
"Hai, maaf aku terlambat," seru Arumi ikut bergabung dengan ke-4 temannya.
Arumi menarik tangan Kayla untuk duduk di sampingnya nya.
"Ini menantu kamu, Rum?" tanya Sinta salah satu teman Arumi yang memiliki bobot paling besar.
"Oh iya, kenalkan nih. Ini Kayla menantu kesayangan aku," ujar Arumi memamerkan wanita berhijab yang tampil sangat ayu dan mempesona.
"Cantik banget, Rum," puji Rossa.
"Assalamu'alaikum, Tante," sapa Kayla dengan sopan.
"Wa'alaikummussalam, kamu beruntung punya menantu cantik dan sopan seperti Kayla ini." Rima ikut memuji menantu sahabatnya.
"Hur, kamu kenapa?" tanya Rima saat menyadari sahabatnya tengah memegangi dadanya.
"Eh, maaf," lirih Hurry' tanpa berkedip menatap Kayla.
"Bunda," sapa Kayla saat menyadari salah satu teman ibu mertuanya adalah wanita yang pernah membantunya memilih pakaian di butik teman Raffa.
"Kamu masih ingat bunda, Nak?" tanya Hurry senang saat mendengar Kayla memangilnya dengan sebutan 'bunda'.
"Bunda, ibunya temannya Bang Raffa, kan? yang punya butik pakaian muslimah?"tanya Kayla memastikan ingatannya.
"Iya, sayang. Ternyata ingatan kamu kuat juga, ya," puji Bunda hurry pada Kayla.
"Kalian udah pernah ketemu?" tanya Arumi penasaran.
"Iya, Ma. Waktu Bang Raffa ngajakin Kayla beli beberapa pakaian," jawab Kayla.
Hurry terus menatap menantu sahabatnya dengan perasaan yang tidak menentu.
Hurry merasakan ada kedekatan yang terjalin di antara dirinya dengan Kayla. Seolah-olah ada ikatan batin yang mengikat keduanya.
"Sini, Kay. Duduk dekat bunda," ajak Hurry.
Terlihat di matanya ada rasa kasih sayang Yaang terpancar untuk Kayla, yang dia sendiri tidak tahu alasannya.
Mereka pun mulai asyik mengobrol berbagai hal. Sifat Kayla yang supel dan mudah bergaul membuatnya mudah menyatu dengan para emak-emak sosialita tersebut.
Sepanjang obrolan mereka yang tak berujung, Hurry berusaha memperhatikan pergelangan tangan Kayla yang saat itu sempat dilihatnya.
Namun, Hurry tidak dapat melihat tanda di tangan Kayla tersebut karena Kayla mengenakkan manset tangan yang menutupi pergelangan tangannya.
Asyiknya mengobrol membuat mereka lupa waktu, hingga waktu ashar pun masuk.
"Ya ampun, udah ashar. Kalau ngumpul bareng kalian, enggak kerasa waktu berjalan begitu cepat," ujar Rima saat alarm azan terdengar dari ponselnya.
"Aku udah janji sama paksu, habis ashar langsung ke kantornya," tambah Rima lagi.
S akan dia enggan untuk berpisah dengan para sahabatnya..
"Aku juga harus out nih, Raffa cuma kasih waktu bawa istrinya sampai ashar." Arumi juga hendak bubar dari perkumpulan teman-teman sosialitanya.
__ADS_1
"Ya udah, kita balik aja. Kapan lagi nih,. kita ketemuan?" tanya Rossa yang selalu ingin berkumpul.
Rossa tidak memiliki anak, sehingga dia selalu mengajak teman-temannya untuk hangout mengisi kesuntukannya di rumah seorang diri.
"Ntar kabar-kabari wa aja," usul Arumi.
"Oke, dah! Arumi dan Rima pamit terlebih dahulu.
"Bunda, Tante, Kayla pamit dulu, ya. Lain kali kita ketemu lagi," ujar Kayla sebelum dia beranjak dari tempat itu.
"Iya, Sayang. Kamu ajakin Raffa main ke butik, supaya kita bisa ngobrol bareng," ujar Hurry penuh harap.
"Iya, Bun." Kayla menyalami semua teman ibu mertuanya lalu dia pun melangkah mengikuti Arumi keluar dari mall tersebut.
Sesampai di parkiran, Rima melangkah menuju mobilnya yang terparkir di pojok.
Mereka mengucapkan salam perpisahan, lalu masuk ke dalam mobil masing-masing.
