Jodohku Cinta Pertamaku

Jodohku Cinta Pertamaku
Bab 84


__ADS_3

Jantung Hurry mulai berdetak dengan kencang, dia menoleh ke arah sang suami.


Hendra menggenggam tangan sang istri, berusaha menenangkan istrinya yang mulai gelisah.


"Bagaimana dengan menantunya, Pak Surya?" tanya Hendra dengan tenang.


"Kami semua sudah mengetahui, bahwa istri Raffa bukanlah anak kandung dari keluarga Bramantyo. Wanita malang itu ditemukan Bram sekitar 14 atau 15 tahun yang lalu di taman Gunung Padang." Surya mulai menjelaskan status Kayla pada Hurry dan Hendra.


Hurry dan Hendra mengangguk paham.


"Arumi pernah menceritakan pertemuan Hurry dengan Kayla di butik, saat itu kami tidak bisa memutuskan bahwa Kayla adalah putri kalian yang sempat hilang," ujar Surya.


Hendra terdiam sejenak sembari memikirkan kata-kata yang haru diucapkannya.


"Kami memang pernah kehilangan seorang putri 15 tahun yang lalu, seorang penjahat menculik putri sulung kami," cerita Hendra mengenang kejadian 15 tahun yang lalu.


"Hurry juga pernah bercerita, dia merasa sangat dekat dengan Kayla. Dia merasa Kayla adalah putri kami yang pernah diculik." Hendra tak dapat menahan buliran bening mulai membasahi sudut matanya.


Hurry juga tidak dapat menahan luka yang pernah dialaminya. Dia sangat menyayangi putri sulung mereka.


"Waktu itu, Arumi tidak bisa memutuskan bahwa Hurry adalah ibu Kayla karena kita harus memastikan dengan beberapa bukti yang menunjukkan ikatan yang jelas di antara Kalian dan menantu kami." Surya menghela napasnya.


"Tujuan kedatangan kami ke sini adalah menyambung permintaan Bram, ayah angkat Kayla untuk meminta pada kalian untuk melakukan tes DNA agar kita tidak ragu lagi dengan kenyataan yang sesungguhnya," ujar Surya.


Hendra menoleh kepada sang istri, mereka saling melempar pandangan. Mereka seolah merasa keberatan untuk melakukan tes DNA sesuai permintaan Surya.


"Tanpa melakukan tes DNA, saya bisa pastikan bahwa Kayla adalah putri saya yang hilang. Di pergelangan tangan Kayla ada tanda lahir yang dimiliki Ara, Yah," ujar Hurry.


Hatinya yakin bahwa Kayla adalah putrinya, karena naluri seorang ibu takkan pernah salah.


"Jika memang Hurry yakin, kalau Kayla adalah putri kalian yang hilang, apa salahnya kita melakukan tes DNA?" tanya Surya heran dengan sikap Hurry seakan dia tidak mau melakukan hal itu.


"Ya sudah, kita lakukan tes DNA untuk membuktikan Kayla anak kami atau tidak," ujar Hendra mengambil keputusan.


Hurry menatap bingung pada sang suami, apa sebenarnya yang tengah direncanakan oleh suaminya.


"Ya sudah kalau begitu, kapan Pak Hendra dan Hurry ada waktu, kami akan meminta Kayla untuk datang ke Padang," ujar Surya dengan bijaksana.


"Baik, Pak." Hendra setuju.


Setelah membahas tujuan utama kedatangan mereka, Surya dan Arumi pun pamit untuk pulang.


"Maaf, Pak Hendra. Jika kedatangan kami sudah menyita waktu kalian," ujar Surya sungkan.


"Tidak apa-apa, Pak Surya. Kami senang dengan kedatangan kalian," balas Hendra basa-basi.


Arumi dan Surya pun keluar dari rumah Hendra dan mereka pun berlalu meninggalkan kediaman Hendra.


"Apa maksud ayah setuju dengan permintaan Surya dan Arumi?" protes Hurry tak mengerti apa yang tengah dipikirkannya.


"Bun, kita harus mengikuti prosedur yang mereka pinta, Ayah tidak mau mereka menganggap Bunda hanya. terobsesi dengan menantu mereka," ujar Hendra dengan arif.


"Yah, jika pembuktian bahwa Kayla adalah Ara dengan tes DNA sampai kapanpun kita tak akan pernah menemukan Ara," lirih Hurry mulai sedih.

