Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 134


__ADS_3

Satya membuka pintu mobilnya, dia menatap tajam ke arah pria yang selalu mengusik istrinya.


“Lu?” bentak Jordy kaget saat megetahui pria yang sudah mengikutinya adalah Satya.


“Ya, gue. Kenapa? Takut?” tanya Satya dengan nada penuh penekanan.


“Buat apa gue takut?” ujar Jordy tak kalah berani.


“Gue sudah pernah ingetin lu, buat jauhin Rayna. Tapi lu masih berani mengejar-ngejar istri gue!” bentak Satya tak bisa menahan emosinya.


“Terserah dia mau istri siapa, yang jelas Rayna harus jadi milik gue!” bentak Jordy.


“Apa lu bilang?” bentak Satya.


Sebuah bogem mentah pun mendarat di pipi Jordy. Pria berhoddie hitam tersebut terjatuh ke aspal. Dia tidak terima dengan perlakuan Satya. Dia bersiap-siap untuk membalas pukulan Satya, tapi sayang Satya yang sangat jago bela diri dapat mengelakkan pukulan tersebut.


Seketika terjadilah baku hantam antara kedua pria itu, pertemuran sengit tak dapat dihindari. Pukulan yang dilayangkan Jordy sempat mengenai sudut bibir Satya sehingga mengeluarkan darah. Satya yang tak mau kalah terus menghujani Jordy dengan pukulan dan tendangan hingga akhirnya Jordy terjatuh tak berdaya di atas aspal.


Satya mendekati Jordy.


“Sekali lagi gue ingatkan! Jangan pernah lu mengganggu Rayna lagi!” bentak Satya.


“Jika kamu masih berani mengganggunya, aku takkan segan-segan melakukan yang lebih parah dari ini.” Satya mengancam Jordy.


Setelah itu Satya pun melangkah menuju mobilnya, dia menyentuh luka di bibirnya.


“Auww,” lirihnya menahan rasa sakit.


Satya masuk ke dalam mobil lalu dia pun pergi meninggalkan pria yang telah mengusik kehidupannya.


Satya melajukan mobilnya menuju Rumah Raffa tempat istrinya kini berada. Sebelum maghrib Satya sudah sampai di depan rumah Raffa.


Rayna yang sedari tadi menunggu kedatangan sang suami langsung berlari saat mendengar suara mobil masuk ke dalam pekarangan rumah.


Kayla dan Raffa tersenyum melihat tingkah Rayna yang sudah merindukan sang suami. Walaupun Satya selalu datang setiap satu kali tiga hari, Rayna tetap merindukan sosok pelindung baginya.


Rayna menunggu Satya keluar dari mobil di teras rumah, Rayna kaget saat melihat wajah sang suami yang memar.


“Mas, Satya!” pekik Rayna khawatir.


Dia langsung berlari mendekati suaminya.


“Kamu kenapa, Mas?” tanya Rayna tak sabar ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada sang suami.


“Aku enggak apa-apa, Sayang,” jawab Satya santai.

__ADS_1


Pria tampan itu langsung menarik tubuh istrinya lalu memeluk wanita yang sejak tadi sudah menunggu kedatangannya.


“Aku merindukanmu,” bisik Satya ditelinga sang istri.


Satya sengaja mengalihkan perhatian Rayna agar wanitanya tidak mengkhawatirkan diriya.


“Aku juga merindukanmu,” jawab Rayna jujur.


“Tapi, Mas. Kamu harus cerita sama aku. Kenapa wajah kamu memar seperti itu?” tanya Rayna.


“Mhm, tadi aku bantuin orang ngejar copet, dan sempat berkelahi dengan si pencopet itu,” jawab Satya asal.


Satya tidak ingin Rayna tahu apa yang baru saja terjadi, dia takut istrinya shock mendengar nama pria yang pernah meneror dirinya. Satya tidak ingi Rana kembali sakit sepert dulu.


“Kamu yakin, Mas?” tanya Rayna ta percaya.


“Iya,” jawab Satya mengangguk.


“Aku boleh masuk?” tanya Satya pada Rayna untuk menghindari berbagai pertanyaan yang akan keluar dari mulut istrinya.


“Boleh, dong. Ayo masuk!”ajak Rayna.


