Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 140


__ADS_3

"Alita? Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Hurry pada Alita yang terlihat lusuh tengah berbaring di atas makam Umminya.


Sejak semalam Alita duduk di samping kuburan kedua orang tuanya meluapkan rasa yang kini tengah dirasakannya.


Hurry tak percaya dengan keberadaan Alita di sana. Setahunya Alita masih berada di Jakarta.


Alita yang sempat tertidur karena lelah menangis di depan kuburan kedua orang tuanya terbangun, dia membuka matanya. Dia melihat kehadiran Kayla dan yang lainnya.


Alita bangun dan berdiri, dia ingin melangkah meninggalkan orang-orang yang bersama Kayla. Saat itu dia belum bisa menerima kenyay.


Namun, Kayla meraih tangan adiknya membuat Alita menghentikan langkahnya.


Alita memutar badannya dan menatap sang kakak.


Tanpa berkata apa-apa, Kayla menarik tubuh adiknya, lalu dia memeluk tubuh sang adik.


"Maafkan kakak, Dek," lirih Kayla sendu.


Alita hanya diam, sejujurnya dia ingin memeluk erat tubuh sang kakak yang selama ini dirindukannya, tapi egonya membuat dia hanya diam.


Mata Kayla sudah berkaca-kaca menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan adiknya.


Kayla mengelus lembut punggung Alita, menunjukkan betapa tulusnya dia menerima Alita sebagai adik kandungnya.


Hurry tak dapat menahan air matanya saat melihat interaksi dua kakak adik tersebut.


Hurry terharu dengan sikap Kayla, Alita melihat buliran bening jatuh di pipi wanita yang sudah dianggapnya sebagai pengganti Umminya.


Alita berusaha bersikap manis di hadapan Kayla. Kini dia mulai membalas pelukan sang kakak.


Raffa dan Hendra tersenyum melihat mereka saling berpelukan.


"Maafkan aku, Kak," lirih Alita berpura-pura manis.


Alita tidak mau melihat Bunda Hurry menangis lagi karena tingkahnya.


Hurry mendekati kedua putrinya lalu merangkul tubuh kedua gadis kecil yang kini sudah tumbuh dewasa.

__ADS_1


"Bunda bahagia melihat kalian kembali akur, Nak." Hurry mengecup puncak kepala kedua putrinya secara bergantian.


Setelah itu, Kayla melangkah perlahan mendekati dua gundukan tanah yang berdampingan, di sana terdapat batu nisan yang bertuliskan nama ke dua orang tuanya.


Kayla melangkah dan terduduk di antara dua gundukan tanah tersebut.


"Abi, Ummi, maafkan aku yang baru datang menemui kalian," lirih Kayla.


"A-aku tak tahu bahwa kalian sudah tiada, hiks," isak Kayla.


Perlahan Kayla mulai menangis, dia hanyut dalam rasa yang sulit diungkapkan.


Setelah hampir satu jam Kayla menangis di sana, Raffa mendekati sang istri.


Raffa merangkul pundak sang istri, dia mengelus punggung Kayla dengan lembut. Membuat mata Alita terasa panas.


"Abi, ummi, aku Raffa. Apakah kalian masih ingat aku? Sekarang aku sudah menjadi suami dari putri sulung kalian, Aku datang bersama Kayla menemui kalian. Di hadapan kalian, aku berjanji akan menjaga Kayla dengan baik, hingga maut memisahkan kami," gumam Raffa di dalam hati.


Dia berjanji pada kedua orang tua istrinya. Saat ini hatinya sudah tercurah dengan sepenuh hati pada istrinya.


Setelah puas melepaskan rasa yang ada di hatinya, Kayla menengadahkan tangannya. Hurry dan yang lainnya ikut duduk di dekat gundukan tanah di samping Kayla dan Raffa.


“Aamiin,” lirih mereka serentak menutup do’a yang dipimpin oleh Raffa. Setelah itu mereka pun meninggalkan TPU tersebut. Mereka langsung kembali ke Padang hari itu juga. Alita pun ikut pulang bersama mereka.


