
"Mhm, aku,--" Alita langsung memutuskan sambungan ponselnya.
Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Dasar dudul, kenapa gue keceplosan," gumam Alita merutuki kebodohannya.
Alex menautkan kedua alisnya, heran dengan sikap Alita.
"Apa maksud gadis itu?" lirih Alex, lalu dia pun melangkahkan kakinya menuju parkiran dan meninggalkan rumah sakit.
Di tempat lain, Hurry mondar mandir tak tahu arah di ruangan luas di dalam butiknya.
Perasaannya sejak kemarin sore merasa tidak enak, dia selalu memikirkan Ara.
"Bun, ada apa? Sedari tadi aku perhatikan Bunda mondar mandir enggak jelas," tanya Agung heran.
"Enggak tahu, Gung. Perasaan Bunda enggak enak aja. tiba-tiba pikiran Bunda merasa khawatir dengan keadaan Ara. Bunda merasa saat ini arah dalam bahaya, Gung." Puri mengungkapkan apa yang dirasakannya pada putra sulungnya.
Agung sebagai putra sulung Hurry selalu menjadi tempat bagi Hori untuk mengungkapkan semua keluh kesahnya.
Agung merangkul pundak sang Bunda, dia membawa wanita yang melahirkannya itu duduk di sofa yang terdapat di tengah-tengah ruangan yang luas.
"Bun, kita tidak tahu dimana Ara sekarang. saat ini kita hanya bisa berdoa semoga di manapun Ara berada dia baik-baik saja, amin," ujar Agung menenangkan hati sang Bunda.
"Gung, perasaan seorang ibu itu tidak dapat dipungkiri," lirih Hurry.
"Lalu, apa yang harus Agung lakukan, Bun?" tanya Agung putus asa.
selama ini Agung selalu menyalahkan dirinya jika hurry merasa bersedih mengingat adik perempuannya yang bernama Ara.
Agung hanya menundukkan kepalanya menyimpan rasa luka yang dipendamnya selama ini.
Hurry menatap Agung sendu, dia tahu jika dirinya bersedih memikirkan putrinya yang hilang, maka putra sulungnya ini juga akan ikut bersedih.
Hurry mengelus lengan Agung lembut.
"Maafkan bunda ya, Sayang. Bunda hanya merasa gelisah memikirkan Ara saat ini," lirih Hurry merasa bersalah sudah membuat putra sulungnya ikut bersedih.
"Bun, berbagai cara sudah kita jalani untuk menemukan Ara. Hingga saat ini kita tidak tahu keberadaannya. Agung ingin sekali bertemu dengan Ara, Bun, tapi saat ini aku hanya bisa berdoa yang terbaik untuk Ara." Agung juga mulai mengungkapkan apa yang dirasakannya selama ini.
Belasan tahun dia memendam rasa sakit kehilangan adik perempuannya.
Mereka pun terdiam, Agung mulai membuka ponselnya untuk mengalihkan suasana hatinya yang bersedih.
Dia terus menscroll beberapa status di aplikasi hijau miliknya.
Tiba-tiba Agung membaca status Arumi nama dari temannya, Rafa.
"Bun," lirih Agung sambil menunjukkan status WhatsApp Arumi pada sang Bunda.
"Ya Allah, sembuhkanlah menantu kesayanganku. Jagalah calon cucuku, Aamiin."
Hurry kaget saat membaca status sahabatnya.
Jantung hurry langsung berdetak dengan kencang hal inilah yang membuat dirinya sedari tadi tidak tenang.
"Gung, itu artinya Kayla sedang sakit?" tanya Hurry memastikan.
"Bisa jadi, Bun," jawab Agung.
"Coba kamu komentari status Arumi sekarang juga, tanyakan kebenarannya," perintah Arumi.
"Baik, Bun," ujar Agung.
__ADS_1
π Siapa yang sakit, Bun?
π Kayla.
π Kayla dan Raffa habis kecelakaan.
π Innalillahi, terus bagaimana keadaan mereka?
π Raffa tidak apa-apa, Kayla belum sadarkan diri.
π Ya Allah, semoga Kayla cepat sadar ya, Tante.
π Aamiin.
"Bun," lirih Agung memperlihatkan ponselnya pada Hurry.
"Ya Allah, jangan-jangan ini yang bikin bunda sejak tadi gelisah, Gung. Bunda yakin Kayla adalah Ara," ujar Hurry.
Tanpa disadarinya, air mata nya mulai membasahi pipinya.
Hatinya mulai tak menentu, dia sangat mengkhawatirkan keadaan Kayla saat ini.