Rayna pun melupakan pertanyaan yang tadi sempat menari-nari di otaknya.


Rayna dan Satya langsung masuk ke dalam kamar.


“Sayang aku compress dulu lukanya,ya,” ujar Rayna.


Dia meminta sang suami untuk duduk di atas tempat tidur. Lalu dia membuka laci meja belajar yang ada di kamar itu. Dia mengeluarkan kotak P3K. Rayna juga mengambil air hangat dari kamar mandi.


“Seharusnya kamu hai-hati, Sayang,” ujar Rayna sambil membersihkan dan mengompres luka sang suami.


‘Iya, lain kali aku tidak akan membiarkan pencopet itu melukaiku lagi,” ujar Satya.


Rayna mengernyitkan dahinya.


“Memangnya masih mau ketemu sama copetnya?” tanya Rayna polos.


“Hahaha,” tawa Satya pecah mendengar pertanyaan sang istri.


Rayna mencubit pinggang Satya kesal karena suaminya masih sempat menertawai diriya.


“Ampun,” ujar Satya.


Melihat Satya yang masih saja menertawai dirinya, Rayna pun menggelitik sang suami.

__ADS_1


“Kamu jahat, Mas,” gerutu Rayna.


Satya berusaha menghindari aksi Rayna, terjadilah pergulatan antara Rayna sehingga Satya terhempas di atas tempat tidur.


“Ampun,” lirih Satya mengalah, dia merasa lela.


Rayna pun menjatuhkan badannya di atas dada bidang milik sang suami.


Kini posisi mereka berada sangat dekat, Satya menatap dalam wajah polos sang idtri dalam, begitu juga Rayna. Hingga mereka pun larut dalam hasrat yang bergejolak. Pergulatan panas pun terjadi di antara mereka berdua sebelum azan maghrib berkumandang.


“Udah, Azan.” Satya berbisik pada sang istri yang terbaring lelah di sampingnya.


Dia mendengar azan maghrib baru saja berkumandang pertanda waktunya kaum muslimin melaksanakkan kewajiban mereka.


Satya pun bangun dari tempat tidur, dia melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara itu Rayna masih berbaring menunggu Satya selesai membersihkan dirinya.


Setelah shalat maghrib Raffa dan Kayla mengajak Rayna dan Satya untuk makan malam di luar, mereka juga mengajak Fitri tapi gadis itu tahu diri dengan statusnya. Dia memilih untuk makan di rumah saja bersama para bodyguard yang selalu stand by 24 jam di rumah Raffa.


Dua pasang suami istri itu pun keluar dari rumah, mereka melakukan double date. Kebetulan malam ini bertepatan dengan malam minggu membuat suasana berbagai tempat rame dengan pasangan muda mudi yang mengikuti tradisi malam minggu.


“Kita makan malamnya di mall aja,” uusl Raffa pada Satya.


“Boleh, sekalian kita cuci mata,” seru Kayla setuju.


Satya mengangguk menyetujui ucapan Raffa. Bagi Rayna ke mana pun mereka pergi yang penting diaberada di samping sang suami. Baginya tempat ternyaman adalah berada di samping sang suami.


“Kamu mau ke mana, Sayang?” tanya Satya sekadar basa-basi menanyakan pendapat sang istri.


“Aku ikut saja, yang penting aku bersama kamu,” jawab Rayna.


Raffa dan Kayla tersenyum mendengar jawaban sang adik.


Satya pun melajukan mobilnya menuju mall terbesar di kota Jakarta. Sesampai di parkiran, dua pasang suami istri itu turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam mall.


Mereka langsung mencari tempat makan, karena sudah waktunya untuk makan malam.


“Kita makan di foofcourt lantai 4 saja,” usul Kayla.


Dia merasa lebih nyaman di foodcourt tersebut menu dan rasa masakan di sana sudah tidak asing baginya.


Semua orang pun mengangguk, mereka menaiki escalator. Rayna dan Kayla tak melepaskan lengan sang suami, mereka bergelayut manja di lengan kekar para suami mereka.


Saat mereka menaiki ekaltor di lantai 4 Raffa melihat sosok yang tidak asing baginya.


“Ngapain dia di sini?” gumam Raffa di dalam hati

__ADS_1


__ADS_2