Setelah memastikan, Kayla dan Arumi duduk dengan nyaman, Satya langsung membawa majikannya pulang ke rumah.
****
Hurry duduk di dalam kamarnya sambil memegang sebuah album yang berisi kenangan beberapa tahun yang lalu.
"Ada apa, Sayang?" tanya Hendra pada istrinya.
Sedari tadi Hendra memperhatikan raut wajah istrinya yang sendu, Dia terlihat tengah memikirkan sesuatu.
"Yah, bunda kangen sama Ara," jawab Hurry jujur pada suaminya.
"Bun, Ayah juga rindu dengan Ara. Gadis kecil kita yang periang. Kita sudah berusaha mencarinya kemana-mana seandainya dia masih hidup Ayah berharap dia hidup bahagia dengan siapapun bersamanya," ujar Hendra ikut sedih.
Hendra mengingat kejadian 14 tahun yang lalu.
Di saat liburan lebaran datang, Hurry dan Hendra membawa anak-anaknya ke pantai Padang.
Saat itu, Hurry tengah mengurus Raisa Putri bungsunya yang kebelet ke kamar mandi. dia terpaksa meninggalkan 4 anak-anaknya asyik bermain di pantai.
Tiba-tiba Agung datang menghampirinya ke kamar mandi umum yang terdapat di pantai itu.
"Bunda, Ara Bun," isak Agung sambil menangis mengadu pada bundanya dengan menggandeng dua tangan adiknya.
"Kenapa Ara?" tanya Hurry pada putra sulungnya yang waktu itu berumur 8 tahun.
"Bun, Ara diculik, Bun." Agung memberitahukan apa yang barusan terjadi pada Hurry.
"Ayah kamu mana?" tanya Hurry pada putranya panik.
"Tadi waktu kami sedang asyik main ada seorang laki-laki yang menarik lengan Ara lalu membawanya pergi, sekarang Ayah mengejar laki-laki itu," jelas Agung pada bundanya.
"Astaghfirullah," ucap Hurry tiba-tiba lemah, dia langsung merangkul semua anak-anaknya.
Hurry membawa anak-anaknya menuju parkiran mobil dan menunggu suaminya datang.
__ADS_1
Satu jam lebih, Hurry menunggu suaminya datang.
"Gimana, Yah?" tanya Hurry saat melihat suaminya datang.
Hendra hanya menggelengkan kepalanya, dia tak dapat mengejar penculik Ara.
"Ayah sudah mengejar mobil yang membawa Ara dengan bantuan tukang ojek, tapi mobil itu melaju dengan kencang, membuat Ayah tak bisa mengejarnya," jelas Hendra dengan penuh penyesalan.
Dia memang sempat lengah saat Hurry membawa si kecil ke toilet umum. Hendra mendapatkan telpon dari bosnya dan asyik mengobrol dengan bosnya itu sehingga dia tidak terlalu mengawasi anak-anak yang sedang bermain pasir di pantai.
Dia menyadari Ara diculik setelah Agung datang memberitahunya.
"Araa!" pekik Hurry tak tahan menahan sesak kehilangan putrinya.
Seketika hatinya hancur, nyawanya bagaikan hilang begitu saja.
Ara merupakan putri sulung bagi Hurry, dia sangat menyayangi Ara melebihi adik-adiknya.
"Sayang, kita pulang dulu. Setelah itu aku akan melaporkan kejadian ini pada polisi. Saat ini kita hanya bisa berdo'a untuk kebaikan Ara. Semoga dia baik-baik saja," ujar Hendra menenangkan istrinya.
"Yah, beberapa bulan yang lalu, bunda ketemu seorang gadis. Entah mengapa, saat bunda melihat gadis itu jantung Bunda berdetak begitu cepat. Bunda merasakan ada ikatan di antara bunda dan gadis itu." Hurry mulai menceritakan apa yang dirasakannya saat bersama Kayla.
"Kamu yakin kalau gadis itu Ara?" tanya Hendra memastikan.
"Belum, Yah." Hurry menggelengkan kepalanya.
"Yang pasti, bunda merasa di saat bersamanya bunda merasa yang hilang dalam hidup bunda sudah kembali," ujar Hurry.
"Kamu kenal gadis itu di mana?" tanya Hendra mulai penasaran.
Bersambung . . .
.
.
.
.
Hai readers, terima kasih sudah membaca karya Authorπππ
Tetaplah dukung Author dengan meninggalkan jejak berupa . . .
- Like
- Komentar
- Hadiah
dan
-Vote
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya πππ