Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 79


__ADS_3

Dokter menghela napasnya panjang.


"Maaf, Tuan." Pria berjas putih itu menundukkan kepalanya.


"Kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada di dalam kandungan pasien," ujar Dokter penuh penyesalan.


Raffa dan kedua orang tuanya kaget mendengar informasi dari Dokter.


"Apa? Menantu saya hamil, Dok?" tanya Arumi memastikan dia tidak salah dengar.


"Apa?" lirih Raffa tak percaya.


"Iya, Nyonya, Tuan. Pasien tengah mengandung, usia janin dalam kandungan Nona Kayla sekitar 10 minggu," ujar Dokter lagi.


"Raffa! Kayla Hamil?" tanya Arumi marah dan penuh emosi.


Arumi kecewa putranya tidak memberitahukan kondisi sang menantu saat ini pada dirinya.


Raffa hanya diam mematung, dia tak percaya sang istri tengah mengandung buah cinta mereka.


Dia membayangkan Kayla menjalani masa-masa sulit trisemester pertama seorang diri.


"Raffa, kenapa kamu diam? Kenapa kamu tidak kasih tahu mama, kalau Kayla hamil?" bentak Arumi marah.


Arumi yang sangat menginginkan seorang cucu kecewa dengan sikap Raffa.


"Ma, kamu tenanglah!" Surya berusaha menenangkan sang istri.


Surya mengerti saat ini, mungkin putranya juga tidak mengetahui kondisi sang istri karena mereka tidak tinggal bersama.


"Saat ini pasien dalam keadaan lemah, kami akan memindahkan pasien ke ruang rawat," ujar Dokter.


"Maaf saya tinggal dulu, masih ada pasien lain yang harus saya periksa." Sang Dokter pun meninggalkan keluarga Surya.


Raffa melangkah mundur, rasa bersalah kini menghantuinya. Dia menjatuhkan badannya saat tubuh kekar pria tampan itu telah membentur dinding.


Raffa terpukul saat mengetahui buah cinta mereka gugur sebelum tumbuh.


Tak berapa lama, dua orang perawat keluar dari ruang pemeriksaan sambil mendorong brangkar Kayla yang terbaring lemah di atasnya.


Raffa menatap sendu melangkah mengiringi sang istri.


Dia menangkap buliran bening terus jatuh membasahi pipi mulusnya.


Kayla terpukul saat mengetahui janinnya sudah tiada. Rasa sedih dan luka kini menyelimuti jiwanya.


Perawat membawa Kayla ke sebuah ruang rawat. Mereka pun meninggalkan Kayla dan keluarganya setelah memastikan semua peralatan medis untuk Kayla sudah terpasang dengan rapi.


Arumi duduk di kursi yang terdapat di samping tempat tidur Kayla.


Wanita paruh baya itu menggenggam erat tangan menantu kesayangannya.


"Sayang, kamu sabar, ya," lirih Arumi menghibur Kayla.


Kayla menatap kosong langit-langit ruangan itu, air matanya masih mengucur deras membasahi pipinya.

__ADS_1


Tak berapa lama, waktu maghrib pun masuk. Raffa dan kedua orang tuanya menunaikan ibadah shalat maghrib di ruang rawat Kayla.


Sebelum shalat maghrib Surya sudah mengabari Bram kondisi Kayla.


Bram ikut sedih apa yang dialami oleh putri kesayangannya, ingin rasanya dia datang untuk memberi kekuatan pada sang putri, tapi saat ini dia juga tidak bisa meninggalkan Rayna seorang diri.


"Ma, kita cari makanan keluar dulu, yuk!" Surya mengajak sang istri untuk keluar.


Surya sengaja mengajak Arumi keluar, dia ingin memberi ruang untuk sepasang suami istri yang tengah mengalami ujian dari sang Maha Kuasa.


Arumi mengangguk.


"Sayang, mama sama papa keluar dulu, ya," ujar Arumi pada Raffa dan Kayla.


"Iya, Ma," sahut Raffa.


Raffa duduk di samping Kayla setelah kedua orang tuanya tak terlihat.


Raffa menggenggam erat tangan Kayla.


"Sayang, maafkan aku. Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau kamu hamil?" tanya Raffa pada sang istri.


"Apakah kamu sempat menanyakan kabarku, setelah kamu bertemu dan dekat dengan wanita yang bernama Zahra?" Kayla menghujam jantung Raffa dengan pertanyaan yang begitu menusuk.


