Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 171


__ADS_3

“Iya, Tuan. Tagihan perhiasan yang anda pilih sudah dilunaskan,” jawab si pegawai toko.


“Kok bisa?” tanya Agung heran.


“Mhm,” gumam pegawai toko sambil melirik ke arah Raffa.


Agung pun menoleh ke arah adik iparnya itu.


“Anggap saja sebagai kado pernikahan dari adik dan adik iparmu,” ujar Raffa dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.


Agung pun menghela napas panjang melihat tingkat temannya itu.


“Hei, Bro. Mas kawinnya beli sendiri, ya,” ledek Raffa.


“Huhfftt.” Agung pun mengusap dadanya sambil menghela napas panjang.


Keempat wanita yang bersama mereka hanya bisa tertawa melihat ekspresi Agung.


“Bang Raffa, makasih, y,”ucap Gita teringat bahwa dia juga dibelikan Raffa kalung.


“Iya, Bang. Aku juga makasih, ya,” tambah Lisa.


“Sama-sama, sebagai tanda terima kasih kalian udah menjadi teman terbaik buat Kayla,” ujar Raffa sambil membelai lembut kepala sang istri.


Kayla terharu dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


“Oh, iya, Gung. Habis ini kamu lanjut jalan sama Dian, ya. Mungkin masih banyak yang kalian butuhkan untuk nanti. Aku dan yang lainnya nungguin lu di foodcourt aja,” ujar Raffa.


“Masa iya, mau cari keperluan saja kalian harus kayak orang pawai segala,” ujar Raffa sambil tersenyum.


Pegawai toko semakin kagum melihat kemurahan hati suami tampan Kayla. Mereka tidak tahu sebanyak apa kekayaan yang dimiliki oleh Raffa, jangankan pegawai toko. Kayla saja masih belum tahu seberapa banyak penghasilan sang suami.


Agung dan Dian saling melempar pandangan, mereka masih canggung untuk jalan berdua. Tapi karena suasana mall yang ramai, Agung memberanikan diri untuk jalan berdua dengan calon istrinya.


“Ya udah, nanti gue hubungi lu aja kalau udah selesai, yang penting kalian enggak tinggalin gue aja,” ujar Agung.


Agung takut jika mereka nanti pulang hanya berdua di dalam mobil.


“Siip,” seru Raffa.

__ADS_1


Raffa pun mengajak istri dan kedua sahabat istrinya menuju sebuah foodcourt yang terletak di lantai 3. Mereka melangkah masuk ke dalam foodcourt tersebut lalu memesan makanan untuk mereka.


Sementara itu agung dan Dian melangkah mengelilingi mall.


“Yan, kamu bilang aja apa yang kamu butuhkan di hari pernikahan kita nanti,” ujar Agung pada calon istrinya.


Dian mengangguk, dia bingung memikirkan entah apa saja yang dibutuhkannya di hari pernikahan nantinya.


Mereka melintasi sebuah toko mukena, di etalasenya berjajar berbagi model hiasan seperangkat alat shalat yang biasa digunakan untuk mahar dalam pernikahan.


“Dek, bagaimana mahar untuk akad nikah adek yang pilih?” tawar Agung pada Dian.


“Aku ikut abang aja,” jawab Dian malu.


Agung menghentikan langkahnya lalu dia pun menatap dalam pada gadis yang ada di hadapannya.


Dian mendongakkan kepalanya, dia menatap manik hitam milik pemuda brewok tipis di hadapannya. Dian mulai terpukau dengan pesona pria tampan yang akan menjadi suaminya beberapa hari lagi.


“Dek, aku akan memberikan apa saja yang kamu mau. Aku juga ingin mahar yang akan aku berikan padamu nanti pilihan kamu sendiri,” ujar Agung penuh rasa cinta.


Dian terhipnotis dengan pesona calon suaminya, hingga akhirnya dia hanya bisa mengangguk setuju dengan apa yang diucapkan oleh sang calon suami.


Setelah itu, mereka masuk ke dalam toko, mereka mengedarkan pandangan pada berbagai jenis mukena yang terpajang di dalam toko tersebut mulai dari harga yang murah hingga harga yang wow.


