
"Sayang!" pekik Alex kaget saat melihat istrinya terjatuh.
Dia langsung berdiri dan menghampiri sang istri.
"Ren, bangun, Sayang," lirih Alex khawatir.
Alex langsung mengangkat tubuh sang istri, dan membawanya ke dalam kamar.
Hurry dan Hendra mengikuti langkah putranya menuju kamar.
"Irene kenapa, Lex?" tanya Hurry pada putranya.
"Alex tidak tahu, Bun," jawab Alex.
"Bentar, ayah telpon dokter dulu," ujar Hendra ikut khawatir.
Dia pun menghubungi dokter dan meminta dokter datang ke rumahnya.
"Sebentar lagi dokter akan datang," ujar Hendra.
"Apa Irene selama ini terlalu sibuk sehingga dia sakit?" tanya bunda pada Alex.
Bunda Hurry sangat khawatir dengan keadaan Irene.
"Enggak, Bun. Akhir-akhir ini kami cuma kerja ngurusin kafe, karena bosan di rumah sendiri jadi Irene ikut aku ke kafe," jawab Alex.
Alex duduk di pinggir tempat tidur tepat di samping sang istri, dia menggenggam erat tangan istrinya sambil terus berusaha membangunkan wanita yang sangat dicintainya itu.
Alex juga mengoleskan minyak kayu putih di pangkal hidung Irene serta lehernya berharap dengan cara itu sang istri bisa sadar.
Tak berapa lama, Irene membuka matanya. Dia masih merasa sangat pusing, dan kepalanya sangat berat.
"Sayang," lirih Irene.
"Iya, Sayang. Aku di sini," ujar Alex saat mendengar istrinya memanggil.
Hurry dan Hendra menoleh ke arah sang menantu dan bersyukur lega bahwa menantu mereka sudah sadarkan diri.
"Alhamdulillah, kamu udah sadar, Sayang," lirih Hurry mendekati Irene.
"Apa yang kamu rasakan saat ini, Sayang?" tanya Alex.
"Kepalaku pusing, perut aku juga sakit," lirih Irene mengadukan apa yang dirasakannya pada sang suami.
"Kamu sabar dulu, ya. Sebentar lagi dokter datang untuk memeriksa kamu," ujar Alex.
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang dari luar.
"Wa'alaikummussalam," jawab mereka semua.
"Sepertinya itu dokter yang Ayah hubungi tadi," ujar Hendra.
__ADS_1
Dia berdiri dan melangkah keluar kamar untuk melihat siapa yang datang.
Tak berapa lama, Hendra datang dengan seorang dokter wanita yang sudah lengkap dengan alat tempurnya.
Setelah itu, dokter pun mulai memeriksa kondisi Irene.
Semua orang hanya bisa memperhatikan apa yang dilakukan oleh sang dokter.
"Mhm, kapan kamu terakhir datang bulan?" tanya sang dokter pada Irene setelah dia selesai memeriksa kondisi Irene.
"Mhm, aku lupa," lirih Irene berusaha mengingatnya.
"Sekitar 2 bulan ini, Irene belum datang bulan, Dok," ujar Alex yang tahu betul kondisi sang istri.
Sang dokter tersenyum.
"Menurut perkiraan saya, Nona Irene sedang berbadan dua. Tapi, untuk lebih jelasnya, kalian bisa datang ke dokter kandungan secara langsung agar lebih jelas bagaimana kondisi Nona Irene saat ini," ujar sang dokter menjelaskan kondisi Irene saat ini.
Irene dan Alex saling melempar pandangan, mata mereka berbinar bahagia. Penantian 4 tahun lamanya, kini Tuhan menjawab do'a-do'a mereka.
"Alhamdulillah," lirih Hurry dan Hendra ikut bahagia.
"Saya meninggalkan obat penghilang rasa pusing dan mual, semoga membantu," ujar dokter sebelum meninggalkan kamar Alex.
Hendra berdiri lalu mengantar sang dokter keluar rumah.
"Alhamdulillah, Bunda senang. Sebentar lagi Bunda akan punya cucu," ujar Hurry senang.
"Oh iya, kamu belum makan malam kan, Sayang. Kalian makan di sini saja, biar Bunda yang mengambilkan makanan untuk kalian. Kalian tunggu di sini, ya," ujar Hurry.