Kayla mengelus perutnya yang rata. "Sekarang kita sudah tak terikat lagi oleh janin ini, jika kamu memang mencintai wanita itu. Aku siap kamu tinggalkan," lirih Kayla menahan sesak di dadanya.


Kayla tidak sanggup mempertahankan rumah tangganya, jika hati Raffa masih tertuju pada wanita lain yang jauh di masa lalu.


"Sayang, jangan berkata seperti itu." Raffa tak sanggup mendengar perkataan sang istri.


"Aku masih ingat, saat kamu menyatakan cintamu padaku, di saat itu aku memberikan semua hatiku untukmu, tapi apa yang aku dapat? Kamu hanya memberikan setengah hatimu untukku," lirih Kayla lagi.


Raffa meletakkan tangannya di atas tangan Kayla yang menyentuh perutnya yang rata.


"Maafkan papa, tidak bisa menjagamu," lirih Raffa penuh penyesalan.


"Aku sudah katakan padamu, Bang. Kamu tidak perlu minta maaf padaku, aku yang salah sudah masuk ke dalam kehidupanmu," lirih Kayla lagi membuat Raffa tidak bisa apa-apa.


Akhirnya Raffa hanya bisa termenung mendengar setiap perkataan Kayla yang bagaikan menampar dirinya yang sudah tidak setia pada sang istri.


Raffa kembali mengingat pesan kedua orang tuanya.


"Jangan sakiti hati Kayla!" kata itu yang dilontarkan Arumi sebelum dia berangkat ke Jakarta setelah liburan.


"Aku akan berusaha menjaga hatimu," gumam Raffa di dalam hati.


Kayla memindahkan tangannya, dan melepaskan genggaman tangan Raffa.


"Pikirkan lebih baik, siapa sebenarnya yang ada di hatimu!" lirih Kayla memohon.


Kayla memiringkan tubuhnya hingga membelakangi sang suami.


Kayla menyembunyikan tangisnya. Raffa melihat pundak Kayla yang terguncang menahan isakkan tangisnya.


Namun, Raffa tak berani lagi mendekati sang istri setelah mendapat penolakan darinya.

__ADS_1


****


Dua hari sudah Kayla dirawat di rumah sakit, acara akad nikah Satya dan Rayna terpaksa ditunda karena Kayla yang mendadak masuk rumah sakit.


Hari ini Kayla sudah diizinkan keluar dari rumah sakit.


Selama Kayla di rumah sakit, Bram tidak bisa datang menjenguk putrinya karena Bram tidak bisa meninggalkan Rayna begitu saja dengan Satya, dia masih tetap harus memantau sang putri.


Raffa sudah siap membawa Kayla pulang. Arumi dan Surya juga datang menjemput menantu mereka.


Selama berada di rumah sakit, Kayla hanya bersikap seadanya dengan sang suami.


Begitu juga sepanjang perjalanan, tak ada percakapan yang terjadi di antara mereka.


Surya dan Arumi mulai curiga dengan tingkah anak dan menantunya itu.


Sesampai di rumah, Kayla langsung melangkah menuju kamarnya. Kayla yang periang dan ceria hilang begitu saja.


Semua anggota keluarga berusaha memaklumi kondisi Kayla saat ini.


Raffa mengikuti langkah Kayla dari belakang, saat mereka sudah berada di kamar, Raffa menarik tangan Kayla lalu memeluknya dengan erat.


"Jangan tinggalkan aku," lirih Raffa.


Kayla membiarkan pria yang berstatus sebagai suaminya memeluk tubuhnya dengan erat.


"Sayang, mulai saat ini aku berjanji akan berusaha melupakan cintaku pada Zahra, tapi aku mohon jangan minta aku untuk menjauhinya," ujar Raffa pada sang istri.


"Bagaimana kamu akan mencintaiku seutuhnya, jika kamu masih berhubungan dengan wanita itu?" tanya Kayla.


"Kayla, aku mohon mengerti posisiku saat ini. Aku sudah berjanji akan membahagiakan Zahra jika suatu hari nanti aku kembali bertemu dengannya, sekarang gadis kecil yang malang itu ada di hadapanku. Aku harus menepati janjiku," lirih Raffa memohon kelapangan hati sang istri.


"Apakah kamu yakin, wanita yang bernama Zahra itu adalah gadis kecilmu yang hilang?" tanya Kayla pada Raffa.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan

__ADS_1


-vote


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2