Hati Kayla mulai tenang setelah berkunjung ke makam kedua orang tuanya. Dia akan memulai kehidupannya bersama kedua adik kandungnya dan keluarga lainnya.


Kayla berjanji akan menyayangi Alita dan Akifa sama seperti dia menyayangi Rayna. Dia akan berusaha sebaik mungkin menjadi kakak untuk kedua adiknya.


Sepanjang perjalanan pulang Alita tak berhenti memperhatikan Raffa. Dia masih belum bisa melupakan rasa kagum dan cintanya pada kakak iparnya itu.


“Ini semua kebodohanku yang tidak mendekatinya sejak awal aku menyukainya. DI saat dia sudah dimiliki orang, di saat itu pula rasa cintaku padanya semakin dalam,” gumam Alita di dalam hati.


Perjalanan yang berliku-liku membuat Kayla merasa pusing dan mual. Kayla pun merebahkan kepalanya di lengan Raffa. Dia berusaha memejamkan matanya agar rasa pusing dan mualnya hilang.


Alita merasa cemburu melihat Kayla yang bersikap manja pada suaminya. Dia menatap tidak suka dari bangku belakang.


Hurry melihat Kayla yang pucat dari kaca spion depan.

__ADS_1


“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Hurry pada putri sulungnya.


Hurry khawatir dengan keadaan Kayla.


“Mhm, enggak apa-apa, Bun. Aku Cuma merasa pusing dan mual saja,” jawab Kayla.


“Yah, kita istirahat dulu bagaimana?” pinta Hurry kasihan melihat Kayla.


Alita juga melihat dengan jelas kasih sayang Bunda Hurry pada Kayla, dia juga iri dengan perlakuan Hurry terhadap wanita yang baru saja masuk dalam keluarganya. Hurry memang sangat sayang pada Alita, tapi dikarenakan Alita tinggal dan dibesarkan oleh om Rahman membuat Alita tidak terlalu mendapatkan kasih sayang kakak dari ibu kandungnya itu.


Hendra mencari spot yang enakuntuk beristirahat sejenak, Hendra menghentikan mobilnya di panorama pertama yang mana di sana terdapat pedagang jagung bakar yang berjejeran. Para pengunjung dapat menikmati pemandangan kota Padang nan indah dari sana sambil memakan jagung bakar atau mie rebus.


"Kita istirahat di sini aja ya, Bun. Mana tahu Kayla lapar mau makan jagung bakar," ujar Hendra.


Mereka pun keluar dari dalam mobil.


"Kamu mau apa, Sayang? Jagung bakar atau mie rebus?" tanya Hurry penuh perhatian pada Kayla saat mereka sudah masuk ke sebuah kedai di sana.


"Mhm, jagung bakar aja, Bun," jawab Kayla.


"Kamu, Sayang?" tanya Hurry pada Alita yang duduk agak berjarak dari posisi Kayla dan Raffa.


"Mie rebus, Bun," lirih Alita.


Alita berusaha menenangkan hatinya agar tidak terbakar api cemburu. Dia harus bersikap baik di hadapan semua orang.


Hurry pun minta pesanan mereka, sambil menunggu pesanan mereka masak, mereka berselfie ria dengan background keindahan kota Padang yang dilihat dari panorama yang terdapat di perbatasan kota Padang dan kabupaten Solok.


"Dek, aku boleh ambil foto sama kamu?" tanya Kayla mendekati Alita.


Seketika rasa pusing dan mual yang dirasakan Kayla hilang setelah menghirup udara segar perbukitan.


"Eh, boleh, Kak," lirih Alita memaksakan diri untuk tersenyum.


"Bang ambilkan foto kami, ya," pinta Kayla pada Raffa dengan manja.


Kayla dan Alita berpose dengan berbagai gaya. Walaupun Kayla saat ini tengah berbadan dua, dia tetap merasa percaya diri bergaya di pinggir pembatas jalan yang di belakang mereka terdapat jurang yang dalam.

__ADS_1


Saat asyik berfoto dengan berbagai pose, Alita terpeleset dan terjatuh ke jurang.


"Alita!" pekik Kayla.


__ADS_2