
Hurry termangu, dia mengingat kejadian beberapa waktu lalu , di mana kehangatan dan debaran jantungnya di saat berada dalam pelukan gadis kecil yang sangat dirindukannya.
"Bun," lirih Agung sambil melambaikan tangannya di depan wajah Hurry.
"Eh, iya," gumam Hurry.
"Maksud bunda apa? Apakah bunda sudah menemukan Ara?" tanya Agung penasaran.
"Gung, firasat bunda mengatakan bahwa istri Raffa adalah Ara," ujar Hurry.
"Tidak mungkin, Bun. Istri Raffa bukan asli Padang," bantah Agung tak ingin Bunda mengada-ada.
"Entahlah, Gung. Di saat bunda berada di dekat Ara, jantung bunda berdetak kencang, bunda merasa ada ikatan bathin di antara bunda dengan wanita itu," jelas Hurry tak mau mengalah.
"Tapi, Bun. Kita harus mencari beberapa bukti untuk memastikan kalau istri Raffa itu Ara," ujar Agung.
"Iya, sih." Hurry setuju dengan pendapat putra sulungnya.
"Bun, aku mau bunda tidak usah banyak pikiran. Kalau Allah memang akan mempertemukan kembali dengan Ara, Dia akan memberi petunjuk untuk kita," nasehat Agung.
Hurry merebahkan kepalanya di dada bidang sang putra, Agung membelai lembut kepala wanita yang sudah melahirkannya, memberi sebuah kehangatan agar bundanya dapat melupakan kesedihannya.
"Agung akan berusaha mencari tahu tentang istri Raffa, agar bunda bahagia. Dek Ara, maafkan abangmu yang tidak bisa menjagamu," gumam Agung di dalam hati.
****
Liburan semester tinggal satu minggu lagi, Rayna memilih untuk kembali ke Bandung lebih awal.
"Kak, besok aku mau balik ke Bandung," ujar Rayna pada kakaknya via telpon.
"Kenapa cepat sekali, Dek?" tanya Kayla heran.
"Mhm, mau ngerasain liburan bareng ayah dan Ibu," tutur Rayna memberi alasan.
"Oh, ya udah terserah kamu," ujar Kayla.
Sambungan telpon pun terputus.
Kayla menghampiri Raffa yang kini tengah duduk di sofa kamar sibuk dengan laptopnya.
"Sayang," lirih Kayla.
Raffa menoleh ke arah istrinya.
"Apakah aku mengganggu?" tanya Kayla hati-hati.
Kayla takut suaminya tengah mengisi materi di seminar Zoom.
"Tidak, aku hanya sedang merevisi proposal skripsi," jawab Raffa.
Kayla pun duduk di samping Raffa.
"Sayang, Rayna mau balik ke Bandung." Kayla memberitahukan Raffa tentang rencana adiknya.
"Kapan?" tanya Raffa.
"Katanya besok," jawab Kayla.
"Ya udah, nanti aku minta Satya untuk lebih dulu ke Jakarta, dia akan menemani Rayna dalam perjalanan." Raffa memberi solusi.
"Dia bisa kok, berangkat sendiri," bantah Kayla.
Kayla tidak mau keberadaan Rayna membuat repot Satya atau siapa pun.
__ADS_1
"Bahaya perempuan melakukan perjalanan sendiri," ujar Raffa tegas.
Kayla terdiam, dia memahami kekhawatiran Raffa. Sikap Raffa yang sangat perhatian ini membuat Kayla semakin jatuh cinta pada suaminya itu.
"Makasih, Sayang," lirih Kayla.
Raffa tersenyum. "Kamu menggodaku?" lirih Raffa menghentikan pekerjaannya.
Dia menatap dalam pada istrinya, dia pun membelai rambut Kayla yang tergerai indah di hadapannya.
"Bang," lirih Kayla malu-malu.
Wajahnya kini sudah merona menahan malu membuat Raffa semakin menginginkan istrinya.
Akhirnya mereka pun larut dalam kehangatan surga dunia yang menjadi ibadah bagi mereka dalam menjalaninya.
"Sayang," lirih Kayla sambil memeluk tubuh kekar sang suami.
"Mhm," gumam Raffa.
"Aku ingin rasa dan kasih sayang yang kamu berikan padaku tak berubah sedikitpun hingga maut memisahkan kita," pinta Kayla manja.