Hurry melangkah keluar dari kamar. Saat di luar kamar, Hurry mengajak sang suami makan malam terlebih dahulu.
"Terima kasih, Sayang. Akhirnya keinginan kita terwujud," ujar Alex pada istrinya.
"Alhamdulillah, akhirnya Tuhan memberi kita apa yang kita inginkan di waktu yang indah," lirih Irene yang masih lemah terbaring di atas tempat tidur.
"Allah itu tahu yang terbaik untuk kita, sebagai seorang hamba harus selalu bersyukur dengan apa yang telah di tentukan-Nya," ujar bunda Hurry yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan membawakan makanan untu putra dan menantunya.
"Iya, Bun." Alex berdiri dan membantu bundanya membawa nampan masuk ke dalam kamar.
Alex meletakkan nampan itu di atas meja, dia mengambil makanan satu piring untuk dimakan oleh sang istri.
"Aku siapin, ya. Kamu harus makan yang banyak supaya anak kita sehat," ujar Alex dengan senyuman yang menawan.
Irene mengangguk, lalu membuka mulutnya saat Alex menyebabkan makanan padanya.
"Ya udah, kalau gitu bunda temani Ayah makan malam dulu, ya," ujar Hurry.
Bunda Hurry keluar dari kamar dan melangkah menuju ruang makan menemani sang suami yang kini tengah menikmati makan malam sendiri.
Setelah mereka selesai makan malam terdengar sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan kediaman keluarga Hendra.
__ADS_1
Tak berapa lama terdengar juga ketukan pintu dari luar.
Hurry dan Hendra yang masih bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi saling melempar pandangan penasaran dengan siapa yang bertamu ke rumahnya.
Hurry berdiri dan melangkah keluar untuk membukakan pintu.
"Kayla," pekik Hurry kaget melihat kedatangan putri sulungnya.
"Assalamu'alaikum, Bunda," ucap Kayla sembari meraih tangan sang Bunda dan menyalaminya.
"Wa'alaikummussalam," jawab Bunda Hurry.
"Assalamu'alaikum, Nek," sapa Raja yang merasa di cuekin saat melihat neneknya tengah memeluk sang mama.
Hurry melepaskan pelukannya dari tubuh sang putri. Dia menoleh ke arah raja, lalu berjongkok dan sejajarkan tubuhnya dengan jagoan kecil kesayangannya.
"Eh, ada cucu nenek rupanya, salim dulu dong sama nenek," ujar Hurry sambil menyodorkan tangannya.
Raja meraih tangan neneknya lalu dia pun memeluk sang nenek.
"Aku kangen, Nenek," ujar Raja manja.
"Aku juga kangen, Nenek," teriak Raju sambil mendorong tubuh Raja yang masih berada dalam pelukan sang Nenek. Beruntung Raja tidak terjatuh karena dorongan Raja.
"Raju," lirih Kayla sambil membesarkan bola matanya.
"Ih, kamu jahat," teriak Raja membalas dorongan Raju.
"Lho, cucu nenek kenapa bertengkar. Katanya kangen sama nenek," ujar Hurry mencoba melerai pertengkaran dua cucunya.
Hurry merentangkan tangannya, lalu mendekap erat kedua bocah itu.
"Nenek enggak sayang Ratu," protes Ratu yang berada dalam gendongan papanya.
Dia merasa iri melihat kedua saudaranya dipeluk oleh sang nenek.
Hurry tersenyum.
"Kenapa cucu cantik nenek ngomong seperti itu?" tanya Hurry sambil tersenyum.
"Raja dan Raju dipeluk nenek, aku juga mau dipeluk nenek," jawab Ratu sambil berusaha meminta sang papa menurunkan tubuhnya.
Raffa pun menurunkan gadis kecilnya dari gendongannya.
Hurry memeluk 3R dengan haru, ketiga cucunya memang sangat menyayanginya dirinya.
Raffa dan Kayla tersenyum melihat kedekatan putra-putri mereka dengan neneknya.
"Lho, kenapa di luar? Bawa masuk dong, Bun," ujar Hendra yang datang menghampiri mereka karena penasaran dengan tamu yang datang.
Bersambung...
__ADS_1