
"Maksud kamu apa, Satya?" Bram belum paham dengan inti pembicaraan Satya.
"Melihat kondisi Rayna saat ini, saya tidak mungkin membantu dia begitu saja tanpa ada ikatan yang sah di antara saya dan dia. Saya dan Rayna bukan muhrim, Om." Satya mencoba menjelaskan maksud ucapannya.
"Tapi apakah hanya ini alasan kamu ingin menikahi Rayna?" tanya Bram curiga.
"Saya mencintai Rayna, Om," jawab Satya tegas.
Satya mulai mengungkapkan perasaannya pada Bram, agar Bram yakin menikahkan Rayna dengan dirinya.
Bram tampak mulai memikirkan perkataan Satya.
"Tapi, bagaimana dengan Rayna? dia masih sekolah, dan kami tidak tahu perasaannya terhadap kamu," ujar Bram mulai mempertimbangkan ucapan Satya.
"Om seharusnya dapat menganalisa perasaan Rayna terhadap saya. Saat dia dalam kondisi tertekan seperti saat ini, dia hanya yakin pada saya, Om. Dari sikap Rayna itu, saya yakin dia memiliki perasaan yang sama dengan apa yang saat ini saya rasakan," jelas Satya panjang lebar.
Bram terdiam, dia hening sejenak.
"Saya akan pikirkan apa yang Nak Satya sampaikan dengan ibunya Rayna," jawab Bram tidak menolak dan tidak mengiyakan.
"Baiklah, Om. Hari ini saya akan membawa Rayna ke psikiater," ujar Satya meminta izin pada Bram.
"Baiklah, kami akan ikut menemani kalian," ujar Bram.
Satya mengangguk.
"Yah, waktunya sarapan. Kita sarapan dulu, yuk!" ajak Rita yang datang menghampiri Bram dan Satya yang sedang asyik mengobrol.
"Eh iya, yuk Nak Satya kita sarapan dulu," ajak Bram pada Satya.
Satya mengangguk, mereka pun melangkah turun menuju ruang makan.
Hari ini Kayla mulai melakukan aktifitasnya, dia mengikuti mata kuliah sesuai jadwal biasanya.
Walaupun hatinya sedang hancur, dia berusaha tetap fokus dengan studinya. Dia tidak ingin masalahnya dengan Raffa mengganggu pelajarannya.
"Hei, guys! Nanti setelah kuliah kita jalan yuk!" ajak Gita di sela-sela pergantian jam mata kuliah.
"Ke mana?" tanya Lisa antusias.
Satu bulan semenjak liburan, mereka belum pernah keluar dari kawasan kampus. Mereka mulai bosan dengan kegiatan mereka yang itu-itu saja.
"Kita ke Mall, yuk! Abis itu kita ke pantai, refreshing," usul Dian yang juga bersemangat.
"Boleh, aku setuju, lagian hari ini sebelum dzuhur mata kuliah kita sudah selesai," ujar Gita setuju.
Kayla masih diam, dia enggan untuk menanggapi ajakan teman-temannya.
Gita, Lisa dan Dian saling melempar pandangan, mereka melirik ke arah Kayla yang sama sekali tidak menanggapi ocehan mereka.
"Kay, gimana? Kamu mau ikut, kan?" tanya Dian hati-hati.
"Mhm," gumam Kayla.
"Kamu mau ikut, kan? Jarang lho kita bisa hangout bareng," oceh Gita membujuk sahabatnya.
"Tapi, aku harus minta izin sama Bang Raffa," jawab Kayla menanggapi.
"Ya udah, nanti aku yang ngomong sama Bang Raffa," ujar Gita menawarkan diri.
__ADS_1
Gita mengerti saat ini Kayla dan Raffa sedang ada masalah, dia yakin sahabatnya itu enggan untuk meminta izin pada sang suami.
"Terserah kamu aja," jawab Kayla pasrah.
"Ya udah, mana nomor hpnya?" tanya Gita bersemangat untuk menghubungi suami sahabatnya.
Kayla menyodorkan ponselnya pada Gita. Dengan semangat Gita mengambil ponsel Kayla lalu menyalin nomor suami Kayla ke ponselnya.
Setelah itu Gita menekan tombol panggil untuk menghubungi Raffa.
"Hallo," ujar Raffa dari seberang sana saat panggilan sudah tersambung.
"Bang Raffa," sahut Gita.