"Mhm, mengapa bicara seperti itu?" tanya Raffa menautkan kedua alisnya.
"Aku hanya ingin selalu berada di sampingmu," jawab Kayla jujur.
Hatinya merasa takut kehilangan kasih sayang dari pria yang kini sudah mengisi penuh relung jiwanya.
"Insya Allah aku akan berusaha menjaga hati dan cinta ini hanya untuk istriku," janji Raffa.
Kayla membenamkan wajahnya di dada kokoh sang suami, memeluk erat tubuhnya dengan erat.
Raffa membalas pelukan itu.
"Ya Allah, tetapkan hati ini untuk wanita yang sudah sah menjadi istriku." Raffa memohon dalam hati.
Keesokan harinya, Satya sudah siap untuk berangkat ke Bandung.
Selama di Padang, Satya tinggal di sebuah rumah yang disediakan oleh Surya untuknya yang letaknya tidak jauh dari kediaman keluarga Surya.
Surya sengaja menyediakan rumah untuk Satya agar pria itu dapat melakukan berbagai hal dengan bebas, karena Satya memiliki
Pekerjaan Satya di keluarga Surya hanya sebagai supir pribadi dan asisten Raffa.
Di masa Raffa masih kuliah, pekerjaan Satya hanya menerima perintah dari Raffa jika dia membutuhkan.
Sesuai kesepakatan, Kayla dan Raffa akan ikut mengantar Rayna hingga bandara.
"Sayang, Satya sudah menunggu di depan," ujar Raffa setelah mendapat pesan dari Satya.
"Iya, bentar lagi aku siap," sahut Kayla.
Sambil menunggu Raffa dan Kayla, Satya mengobrol dengan Surya di teras rumah, Surya tidak berangkat ke kantor karena hari Sabtu.
"Bagaimana bisnismu?" tanya Surya memulai pembicaraan dengan Satya.
"Alhamdulillah lancar, Pa," jawab Satya.
Satya memang memanggil Surya dengan panggilan 'Papa' karena Surya ingin Satya menganggap dirinya sebagai orang tuanya.
"Ada kendala?" tanya Surya.
"Untuk saat ini tidak ada, Pa," jawab Satya.
__ADS_1
"Baguslah, papa mau minta tolong sama kamu untuk audit laporan keuangan perusahaan, kamu bisa mengerjakannya lewat online," pinta Surya.
"Boleh, Pa," jawab Satya menyanggupi permintaan Surya.
Satya selalu menyanggupi apa pun perintah yang diberikan Surya sebagai tanda terima kasih atas semua kebaikan yang telah dilakukan oleh Surya.
Tanpa uluran tangan Surya, mungkin nasib Satya tidak seperti saat ini.
14 tahun yang lalu.
Surya dan Raffa sedang asyik memancing di pinggir muara pantai Padang.
Saat Raffa menarik pancingnya yang ditarik ikan, Raffa terpeleset hingga dia terjatuh ke dalam muara.
"Pa!" teriak Raffa.
Raffa yang waktu itu belum bisa berenang langsung tenggelam, Surya yang melihat Raffa tenggelam langsung panik.
"Raffa!" Surya pun ikut berteriak panik.
Dia hendak masuk ke dalam muara untuk menyelamatkan putranya, seorang anak kecil yang hampir sebaya dengan Raffa langsung melompat ke dalam muara.
Tak berapa lama dia menyelam, anak kecil itu membawa Raffa ke permukaan, dan mengangkat tubuh Raffa ke pinggir muara.
"Raffa!" seru Surya panik.
Dia menghampiri putranya yang tak sadarkan diri.
"Raffa, bangun!" Surya mengguncangkan tubuh kecil Raffa.
Anak kecil itu mencoba membangunkan Raffa dengan berbagai cara yang dia ketahui.
"Huk...uhuk," Raffa terbatuk.
"Alhamdulillah," lirih Surya lega.
Sejak hari itu, Surya membawa anak kecil yang bernama Satya ikut bersamanya.
Anak yang hidup di pinggir muara sebatang kara tanpa orang tua dan keluarga. Mencari kehidupan seorang diri.
Sebagai ucapan terima kasih pada Satya, Surya mengangkat Satya sebagai anaknya dan mendidiknya seperti dia mendidik Raffa.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Authorπππ
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
__ADS_1
-Vote
Terima kasih atas dukungannya πππ