merindu.
"Bagaimana? Semua urusan di sini lancar dan aman?" tanya Raffa pada Satya.
"Aman, Bro," jawab Satya.
"Gue lagi tidak aman," keluh Raffa pada Satya sambil menghempaskan tubuhnyadi atas sofa ruang keluar.
"Ada apa?" tanya Satya ikut duduk di sofa ruang keluarga.
"Zahra, Bro. Gue sudah berjumpa dengan Zahra." Raffa terlihat bingung.
"Lalu apa yang akan lu lakukan?" tanya Satya pada Raffa.
"Itulah, gue juga tidak tahu harus bagaiman, yang pasti gue tidak akan menyakiti hati Kayla," jawab Raffa penuh keyakinan.
"Bagus," seru Satya setuju dengan ucapan Raffa.
"Tapi, dia saat ini sangat menderita." Raffa pun menceritakan kondisi yang di jalani oleh Zahra seperti yang diceritakannya tempo hari.
"Gue kasihan sama dia," tutur Raffa jujur.
"Kamu bisa bantuin dia, Bang," ujar Kayla yang tiba-tiba datang.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ
__ADS_1