“Mhm, kami mau cari seperangkat alat shalat untuk mahar pernikahan,” jawab Agung terus terang.


“Owh, kakak sama abangnya mau nikah, ya?” tanya si pegawai.


Dian dan Agung hanya menjawab dengan senyuman malu yang terpancar di wajah keduanya.


“Oh, pantesan masih malu-malu gitu, hehehe,” lirih si pegawai sambil menutup mulutnya tersenyum lucu melihat kedua calon pengantin.


“Mari ikut saya!” ajak si pedagang toko.


Si pedagang toko membawa Agung dan Dian ke sebuah ruangan yang di sana penuh dengan berbagai model hantaran mahar dari mempelai pria untuk mempelai wanita.


“Di sini, berbagai bentuk hantaran sudah terpajang, jika ingin memilih seperangkat alat shalatnya juga boleh, dan kami menyediakan layanan untuk menghias seperangkat alat shalatnya,” jelas si pegawai toko pada Agung dan Dian.


“Ya udah, adek pilihlah mukena mana yang adek sukai,” perintah Agung pada Dian.

__ADS_1


“Mbak, tolong carikan perangkat alat shalat yang berkualitas terbaik di toko ini,” ujar Agung pada si pegawai toko.


“Baik, mari ikut saya.” Pegawai toko membuka lemari transparan yang berisi berbagai jens mukena terbaik yang ada di tokonya.


Mata Dian tertuju pada sebuah mukena berwarna hijau wardah yang dibaluti dengan tile sebagai hiasannya.


“Kak, tolong carikan sajadah dan alqur’an yang senada dengan warna mukena ini," pinta Dian pada pegawai toko.


“Baiklah,” sahut si pegawai toko.


Setelah itu, Dian kembali ke tempat Raffa yang sudah duduk di sofa yang terdapat di tengah-tengah toko.


“Udah, Dek?” tanya Agung Ramah pada sang calon istri.


“Pegawai tokonya sedang mencari sajadah terbaik untuk dipadu padankan dengan mukena yang tadi sudah aku pilih,” jawab Dian.


Agung yang tadinya duduk di tengah-tengah sofa panjang, kini dia bergeser ke samping kiri agar Dian juga bisa duduk di kursi itu.


“Duduklah!” ujar Agung.


Dian pun duduk di samping Agung dengan mengambil jarak dari calon suaminya. Tak berapa lama mereka menunggu, si pegawai datang dengan membawakan beberapa jenis sajadah senada dengan mukena yang dipilih oleh Dian.


“Mau yang mana, Kak? Sajadahnya,” tanya si pegawai toko pada Dian.


Dian pun menoleh ke arah Agung dengan maksud Agung memilihkan sajadah terbaik untuknya.


“Saya pilih yang ini saja, Kak,” ujar Agung sambil menunjuk ke sebuah sajadah yang terlihat sangat menawan baginya.


“Baiklah, seperangkat alat shalat ini mau dihias langsung di sini, atau kami kirimkan ke rumah agar Tuan dan Nonanya tidak kesulitan dalam membawanya.


Agung tampak berpikir. Dia dapat membayangkan betapa sulitnya dia dan calon istrinya membawa hantaran seperangkat alat shalat itu.


“Baiklah saya minta dikirimkan saja paket hantaran ini ke alamat ini,” ujar Agung sambil mengeluarkan sebuah kartu nama dari dalam dompetnya.


Dia memberikan alamat Alex dan meminta pegawai toko mengirimkan paket hantaran itu ke alamat adiknya.


“Baiklah, Tuan. Hari ini kami akan langsung mengirimkan paket hantaran Tuan ke alamat yang telah tertera,” ujar si pegawai toko.


Setelah itu Agung pun membayar tagihan hantaran dengan kartu pamungkasnya. Agung dan Dian pun keluar dari toko tersebut. Mereka kembali melangkah ke beberapa toko pakaian mencari berbagi piyama dan baju tidur untuk Dian.

__ADS_1


Saat mereka berada di sudut ruangan toko, Agung dan Dian mematung. Mereka saling berhadapan dan…


Bersambung…


__ADS_2