"Maaf ini siapa?" tanya Raffa bingung saat menerima panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Ini Gita, Bang. Temannya Kayla," jawab Gita.
"Oh, Gita. Ada apa? Kayla baik-baik saja, kan?" tanya Raffa khawatir.
Dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada istrinya.
"Kayla baik, Bang," jawab Gita sambil menoleh ke arah Kayla yang terlihat tak acuh saat dia menghubungi Raffa.
"Lalu, ada apa kamu menghubungiku?" tanya Raffa heran.
"Mhm, aku dan teman-teman mau minta izin sama Bang Raffa untuk membawa Kayla hangout habis dzuhur nanti," ujar Gita terus terang.
"Kalian mau ke mana?" tanya Raffa.
Dia yakin saat ini Kayla sedang tidak mau berbicara dengan dirinya, makanya Gita yang meminta izin padanya.
"Ke mall dan pantai, Bang," jawab Gita.
Dia belum menjawab permintaan Gita.
"Mhm, ada, Bang," jawab Gita jujur.
"Aku bisa bicara dengannya?" tanya Raffa mencari kesempatan.
"Oh, boleh." Gita mengulurkan ponselnya pada Kayla.
Awalnya Kayla menggelengkan kepalanya ingin menolak, tapi Dian memberi isyarat untuknya menerima ponsel itu.
"Hallo," lirih Kayla pelan.
"Sayang, kamu masih marah sama aku?" tanya Raffa.
"Enggak," jawab Kayla singkat.
"Bagaimana, Bang? Kamu izinkan aku untuk ikut teman-teman?" tanya Kayla mengalihkan pembicaraan.
Saat ini Kayla sedang tidak ingin membahas permasalahan yang terjadi di antara mereka berdua.
"Kayla, hari ini aku ada bimbingan. Satya sedang berada di Bandung. Dia tidak bisa mengantarkan kamu," jawab Raffa.
"Kami bisa pergi pakai Go-car, biasanya juga begitu," ujar Kayla.
Seolah Kayla memaksa Raffa untuk mengizinkannya.
__ADS_1
"Ya udah, nanti aku coba hubungi Satya untuk mencarikan sopir yang bisa antarkan kalian," jawab Raffa.
Dengan terpaksa akhirnya Raffa mengizinkan Kayla pergi dengan teman-temannya walaupun sebenarnya dia khawatir membiarkan Kayla pergi di luar pantauannya atau Satya.
"Terima kasih," ucap Kayla dingin.
Kayla memberikan ponselnya pada Gita.
"Sayang, nanti malam kita bisa ketemu?" tanya Raffa.
"Maaf, Bang. Hapenya sudah sama aku, nanti aku kan kasih tahu Kayla," jawab Gita.
"Huuhfft, ya sudah kalau gitu. Kalian hati-hati di jalan," pesan Raffa sebelum memutuskan panggilannya.
Usai kuliah, Kayla dan teman-temannya bersiap-siap untuk pergi refreshing ke mall dan pantai.
Rencana awal mereka yang ingin berangkat dengan Go-car dibatalkan Raffa, karena dia mengutus orang kepercayaan Satya untuk mengkawal perjalanan sang istri dengan para sahabat.
"Seru nih, kalau kita sering-sering seperti ini," ujar Gita saat mereka tengah berada di dalam mobil.
"Apaan sih, Git?" ketus Kayla.
"Kalau kita sering-sering pergi hangout seperti ini, terus dikawal ajudan, kan enak," ujar Gita lagi.
Kayla hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Gita.
Mereka mengisi perjalanan mereka dengan canda dan tawa, sejenak hati Kayla yang terluka sedikit terobati.
Tanpa terasa, kini mobil sudah memasuki kawasan parkir salah satu mall terbesar di kota Jakarta.
Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah pusat permainan, karena mereka memang hobi bermain timezone untuk melupakan sejenak kejenuhan rutinitas yang setiap hari mereka lalui.
Sesampai di Gamezone, Gita, Lisa dan Dian terlebih dahulu menuju meja pembelian isi ulang kartu Gamezone mereka.
Sedangkan Kayla sebelum masuk wahana permainan dia melangkah menuju toilet karena ingin buang air kecil.
Keluar dari toilet tiba-tiba, Kayla merasa pusing. Dia hendak jatuh ke lantai tetapi seorang pria yang berjalan di belakang Kayla langsung menangkap tubuh gadis berhijab itu.
bersambung . . .
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- like
- komentar
- hadiah
dan
__ADS_1
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