"Gung, kita ke rumah sakit sekarang, ya," ajak Hurry pada putra sulungnya.
"Iya, Bun." Agung mengangguk.
Mereka pun bersiap-siap untuk berangkat ke rumah sakit.
Baru saja mereka sampai di pintu keluar butik, ponsel Agung berdering.
Mereka menghentikan langkahnya. Agung melihat layar ponselnya, terlihat di sana panggilan dari distributor pakaian yang mensuplai produk yang dijual oleh Hurry di butik.
"Bentar ya, Bun," ujar Agung pada Bundanya.
"Hallo," ujar Agung saat panggilan sudah tersambung.
"Oh iya, kirimkan di mana letak permasalahannya lewat wa saya," ujar Agung menanggapi permintaan suplayer pakaian yang tersedia di butiknya.
Agung menghela napasnya panjang, dia menoleh ke arah bundanya.
"Bun, ada masalah pengiriman barang. Aku harus selesaikan masalah itu terlebih dahulu. Bagaimana kita ke rumah sakitnya setelah aku menyelesaikan masalah ini," ujar Agung pada bundanya.
"Bunda naik taksi aja," ujar Hurry pada putranya.
"Jangan, Bun. Agung enggak mau bunda pergi tanpa ada temannya. Di tambah ayah sedang berada di luar kota, jadi Bunda saat ini jadi tanggung jawab Agung," ujar Agung.
"Tapi,"bantah Hurry.
"Bunda tunggu Agung di sini, ya," bujuk Agung.
Akhirnya Hurry pun mengangguk setuju dengan ucapan putra sulungnya.
Di rumah sakit, Raffa duduk di samping brangkar tempat Kayla tengah terbaring dengan lemah.
Raffa menggenggam erat tangan wanita yang di dicintainya.
"Sayang, bangun. Maafkan aku," lirih Raffa.
"Jika terjadi apa-apa denganmu, maka aku tidak akan pernah memaafkan diriku," ujar Raffa terus mengajak istrinya bicara.
Raffa menangisi sikapnya yang sudah membuat istri dan calon bayinya dalam bahaya, penyesalan selalu datang di akhir.
Arumi menatap sendu pada Raffa yang berada di dalam ruangan perawatan istrinya.
__ADS_1
Sebagai seorang ibu, dia tak sanggup melihat putra satu-satunya terpuruk menghadapi cobaan yang menimpanya saat ini.
"Ayah," ujar Rayna saat melihat Bram datang.
Bram langsung terbang dari Bandung saat mendapat kabar kecelakaan yang dialami oleh Kayla.
Rayna menghampiri ayahnya, dia memeluk tubuh kekar pria yang mereka banggakan itu.
"Yah, kakak." Tangis Rayna pecah di dalam pelukan sang ayah.
"Sayang, kamu sabar, ya. Sekarang bagaimana keadaan kakakmu?" tanya Bram pada Rayna.
"Kakak masih belum sadarkan diri," jawab Rayna sedih.
Bram melangkah menghampiri Arumi yang berdiri di balik pintu ruangan Kayla.
Air mata Bram tak dapat dibendungnya saat melihat putri kesayangannya tengah terbaring lemah di atas brangkar rumah sakit.
Arumi mengusap air matanya saat menyadari Bram sudah berdiri di sampingnya.
"Kasihan Kayla, semoga dia kuat menjalani masa kritisnya. Dia bisa kuat demi calon bayinya," lirih Arumi.
"Apa? Kayla sedang hamil?" tanya Bram memastikan dia tak salah dengar.
"Iya, Pak. Kayla sedang hamil. Usia kandungannya sudah masuk 2 bulan." Arumi memberitahukan kondisi Kayla saat ini.
Hati Bram semakin sedih saat mengetahui putrinya tengah mengandung.
"Ya Allah, hamba mohon kuatkanlah putri hamba menjalani ujiannya, jangan biarkan dia kehilangan buah hatinya untuk kedua kalinya."p Bram memanjatkan do'a terbaik untuk putrinya.
"Arumi, bagaimana keadaan Kayla?" tanya Hurry yang tiba-tiba datang menghampirinya.
Arumi menoleh ke arah Hurry, dia pun langsung memeluk sang sahabat melepaskan sesak didalam dadanya.
"Hur," lirih Arumi.
"Bunda, Bu-bunda," lirih Kayla.
Kayla mulai bersuara saat merasakan kedatangan Hurry.
Bersambung
.
.
.
.
.
hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπππ
tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa
- like
- komentar
- hadiah
dan
__ADS_1
-vote
terima kasih atas dukungannya πππ