__ADS_1


"Ini resiko yang harus kita jalani, Bun. Jika Allah masih mengizinkan kita bertemu dengan Ara, kita akan mendapatkan jalannya. Ayah minta pada Bunda, tolong bersabarlah! Kita hanya bisa berdo'a di mana pun Ara berada semoga dia bahagia," lirih Hendra menenangkan hati istrinya.


Hurry mengangguk paham, dia pun merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami.


"Pa, aku kok merasa Hurry keberatan dengan tes DNA yang kita sarankan?" tanya Arumi pada sang suami di sepanjang perjalanan pulang.


"Entahlah, kita tidak tahu apa sebenarnya yang mereka sembunyikan saat ini," lirih Surya menanggapi pendapat sang istri.


"Mama ingin Kayla cepat menemukan kedua orang tuanya, mama kasihan sama dia," ujar Arumi.


"Itulah takdir yang harus dihadapi oleh Kayla. Semoga dia selalu bahagia bersama Raffa," ujar Surya.


"Aamiin," lirih Arumi.


****


Sore hari setelah selesai kuliah, Kayla dan ketiga sahabatnya duduk bersantai di depan asrama.


Drrrttt drrrttt drrrttt.


Ponsel Kayla berdering pertanda panggilan masuk.


Kayla tersenyum saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


"Cieee! Yang dapat telpon dari pujaan hati," sindir ketiga sahabatnya.


Dia pun menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.


"Aku di depan asrama, kita jalan, yuk!" ajak Raffa pada sang istri.


"Serius?" Kayla berdiri mencari sosok yang dirindukannya.


"Iya," lirih Raffa sambil melambaikan tangannya memberi kode pada Kayla.


"Ya udah, aku ganti jilbab dulu," ujar Kayla.


"Oke, Sayang." Raffa tersenyum lalu kembali masuk ke dalam mobil.


"Mau ke mana, Kay?" tanya Dian.


"Enggak tahu, Bang Raffa ajakin jalan," jawab Kayla sambil menunjuk ke arah mobil Raffa yang sudah terparkir di depan asrama.


Ketiga sahabat Kayla mengalihkan pandangan mereka ke arah mobil yang terparkir di depan asrama mereka.


"Jangan lupa bawa oleh-oleh yang banyak, Kay," celetuk Gita.


"Iya, nih. Kita butuh nutrisi lebih," tambah Lisa.


"Siip, nanti aku bilang sama Bang Raffa," ujar Kayla.


Kayla melangkah masuk ke dalam asrama untuk mengganti hijabnya.


Tak berapa lama Kayla keluar dari asrama, dia melihat ketiga sahabatnya sudah berpindah tempat, mereka berdiri di depan sang suami.

__ADS_1


Mereka terlihat asyik mengobrol entah apa yang mereka bicarakan.


"Bang, jangan lupa sampaikan salam. Gita sama teman Bang Raffa yang keren itu," celetuk Lisa menggoda Gita.


"Apaan, sih?" gerutu Gita cemberut.


"Tenang aja, Nick pasti senang dapat salam dari Gita." Raffa ikut menggoda sahabat istrinya.


Kayla melangkah mendekati kerumunan gadis-gadis yang asyik tertawa bersama suaminya.


"Seru banget!" ujar Kayla saat dia sudah berada di belakang teman-temannya.


"Seru dong, ketemu sama pria tampan dan menawan," celetuk Gita asal.


Raffa hanya terkekeh mendengar ocehan Gita.


Kayla memutar bola matanya mendengar ocehan Gita.


"Hahaha," tawa Dian dan Lisa membuat suasana menjadi rame.


"Lain kali kami juga diajak ya, Bang," celetuk Gita lagi sebelum Raffa dan Kayla pergi.


"Tenang, kalau Nick lagi enggak sibuk. Aku suruh dia ajakin kamu jalan deh," timpal Raffa.


"Hahahaha," semua orang pun tertawa lepas.


Akhirnya Kayla dan Raffa pun berangkat, ketiga gadis itu pun kembali duduk di teras asrama bercengkrama menghabiskan waktu sorenya.


bersambung . . .


.


.


.


.


hai readers, terima kasih sudah membaca karya authorπŸ™πŸ™πŸ™


tetaplah dukung author dengan meninggalkan jejak berupa


- like


- komentar


- hadiah


dan


-vote


terima kasih atas dukungannya πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2